Sepertinya baru beberapa minggu yang lalu, kita semua tercengang dengan viralnya peristiwa seorang guru yang dikeroyok siswanya sendiri. Terlepas dari apapun sebabnya dan entah bagaimana nasib kasusnya saat ini, tetap saja itu sangat miris. Ada juga peristiwa ketika seorang guru sudah malas mengingatkan siswanya yang menaikkan kakinya di meja, tidur, bermalas-malasan dan aktivitas meremehkan lainnya. Tidak ada yang peduli apa yang sedang disampaikan oleh guru yang cenderung sudah sepuh tersebut.
Setelah terpicu dengan banyaknya peristiwa yang sangat tidak mengenakkan tentang relasi guru dan siswa, saya seringkali merenung sambil nyeruput kopi di malam hari, apa sih sebenarnya akar masalahnya? Mungkin juga sebagian dari generasi saya akan menganggap bahwa memang gen Z memang nir adab, tidak punya sopan santun, dan seabreg tuduhan lainnya. Padahal mungkin dulu juga sama saja, hanya belum ada instagram dan TikTok yang membuat peristiwa zaman dulu tak bisa viral seperti sekarang ini. Sepertinya kok tidak sesederhana siswa nakal dan guru yang abai. Ini seperti ada kepingan hilang.
Saya kemudian flashback masa-masa saat di Pesantren dulu. Di Pesantren, santri mencium tangan Kyai, duduk rapi, menunduk, berbahasa sesopan mungkin, berjalan ngesot adalah ekspresi cara santri menghormati seorang guru. Tertib dan khidmat.
Sebagai otokritik, saya juga punya pikiran yang cukup mengganjal tentang dunia pesantren, tapi bukan tuduhan feodalisme, melainkan bagaimana adab itu dipraktekkan. Saat para santri memasuki jam sekolah formal, kesopanannya terhadap Kyai tidak mampu mereka duplikasi menjadi kesopanan pada guru matematika, TIK, hingga bahasa inggris. Mereka cenderung meremehkan pendidikan formal. Mungkin mereka menganggap ilmu punya kasta, biologi levelnya dibawah nahwu, dan tasrifan lebih penting dibanding termodinamika, sehingga mereka bersikap dikotomis bahkan kepada transmiter pengetahuan tersebut. Kepada pengajar alfiyah, ia cium tangan bolak balik saat berpapasan, sedangkan kepada pengajar geografi, menyapa saja tidak. Ini bisa dianggap bias.
Fenomena diatas tidak bisa digeneralisir di semua pesantren, hanya bersifat kasuistik. Akan tetapi, apapun itu, saya merasa, kita tidak perlu mendikotomi ilmu. Sehingga kita juga tidak perlu menseleksi adab kita terhadap sesama pembawa ilmu. Mungkin, ada yang salah tentang cara siswa ataupun santri memandang sosok guru. Dan, untuk semua fenomena diatas, kita punya potensi keliru memahami adab dan sopan santun.
Kita mungkin telah menyamakan adab dengan sopan santun, dengan tata krama, dengan cium tangan, dengan kesantunan bahasa. Hemat saya, sopan santun dan tata krama adalah ekspresi budaya dari adab yang dijunjung tinggi. Maka, di setiap bangsa bahkan suku, ekspresinya bisa beda. Di pesantren seperti studi kasus diatas, ekspresi budaya dari adabnya adalah cium tangan dan membungkuk. Sedangkan di sekolah formal yang notabene dianggap impor dari barat, atau bahkan di barat itu sendiri, ekspresi budaya dari adabnya bersalaman biasa saja. Atau di Jepang, membungkuk menjadi standar ekspresi budaya atas adab. Gesturnya boleh beda.
Sopan santun dan tata krama adalah bentuk lahiriah. Adab adalah sumber batinnya. Tata krama adalah caranya, kesopanan adalah bahasanya, tetapi adab adalah kesadarannya. Karena itu, tidak semua pelanggaran sopan santun otomatis berarti kehilangan adab, dan tidak semua kesopanan berarti seseorang beradab. Gestur bisa menjadi tanda, tetapi bukan ukuran mutlak.
Adab adalah sesuatu yang lebih substantif dari semua ragam ekspresinya. Adab bukan hanya soal gestur. Adab adalah soal posisi batin. Bagi saya, adab dalam pendidikan adalah kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar informasi layaknya feeds dan reels, bahwa guru bukan sekedar penyampai materi pelajaran. Belajar di kelas bukan sekedar transaksi nilai dan kenaikan kelas.
Saat seorang siswa berpapasan dengan guru fisika dan bersalaman tanpa mencium tangan, kita tidak bisa langsung menghakimi ia tidak punya adab, mungkin hanya kurang sopan, ada benturan ekspresi budaya dan mungkin keduanya berasal dari daerah yang berbeda. Kemudian, saat seorang siswa menaikkan kakinya di meja ketika guru menjelaskan, memang itu tidak sopan dan melanggar tata krama. Tetapi yang lebih serius dari itu, ia menunjukkan tidak adanya respect terhadap proses belajar itu sendiri.
Sebaliknya, seseorang bisa saja sangat sopan namun tetap tidak beradab. Seorang siswa dapat berbicara halus, mencium tangan guru, bahkan terlihat sangat hormat, tetapi menyontek saat ujian, meremehkan pelajaran, atau belajar hanya demi mengejar nilai. Di sini kesopanan hadir, tetapi adab terhadap ilmu tidak ada. Ia hanya menghormati figur, tetapi tidak menghormati pengetahuan.
Atau, ketika seorang santri membungkuk dan mencium tangan kyai, disisi lain ia bersikap meremehkan guru bahasa indonesia di kelas dan menertawakannya karena dianggap tidak penting, atau bahkan melanggar peraturan pesantren, maka ada persoalan serius disini. Kita mungkin berhasil mempertahankan sopan santun dan tata krama disatu sisi. Tapi kehilangan adab di sisi lain. Sopan santun telah lepas dari rahim asalnya. Ini juga mengkhawatirkan.
Meskipun sopan santun dan tata krama itu penting sesuai dengan budayanya, adab yang lebih esensial adalah ketika siswa memiliki atensi penuh terhadap ilmu, menghargai aturan yang berlaku, mengerjakan tugas dengan integritas dan tanggung jawab, serta merasa tidak enak jika meremehkan pelajaran karena ia sadar sedang berhadapan dengan proses panjang peradaban.
Adab juga bukan mengkultuskan guru sebagai individu. Guru bisa salah, bahkan keliru. Namun sikap merendahkan proses belajar dan mempermainkan ruang kelas bukan kritik ilmiah, melainkan hilangnya adab terhadap ilmu itu sendiri. Kritik tetap mungkin, tetapi penghinaan bukan bagian dari tradisi keilmuan. Menghormati guru bukan karena ia guru, tapi ia adalah representasi dari ilmu dan proses pengetahuan.
Tak hanya untuk siswa, guru juga harus memiliki adab. Guru yang mempermalukan siswa di depan kelas, guru yang menjadikan otoritas sebagai tameng, guru yang anti kritik, adalah serangkaian contoh seorang guru yang juga kehilangan adab. Adab bukan membungkam pendapat, dan bukan pula anti kritik.
Adab mengikuti makna yang kita berikan pada ilmu. Jika ilmu dipahami hanya sebagai sarana memperoleh nilai, ijazah, dan pekerjaan, maka ruang kelas menjadi sekadar ruang administratif. Tetapi jika ilmu dipahami sebagai jalan memahami realitas dan memperbaiki kehidupan, maka penghormatan terhadap proses belajar muncul secara alami. Adab tidak bisa dipaksakan, ia lahir dari makna yang kita berikan pada ilmu. Disinilah letak pentingnya seorang guru yang cakap dalam pedagogis moral, menyampaikan ilmu yang diiringi dengan mandat nilai peradaban.
Saya jadi teringat satu pepatah Arab yang sering dikutip, yakni al-adab fawq al-‘ilm, yang berarti Adab di atas ilmu. Ungkapan ini bukan berarti adab lebih penting dari ilmu secara substansi. Tapi tanpa adab, ilmu bisa melahirkan generasi yang pintar, tapi tidak punya rasa hormat terhadap sesama manusia. Dan mungkin ini yang sedang terjadi saat ini.
Pendidikan kita sepertinya terlalu sibuk mengejar nilai, skor, peringkat, akreditasi. Semua sekolah terakreditasi A, semua kampus terakreditasi Unggul. Ilmu direduksi jadi nilai KKM yang tinggi tanpa melihat kompetensi sebenarnya. Guru direduksi jadi pengejar target kurikulum dan seabreg tugas administratif. Di tengah sistem yang instrumental seperti itu, adab seolah tidak diberi ruang untuk bertumbuh dan ditumbuhkan.
Maka jangan heran jika siswa menganggap kelas sebagai ruang bebas berekspresi, bukan ruang pertemuan dengan pengetahuan. Dan jangan heran jika sebagian santri hanya memuliakan ilmu di pesantren, tapi memandang ilmu yang diajarkan di sekolah sebagai sarana untuk meraih selembar kertas bukti pernah menempuh bangku pendidikan formal. Kita seperti jauh dari kata berhasil menyampaikan bahwa semua ilmu yang membawa kemaslahatan adalah amanah.
Saya tidak ingin tulisan ini menjadi nostalgia masa lalu. Zaman dulu pun gak suci-suci amat. Tapi saya khawatir jika kita terus menyamakan adab dengan sekadar sopan santun, kita akan puas dengan ritual tanpa ruh. Kita akan sibuk mengatur posisi duduk, tapi lupa membangun rasa hormat. Kita akan sibuk melarang kaki naik ke meja, tapi tidak pernah mengajarkan mengapa ilmu itu mulia dan harus dihormati. Pendidikan pada dasarnya bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi pembentukan cara manusia berhubungan dengan kebenaran. Tanpa adab, ilmu hanya menjadi kemampuan kognitif. Ia membuat seseorang cerdas, tetapi tidak membuatnya bijaksana.
Jika adab hilang, ilmu tidak lantas akan hilang. Ia tetap ada. Hanya saja, pendidikan akan berhenti membentuk manusia, ia hanya akan memproduksi lulusan yang kering akan moralitas dan rasa hormat. Kita sering keliru menilai moralitas dari kesopanan perilaku. Padahal sejarah menunjukkan, kerusakan besar sering dilakukan oleh orang-orang yang tampak paling beretika dalam penampilan sosialnya, namun tidak beradab, seperti para pejabat yang sangat sopan bersikap, santun dapat berucap, memegang teguh tata krama dalam bersosial, tapi ternyata melakukan korupsi dan merampas hak masyarakat.
Setelah akhir tahun yang cukup padat merayap, sok sibuk coba-coba penelitian komputasi, belajar ini itu, ngulak-ngulik, ngutak-ngatik, sampai ngejar deadline terbit jurnal ISSN yang saya editori, saya merasa perlu membela diri sedikit.
Bahwa alfanya tulisan receh di blog ini sepanjang November–Desember 2025 bukan berarti saya tidak produktif, ya. Saya produktif, tapi di jalur yang agak serius, hehe. Tulisan Desember tidak muncul di blog ini, melainkan nyasar ke Jurnal Ilmiah. Bedanya nulis di blog pribadi dan di jurnal itu ya begitu: kita nggak pernah benar-benar tahu kapan editor memproses artikel kita. Itu hanya Allah dan editornya yang tahu.
Tapi tak apa. Tahun 2026 ini saya ingin mengawalinya dengan satu hal sederhana: mengapresiasi diri sendiri. Ala-ala Gen Z yang nulis kata pengantar skripsi, “Terima kasih kepada diriku, yang telah kuat, tegar, dan tabah menghadapi semuanya. Thank you for me!” Hehe.
Belakangan saya justru merasa, megapresiasi diri ala Gen Z ini perlu juga dilakukan. Bukan untuk narsis berlebihan, tapi supaya tumbuh rasa bangga atas apa yang sudah kita lewati, sekaligus jadi bahan bakar untuk terus memperbaiki diri ke depan.
Malam ini saya baru selesai menonton film SORE di Netflix. Awalnya bikin jemu, lalu pelan-pelan bikin haru. Jujur, mata saya sedikit berkaca-kaca. Sore memang “gila, berkali-kali ia mencoba mengubah suaminya, berkali-kali pula gagal. Duh, spoiler. Intinya, poin yang saya tangkap: manusia itu bisa berubah, dan perubahan itu bisa diupayakan, meski tak selalu mulus.
Soal manusia berubah ini, nyambung dengan tulisan sebelumnya: saya yang sudah beberapa bulan berhenti merokok. Alhamdulillah, dari dulu sampai tulisan ini dirilis, saya masih konsisten berhenti dari rutinitas itu. Padahal, beberapa tahun lalu saya merasa berhenti merokok adalah kemustahilan. Ternyata bisa juga dilewati, dengan selow dan santuy.
Resolusi 2026? Apa saja, yang penting baik dan bermanfaat. Intinya, terima kasih kepada diriku sendiri, yang sudah kuat, sudah berjuang, dan cukup tegar menghadapi hidup sejauh ini. Soal olahraga? Let’s see.
Kecepatan penyebaran informasi saat ini memang bukan main. Saking cepatnya bahkan dalam satu hari, ada 1-2 isu nasional yang muncul, belum clear itu isu, sudah switch ke isu lainnya. Mantapnya lagi, bahkan ada sebuah isu yang udah lewat “greng”nya kemarin, dan saya ketinggalan info padahal mantengin hape udah 7 jam perhari sesuai laporan riwayat mingguan. Gendeng memang zaman medsos ini.
Pernjataan ngawoer anggauta DPR memang mendjadi satoe hal jang ditunggu oleh khalayak masjarakat. Setelah demo besar akhir agustus yang dipicu statemen anggota DPR, kemaren-kemaren ini ada statemen tentang rokok yang sebenernya bener, tapi gabener. Duh, gimana ya, intinya begitulah.
Persoalan statemen blio ini sebenernya sudah banyak ditanggapi oleh banyak ahli bahwa ada perbedaan antara faktor resiko, dan penyebab langsung. Korelasinya rokok dengan kanker, sakit jantung, dan penyakit paru ini permainan 3-4 premis nih, bukan 2 premis doang.
Saya berdiri dalam argumentasi-argumentasi ini. Sehingga 3 bulan lalu ketika saya mulai meletakkan korek dan memberikan sebungkus Sampoerna Mild yang baru kalong 2 itu ke orang lain, saya berangkat dari pemahaman ini. Yes, menjawab tulisan saya sebelumnya, dengan penuh kerendahan hati, saya mudah-mudahan akan selalu menjadi alumni perokok.
Sejujurnya keinginan berhenti merokok itu sudah muncul sejak zama penjajahan. Tapi menghetikan aktivitas ternikmat setelah makan dan pas boker itu sangat-sangatlah tidak mudah bagi saya. Butuh 2 tahun dari sejak perencanaan ke pelaksanaan, hehe. Tapi, bermodalkan alasan yang sama saat saya melakukan penurunan berat badan, alhamdulillah sekarang sudah sampe di BAB IV, semoga segera nyampe ke Bab V, sehingga bisa memberikan kesimpulan dan saran-saran untuk mereka yang punya niat berhenti merokok.
Oh iya, menyoal bahaya kesehatan rokok, sebagai orang kimia yang ngajar farmasi, sulit bagi saya menjadi orang yang denial atas bahaya rokok. Maka, meskipun dulu adalah perokok, saya bukan tipe orang yang ngeyel ketika ada orang yang menasihati bahaya merokok, apalagi beretorika mencari pembenaran merokok dengan mentauhidkan sampoerna A mild, ampuuuun.
Tapi memang urusan rokok ini bukan urusan kesehatan bloko. Ada faktor ekonomi yang perlu dipikirkan. Perlu dipertimbangkan rokok sebagai sebuah industri yang menghasilkan cukai dan penerimaan negara yang besar. Ada banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya dari industri ini. Jika tiba-tiba industri ini dihabisi tanpa pemilik usaha diberi waktu untuk melakukan diversifikasi, tentu bahaya bagi keberlangsungan hidup banyak keluarga.
Saya sepakat bahwa rokok lebih banyak madhorotnya dibanding maslahatnya. Tapi seperti kata sebuah kaidah, “dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih”, menghindari kerusakan harus didahulukan daripada menciptakan kemaslahatan. Menyelamatkan penghidupan keluarga pekerja industri rokok harus didahulukan daripada memberangus industri rokok.
Kunci utamanya pasti di pemerintah. Pemerintah harus berpikir dan memiliki perencanaan yang baik dalam menangani industri rokok dan perokok muda yang megancam masa depan bangsa. Yaaah, saya masih percaya ada hal-hal baik yang akan terjadi pada masa depan kita semua.
Dan untuk semua teman, keluarga, pembaca yang masih merokok. Silakan merokok, karena saya tahu, berhenti merokok itu tantangannya luar biasa sulit. Kalo boleh saya spill laporan tracer study alumni pengepul asap seperti saya ini, ada peningkatan intensitas membuka kulkas tanpa tujuan, clingak clinguk abis makan, dan planga plongo saat di jamban. Meski begitu, ditemukan peningkatan signifikan dalam durasi tidur, rasa apresiasi diri, dan uang jajan yang lebih awet.
Jadi gini ajalah, paling tidak kita harus berhenti menjadi perokok yang bebal dan banyak berdalih bahwa rokok tidak berbahaya, merokok berpahala, atau bahkan merokok mengandung nilai tauhid. Mari kita sudahi itu. Akuilah bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan, tapi memang untuk berhenti dari kebiasaan itu, perlu sesuatu yang lebih dari sekedar ilmu dan pengetahuan.
Sejujurnya, saya suka menulis. Saya suka menuliskan sesuatu yang saya pikirkan. Lebih bayak yang tidak dipublikasikan. Kepikiran ini itu saya coba tulis di google keep saya yang acak-acakan itu.
Kejujuran selanjutnya, saya harus mengakui saya bukan penulis yang baik. Bahkan, haqqul yaqin belum pantas disebut “penulis”. Saya pernah nulis buku saat mahasiswa dulu, tapi “belum sah” disebut penulis karena bukunya ditulis keroyokan, alias dalam bentuk bunga rampai. Kompilasi sekitar 20 artikel pendek saja bersama teman-teman.
Maka dari itu, menulis dengan sebuah tujuan akhir menjadi sebuah buku adalah salah satu cita-cita saya. Tapi, seringkali saya merasa gagasan dan pengetahuan saya cenderung parsial dan sporadis. Saya sulit menemukan satu tema yang saya bisa bahas hingga menghasilkan output berupa buku. Bukan berarti persoalannya tidak ada, tapi saya merasa tidak pantas dan punya kapasitas untuk menulis dan mengulas persoalan itu. Ada pakarnya sendiri yang lebih bisa membahasnya daripada saya, dan saya tidak merasa expert disitu.
Tiga tahun awal menjadi dosen di kampus swasta, mengampu mata kuliah tertentu, menyusun Rencana Pembelajaran Semester, mengembangkan bahan ajar, dan menyampaikannya di kelas membuat saya merasa terilhami bahwa disinilah celah yang bisa saya gunakan untuk menulis buku. Dengan bermodalkan mengajar mata kuliah Fitokimia di dua semester, sepertinya ini momentum yang tepat untuk saya menuliskannya menjadi sebuah buku.
Dengan mengajak partner sesama dosen yang di semester sebelumnya team teaching bersama, akhirnya saya mencoba menyusun struktur bukunya dengan dasar awal RPS. Dengan sedikit modifikasi, jadilah struktur buku tersebut. Perlahan tapi pasti, Bab demi Bab lahir.
Gayung bersambut! Selepas diterima sebagai dosen di UIN Cirebon, sebelum Latsar di mulai, tersedia banyak waktu luang yang tentu saja saya manfaatkan untuk menyelesaikan buku yang akhirnya saya beri judul Fitokimia Farmasi: Kimia Bahan Alam untuk Mahasiswa Farmasi.
Ditengah perjalanan Latsar, alhamdulillah buku selesai ditulis dan segera saya dan rekan lakukan penyesuaian dan perbaikan. Tak lama juga, kami kirimkan ke Penerbit yang sudah kami seleksi seketat-ketatnya sebagai penerbit yang paling ramah di kantong, hehehe.
Alhamdulillah beberapa hari yang lalu Buku tersebut telah terbit. Seperti yang ada pada blurb buku tersebut. Buku ini bisa menjadi buku pegangan bagi mahasiswa farmasi yang sedang mengambil mata kuliah fitokimia atau sejenisnya, atau bahkan untuk dosen yang akan mengajar mata kuliah terkait.
Semoga bukunya bermanfaat. Daaan, tentu saja, selalu ada ambisi untuk saya menulis dan terus menulis. Saran dan kritik sangat boleh, bahkan sangat diperlukan, apalagi bagi penulis kelas bubuk rengginang macam saya.
Beberapa waktu lalu, program Xpose Uncensored di Trans7 menayangkan liputan yang menggambarkan pesantren sebagai ruang penuh praktik feodal dan pengkultusan Kyai. Tayangan itu menyorot santri yang menunduk, mencium tangan, bahkan memberi uang kepada kyai, seolah-olah semua itu bentuk eksploitasi dan perbudakan spiritual.
Framing semacam ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merusak citra pesantren sebagai lembaga yang sejak berabad-abad menjadi penjaga akhlak dan ilmu di Nusantara. Namun untuk memahami mengapa framing semacam itu bisa muncul, sepertinya kita perlu membaca konteks sosial secara lebih mendalam. Karena sebuah peristiwa, tentu saja tidak muncul dari ruang hampa.
Dari Tragedi Menuju Stigma
Dalam pikiran saya, sangat sulit untuk melepaskan framing negatif Trans7 ini dari tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo yang menelan banyak korban jiwa tersebut. Dalam suasana duka itu, KH. Abdussalam Mujib menyampaikan bahwa peristiwa tersebut merupakan musibah dan takdir. Saya paham bahwa kalimat ini di dunia pesantren dipahami sebagai bentuk ketabahan dan upaya menenangkan batin, namun di mata publik modern ia dianggap sebagai penolakan terhadap tanggung jawab.
Terjadilah benturan dua bahasa, bahasa spiritual yang menenangkan jiwa dan bahasa modern yang menuntut audit serta akuntabilitas. Keduanya sama-sama punya tempat. KH. Mujib berbicara dalam kapasitas moral dan psikologis, sementara masyarakat menuntut penegakan hukum. Masalahnya muncul ketika tafsir spiritual dipotong dan dipelintir untuk memperkuat kesan bahwa pesantren itu anti kritik, tertutup, dan tidak rasional.
Dari duka ini, muncullah penggiringan opini terus menerus yang mengarah pada fitnah bahwa pesantren adalah adalah sarang feodal, sarang pengkultusan, dan tempat tumbuhnya kekuasaan absolut para kyai. Saya menduga, ada pula pihak-pihak yang sejak awal memang tidak menyukai dunia pesantren, lalu memanfaatkan suasana duka untuk memperkeruh persepsi publik. Dunia ini, bagaimanapun, tidak pernah benar-benar bebas nilai, bukan?
Adab Bukan Feodalisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, feodalisme adalah sistem sosial yang menempatkan kekuasaan di tangan segelintir orang dan mengagungkan jabatan di atas prestasi. Tapi hierarki di pesantren sama sekali tidak lahir dari kekuasaan. Ia tumbuh tradisi yang mengagungkan adab dan ilmu. Menempatkan ilmu sebagai cahaya, setinggi-tingginya, seterang-terangnya, semulia-mulianya.
Mari kita jernih memahami, dalam sistem feodal, status dijaga agar yang di atas tetap di atas, bahkan cenderung menghalalkan segala cara agar tetap diatas. Sedangkan dalam sistem pesantren, penghormatan justru mendidik agar santri layak naik derajat. Menjadi penerus kyai dalam menjaga cahaya ilmu di tengah dunia yang kehilangan arah dan keteduhan. Saya dan para santri menghormati kiai bukan karena keturunan, tetapi karena keluasan ilmu yang lahir dari ketekunan menuntut, keikhlasan mengajar, dan kesungguhan menjaga cahaya ilmu agar tetap hidup.
“Ana ‘abdu man ‘allamani harfan wahidan.”
Aku adalah hamba bagi siapa pun yang telah mengajarkan kepadaku satu huruf.
Ini adalah ungkapan populer Sayyidina Ali Kw, sebagaimana dikutip dalam kitab Ta’lim Muta’alim, yang menjadi dasar keta’dziman para santri di pesantren. Dalam kitab itu pula dijelaskan bahwa menghormati ilmu berarti juga harus menghormati ahlinya. Maka, santri menghormati gurunya bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ilmu tidak bisa tumbuh di hati yang penuh kesombongan. Ketika santri menunduk dihadapan kyai, sejatinya yang ditundukkan bukan tubuhnya, melainkan egonya.
Sekali lagi, feodalisme bertujuan melanggengkan legitimasi. Penguasa ingin kekuasaan tetap berada di tangannya. Pesantren justru sebaliknya, ia hidup dari semangat regenerasi. Kyai sejati selalu berdoa agar santrinya menjadi penerus yang lebih baik, lebih luas ilmunya, dan lebih dalam pengabdiannya.
Dalam tradisi pesantren, hidup nilai tawassuth(moderat) dan tawazun (seimbang) yang menjaga harmoni antara penghormatan dan rasionalitas. Kiai dihormati, tetapi bukan berarti kebal dari musyawarah. Santri tunduk dengan adab, namun sekaligus dididik untuk berpikir kritis dan argumentatif. Maka, bukankah sebuah ironi jika pesantren dituduh tidak progresif, sementara banyak intelektual muslim yang tajam dalam berpikir justru lahir dari rahim pesantren?
Kritik Boleh, Framing Tidak
Memang ada individu yang menyalahgunakan status “gus” atau posisi “dzurriyah kyai” untuk bertindak semena-mena. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi penyimpangan individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menstigma seluruh sistem. Pesantren bukan ruang sempurna, kekurangannya pun bisa dilihat dengan jujur, dan saya sendiri memiliki sejumlah kritik terhadapnya. Tetapi menggiring opini hingga menjelma fitnah adalah tindakan yang kejam dan tidak beradab.
Masyarakat boleh dan bahkan perlu mengkritik pesantren terutama dalam hal tata kelola, transparansi, dan keselamatan fisik santri. Namun kritik yang sehat berbeda jauh dengan framing yang tendensius. Kritik lahir dari cinta terhadap kebenaran, sedangkan framing lahir dari keinginan menjatuhkan martabat.
Pesantren tidak anti kritik! Yang saya dan semua santri tolak adalah penghinaan terhadap marwah keilmuan. Apalagi ketika kritik itu diarahkan bukan kepada pelaku yang salah, tapi kepada sosok-sosok yang justru menjadi teladan keikhlasan seperti KH. Anwar Manshur dari Lirboyo seorang alim yang hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Penutup: Sang Penuntun Cahaya
Aswaja mengajarkan kita i’tidal (tegak lurus) dalam menilai sesuatu dan tasamuh (toleran) terhadap perbedaan. Dalam semangat itu, kita boleh berkaca dari tragedi dan kritik yang datang, tapi jangan sampai kehilangan cahaya yang menerangi jalan kita.
Feodalisme hidup dari rasa takut kehilangan kuasa. Pesantren hidup dari cinta untuk mewariskan ilmu. Feodalisme membangun menara agar rakyat tak bisa naik, sedangkan pesantren membangun tangga agar santri bisa naik dengan adab dan etika yang menyertai setiap langkah menuju ilmu.
Maka ketika ada yang menuduh pesantren sebagai sarang feodalisme hanya karena santrinya menunduk di hadapan kyai, mungkin ia belum mengerti bahwa di pesantren, menunduk bukan tanda ketundukan absolut, tetapi tanda hormat kepada penuntun cahaya ilmu dan kebijaksanaan.
Hai, Saya Fawwaz Muhammad Fauzi, suatu produk hasil persilangan genetik Garut-Majalengka. Menjadi Dosen Kimia adalah profesi utama saya saat ini. Selain itu, ya membahagiakan istri, anak dan orang tua. Melalui blog ini, saya ingin menuliskan kisah-kisah keseharian saya yang pasti receh. Mungkin sedikit esai-esai yang sok serius tapi gak mutu. Jadi, tolong jangan berharap ada naskah akademik atau tulisan ilmiah disini ya, hehe.
Kalau ada yang mau kontak, silahkan email ke [email protected]. Udah itu aja.