Hikmah dari Ngaji Hikam 1:

Min ‘alāmāti al-i‘timād ‘ala al-‘amal nuqṣān al-rajā’ ‘inda wujūd al-zalal

“Salah satu tanda seseorang bergantung pada amalnya sendiri adalah berkurangnya harapan kepada Allah saat terpeleset ke dalam dosa.”

Kita langsung disuguhi dengan kalam hikmah yang menohok. Bahwa seorang sufi tidak boleh memiliki pikiran transaksional dengan Allah. Misal saya yakin akan dimasukkan surga oleh Allah karena saya rajin beribadah, rajin puasa senin-kamis bahkan daud, shalat sunnah semua dilaksanakan, haji berkali-kali, dan lainnya. Juga, misal ia pasrah akan dimasukkan ke neraka karena telah melakukan banyak dosa, sehingga ia tidak mau memperbaiki diri. Sudah terlanjur kotor, anggapnya.

Padahal, kita tidak boleh beranggapan demikian. Seharusnya, seorang sufi beribadah kepada Allah bukan karena-karena. Bukan ingin surga atau takut neraka, tapi karena memang itu adalah tugas kita sebagai hamba untuk beribadah. Mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, menjauhi apa yang dilarang-Nya. Urusan surga dan neraka itu terserah Allah. Kita harus percaya kasih sayang dan karunia-Nya.

Jangan sombong saat merasa banyak amal baik. Jangan putus asa saat berbuat dosa. Maka menurut Gusmus, posisi sikap paling ideal kita terhadap Allah berada diantara roja (harapan) dan khauf (rasa takut), atau dalam Bahasa Indonesia yang paling pas adalah harap-harap cemas. Ini posisi moderat.

Jangan sampai hanya roja. Jika hanya roja, misal karena kita yakin Allah maha pengasih, kita seenaknya melakukan dosa-dosa besar, karena toh nantinya juga diampuni. Kan Allah maha penyayang. Atau, hanya khauf, karena takut akan amarah-Nya, kita jadi sangat saklek dalam menjalani kehidupan, menangis sepanjang hari hingga abai dalam kehidupan bermasyarakat.

Sejujurnya, saya seringkali masih bersikap transaksional. Seperti halnya puasa ramadan ini, saya berpuasa terkadang hanya takut dosa dan neraka saja kalau tidak berpuasa, bukan “murni”karena niat beribadah sebagai manifestasi penghambaan saya kepada Allah. Semoga dengan Mutiara hikmah pertama ini menjadi pengingat bagi saya dan kita semua untuk melakukan rekonstruksi niat kita dalam melakukan berbagai macam ibadah. Dan juga saat kita berbuat dosa, yakinlah bahwa kita tidak boleh putus harapan dari Allah Subhanahu wataala.

Wallahu a’lam.