Dari Film Adolescence, Mengatur Anak itu Penting

Dari Film Adolescence, Mengatur Anak itu Penting

Menonton film serial pendek Netflix ini, saya cukup terhenyak. Banyak insight yang didapat tentang bagaimana besarnya pengaruh media sosial yang sangat besar terhadap pertumbuhan generasi muda. Di awal cerita, kita langsung dikejutkan dengan penangkapan Jamie Miller, remaja 13 tahun yang dikenai tuduhan pembunuhan terhadap temannya, Kattie Leonard dengan pisau dapur. Singkatnya, ini persoalan yang bermula dari media sosial.

Saat ini, media sosial ataupun secara umum dunia maya memang menjadi dunia yang lebih nyata dari dunia nyata itu sendiri. Apalagi remaja, beberapa dari kita yang sudah dewasa pun bisa saja terjebak dengan ini. Kita bisa “haus” akan validasi di media sosial. Berapa follower kita, subscriber kita, viewer status dan reels kita, jumlah like postingan kita, dan lain sebagainya. Meski di sisi lain, ada orang-orang yang memang berhasil mengkapitalisasi dunia ini menjadi mata pencahariannya, tak sedikit orang yang tak beruntung di dunia ini, dan berujung frustasi. Bisa dibayangkan jika itu terjadi pada remaja dengan kontrol emosi yang belum stabil dan labil. Dan, akui saja, kita pun dalam beberapa kondisi tak sestabil yang dikira juga kan?

Kita harus akui. Ada beberapa dari circle kita, yang secara tak sadar tak memiliki tempat dalam pergaulan. Ada yang terdiskreditkan, keberadaannya seperti tak ada, tak penting, dan tak dibutuhkan. Sebagai pengamat, wkwkwk, saya beberapa kali menemukan tipe orang seperti ini, dan meski jujur saja, saya tak banyak bisa menolongnya, saya terkadang memikirkan bagaimana rasanya berada di posisi “tak diakui” seperti itu. Apakah akan bertindak gila? Di luar nalar? Dan jika hidup di dunia media sosial seperti saat ini, apa yang akan dia lakukan saat berselancar didunia maya? Dimana, mungkin dia bisa berperan menjadi “anonim” dan bermain peran disana dan “lebih diakui”.

Sepertinya ini terlalu melebar, hehe. Kembali ke “Adolescence” tadi. Dari banyaknya poin yang bisa kita pelajari dari film karya sutradara Philip Barantini ini, mulai dari Toxic Masculinity, Perundungan Digital, dlsb, saya coba mengambil satu bagian saja untuk dibahas dalam tulisan ini, yakni bagaimana kita sebagai orang tua perlu mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak, khususnya apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi anak di dunia digital.

Saya, seringkali disajikan algoritma menonton konten-konten parenting zaman now yang menekankan kebebasan yang harus diberikan kepada anak. Misal saja, jangan kita bilang “tidak boleh” kepada anak. Kita harus lebih persuasif. Jangan kita mengatur anak kita mau jadi apa, biar mereka mendapatkan minatnya sendiri. Satu sisi, pendapat itu benar, satu sisi, bagi saya itu terlalu naif. Oke, bagian ini memang tak ada yang benar-benar tepat. Tapi setidaknya saya ingin memberikan apa yang menjadi standing point saja tentang parenting.

Seiring waktu berjalan, saya mencoba mengikuti logika “jangan bilang tidak boleh”, tapi ternyata tidak mudah juga, wkwkwk. Dan setelah diotak atik di otak, tampaknya mengatakan “tidak boleh” kepada anak adalah keharusan. Kita harus mendidik anak kita tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh secara tegas, bukan kasar ya, tapi tegas. Apalagi berkenaan dengan hal-hal prinsipil. Bagaimana etika saat ia bertamu ke rumah tetangga, bagaimana baiknya ia bertegur sapa dengan temannya, berempati dengan sesama, menjaga perasaan, dan lain-lain.

Mungkin sebagian besar millenial seperti saya memiliki trauma pendidikan orang tuanya yang terkesan lebih tegas dan kasar terhadap mereka. Misalkan zaman dulu saat saya di Pesantren, hukuman fisik adalah makanan sehari-hari. Sampai telapak kaki saya sudah kebal dengan sabetan gagang sapu, wkwkwk. Sehingga, kita sebagai orang tua tak mau anak kita mendapatkan hal serupa. Maka, kita saat ini sering melihat berita bagaimana guru dilaporkan oleh “orang tua milenial” karena melakukan satu dua punishment fisik atau verbal yang menurut mereka tidak bisa diterima.

Saya kira, semangat untuk tidak menggunakan lagi hukuman fisik sebagai punishment adalah satu kemajuan. Namun, bukan berarti sebagai orang tua, kita kemudian menjadi sangat lembek kepada anak kita. Kita akhirnya terlalu memanjakan mereka dan menjadi permisif dan membiarkan apapun yang mereka lakukan, bahkan membelanya, meski salah. Maka, do and dont harus ditegaskan kepada anak kita. Mengatur anak itu penting. Oke, jika “mengatur” ini kurang bisa diterima, kita boleh ganti dengan kata “meregulasi”. Meregulasi anak itu penting. Termasuk bagaimana regulasi anak mengkonsumsi konten digital. Berapa jam perhari? Apa yang boleh dan tidak boleh ditonton? Bagaimana kontrol kita sebagai orang tua? Bagian itu, kita harus tegas. Jangan sampai karena kita sibuk bekerja, kita biarkan anak kita berlama-lama didepan hp atau komputer tanpa kita tau konten digital apa yang mereka konsumsi sehari-hari.

Mengapa ini penting? Di episode terakhir “Adolescence”, orang tua Jamie mengira, Jamie yang melalukan pembunuhan terhadap temannya itu adalah didikan mereka. Padahal, karena kesibukan dan pembiaran orang tuanya akan konsumsi digital, Ia lebih terdidik oleh konten-konten digital yang tidak mendidik. Jika kita semua harus jujur, berapa jam perhari kita deeptalk dan memberi perhatian dan memperhatikan anak kita? Dan berapa jam perhari ia dididik oleh konten-konten digital? Ini bahan kontemplasi saya sendiri, jujur saja. Maka wajar jika anak-anak tak terdidik dengan didikan yang benar dari orang tuanya, miris.

Maka, untuk anak-anakku, jika suatu saat sudah besar, kalian semua membaca tulisan ini. Semua regulasi yang ayah dan bundamu buat, tak lain adalah untuk membentuk diri kalian menjadi manusia yang baik. Mendidik kalian menjadi manusia yang terdidik. Seringkali kalian bertanya, kenapa si ini gak dilarang, si itu di perbolehkan, saat ini ketika kecil, ayah hanya menjawab, mereka bukan anak ayah. Tentu saja sebenarnya, ayah hanya ingin membentuk kalian untuk hidup di dunia yang seutuhnya. Dididik dalam kenyataan, bukan fantasi dunia digital yang semu dan penuh tipuan. Tentu kami tak alergi dengan internet, tapi bijak dalam penggunaannya adalah kunci.

Apakah mengatur dan meregulasi ini berlebihan? Apakah ini artinya merenggut kebebasan? Tentu tidak! Kita hidup di dunia ini penuh dengan aturan. Dan aturan dibuat agar kita paham, hak kebebasan yang kita punya dibatasi oleh hak  kebebasan orang lain yang harus kita hormati dan hargai. Jadi, yuk, kita sama-sama meregulasi anak kita secara tepat.

Satu hal lagi, kita sering dengan parenting zaman now, biarlah anak menentukan minatnya sendiri, jangan kita atur-atur. Ini juga tidak sepenuhnya tepat. Bagaimana anda meminta anak anda yang baru berusia belasan tahun menentukan arah hidup? Peran kita sebagai orang tua tak sesederhana itu. Kita tak boleh sepenuhnya mengatur dengan logika kita seperti yang dilakukan Eddie Miller terhadap anaknya dengan logika maskulinitas, tapi satu sisi kita juga tak boleh membiarkan mereka memilih tanpa guidance yang kita berikan.

Jadi, ini cukup tricky dan saya pun masih mencoba mempelajarinya. Mungkin yang bisa dilakukan, kita bisa memperhatikan ketertarikan mereka, kemudian kita arahkan dan beri opsi-opsi dengan landasan minat mereka, sembari mensupportnya dengan cara fasilitasi dalam mendalami minat mereka. Kemudian, pada saat yang tepat, kita boleh juga jelaskan bagaimana konsekuensinya jika ia ingin mengambil peran dalam dunia yang ia pilih, entah dari sisi regulasi negara, peluang finansial, komunitas yang mendukung, dan lain-lain. Disamping ity, mungkin kita juga perlu membekali mereka beberapa keterampilan yang perlu mereka kuasai untuk menjawab tantangan di masa depan, keterampilan berbahasa, memimpin dan berkomunikasi.

Setidaknya, sejauh ini itulah yang menjadi standing point saya dalam upaya saya mendidik anak. Dan saya tak tahu, apakah ini adalah perspektif yang paling tepat atau malah salah kaprah. Saya masih terus mencoba belajar akan hal itu. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholih, sholih artinya berbhat baik, dan tidak membuat kerusakan. Amin.

Wallahu alam.

Cerminan

Cerminan

Dalam suatu pengajian online, Rais Aam PBNU KH. Miftahul Achyar pernah menyatakan, bahwa pemimpin adalah cerminan diri kita selaku rakyatnya. Jika rakyatnya suka tipu-tipu, maka akan diberi pemimpin tipu-tipu. Jika rakyatnya suka korupsi, maka akan diberi pemimpin korup, bahkan dalam eskalasi yang lebih meluas.

Belakangan, kita diberi tontonan banyaknya kasus-kasus, kebijakan, sikap, cara komunikasi dari pemimpin-pemimpin kita yang jauh dari kata ideal. Kasus megakorupsi pertamina, timah, emas palsu, dlsb. Kebijakan yang terkesan cek ombak alih-alih melalui kajian akademik. Sikap dan cara komunikasi pemimpin kita yang minim empati dan kepedulian. Selain itu, tentu kita bisa penuhi tulisan ini dengan “daftar susunan” itu, tapi saya tak memilih menjabarkannya lebih lanjut.

Mereka yang duduk di Pemerintahan memang salah, dan bahasa halusnya, mungkin saja mereka inkompeten. Tapi, rakyatlah, kitalah yang melahirkan mereka semua. Kitalah yang setiap kali pemilu diadakan, sibuk mencari mana yang ada duitnya, serangan fajar mana yang paling besar, caleg mana yang berani ngasih jenset ke lingkungan A, pak RT yang mengintervensi warganya untuk memilih satu calon. Sekian banyak praktek-praktek pragmatis kita dalam menyikapi pemilu tentu saja akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang pragmatis juga.

Jadi, mari kita protes kepada pemerintah, banyak kebijakan dan sikap mereka yang ancur-ancuran. Saat kita demonstrasi, saudara-saudara kita direpresi. Insan pers hingga tim medis ikut jadi korban pentungan aparat. Aparat yang sistem seleksinya semua orang tahu, seringkali dikonotasikan “hasil jual sawah”. Dan ini semua kita sebagai rakyat cenderung permisif dan melakukan pembiaran praktek kotor tersebut. Mari kita protes! Mari kita lawan ketidak adilan dan kedzoliman!

Tapi dibalik itu, kita harus menjernihkan hati, meluruskan pikiran. Bahwa kita sebagai rakyat harus berubah. Kita harus paham, kita tak bisa memandatkan amanah kepada mereka yang uangnya paling besar. Tapi kita harus berikan pada mereka yang kompeten, yang berkapasitas, yang berintegritas!

Ada satu teori, bahwa demokrasi, sistem yang kita pilih ini, bisa berjalan dengan baik dengan syarat banyak dari rakyatnya well educated. Selama itu tidak terpenuhi, maka sulit kita berharap pada demokrasi. Seperti kata Goenawan Muhammad pada Sujiwo Tedjo, demokrasi itu pilihan kedua terbaik yang dipilih, dimana nomor satu nya gak tahu apa. Bahasan well educated bisa panjang, tapi fakta yang paling mudah menggambarkan kondisinya, hanya 12% rakyat kita yang menempuh pendidikan hingga sarjana. Kita belum hitung 12% itu sarjana beneran? Hasil jual beli ijazah? Hasil asal kuliah?

Well educated, artinya ia terdidik, terdidik paling tidak ia mampu berpikir dengan baik. Berpikir jangka panjang, mempertimbangkan satu, dua , tiga, empat, dan lebih banyak lagi variabel, dan pengaruhnya terhadap satu, dua, tiga, dan lebih banyak variabel. Apa efeknya, apa konsekuensinya. Sayangnya, dengan kondisi pendidikan kita saat ini, dua variabel saja sudah kelabakan. Dan kita tahu, belakangan viral anak SMA yang lemot menjawab perkalian 1-10.

Saat berada di depan cermin, berdirilah. Tataplah diri kita. Jika kita teringat dengan kasus megakorupsi, lihatlah bagian diri kita, apakah kita pernah melakukan korupsi walau skalanya kecil? Pungli sekolah misal. Saat teringat dengan kebijakan cek ombak, sudahkah kita berpikir logis dalam pengambilan keputusan dengan pertimbangan rasional? Saat teringat dengan wakil rakyat yang lebih cocok disebut “wakil partai”, sudahkah kita berempati terhadap sesama dengan tulus? Atau hanya demi eksistensi organisasi atau bendera dibelakang kita?

Saya tak yakin kita semua bisa melewati pertanyaan didepan cermin itu dengan jujur. Maka, nikmati saya kebijakan para cerminan kita itu, sembari berdoa, semoga kita semua bisa berubah dan melewatinya. Wallahu alam.

Selamat berpuasa, warga +62 !

Cheminsight : Membangun Ikatan Kovalen atau Hidrogen?

Cheminsight : Membangun Ikatan Kovalen atau Hidrogen?

Dulu saya belajar ilmu nahwu di pesantren. Kyai saya menjelaskan, dibalik ilmu gramatika bahasa Arab yang diajarkan, bait demi bait alfiyah ibn malik punya nilai filosofis yang mendalam. Sebagai contoh, ada bait alfiyah berikut.

ولا يجوز الإبتدا بالنكرة # مالم تفد كعند زيد نمرة

Bait ini secara nahwu menjelaskan bahwa kita tidak boleh menjadikan isim nakiroh sebagai mubtada, kecuali jika ia dapat memberikan makna, seperti lafadz, Inda Zaidin Namiroh. Hukum awalnya, mubtada harus dibuat dari isim ma’rifat.

Begitupun kita dalam memilih pemimpin atau memberikan amanah kepada orang, pilihlah orang yang benar-benar ma’rifat alias berpengetahuan luas dan beridentitas. Tidak boleh memilih orang yang tidak jelas asal usulnya, tidak jelas rekam jejaknya, pengetahuannya, kapabilitasnya, dll. The right man in the right place, jangan karena ia berjasa untuk kita, kita beri ia jabatan, padahal dia tidak punya kapasitas di bidang itu. Begitu kira-kira.

Tampaknya, Kimia, ilmu yang menjadi bagian dari hidup saya saat ini juga memiliki banyak nilai filosofis yang menarik untuk dibahas.

Salah satu yang dipelajari dalam ilmu kimia adalah ikatan kimia. Ikatan kimia ini terbagi dalam beberapa macam, ada ikatan intramolekuler dan ikatan intermolekuler. Intramolekuler ada ikatan kovalen, kovalen koordinasi dan ionik. Sedangkan ikatan intermolekuler ada ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, van der waals, dipol-dipol, dll.

Ikatan intermolekuler lebih akrab disebut interaksi/gaya antar molekul, karena meski sejenis ikatan, kekuatan ikatannya lebih rendah daripada ikatan intramolekul macam kovalen.

Kovalen dengan kekuatan ikatan mencapai 40-140 kkal/mol menyebabkan ikatannya sulit diputus dan membuat sifat ikatannya irreversible. Sederhananya, ia tidak bisa putus nyambung putus nyambung selabil pacaran anak ABG, hehe. Ia macam ikatan pernikahan yang penuh komitmen dan perjuangan, widiiih.

Berbeda dengan kovalen, ikatan ionik hingga interaksi intermolekul cenderung lemah, kira-kira kekuatannya hanya dalam rentang 1-5 kkal/mol saja yang menyebabkan ia seperti plin plan, sekarang putus, besok nyambung lagi, putus lagi, nyambung lagi. Begitu terus sampe Indonesia bebas korupsi, upsss.

Dalam kajian interaksi obat dan reseptor dalam tubuh kita, ternyata ikatan kimia ini punya peran yang penting, karena ternyata interaksi molekul obat terhadap protein dalam tubuh kita prinsipnya didasarkan pada ikatan kimia.

Jika salah satu ikatan jenisnya ikatan ionik atau ikatan hidrogen misalkan, maka interaksi keduanya reversible. Jika yang dihasilkan adalah ikatan kovalen, maka yang terjadi adalah irreversible.

Alih alih ikatan irreversible, ternyata ikatan yang lebih menguntungkan adalah ikatan reversible. Karena ikatan irreversible menyebabkan interaksi obat-reseptor terlalu lama terjadi dan dapat menyebabkan terjadinya toksisitas terhadap tubuh. Sedangkan yang reversible, waktu interaksinya terbatas sehingga setelah menimbulkan respon biologis, interaksi akan terlepas dan molekul obat kemudian akan dimetabolisme lebih lanjut untuk dieksresikan.

Dari fakta ini kita dapat mengambil satu pelajaran bahwa  dalam kehidupan kita tidak boleh terlalu mengikat dan menggantungkan kebahagiaan dan harapan terhadap manusia lain, mencintai secara proporsional, juga jika ada yang kita benci atau tidak sukai, bencilah secara proporsional.

Saya jadi teringat hadits Nabi SAW berikut.

أحبب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما، وأبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوما ما

“Cintailah kekasihmu yang sedang-sedang saja, siapa tahu suatu hari nanti dia akan jadi orang yang kamu benci. Bencilah orang yang kamu benci yang sedang-sedang saja, siapa tahu suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang kamu cintai.”

Yah, jadi jika kita menjalin suatu hubungan, ikatan cintanya kira-kira sampe 5 kkal/mol aja seperti ikatan ionik atau hidrogen, agar ketika ia pergi meninggalkan kita, kita masih bisa move on. Janganlah bucin terlalu bucin, bucin itu toksik, hahaha. Cukuplah ikatan kovalen kita hanya dengan Gusti Allah, karena yakin Allah tidak akan pernah meninggalkan kita selaku hamba-Nya.

Seperti dawuh Sayidina Ali KW, “Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Namun, tiada hal yang lebih pahit selain berharap kepada manusia.”.

Wallahu a’lam.

Menertawakan Diri di Masa Lalu, Mensyukuri Jalan yang Dilalui

Menertawakan Diri di Masa Lalu, Mensyukuri Jalan yang Dilalui

Beberapa hari ini setelah membeli HDD untuk saya pasang di PC, saya mulai merapikan file di laptop saya yang hampir over capacity, merah semua. Yang namanya beres-beres arsip, saya mengupayakan efisiensi waktu, tapi tetap saja kadang ada satu dua hal yang bisa menghambat. Lembaran lama memang seringkali mengundang kita untuk kembali mengenangnya, dan saya lalu tergoda untuk membuka kembali rekaman video sidang tesis saya beberapa tahun lalu.

Sebelum lanjut tulisannya, saya merasa perlu berterimakasih untuk semua dosen-dosen saya di UNPAD. Terimakasih kepada Prof. Tri Mayanti, Prof. Tati Herlina, Dr. Darwati, Dr. Nurlelasari, Pak Ari Hardianto, Ph.D dan seluruh dosen atas bimbingan dan masukan selama proses studi S2 lalu. Tak lupa juga pada semua rekan-rekan di Lab, Zul, Amel, Rona, teman seangkatan baik yang fastrack maupun slowtrack, hehe.

Oke, lanjut ya, saya kembali menonton presentasi & tanya jawab sidang tesis saya. Satu yang cukup mengejutkan adalah diferensiasi fisik saya, wkwkwkwk. Begitu tembemnya pipi saya, begitu ngos ngosan nya nafas saja saat presentasi, hahaha. Dan yang tak kalah penting adalah bagaimana saya memahami apa yang saya sampaikan saat itu.

Bagian pada riset saya salah satunya terdapat metode in silico, khususnya topik molecular docking. Saat itu, ternyata saya punya banyak miss understanding tentang interpretasi data hasil docking, dan secara dini menyimpulkan bahwa senyawa saya punya mekanisme antagonis non kompetitif, padahal docking sendiri adalah pendekatannya agonis/antagonis kompetitif, wkwkwkwk.

Untungnyaaaa, bumi masih berputar. Selepas lulus, saya berkesempatan untuk bekerja sebagai Dosen di Program Studi Farmasi. Sebagai seorang dosen, belajar adalah keharusan, dan pada satu titik, saya tertuntut untuk melakukan riset, dan in silico adalah riset yang paling feasible pada saat itu. Saya kembali mendalaminya dengan mengikuti beberapa short course dari mulai docking, molecular dynamics, hingga membeli buku studi QSAR. Terlebih, saya di challenge oleh rekan-rekan untuk mengampu mata kuliah Kimia Medisinal.

Disinilah semua tabir pengetahuan tentang mekanisme obat, hubungan struktur aktivitas senyawa obat, fase-fase aksi obat, mekanisme agonis, antagonis kompetitif, non kompetitif, interpretasi docking, MD, hingga bagaimana QSAR yang sebenarnya bernas dibahas. Dititik ini, saat mendengar presentasi sidang saya tadi, saya menertawakan diri saya saat dulu, wkwkwkwk, yang disisi lain, kembali saya bersyukur bahwa kesempatan berkarir sebagai dosen di Prodi Farmasi benar-benar menyenangkan. Saya mendapat banyak privilege untuk mempelajari lebih jauh tentang dunia obat-obatan.

Tentu saja semua yang saya ketahui saat ini masihlah secuil dari luasnya keilmuan Farmasi yang menantang. Dan ada potensi pemahaman saya hari ini ditertawakan oleh saya di masa depan, selama saya tetap terus belajar dan belajar. Yah, belajar bagi dosen itu memang kewajiban. Bahkan level belajarnya pun harus ekstra, karena kita bukan hanya belajar untuk kita sendiri, melainkan kita harus bisa menyampaikan dan memahamkan mahasiswa kita terhadap suatu materi.

Beberapa bulan lagi, saya mungkin akan sedikit melakukan pergeseran. Tetapi, menjadi bagian dari Prodi Farmasi di STIKes KHAS Kempek adalah bagian yang sangat sangat wajib disyukuri, karena mungkin saja jika saya tak pernah terlibat disana, keilmuan saya ya segitu-gitu aja, dan mungkin saja volatilitas keilmuan bisa terjadi. Bahkan pada satu titik, sempat terpikir untuk melanjutkan studi doktoral di bidang ini.

Terimakasih untuk semua pengalaman dan kehangatannya. Saya akan selalu mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang sangat berkesan. Sukses selalu untuk keluarga besar STIKes KHAS Kempek, tetaplah menjadi lentera yang menerangi asa dan cita!

Ubur ubur ikan lele

Urip opo jare Gusti lee

Kaluna, Kerasnya Ibu Kota & Perjuangan Hidup Kelas Menengah

Kaluna, Kerasnya Ibu Kota & Perjuangan Hidup Kelas Menengah

Malam selepas kesibukan yang lumayan sejak pagi tadi, saya mencoba mencari hiburan ringan. Tentu saat ini hiburan bukan hal yang sulit, apalagi bagi kaum introvert. Rebahan dengan menonton film di layanan streaming adalah salah satu pilihan yang menyamankan. Cukup untuk sedikit melepas lelah aktivitas dan kerasnya kehidupan, aseek.

Saya klik Netflix di hp saya. Rutinitas biasanya, saya mencari film hingga tak jadi nonton film, wkwkwk. Tapi saat ini berbeda, seketika melihat top 10 film di Netflix, nomor 1 ada film berjudul “Home Sweet Loan”. Trailer dan sinopsis film nya berhasil membuat saya dengan cepat memutuskan untuk mengklik film tersebut. Film garapan Visinema yang menceritakan Kaluna, anak bungsu dari 3 bersaudara dimana 2 kakaknya sudah menikah dan mempunyai anak, dan mereka semuanya hidup satu rumah.

Tak sulit untuk memprediksi jika hidup satu rumah dengan beberapa unit keluarga itu tentu akan ada gesekan-gesekan. Itu salah satu cobaan dalam keluarga (besar). Di film ini, Kaluna yang diperankan dengan sangat pas oleh Yunita Siregar ini menjadi pihak yang terdesak dan selalu terpaksa mengalah oleh keberadaan keluarga kecil kedua kakaknya, dimana kondisi tersebut membuat ia bertekad untuk memiliki rumah sendiri. Yah, lebih lengkapnya bisa kalian tonton sendiri ya. Spoilernya cukup segitu aja.

Yang pasti, ada 2 hal yang bisa saya garis bawahi akan kondisi terkini kehidupan perduniawian kita semua dari film yang diadaptasi daru novel tersebut. Pertama, Kerasnya kehidupan Ibu Kota (asumsi Jakarta masih ibu Kota ya), atau paling tidak kerasnya kehidupan di Kota Metropolitan. Biaya hidup yang tinggi, tekanan pekerjaan, hingga terbatasnya pilihan-pilihan hidup, membuat sepertinya sulit bagi penduduk Kota untuk bisa mendapatkan ketenangan dalam hidup.

Ini tentu saja subjektif, saya yang sejak dulu tak sedikitpun terpikir untuk hidup di Kota Besar, akhirnya semakin mengamini bahwa hidup yang saya jalani akhir-akhir ini, seberat dan semenantang apapun adalah hidup yang sangat layak untuk disyukuri. Hidup di daerah pedesaan dengan ketenangan, kehangatan dan kesyahduannya adalah sebuah kenikmatan. Sehingga untuk saat ini bagi saya, saya merasa tak perlu hidup di Kota besar untuk menggapai “kesuksesan”.

Akan tetapi, bukan berarti saat kita hidup di daerah rural, kita lantas terbuai oleh kenikmatannya. Tetap kita harus membawa bagian penting dari mentalitas insan metropolitan, yakni ambisi, determinasi, keinginan untuk berkembang dan sifat kompetitif. Karena bagi saya, “stagnansi” dalam hidup itu seolah makruh tahrim, mwehehehe.

Kedua, beratnya perjuangan hidup kelas menengah. Yah, seperti yang banyak diberitakan di media, hampir 70% masyarakat Indonesia adalah kelas menengah, yang angkanya terus menyusut saat ini dan banyak yang mulai menjadi kelompok kelas rentan hingga miskin akibat himpitan ekonomi yang tidak sedang baik-baik saja.

Fenomena di film itu menunjukkan bagaimana sulitnya seorang pekerja kelas menengah ingin mendapatkan hunian atau rumah. Gaji yang didapat tak sebanding dengan harga properti yang terus melambung, memaksa untuk mengambil skema KPR yang tak mudah juga untuk memenuhi persyaratannya.

Bagi saya ini ironi. Rumah adalah kebutuhan primer bagi sebuah keluarga. Yakali kita terus-terusan tinggal dengan orang tua (kecuali case tertentu), atau bahkan ngontrak seumur hidup. Tapi inilah yang terjadi. Kondisi ekonomi rasanya sangat sulit untuk membuat kita bisa dengan mudah memiliki rumah impian, bahkan dengan skema cicilan. Ini yang sulit kelas menengah lho, bukan kelas miskin.

Perjuangan kelas menengah ini memang berat. Mungkin saya termasuk kelas ini. Akhir-akhir ini rasanya memang kondisi sedang serba sulit. Dan setiap saya berbincang dengan berbagai kalangan, semua mengamini kondisi buruk yang terjadi saat ini.

Ada ungkapan populer yang menarik begini, “Kita boleh kehilangan segalanya, tapi satu yang tak boleh hilang dari diri kita, yaitu Harapan, meski persentasenya kecil”. Maka, berharap, utamanya kepada Allah SWT adalab keharusan. Dan dalam konteks kehidupan bernegara, nampaknya mau tidak mau kita harus menempelkan harapan kepada Presiden baru kita, semoga di bawah Pemerintahannya, dapat membantu 70% an masyarakat Indonesia agar naik kelas.

Seperti kata mereka di media sosial, seringkali harapan itu luntur saat melihat ketidak adilan, misal mereka yang korupsi 271T, vonisnya hanya 6 tahun, jika dibagi-bagi, seharinya mengantongi sekitar 115 Miliar! Berani korupsi dong, wkwkwk. Mbak Kaluna kalau mau beli rumah, mending ikutin jejak si Muis, nabung dikit-dikit mah gak akan kebeli-kebeli. Paling dipenjara 6,5 tahun doang, aman lah, keluar penjara tetep sugeh boskuuuh. Guyon ya, hehehe.

Wallahu a’lam