Hobi Lama yang Ketrigger Gara-gara Nyobain Claude Code

Hobi Lama yang Ketrigger Gara-gara Nyobain Claude Code

Otak atik website memang sudah menjadi bagian dari hobi saya sejak kuliah dulu. Tapi membangun website itu harus punya tujuan, gak bisa asal belajar. Maka pada saat S1 dulu dan berkecimpung di beberapa organisasi, membuat website organisasi adalah tujuan yang bisa diterapkan. Sekali mendayung, dua pulau terlewati. Organisasi punya website, saya punya tujuan dalam belajar.

Hobi perwebsitean inilah yang mendorong saya mempertahankan website pribadi saya. Meskipun masih PR banget dalam mengisi kontennya, saya suka aja gitu kalo punya website pribadi. Mungkin ini sindrom yang dimiliki segelintir orang generasi saya yang mulai dewasa saat aktivitas ngeblog sedang naik daun, hahaha. Ini juga yang mendorong saya dengan “mudah” beradaptasi dalam penguasaan website jurnal berbasis OJS yang berkaitan dengan aktivitas saya sebagai dosen, dan saat ini mengelola beberapa jurnal, bahkan punya rencana untuk bisnis di dunia jurnal.

Beberapa minggu lalu, saya yang pada awalnya sudah menggunakan chatgpt sebagai ai assistant harian mulai penasaran dengan AI lain yang banyak dibicarakan, Claude. Bukan claude mobile legends ya, tapi claude.ai besutan antropic. Setelah melakukan mini riset, akhirnya saya putuskan untuk berpindah hati pada claude. Maap ya gepete. Bukannya aku tak tega, bukannya aku tak cinta, aku hanya penasaran dengan rumput tetangga, hehe.

Semakin saya mendalami dan mempelajari claude, ternyata memang ia lebih hijau. Fiturnya banyak dan membuat saya terobsesi untuk mempelajari bagian-bagian di dalamnya. Saya bingung belajar darimana. Akhirnya saya belajar fitur claude dengan minta tolong ke claude, hahaha. Fitur yang pertama saya pelajari (disamping skill) adalah claude code. Saya coba brainstorming sama dia cara pake si claude code gimana. Saya ikuti petunjuknya, tahap demi tahap, yang ternyata ia bisa bantu develop website, sampai satu ketika saya bertanya tentang apa yang perlu saya pelajari after penguasaan wordpress. Ia jawab framework “laravel” sebagai salah satu opsi.

Berbantukan modul yang dibuatkan claude juga, saya sudah membuat dua produk website dengan dasar framework laravel, yaitu CIU Scholar dan Fariha Pay. CIU Scholar ini semacam portal portofolio tridharma dosen UIN SSC. Iya ini bukan tugas saya di kampus. Tapi karena belajar harus punya tujuan, jadi saya bangun itu CIU Scholar sekeren-kerennya, meskipun tentu saja kampus belum tentu akan menggunakannya karena mereka punya belasan pranata komputer yang kompeten, bukan abal-abal sampingan hobi doang kayak saya. Nah, kalo Fariha Pay ini adalah aplikasi kasir POS buat bisnis saya sama istri yang gak mau ngeluarin budget buat langganan POS berbayar mahal macam Majoo, Moka POS, Qasir waakhwatuha.

Saya yang sebelumnya hanya menguasai wordpress dan blogger. Settingan berbasis template, elementor, divi, pemanfaatan plugin, dan seterusnya, kini sudah bisa membangun website berbasis laravel yang rumit itu dalam waktu yang singkat. Bahkan Fariha Pay selesai dalam waktu kurang dari 24 jam dan saat ini mulai digunakan istri saya sebagai aplikasi kasir toko. Mengerikan memang claude code ini. Meskipun dibalik kengeriannya, tentu saja penggunaan claude code ini gak bisa sembarang prompting, dan perlu step by step tertentu. Ini bagian serius deh, prompting juga perlu skill dan pengetahuan arsitektur website di belakangnya. AI itu ibarat karyawan terampil. Jika anda bosnya bisa mendirect perintah secara tepat, maka hasilnya akan luar biasa.

Maka, jika seni prompting dan pengetahuan arsitektur website sudah cukup dikuasai, saat ini, semua orang (yang mau sedikit effort untuk belajar) akan dengan mudah membuat website keren yang fungsional, reprodusibel dan terjangkau. Thanks Claude Code! Kapan-kapan saya tuliskan artikel terpisah atau mungkin video youtube ulasan untuk 2 produk website saya itu, kalo sempet, hahaha. Wallahu a’lam

Pesantren dan Perguruan Tinggi Sains: Dua Paradigma yang Harus Clear Dulu

Pesantren dan Perguruan Tinggi Sains: Dua Paradigma yang Harus Clear Dulu

Akhir-akhir ini, ada fenomena yang rasanya semakin mudah dijumpai, yaitu pesantren mulai banyak mendirikan perguruan tinggi. Dan menurut saya, itu kabar baik. Artinya, pesantren sedang berusaha menjaga relevansinya dengan perkembangan zaman. Bukan dengan meninggalkan identitasnya, melainkan dengan memperluas medan khidmahnya.

Harapannya tentu jelas. Dengan adanya kampus di lingkungan pesantren, akses pendidikan tinggi bagi santri menjadi semakin dekat dan lebih mudah dijangkau. Kapasitas keilmuan pesantren di bidang agama pun memperoleh legitimasi formal negara, misalnya melalui model pendidikan tinggi yang sudah mapan, maupun melalui jalur pendidikan tinggi khas pesantren seperti Ma’had Aly.

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 42 ribu pesantren aktif yang tersebar di berbagai daerah. Jumlah ini menjadikan pesantren sebagai salah satu ekosistem pendidikan terbesar di negeri ini. Pada level pendidikan tinggi pesantren, perkembangan juga terlihat cukup signifikan. Kementerian Agama mencatat bahwa hingga 2025 sudah terdapat sekitar 91 Ma’had Aly berizin resmi di Indonesia. Jadi, pesantren sesungguhnya tidak sedang diam, ia sedang bergerak.

Pesantren memang sejak lama sangat kental dengan tradisi pembelajaran keislaman seperti fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, balaghah, dan berbagai disiplin ilmu alat lainnya, maka wajar bila perguruan tinggi yang dibuka adalah model Ma’had Aly, atau kalaupun PT yang mainstream, program studi yang dibuka banyak berkaitan dengan studi Islam. Itu keputusan yang tepat dan sangat masuk akal.

Namun, beberapa tahun belakangan muncul perkembangan yang menurut saya jauh lebih menarik, yaitu mulai bermunculannya pesantren yang berani membuka perguruan tinggi dengan program studi umum, sains, kesehatan, pertanian, teknologi, ekonomi, bahkan bidang-bidang profesional lainnya. Bagi saya, ini angin segar. Karena sejatinya, pesantren tidak pernah hanya menjadi tempat belajar agama semata. Dalam sejarah Indonesia, pesantren juga merupakan ruang perjuangan. Ia ikut membentuk kesadaran kebangsaan, melahirkan pejuang, menggerakkan masyarakat, menjaga republik pada masa-masa genting, bahkan ikut mengawal lahirnya fondasi bangsa ini.

Kalau dulu pesantren ikut berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini mungkin salah satu bentuk perjuangan berikutnya adalah mengisi kemerdekaan itu sendiri. Dan salah satu sektor yang masih perlu diisi serius adalah pembangunan sumber daya manusia bidang sains, kesehatan, teknologi, ekonomi, hukum, dan inovasi.

Indonesia saat ini masih punya pekerjaan rumah besar dalam pembangunan SDM berbasis sains dan teknologi. Kita sering berbicara tentang bonus demografi, hilirisasi industri, transformasi digital, ekonomi hijau, kesehatan nasional, kemandirian pangan, bahkan kecerdasan buatan. Tapi semua itu pada akhirnya membutuhkan satu hal yang sama, yaitu manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis. Kita butuh lebih banyak saintis, tenaga kesehatan, engineer, peneliti, bahkan inovator. Karena negara maju tidak dibangun hanya dengan slogan dan pidato berapi-api. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang menguasai dan menghargai ilmu yang dibentuk melalui arah kebijakan yang mengarusutamakan spending pada riset, akademik dan sumber daya manusia.

Di titik inilah saya merasa pesantren sebenarnya punya peluang yang unik, sekaligus tantangan yang tidak mudah. Bayangkan profil lulusan yang lahir dari rahim pesantren. Ia paham agama, akhlaknya ditempa, terbiasa hidup sederhana, membumi, tetapi juga menguasai farmasi, pertanian, teknologi pangan, kecerdasan buatan, kesehatan masyarakat, atau bioteknologi. Bayangkan transformasi apa yang bisa dilakukan sosok yang “MASAGI” demikian.

Terdengar terlalu idealis? Memang iya. Tapi bukankah banyak perubahan besar memang sering diawali dari sesuatu yang pada awalnya terdengar terlalu ideal? KH. Mustofa Aqiel Siroj pernah menyampaikan dalam sebuah kesempatan di STIKes KHAS Kempek tentang mandat manusia dalam QS. Hud ayat 61:

”… huwa an sya-akum minal ardhi wastakmarakum fiiha…”
”…Dia menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya…”

Ayat ini sangat meaningful. Karena “memakmurkan bumi” jelas bukan pekerjaan satu disiplin ilmu saja. Untuk menjalankan mandat tersebut, manusia memerlukan ilmu kesehatan, ekonomi, teknologi, pertanian, lingkungan, hukum, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya, bahkan kolaborasi lintas bidang.

Menyembuhkan penyakit adalah bagian dari memakmurkan bumi, mengembangkan teknologi pangan adalah bagian dari memakmurkan bumi. Pun dengan membangun sistem ekonomi yang adil hingga mengelola lingkungan secara berkelanjutan tentu saja bagian dari memakmurkan bumi.

Sudang barang tentu, niat baik saja tidak cukup bagi pesantren. Membuka program studi sains bukan perkara sederhana. Ada biaya pengadaan dan maintenance laboratorium yang melangit, instrumen praktikum mahal, standar akreditasi ketat, dan kebutuhan SDM dosen yang niche nya sempit. Belum lagi tuntutan mutu yang semakin tinggi agar lulusan mampu bersaing. Jika membuka prodi ilmu sosial keagamaan ibarat membeli motor, maka membuka prodi kesehatan atau sains tertentu ibarat kita membeli motor beserta dealer seisinya.

Tetapi terus terang, saya kok tidak terlalu khawatir soal kreativitas pesantren dalam urusan survive. Sejarah pesantren terlalu panjang untuk diragukan soal itu. Berapa banyak pesantren berdiri dari modal yang secara kalkulasi Excel sebenarnya tampak mustahil? Berapa banyak pesantren berkembang dari wakaf kecil, gotong royong masyarakat, jaringan alumni, dan pertolongan yang sering kali datang min haitsu la yahtasib?

Pesantren, yang dalam bahasa Gusdur adalah sub-kultur, punya modal sosial yang luar biasa. Maka saya kira, tantangan terbesarnya mungkin bukan pertama-tama soal dana. Tetapi soal keyakinan epistemologis insan pesantren. Apakah kita sungguh percaya bahwa belajar biologi, farmasi, teknik lingkungan, data science, kesehatan masyarakat, pertanian, atau kecerdasan buatan juga merupakan bagian dari perjuangan keilmuan Islam? Apakah kita sungguh percaya bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum?

Disamping paradigma ilmu yang perlu direfleksikan, ada juga paradigma terkait dengan mutu. Dalam banyak hal, kesederhanaan & prihatinity adalah kekuatan pesantren. Tetapi belajar sains tidak bisa sepenuhnya dijalankan dengan prinsip prihatin, peralatan seadanya, dan narasi “insyaAllah nanti sambil jalan.” Fiqih mungkin bisa dipelajari di serambi masjid beralas tikar, tetapi farmasi, bioteknologi, keperawatan, kimia, atau teknologi pangan membutuhkan laboratorium, instrumen, skill lab, standar keselamatan, dan dosen yang benar-benar kompeten. Ini bukan soal qonaah dan tawakal, tetapi karena kompetensi teknis memang menuntut fasilitas teknis.

Maka jika pesantren ingin membuka prodi sains, ia tidak bisa masuk hanya dengan semangat menggebu-gebu, tetapi harus selesai dalam paradigma keilmuan dan kesungguhan dalam peningkatan mutu. Mahasiswa tidak sekedar mengharap barokah; mereka menitipkan masa depan kompetensinya. Tawakkal tetap penting, tetapi dalam pendidikan sains, tawakkal harus hadir bersama mikroskop yang berfungsi, instrumen yang terkalibrasi, laboratorium yang layak, kurikulum yang kuat, dan budaya akademik yang suportif. Tidak bisa setengah hati.

Kalau dua paradigma itu sudah clear, saya optimis para kiai, komunitas pesantren, alumni, dan masyarakat akan menemukan seribu satu strategi untuk memenuhi tuntutan mutu perguruan tinggi sains. Pesantren terlalu berpengalaman dalam mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Tapi, jika belum clear, mungkin niatnya lebih baik ditunda. Atau persiapkan saja santri untuk masuk ke PTN/PTS favorit di dalam/luar negeri. Karena kompetensi adalah segalanya. Inkompetensi membunuh lebih banyak orang daripada kejahatan itu sendiri. Jangan sampai pendidikan sains di pesantren menghasilkan lulusan yang inkompeten.

Saya membayangkan satu profil lulusan pesantren masa depan. Ia fasih membaca Taqrib, tetapi juga mampu membaca artikel Nature atau Elsevier. Ia hafal Imrithi, tetapi juga paham statistik, laboratorium, atau analisis data. Ia mengerti hukum air mutlak, sekaligus mampu mengembangkan teknologi pengolahan air bersih untuk masyarakat. Ia memahami maqashid syariah, tetapi juga mampu merancang solusi kesehatan publik atau inovasi pangan halal.

Bukankah profil seperti ini layak diperjuangkan? Tidak sederhana memang. Tetapi bukankah pesantren sejak dulu memang tidak pernah memilih jalan yang sederhana? Dan siapa tahu, justru dari pesantren lahir model SDM Indonesia yang selama ini kita cari-cari, yaitu manusia yang kuat spiritualitasnya, luas wawasan keagamaannya, tetapi juga tangguh dalam sains, teknologi, dan pengabdian sosial.

Patut dicoba, bukan? Wallahu a’lam.

Nyari yang Gak Ada

Nyari yang Gak Ada

Beberapa waktu lalu, saya ngobrol dengan seorang rekan yang asli Cirebon. Ia bercerita bahwa destinasi liburan yang paling dicari adalah tempat-tempat bernuansa pegunungan, seperti naik gunung, curug, glamping, terasering, udara dingin, dan segala hal yang kira-kira bisa membuat badan lupa bahwa Cirebon itu panasnya kadang seperti kita bagai kerupuk mlarat yang disangrai pelan-pelan.

Saya yang mendengarkannya dengan agak. Dalam hati, “Lha kok liburan masih nyari sawah, gunung, dan perkampungan?” Bukan karena tidak indah, tetapi mungkin karena saya sudah cukup akrab dengan lanskap seperti itu. Saya justru lebih tertarik ke pantai, kota, atau sekadar staycation di hotel. Intinya, kalau bisa rebahan di kamar ber-AC sambil sarapan buffet, kenapa harus ngos-ngosan muncak cuma buat liat sawah, hutan & bangunan dari puncak? Ini bukan kemalasan, ini efisiensi energi. Lagi musim kan? hehe.

Dari obrolan ringan itu, saya jadi berpikir bahwa manusia memang sering mencari sesuatu yang tidak sedang ia miliki. Orang yang setiap hari hidup di daerah panas merindukan dinginnya pegunungan. Orang yang terbiasa dengan suasana desa ingin sesekali menikmati hiruk-pikuk kota. Orang yang tiap hari melihat sawah seperti saya lebih terpesona melihat ombak dan laut, sementara orang kota mungkin justru membayar mahal untuk tidur di tengah sawah belakang rumah, wkwkwk. Rumput tetangga bukan hanya terlihat lebih hijau, kadang juga sudah termasuk paket breakfast dan free Wi-Fi.

Dalam batas yang wajar, kecenderungan ini sangat manusiawi. Keinginan untuk mengalami dan menikmati hal-hal baru adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, ia bisa menjadi masalah ketika rasa ingin memiliki berubah menjadi rasa tidak pernah cukup. Dari sekadar ingin suasana baru, pelan-pelan bisa bergeser menjadi iri, dengki, serakah bahkan menempuh jalan yang tidak etis untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Di sinilah rasa syukur menjadi penting. Syukur bukan berarti berhenti menginginkan hal baik. Syukur juga bukan pura-pura puas atas semua keadaan. Syukur adalah kemampuan untuk melihat nikmat yang sudah ada, sebelum mata terlalu sibuk menghitung nikmat yang ada pada orang lain. Sebab kalau kita mau sedikit menunduk dan menengok hidup sendiri, sebenarnya terlalu banyak karunia Tuhan yang selama ini kita nikmati tanpa sempat kita hitung satu per satu. Al-Qur’an mengingatkan, “Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā”dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.

Maka, mungkin benar bahwa manusia sering “nyari yang gak ada”. Tapi kebijaksanaan hidup menuntun kita agar pencarian itu tidak membuat kita kehilangan rasa syukur, apalagi kehilangan diri sendiri. Sesekali mencari pantai, gunung, kota, atau hotel boleh saja. Yang bahaya itu ketika seluruh hidup kita habis untuk menyamai hijau cantiknya rumput tetangga, akhirnya hijaunya kepalang jadi stabilo dan glossy menyilaukan pandangan kita dari kesadaran atas besar nikmat yang diberikan-Nya.

Wallahu alam.

Ngaji Hikam 3: Segala yang Tak Sesuai Rencana

Ngaji Hikam 3: Segala yang Tak Sesuai Rencana

Istiqomah dan konsisten adalah hal yang sulit. Sudah 4 hari sejak ngaji hikam 2 Gus Mus saya ikuti dan hari ini saya baru bisa melanjutkan mengaji lagi untuk ngaji hikam episode 3. Namun, kalam hikmah yang dibacakan di ngaji hikam 3 ini agaknya seperti membela inkonsistensi saya. Berikut adalah kalam hikmah ke-17 Syaikh Ibnu Athaillah:

“Barangsiapa menghendaki terjadinya sesuatu pada waktu yang bukan waktunya menurut ketentuan Allah, maka ia tidak meninggalkan satu bentuk kebodohan pun.”

Sebodoh-bodohnya orang adalah ketika ia memaksakan kehendaknya agar sesuatu terjadi pada timing yang ia inginkan, padahal Allah belum menakdirkan hal itu terjadi. Contoh yang diambil Gus Mus adalah ketika seseorang berada dalam kondisi sederhana, lalu ia ingin segera keluar dari kesederhanaan itu dengan tergesa-gesa, seakan-akan keadaan tersebut adalah kesalahan yang harus segera diperbaiki, padahal bisa jadi keadaan itulah ketetapan Allah baginya pada saat itu.

Saya sejak kemarin tentu ingin melanjutkan ngaji ini, tetapi aktivitas saya sebagai dosen, pegawai, suami dan berbagai tanggung jawab lain menjadikan ngaji ini tertunda beberapa hari. Kejadian ini tentu bagian dari apa yang sedang Allah tetapkan dalam waktu tersebut. Maka kekesalan saya karena baru sempat mengaji pagi ini sebenarnya lahir dari keinginan agar kenyataan mengikuti rencana saya, bukan mengikuti ketentuan-Nya. Kita hanya bisa merencanakan, Allah lah yang menentukan.

Yang lalu biarlah berlalu. Tidak semua keterlambatan adalah kelalaian, dan tidak semua kesibukan adalah penghalang kebaikan. Selama yang terjadi bukan kemaksiatan yang kita sengaja lakukan, kita perlu belajar menerima alur dan timing yang Allah tetapkan. Prinsipnya, ketika kita memiliki banyak aktivitas kebaikan yang saling bertabrakan dan kita tidak mampu mengatur prioritas sepenuhnya sesuai keinginan kita karena kewajiban dan keadaan, maka tidak perlu terlalu kesal. Bisa jadi justru di situlah bentuk ibadah kita hari itu. Usaha tentu saja wajib, tapi kita tidak boleh menuntut waktu dan hasilnya.

Contoh lain adalah ketika istri saya mengeluh karena sebelum menikah ia bisa menamatkan satu khataman Al-Qur’an setiap Ramadan. Ia sedih karena setelah menikah hal itu sulit dilakukan. Sebagai suami saya mengatakan, mungkin dahulu sumber pahalamu adalah mengkhatamkan Al-Qur’an, tetapi sekarang sumber pahalamu agak switching gitu: mengurus anak, mengantarkannya ke sekolah, memandikannya, menyuapinya, menidurkannya, dan merawatnya dengan kasih sayang. Bisa jadi pahala itu tidak berkurang, hanya bentuknya yang berubah. Bukankah itu juga ketetapan Allah yang patut disyukuri?

Senada dengan kalam hikmah ke-22:

“Tidak ada satu nafas pun yang engkau hembuskan melainkan Allah menjalankan padamu suatu ketentuan di dalamnya.”

Subhanallah. Sesungguhnya tidak satu hembusan nafas pun lepas dari ketetapan Allah. Karena itu, yang dituntut dari kita bukan mengendalikan seluruh peristiwa, tetapi menjaga sikap hati terhadap peristiwa. Akan ada yang terasa pahit dan manis, namun keduanya tetap berada dalam pengaturan-Nya. Kalimat “Coba kalau begini” atau “andaikan saja” seringkali lahir dari keinginan agar kenyataan mengikuti skenario kita, dan itu tidak sopan terhadap Allah taála.

Cocok pula dengan hikmah berikutnya:

“Jangan heran atas adanya kekeruhan di dunia, karena dunia memang tempat munculnya kekeruhan.”

Jadi kita tidak perlu terlalu terkejut dengan rumitnya kehidupan. Di satu sisi, kita selow aja sama pahit manisnya hidup, yang penting kita jangan lepas dari berusaha dan berikhtiar saja. Karena rancang bangun dunia memang bukan tempat kesempurnaan, tapi keruwetan dan kekeruhan. Pilihan kita adalah tetap berjalan dengan hati yang ridha sambil berusaha sebaik mungkin, tetap berhati-hati, dan tetap berpegangan kepada Allah di tengah keruwetan itu. Yang Maha Mengatur kan bukan kita.

Saya jadi ingat lagu dangdut jadul, “Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka. Semua insan pasti pernah merasakannya. Jalan hidup rupa-rupa, Bahagia dan kecewa, Baik buruknya sudah pasti ada hikmahnya. Susah senang datangnya silih berganti, bagai roda-roda yang terus berputar, Hadapilah resapilah hidup ini, jangan terlena jangan putus asa.”. Asek asek, Jos. Hak eee.

Wallahu a’lam.

Ngaji Hikam 2: Melihat Alam, Melihat Allah

Ngaji Hikam 2: Melihat Alam, Melihat Allah

Sebagai orang dengan latar belakang akademik ilmu alam, dalam perjalanan saya mempelajarinya, tentu saja banyak fenomena alam yang patut dikagumi. Di dalam diri kita saja, bagaimana setiap harinya jantung kita berdetak rata-rata sebanyak puluhan ribu kali perhari tanpa protes, kita dapat menarik oksigen dari alam tanpa rasa sesak, aktivitas tubuh di level molekuler yang begitu sangat rapi dan terprogram. Darah kita mampu “mengenali” mana bagian tubuh yang luka lalu membentuk bekuan hanya pada lokasi tersebut tanpa menutup seluruh aliran pembuluh, sel-sel tubuh mampu menggandakan DNA dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil setiap kali membelah, bahkan di dalam setiap sel terdapat mekanisme perbaikan ketika terjadi kerusakan genetik. Sistem imun dapat membedakan mana bagian tubuh sendiri dan mana benda asing, dan ketika bakteri masuk, tubuh dapat “mengingatnya” sehingga serangan berikutnya menjadi lebih ringan. Di tingkat kosmik, bumi berputar dengan kecepatan konstan tanpa kita rasakan, berada pada jarak yang sangat presisi dari matahari sehingga air tetap dalam bentuk cair, dan atmosfer menjaga suhu serta melindungi kita dari radiasi berbahaya. Semua berlangsung tanpa kita sadari, tanpa kita kendalikan, namun bekerja seolah-olah ada sistem pengaturan yang sangat teliti..

Uniknya, sains yang hari ini kita nikmati dalam perkembangannya kemudian sering dipahami dalam kerangka yang mengesampingkan entitas ketuhanan. Seolah alam ini adalah objek yang berjalan alamiah saja secara otonom, cukup dijelaskan melalui hukum-hukum fisika dan kimia yang terukur. Realitas dipersempit menjadi sesuatu yang dapat diamati dan diverifikasi oleh panca indera. Sedangkan Islam mengajarkan ummatnya bahwa alam semesta adalah tajalli atau manifestasi dari Tuhan, tanda-tanda kebesaran-Nya yang mengarah pada kesadaran transendental. Rasanya sulit menganggap alam semesta yang sedemikian teratur ini tidak memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri. Keteraturan hukum alam memang dapat dijelaskan, tetapi pertanyaan tentang makna dan sumber keteraturan itu tetap terbuka.

Pada ngaji Hikam 2 gusmus lalu, saya dipertemukan dengan Hikmah ke-14, di mana Syeikh Ibnu Athaillah mengatakan:

“Alam semuanya adalah kegelapan, dan yang meneranginya ialah kewujudan Allah s.w.t. pada alam itu sendiri. Maka barangsiapa yang melihat alam sedangkan ia tidak melihat Allah dalamnya atau di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka sungguhnya ia telah melumpuhkan wujud dari cahaya-cahaya, dan terhalang oleh awan-awan dari cahaya makrifat.”

Syeikh Ibnu Athaillah dengan tegas mengingatkan bahwa siapa pun yang melihat alam ini tanpa menangkap makna ilahiah di baliknya, sesungguhnya sedang terhijab dari cahaya makrifat. Alam bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan sesuatu yang menjadi terang ketika disadari sebagai pertanda. Untuk bisa merasakan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya, perlu refleksi mendalam yang mendudukkan hati dan pikiran secara tepat. Ini selaras dengan konsep Ulul Albab, di mana seorang ulul albab adalah pribadi yang mampu menyelaraskan aktivitas dzikir dan fikir yang nantinya melahirkan kesadaran teologis bahwa tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia.

Dengan demikian, sejatinya melalui sains seseorang juga dapat mendekati level ma’rifat dan mengenal Allah secara lebih dalam. Bukan karena sains membuktikan keberadaan-Nya, tetapi karena kemampuan tafakkur dan refleksi yang diasah oleh sains membuat seseorang semakin sadar akan keteraturan, keterbatasan, dan ketergantungan segala sesuatu. Ketika seseorang menyelami realitas hingga level mikroskopis, molekuler, bahkan atomik, dan tetap menemukan hukum yang konsisten serta keteraturan yang tidak berdiri sendiri, di situlah hati yang jernih dapat tersentuh oleh kesadaran bahwa alam semesta ini bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan belaka.

Wallahu a’lam.