Saya selalu merasa, Allah begitu baik terhadap hamba-Nya. Mungkin, banyak orang dulu berpikir underestimate, kini diberi kesempatan berkarir menjadi seorang dosen di salah satu PTN. Kerja keras dan kerja cerdas tentu ada, tapi saya yakin, doa orang tua, istri, orang terdekat dan kebaikan Allah lah yang lebih dominan membawa saya kesini.
Sebaik itulah Allah kepada saya, sehingga saya merasa perlu membalas semua anugerah ini dengan menjaga anugerahnya dengan sebaik-baiknya. Melakukan tahap demi tahap transformasi dan perbaikan diri, baik dari sisi hubungan vertikal kepada-Nya, maupun horizontal kepada diri sendiri dan sesama.
Membaca media kemarin, kita dikagetkan dengan OTT KPK terhadap rektor Unsoed atas dugaan tindakan pidana suap PMB Mandiri. Nominalnya ratusan juta. Belum kering dari ingatan saya, kasus guru besar farmasi UGM yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa, dan yang paling baru, kasus wakil dekan di UIN STS Jambi yang ketahuan ngamar dengan mahasiswi.
Saya yakin itu hanya segelintir yang mengemuka ke publik, pasti ada lebih banyak dari itu, akan tetapi saya tidak ingin membahasnya. Saya hanya ingin mencoba mengingatkan diri sendiri melalui tulisan ini, juga menyisipkan doa untuk keselamatan saya.
Kesempatan berkarir di dunia akademik perguruan tinggi sepertinya memang akan banyak godaan. Banyak orang bilang, jangan pikir ketika anda berkarir di dunia akademik, lantas disitu suci dari praktik-praktik yang tidak terpuji. Dunia dosen tidak sesuci itu. Begitu kata para senior.
Dengan anugerah Allah yang tak terhitung lagi kepada saya, saya merasa, betapa bodohnya jika saya menyia-nyiakannya hanya karena godaan suap dan urusan birahi. Sungguh mimpi buruk, karir dan integritas yang dibangun bertahun-tahun, kita mendedikasikan diri kita tahap demi tahap, lalu kita hancurkan dengan tangan kita sendiri akibat gelap mata.
Saya tidak sok suci. Mungkin saja jika saya berada di posisi mereka, akan ada godaan untuk melakukan hal serupa. Seperti kata Lord-Acton, Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely. Kuasa kita dalam posisi akademik sebagai dosen, kaprodi, dekan, hingga rektor akan menarik-narik kita untuk bersikap korup. Dalam bentuk yang bermacam-macam.
Maka, Ya Allah, saya memohon, lindungi hamba dari dorongan untuk bersikap tercela. Semoga hamba dijauhkan dari hal-hal yang tidak engkau ridhoi, amin ya robbal alamin.
Sejujurnya, saya suka menulis. Saya suka menuliskan sesuatu yang saya pikirkan. Lebih bayak yang tidak dipublikasikan. Kepikiran ini itu saya coba tulis di google keep saya yang acak-acakan itu.
Kejujuran selanjutnya, saya harus mengakui saya bukan penulis yang baik. Bahkan, haqqul yaqin belum pantas disebut “penulis”. Saya pernah nulis buku saat mahasiswa dulu, tapi “belum sah” disebut penulis karena bukunya ditulis keroyokan, alias dalam bentuk bunga rampai. Kompilasi sekitar 20 artikel pendek saja bersama teman-teman.
Maka dari itu, menulis dengan sebuah tujuan akhir menjadi sebuah buku adalah salah satu cita-cita saya. Tapi, seringkali saya merasa gagasan dan pengetahuan saya cenderung parsial dan sporadis. Saya sulit menemukan satu tema yang saya bisa bahas hingga menghasilkan output berupa buku. Bukan berarti persoalannya tidak ada, tapi saya merasa tidak pantas dan punya kapasitas untuk menulis dan mengulas persoalan itu. Ada pakarnya sendiri yang lebih bisa membahasnya daripada saya, dan saya tidak merasa expert disitu.
Tiga tahun awal menjadi dosen di kampus swasta, mengampu mata kuliah tertentu, menyusun Rencana Pembelajaran Semester, mengembangkan bahan ajar, dan menyampaikannya di kelas membuat saya merasa terilhami bahwa disinilah celah yang bisa saya gunakan untuk menulis buku. Dengan bermodalkan mengajar mata kuliah Fitokimia di dua semester, sepertinya ini momentum yang tepat untuk saya menuliskannya menjadi sebuah buku.
Dengan mengajak partner sesama dosen yang di semester sebelumnya team teaching bersama, akhirnya saya mencoba menyusun struktur bukunya dengan dasar awal RPS. Dengan sedikit modifikasi, jadilah struktur buku tersebut. Perlahan tapi pasti, Bab demi Bab lahir.
Gayung bersambut! Selepas diterima sebagai dosen di UIN Cirebon, sebelum Latsar di mulai, tersedia banyak waktu luang yang tentu saja saya manfaatkan untuk menyelesaikan buku yang akhirnya saya beri judul Fitokimia Farmasi: Kimia Bahan Alam untuk Mahasiswa Farmasi.
Ditengah perjalanan Latsar, alhamdulillah buku selesai ditulis dan segera saya dan rekan lakukan penyesuaian dan perbaikan. Tak lama juga, kami kirimkan ke Penerbit yang sudah kami seleksi seketat-ketatnya sebagai penerbit yang paling ramah di kantong, hehehe.
Alhamdulillah beberapa hari yang lalu Buku tersebut telah terbit. Seperti yang ada pada blurb buku tersebut. Buku ini bisa menjadi buku pegangan bagi mahasiswa farmasi yang sedang mengambil mata kuliah fitokimia atau sejenisnya, atau bahkan untuk dosen yang akan mengajar mata kuliah terkait.
Semoga bukunya bermanfaat. Daaan, tentu saja, selalu ada ambisi untuk saya menulis dan terus menulis. Saran dan kritik sangat boleh, bahkan sangat diperlukan, apalagi bagi penulis kelas bubuk rengginang macam saya.
Beberapa hari yang lalu, saya ditodong untuk menjadi narasumber pengganti dalam agenda orientasi mahasiswa baru jurusan Tadris Kimia UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Sebagai dosen baru di kampus, rupanya bukan hanya maba yang di ospek, sayapun juga di ospek mahasiswa. Undangan mahasiswa diantarkan hanya 3 jam sebelum acara. Sungguh tahu bulat.
Saya diminta menyampaikan materi sejarah kimia dan integrasinya dengan Islam. Saya siapkan materi “digoreng dadakan” namun tetap kresss dan bukan asal ngacapruk. Intinya bahwa kimia yang kita kenal saintifik dan empiris banget itu embrionya sangat kental dengan nuansa mistis. Dan integrasinya dengan islam? meski aspek epistemologinya sudah cukup mapan dibahas (minimal di PTKIN), tapi cukup menarik saat ada pertanyaan dari seorang mahasiswa.
“Pak, sebenarnya kalo kita belajar sains seperti kimia ini apakah bisa membuat kita jadi semakin Islam?”, kira-kira begitu parafrase pertanyaan mahasiswa baru tadi. Seketika saya teringat dalam suatu kegiatan penguatan moderasi beragama di suatu tempat. Pada saat itu diisi oleh fasilitator dari Fahmina Institut, beliau bertanya, “Apa yang membuatmu bersyukur setiap hari?”
Beberapa peserta menjawab dengan heroik, ada yang menjawab berkaitan dengan keluarga, pekerjaan, finansial, dll. Tawa dan sorak sorai bergemuruh. Saya adalah salah satu peserta dengan jawaban yang “terlalu biasa”. Saya menjawab, “Saya bersyukur karena detik ini saya masih diberi oksigen yang pas untuk bernafas.”.
Tentu saja jawaban saya ini tak mendapat tepuk tangan atau sorakan apapun karena ya jawabannya “apaan sih”. Oksigen ya dianggap hal biasa dan lumrah saja. Manusia pasti bernafas, oksigen pasti ada, tak ada yang istimewa kan?
Bagi banyak orang, mungkin terdengar biasa. Tapi bagi orang yang mempelajari sains, oksigen adalah bahasan yang sangat panjang, dan bernafas bukanlah skema kerja tubuh yang “terlalu biasa”. 21% oksigen yang ada dan tersedia untuk kita bernapas adalah buah dari kontribusi makhluk hidup lain seperti tumbuhan dan fitoplankton. Keduanya memproduksi oksigen dengan prekursor CO2. Saat CO2, pemanasan global semakin parah, iklim kacau, semua dari kita terancam dari berbagai sisi. Dalam jangka panjang, ada potensi kadar oksigen di bumi akan berkurang juga.
Saat bumi semakin panas, gelombang panas ekstrem mengancam kesehatan manusia, permukaan laut naik menenggelamkan kawasan pesisir, sementara kekeringan, badai, dan kebakaran hutan mengganggu ketersediaan pangan. Semua ini pada akhirnya bermuara pada perebutan sumber daya yang menimbulkan instabilitas sosial.
Bukankah dengan banyaknya hubungan sebab akibat ini menjadikan oksigen dan karbon dioksida ini tak boleh disepelekan? Perannya sangat vital bagu kehidupan. Kita sangat “bermanja ria” terhadap oksigen. 1 menit saja tanpa oksigen, akan sangat fatal bagi manusia, 3 menit tanpa oksigen akan memulai fase dimana kerusakan otak mulai terjadi dan semakin lama terjadi, kematian akan menghampiri.
Bgai saya, disinilah sains & islam bertemu. Sains seringkali membuat saya berkontemplasi atas anugerah-Nya dalam hidup. Hal-hal yang menurut kita biasa saja, ternyata “sangat tidak biasa” ketika kita pahami lebih jauh konsepnya. Bagaimana milyaran sel dalam tubuh kita setiap detiknya bekerja begitu detil. Melakukan skema spesialisasi, sehingga tidak ada ceritanya sel kita salah memprogram. Yang harusnya jadi sel kulit misalnya, malah menspesialisasi menjadi sel saraf atau sel darah. Saat tubuh masih dalam proses pembentukan organ didalam janin, tidak ada pemrograman yang tertukar untuk melokalisasi organ. Hidung tetap pada tempatnya dibawah kedua mata, lokasi mata tidak tertukar dengan telinga, dll.
Disisi lain, setiap kali kita menggerakkan tubuh, sejatinya terjadi sebuah kerja sama halus antara listrik dan kimia dalam sistem saraf. Otak mengirimkan impuls listrik melalui jaringan neuron, lalu di ujung saraf sinyal ini diterjemahkan menjadi pesan kimia berupa neurotransmitter bernama asetilkolin, yang menjembatani komunikasi dengan otot. Tanpa mekanisme ini, perintah otak hanya akan berhenti sebagai “getaran listrik” tanpa makna. Di sini kita bisa melihat betapa rapuh sekaligus canggihnya tubuh manusia: gerakan sekecil mengedipkan mata saja adalah hasil orkestrasi sinyal listrik dan molekul kimia yang bekerja dalam harmoni.
Inilah refleksi saya sebagai orang yang belajar kimia dalam memahami keajaiban ciptaan-Nya. Maka merefleksikan ayat-ayat kauniyah adalah wiridnya seorang saintis, mekanisme olah batin yang penting untuk bagaimana kita mensyukuri “kerennya” anugerah Allah SWT. Disinilah letak integrasi nilai sains-islam. Refleksi atas insight fenomena sains memunculkan hikmah yang menuntun kita pada kesadaran atas makna hidup berdasar nilai kesilaman yang selanjutnya menjadi output berupa kebaikan sikap dan perilaku. Bersyukur atas hidup, menghargai sesama dan menjaga alam serta berperan menjadi seorang manusia dengan sebaik-baiknya adalah citra diri dan akhlak seorang saintis islam.
Bagi saya, disinilah sains sebagai ilmu yang seringkali dikonotasikan sebagai ilmu duniawi, ternyata sangat mendalam merefleksikan kesadaran teologis. Sederhananya, hikmah sains meningkatkan ketaqwaan kita kepada Tuhan, menjadikan kita manusia yang lebih “beragama”. Sebab sains tanpa iman hanya data, sementara iman tanpa sains bisa buta. Bila keduanya dipadukan, ia menuntun kita menjadi manusia seutuhnya.
Kemarin ini sedang ramai kasus Ayam Goreng Widuran di Solo yang setelah beroperasi berpuluh-puluh tahun, barulah si empunya toko mengikhbarkan bahwa ayam yang dia jual bukan produk halal, waduh! Tetapi, tulisan ini bukan mau bahas itu, tapi bahas isu halal lain yang mungkin lebih holistik daripada kasuistik macam tadi.
Secara definisi umum, halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan secara syariat, sedangkan haram adalah yang tidak diperbolehkan oleh syara’, baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam nash. Keharaman suatu makanan atau benda lain pun bisa dibagi dua: ada yang haram lidzâtihi, yaitu yang memang mutlak haram seperti babi dan khamr; dan ada yang haram lighairihi, yang keharamannya tergantung situasi—misalnya mangga yang asalnya halal, tapi jadi haram karena diambil dari hasil mencuri. Klasik. Tapi relevan.
Nah, dalam beberapa dekade terakhir, kesadaran umat Islam terhadap konsumsi produk halal meningkat drastis. Label halal kini seolah jadi jaminan mutlak bahwa sebuah makanan, obat, atau kosmetik aman dikonsumsi. Tapi… apakah benar “halal” otomatis berarti “sehat”? Apakah cukup bagi seorang Muslim hanya memastikan kehalalan, tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan?
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi…”.
Prof. Quraish Shihab menyebutkan bahwa kata “thayyib” dalam ayat ini bersifat relatif dan multidimensi. Baik menurut saya belum tentu baik menurut Anda. Konteksnya pun bisa berbeda: baik dari sisi rasa, gizi, efek jangka panjang, maupun keseimbangan psikologis. Jadi, “thayyib” itu bukan cuma soal halal–haram fiqhiyah, tapi juga soal maslahat.
Nah, dalam dunia kesehatan, makna “thayyib” ini sangat erat kaitannya dengan gizi seimbang, aman dikonsumsi, dan tidak membahayakan tubuh. Maka wajar jika ayat tadi menyandingkan “halal” dengan “thayyib”. Artinya, jangan sampai kita hanya puas dengan label halal, sementara kandungannya justru memicu penyakit.
Halal Tidak Selalu Sehat
Realita di lapangan tak seindah teori. Banyak produk dengan logo halal mengilap di kemasan, padahal di baliknya tersembunyi kadar gula tinggi, lemak trans, natrium berlebih, dan zat aditif sintetik yang bikin organ dalam tubuh ngelus dada (hah?). Secara fiqh: boleh. Tapi secara medis? Silakan ajak insulin Anda diskusi di depan indomaret.
Industri makanan saat ini berlomba-lomba membuat produk se-crunchy mungkin, semanis mungkin, sekenyal mungkin, se-gimmick mungkin—demi satu hal: menarik konsumen agar makan lebih banyak. Dan dari sanalah menjamur makanan Ultra-Processed Food (UPF). Makanan yang jauh dari bentuk aslinya, pengolahannya berlapis, nyaris tak bisa dikenali apa sebenarnya bahan dasar yang digunakan.
Sejak diet dua tahun yang lalu, sulit bagi saya untuk menemukan jajanan di minimarket yang bisa saya pilih. Saya cenderung lebih banyak menghabiskan waktu membaca komposisi dan menggeleng. Betapa bodohnya saya dulu, menjadi manusia buncit yang termakan iklan Mie Instan Premium dengan Packaging mewah, padahal tinggi zat aditif, natrium dan gula tersembunyi, Hahahaha.
Studi demi studi melaporkan bahwa konsumsi UPF berkorelasi dengan peningkatan risiko diabetes, hipertensi, penyakit jantung, bahkan beberapa jenis kanker. Tapi tetap: banyak dari mereka bersertifikat halal. Halal, tapi tidak thayyib. Dan jawaban mereka, halah, panganan ae kok ruwet! Teu pira dahareun tinggal dilebok! Ironis.
Saatnya Berpikir “Halal Thayyib Preventif”
Kita sering dengar adagium: mencegah lebih baik daripada mengobati. Nah, kalau mencegah bisa dimulai dari memilih makanan yang halal dan thayyib, kenapa tidak?
Karena itu, saya ada ide liar hasil merenung di WC tadi, yaitu konsep Halal Thayyib Preventif. Gagasan ini bukan cuma soal menghindari babi dan alkohol, tapi memperluas lensa halal menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan sadar gizi. Mungkin suatu saat, kita bisa bikin label “halal hijau” (halal dan thayyib), “halal kuning” (halal tapi awas tinggi gula/sodium), dan merah untuk yang haram. Jadi beli snack nggak cuma lihat harga diskon, tapi mikir: “Ini masuk kategori mana ya?”
Peran Sains: Menghalalkan yang Logis & Maslahat
Sebagai santri laboratorium, saya percaya: laboratorium bukan hanya tempat mencampur reagen, tapi juga tempat meracik dan meramu kemaslahatan. Di sana, kita bisa menguji:
1. Apakah pewarna makanan halal tertentu berisiko toksik?
2. Apakah produk halal tertentu terlalu tinggi sodium?
3. Apakah zat alami bisa menggantikan aditif sintetik secara lebih aman?
4. Dan banyak pertanyaan lainnya.
Dengan pendekatan evidence-based halal, peneliti bisa membantu ulama dan lembaga fatwa mengambil keputusan yang bukan hanya legal, tapi juga logis dan maslahat. Misal, jika studi meta-analisis menyimpulkan bahwa konsumsi gula >20 gram per hari meningkatkan risiko diabetes 80%, maka—kenapa tidak—produk minuman manis dengan kadar gula tinggi diberi label “tidak thayyib”? Bahkan mungkin haram lighairihi.
Halal adalah Titik Awal, Bukan Titik Akhir
Di dunia modern yang serba cepat dan penuh pilihan ini, memahami halal sebagai “asal bukan babi, celeng, maupun bagong” adalah pemahaman minimalis. Kita butuh pendekatan yang lebih bijak, menyeluruh, dan berpihak pada kesehatan. Konsep Halal Preventif adalah jembatan antara nilai-nilai Islam, sains, dan kebutuhan manusia modern. Sebagai Muslim yang juga peneliti newbie, saya merasa terpanggil untuk tidak hanya meneliti zat yang “dunyawiyah“, tapi juga meneliti dengan unsur “maslahat diniyah“.
Dulu saya belajar ilmu nahwu di pesantren. Kyai saya menjelaskan, dibalik ilmu gramatika bahasa Arab yang diajarkan, bait demi bait alfiyah ibn malik punya nilai filosofis yang mendalam. Sebagai contoh, ada bait alfiyah berikut.
ولا يجوز الإبتدا بالنكرة # مالم تفد كعند زيد نمرة
Bait ini secara nahwu menjelaskan bahwa kita tidak boleh menjadikan isim nakiroh sebagai mubtada, kecuali jika ia dapat memberikan makna, seperti lafadz, Inda Zaidin Namiroh. Hukum awalnya, mubtada harus dibuat dari isim ma’rifat.
Begitupun kita dalam memilih pemimpin atau memberikan amanah kepada orang, pilihlah orang yang benar-benar ma’rifat alias berpengetahuan luas dan beridentitas. Tidak boleh memilih orang yang tidak jelas asal usulnya, tidak jelas rekam jejaknya, pengetahuannya, kapabilitasnya, dll. The right man in the right place, jangan karena ia berjasa untuk kita, kita beri ia jabatan, padahal dia tidak punya kapasitas di bidang itu. Begitu kira-kira.
Tampaknya, Kimia, ilmu yang menjadi bagian dari hidup saya saat ini juga memiliki banyak nilai filosofis yang menarik untuk dibahas.
Salah satu yang dipelajari dalam ilmu kimia adalah ikatan kimia. Ikatan kimia ini terbagi dalam beberapa macam, ada ikatan intramolekuler dan ikatan intermolekuler. Intramolekuler ada ikatan kovalen, kovalen koordinasi dan ionik. Sedangkan ikatan intermolekuler ada ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, van der waals, dipol-dipol, dll.
Ikatan intermolekuler lebih akrab disebut interaksi/gaya antar molekul, karena meski sejenis ikatan, kekuatan ikatannya lebih rendah daripada ikatan intramolekul macam kovalen.
Kovalen dengan kekuatan ikatan mencapai 40-140 kkal/mol menyebabkan ikatannya sulit diputus dan membuat sifat ikatannya irreversible. Sederhananya, ia tidak bisa putus nyambung putus nyambung selabil pacaran anak ABG, hehe. Ia macam ikatan pernikahan yang penuh komitmen dan perjuangan, widiiih.
Berbeda dengan kovalen, ikatan ionik hingga interaksi intermolekul cenderung lemah, kira-kira kekuatannya hanya dalam rentang 1-5 kkal/mol saja yang menyebabkan ia seperti plin plan, sekarang putus, besok nyambung lagi, putus lagi, nyambung lagi. Begitu terus sampe Indonesia bebas korupsi, upsss.
Dalam kajian interaksi obat dan reseptor dalam tubuh kita, ternyata ikatan kimia ini punya peran yang penting, karena ternyata interaksi molekul obat terhadap protein dalam tubuh kita prinsipnya didasarkan pada ikatan kimia.
Jika salah satu ikatan jenisnya ikatan ionik atau ikatan hidrogen misalkan, maka interaksi keduanya reversible. Jika yang dihasilkan adalah ikatan kovalen, maka yang terjadi adalah irreversible.
Alih alih ikatan irreversible, ternyata ikatan yang lebih menguntungkan adalah ikatan reversible. Karena ikatan irreversible menyebabkan interaksi obat-reseptor terlalu lama terjadi dan dapat menyebabkan terjadinya toksisitas terhadap tubuh. Sedangkan yang reversible, waktu interaksinya terbatas sehingga setelah menimbulkan respon biologis, interaksi akan terlepas dan molekul obat kemudian akan dimetabolisme lebih lanjut untuk dieksresikan.
Dari fakta ini kita dapat mengambil satu pelajaran bahwa dalam kehidupan kita tidak boleh terlalu mengikat dan menggantungkan kebahagiaan dan harapan terhadap manusia lain, mencintai secara proporsional, juga jika ada yang kita benci atau tidak sukai, bencilah secara proporsional.
Saya jadi teringat hadits Nabi SAW berikut.
أحبب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما، وأبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوما ما
“Cintailah kekasihmu yang sedang-sedang saja, siapa tahu suatu hari nanti dia akan jadi orang yang kamu benci. Bencilah orang yang kamu benci yang sedang-sedang saja, siapa tahu suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang kamu cintai.”
Yah, jadi jika kita menjalin suatu hubungan, ikatan cintanya kira-kira sampe 5 kkal/mol aja seperti ikatan ionik atau hidrogen, agar ketika ia pergi meninggalkan kita, kita masih bisa move on. Janganlah bucin terlalu bucin, bucin itu toksik, hahaha. Cukuplah ikatan kovalen kita hanya dengan Gusti Allah, karena yakin Allah tidak akan pernah meninggalkan kita selaku hamba-Nya.
Seperti dawuh Sayidina Ali KW, “Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Namun, tiada hal yang lebih pahit selain berharap kepada manusia.”.
Beberapa hari ini setelah membeli HDD untuk saya pasang di PC, saya mulai merapikan file di laptop saya yang hampir over capacity, merah semua. Yang namanya beres-beres arsip, saya mengupayakan efisiensi waktu, tapi tetap saja kadang ada satu dua hal yang bisa menghambat. Lembaran lama memang seringkali mengundang kita untuk kembali mengenangnya, dan saya lalu tergoda untuk membuka kembali rekaman video sidang tesis saya beberapa tahun lalu.
Sebelum lanjut tulisannya, saya merasa perlu berterimakasih untuk semua dosen-dosen saya di UNPAD. Terimakasih kepada Prof. Tri Mayanti, Prof. Tati Herlina, Dr. Darwati, Dr. Nurlelasari, Pak Ari Hardianto, Ph.D dan seluruh dosen atas bimbingan dan masukan selama proses studi S2 lalu. Tak lupa juga pada semua rekan-rekan di Lab, Zul, Amel, Rona, teman seangkatan baik yang fastrack maupun slowtrack, hehe.
Oke, lanjut ya, saya kembali menonton presentasi & tanya jawab sidang tesis saya. Satu yang cukup mengejutkan adalah diferensiasi fisik saya, wkwkwkwk. Begitu tembemnya pipi saya, begitu ngos ngosan nya nafas saja saat presentasi, hahaha. Dan yang tak kalah penting adalah bagaimana saya memahami apa yang saya sampaikan saat itu.
Bagian pada riset saya salah satunya terdapat metode in silico, khususnya topik molecular docking. Saat itu, ternyata saya punya banyak miss understanding tentang interpretasi data hasil docking, dan secara dini menyimpulkan bahwa senyawa saya punya mekanisme antagonis non kompetitif, padahal docking sendiri adalah pendekatannya agonis/antagonis kompetitif, wkwkwkwk.
Untungnyaaaa, bumi masih berputar. Selepas lulus, saya berkesempatan untuk bekerja sebagai Dosen di Program Studi Farmasi. Sebagai seorang dosen, belajar adalah keharusan, dan pada satu titik, saya tertuntut untuk melakukan riset, dan in silico adalah riset yang paling feasible pada saat itu. Saya kembali mendalaminya dengan mengikuti beberapa short course dari mulai docking, molecular dynamics, hingga membeli buku studi QSAR. Terlebih, saya di challenge oleh rekan-rekan untuk mengampu mata kuliah Kimia Medisinal.
Disinilah semua tabir pengetahuan tentang mekanisme obat, hubungan struktur aktivitas senyawa obat, fase-fase aksi obat, mekanisme agonis, antagonis kompetitif, non kompetitif, interpretasi docking, MD, hingga bagaimana QSAR yang sebenarnya bernas dibahas. Dititik ini, saat mendengar presentasi sidang saya tadi, saya menertawakan diri saya saat dulu, wkwkwkwk, yang disisi lain, kembali saya bersyukur bahwa kesempatan berkarir sebagai dosen di Prodi Farmasi benar-benar menyenangkan. Saya mendapat banyak privilege untuk mempelajari lebih jauh tentang dunia obat-obatan.
Tentu saja semua yang saya ketahui saat ini masihlah secuil dari luasnya keilmuan Farmasi yang menantang. Dan ada potensi pemahaman saya hari ini ditertawakan oleh saya di masa depan, selama saya tetap terus belajar dan belajar. Yah, belajar bagi dosen itu memang kewajiban. Bahkan level belajarnya pun harus ekstra, karena kita bukan hanya belajar untuk kita sendiri, melainkan kita harus bisa menyampaikan dan memahamkan mahasiswa kita terhadap suatu materi.
Beberapa bulan lagi, saya mungkin akan sedikit melakukan pergeseran. Tetapi, menjadi bagian dari Prodi Farmasi di STIKes KHAS Kempek adalah bagian yang sangat sangat wajib disyukuri, karena mungkin saja jika saya tak pernah terlibat disana, keilmuan saya ya segitu-gitu aja, dan mungkin saja volatilitas keilmuan bisa terjadi. Bahkan pada satu titik, sempat terpikir untuk melanjutkan studi doktoral di bidang ini.
Terimakasih untuk semua pengalaman dan kehangatannya. Saya akan selalu mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang sangat berkesan. Sukses selalu untuk keluarga besar STIKes KHAS Kempek, tetaplah menjadi lentera yang menerangi asa dan cita!
Hai, Saya Fawwaz Muhammad Fauzi, suatu produk hasil persilangan genetik Garut-Majalengka. Menjadi Dosen Kimia adalah profesi utama saya saat ini. Selain itu, ya membahagiakan istri, anak dan orang tua. Melalui blog ini, saya ingin menuliskan kisah-kisah keseharian saya yang pasti receh. Mungkin sedikit esai-esai yang sok serius tapi gak mutu. Jadi, tolong jangan berharap ada naskah akademik atau tulisan ilmiah disini ya, hehe.
Kalau ada yang mau kontak, silahkan email ke [email protected]. Udah itu aja.