Sejak bertahun-tahun yang lalu,bahkan sejak masih di pondok pesantren, saya sangat tertarik mengaji kitab Hikamnya Syeikh Ibnu Athoillah Assakandari. Tapi kalo pas masih di pondok, tentu saja masih merasa tidak pantas karena konon hikam adalah kitab yang belum cocok untuk anak semuda saya kala itu. Disamping itu karena juga memang belum sempat aja saya mengikutinya.

Hiruk pikuk dunia saat ini membuat saya merasa perlu menyirami diri ini dengan mutiara hikmah yang menenangkan jiwa. Agar saya bisa lebih matang dan dewasa menghadapi persoalan hidup, dan agar saya tak sombong, pongah dan congkak dalam kehidupan sehari-hari. Maka sejak beberapa bulan yang lalu, di perjalanan saat berangkat kerja, disamping podcast popular dan terkadang kuliah topik kimia yang tersedia di youtube, saya kerap kali mencari dan mendengarkan pengajian-pengajian yang memuat pesan hikmah, termasuk pengajian kitab Hikam. Pengajian ya, bukan ceramah.

Dan, era digital menjadi privilege yang menyenangkan. Ditengah pencarian pengajian yang cocok, kemarin algoritma youtube saya menampakkan Pengajian Hikam yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri alias Gusmus. “Cocok ini.”, batin saya. Masih ngaji kedua, jadi saya belum ketinggalan. Meskipun sekarang juga masih muda, hehe, akhirnya saya mantapkan hati untuk mengikuti pengajian beliau melalui kanal youtube “GusMus Channel”.

Setelah menyelesaikan episode 1 ngaji hikam Bersama Gus Mus. Saya kok merasa eman aja gitu catatannya berakhir di goodnotes saja. Saya merasa perlu mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan di blog saya. Disamping mengamini sebuah hadits, bahwa ilmu itu layaknya hewan buruan, maka ikatlah ia dengan cara menuliskannya biar gak kabur, saya juga ingin menyertakan refleksi pribadi saya, atau paling tidak POV saya terhadap setiap ungkapan-ungkapan aforis Syekh Ibnu Athoillah. Ke depan, untuk setiap hari di bulan ramadan, saya akan menuliskan 1 hikmah dari beliau beserta interpretasinya, kemudian saya akan memberikan perspektif sesuai POV saya, misal dari sisi seorang anak, ayah, suami, dosen, makhluk biasa, santri, dll. Tentu saja tidak akan selesai semua hikmah di bulan ramadan ini, karena total semuanya ada 264 hikmah.

Oh iya, kenapa tidak dalam video pendek atau reels? Saya masih punya banyak PR untuk video. Mungkin kedepan akan saya lakukan. Saat ini saya masih merasa belum pede aja, dari mulai skill editing video yang masih newbie, kurang pede saat take video, hingga pada level kapasitas keilmuan. Jadi sepertinya, tulisan adalah pilihan yang cukup aman untuk saat ini ya, hehe.

Semoga bisa konsisten ya, mari kita mulai di tulisan selanjutnya.