Merasionalkan “Barokah”

Merasionalkan “Barokah”

Dalam tradisi keislaman di Indonesia, kata barokah sangatlah tidak asing di telinga. Seringkali itu diucapkan sebagai bagian dari doa-doa kebaikan untuk kita sendiri maupun orang lain. Bahkan, tak terhitung berapa toko-toko, warung-warung, perusahaan-perusahaan, dari berbagai segmen, berbagai level, menggunakan kata “barokah”, atau “berkah” sebagai identitasnya. Jika ada orang atau instansi yang mau melakukan sensus penduduk Indonesia yang menggunakan kata barokah untuk nama bisnisnya, saya jamin angkanya akan lebih dari 1 juta.

Tak terhitung pula berapa redaksi doa-doa sehari-hari yang dilantunkan mengandung kata barokah, bahkan doa mau makan pun ada kata barokahnya, doa minta rezeki, doa menyambut bulan ramadhan, doa saat khutbah Jumat, hingga doa untuk pernikahan. Semuanya berkah. Apalagi di kalangan santri, meminum kopi atau teh bekas kyai, mencium tangan kyai, orang tua guru, maupun ustad, dan mungkin akhir-akhir ini, berfoto dengan kyai dan tokoh besar, biasanya kita dimotivasi karena ingin mendapatkan barokahnya.

Namun, apa arti sesungguhnya dari kata barokah? Apakah sesuatu yang bersifat klenik? Dorongan spiritual? Hal Gaib? Aura positif? Atau mungkin laduni? Seperti yang seringkali disampaikan oleh para pendakwah, ketika kita sering berkumpul dengan orang-orang sholeh, orang-orang yang berilmu, maka nantinya kita akan mendapatkan barokahnya. Ketika kita mencium tangan kyai, lalu bibir kita akan fasih dalam berbicara dan presentasi? Atay ketika kita tempelkan kening kita pada tangan guru kita, maka pikiran kita menjadi terbuka menerima ilmu?

Ya, semua itu tak perlu dipertentangkan dengan rasionalitas. Kebanyakan dari keyakinan-keyakinan itu ada dalilnya, ada riwayatnya. Namun, jika kita ingin lebih mengenal kata “barokah” dengan lebih progresif dan “rasional”, maka tradisi intelektual islam juga telah memiliki penjelasannya. Siapa tau anda-anda yang membaca tulisan ini berprofil lebih rational oriented yang “kurang” percaya dengan penafsiran klenik dari kata barokah.

Imam Ghazali menafsirkan “Barokah” sebagai “زيادة الخير” yang berarti bertambahnya kebaikan. Adapula ulama lain yang menyebutkan bahwa البركة هي الزيادة والنماء في الخير yang berarti “Bertambah dan bertumbuhnya kebaikan”. Dari kedua definisi ini, saya kira cukup clear bahwa barokah harus punya implikasi atau dampak, yakni kebaikan yang bertambah, dan kebaikan yang terus bertumbuh dan seterusnya. Maka, semisal beberapa waktu lalu kita baru bertemu seorang ulama, mengharap berkahnya, kita cium tangannya, berfoto dengannya, tetapi setelah itu kita masih malas untuk belajar, malas untuk bekerja, malas untuk berbuat baik, maka sejatinya kita belum mendapatkan berkah dari pertemuan itu.

Sehingga, untuk mendapatkan semangat meraih barokah dari seorang tokoh/kyai, kita harus punya konstruksi dalam pikiran untuk menghadirkan motivasi meniru dan meneladani keberhasilan dan keilmuan kyai/tokoh tersebut. Pelajari profilnya, bagaimana upayanya hingga mendapatkan kedudukan seperti saat ini, lalu motivasi diri kita, lakukan kebaikan-kebaikan yang paling tidak sama dengan yang telah diteladankan. Tidak bisa anda dapatkan barokah hanya dari sekedar mengaji sembari ketiduran atau main hape, lalu anda kebagian nyeruput kopi kyai, lalu anda tidur/main hape lagi. Artinya, barokah bukanlah sesuatu yang mudah dicapai, barokah bukan barang murahan, dan barokah tidaklah “GRATIS”.

Meminjam istilah Ketua PW GP Ansor Jawa Barat, Kang Deni Ahmad Haedari dalam suatu kesempatan, barokah ini ibarat “Laba” didalam bisnis. Jika kita ingin mendapatkan laba, ya kita harus jualan dulu. Dan kita tau, mendapatkan laba besar dari berjualan bukanlah sesuatu yang mudah, perlu usaha ekstra, perlu upaya yang cerdas dan cermat. Mana mungkin anda tidak berjualan lalu anda berharap langsung dapat laba. Begitupun untuk mendapatkan keberkahan atau barokah yang hakiki, tak bisa anda dapatkan dengan hanya kita mencium tangan kyai, lalu kita berlalu seolah tak termotivasi apapun. Barokah bisa kita dapatkan ketika setelah mencium tangan kyai, kemudian muncul semangat dan motivasi untuk meneladani, lalu kita melakukan upaya-upaya yang sudah diteladankan oleh beliau-beliau. Itulah hakikat barokah yang “paling tidak” saya yakini.

Maka, dalam setiap doa-doa barokah yang dipanjatkan, sejatinya ada makna yang sangat mendalam. Memohon ilmu yang barokah, berarti mengharap ilmu yang didapatkan dapat berdampak dan bermanfaat secara luas. Rizki yang barokah, maka rezeki yang didapatkan bisa dialokasikan untuk kerja-kerja kebaikan yang meluas. Rumah tangga yang barokah, berarti suami istri, anak, cucu mampu berperilaku baik dan meneladani kebaikan-kebaikan rumah tangga pendahulu, dan seterusnya. Dan saya kira, untuk mencapai ilmu, rizki, rumah tangga yang barokah semacam itu bukan hal yang mudah, banyak godaan, cobaan, ujian yang merintangi. Begitulah barokah, mudah diucapkan bahkan menjadi nama bagi jutaan warung di Indonesia, akan tetapi untuk mendapatkannya, butuh upaya yang tak mudah, kita harus konsisten melakukan kerja-kerja kebaikan, menambah perbuatan baik, menumbuhkan perilaku baik, layaknya pohon yang terus menerus menumbuhkan cabang dan rantingnya.

Akhiron, hemat saya baiknya kita mencoba tak mendangkalkan makna barokah dengan menafsirkannya sekedar mencium tangan kyai kemudian berlalu begitu saja. Barokah lebih progresif dari itu. Cium tangannya, ambil motivasinya, tiru semangatnya, raih dan tumbuhkan kebaikannya. Sekali lagi saya tegaskan, tak ada salahnya berkeyakinan “barokah cium tangan wolak walik”, tapi lebih dari itu, karena kita tasawwufnya imam ghazali, bukankah antara hakikat dan syariat harus proporsional? Yuk, makan siang di Warung Barokah depan Rumah, hehe.

Wallahu a’lam.

4 Keistimewaan Lebaran 1445 H Bagi Saya

4 Keistimewaan Lebaran 1445 H Bagi Saya

Idul Fitri adalah momentum kemenangan. Ada yang mengartikannya sebagai “Kembali Suci”, ada juga yang mengartikannya “Kembali makan”. Keduanya bagi saya benar, satu secara etimologi, satunya secara terminologi dan filosofis.Sesuai judul, saya ingin menguraikan beberapa keistimewaan Idul Fitri tahun ini dibanding idul fitri sebelumnya versi saya. Dan tentu, tulisan ini tak bermutu, karena bisa jadi ada poin yang bagi anda sangat receh, salah siapa juga anda baca, hehe.

1. Perut saya

Transformasi fisik saya yang tidak lagi buncit tentu membuat saya menjadi lebih percaya diri untuk berfoto bersama keluarga. Tak perlu lagi menkempis-kempiskan perut, tak perlu lagi menyimpan senyum lebar. Karena saya tak perlu khawatir wajah saya yang bulat menjadi gepeng saat senyum lebar akibat daging di pipi, wkwkwk. Tentu dibalik itu, ada transformasi mental, saat berpuasa, saya lebih semangat dan lebih energik. Ibadah semakin khusyu, koyok iyo iyo o, wkwkwk.

2. Anak ketiga

Tentu itu jadi poin pembeda, kalo tahun kemarin baru dua. Sekarang sudah ada 3 ummat yang senantiasa ngintil kemana-mana. Terimakasih untuk istriku. Terimakasih kepada Allah atas karunia dan kepercayaan-Nya kepada kami berdua.

3. Silaturrahmi dg Keluarga Bani Syathori, Arjawinangun

Sebenarnya, keluarga Bani Syathori Arjawinangun setiap tahun selalu berkunjung ke kediaman alm kakek saya pada tanggal 2 syawwal. Akan tetapi entah mengapa 2 tahun ini terasa lebih spesial saja. Apalagi ketika berkesempatan bersalaman dan sedikit bercengkrama dengan Walid Ahsin Sakho Muhammad & Buya Husein Muhammad. Konon, secara silsilah, keluarga besar saya dengan keluarga besar beliau masih nyambung, sama-sama keturunan Mbah Nursalim alias Pangeran Suralaja bin Sultan Muhammad Arif Zainal Asyiqin Banten. Semoga silaturrahmi kedua keluarga ini terus terjalin sehingga saya kecipratan barokah dari beliau-beliau.

4. Mudik Lancar tanpa Hambatan

Karena istri asli Malang, Jawa Timur, tiap lebaran pasti kami mudik. Tahun-tahun sebelumnya, kami biasa atur waktu mudik H+10 lebih setelah lebaran, tentu agar tak terjebak macet. Berhubung saya tahun ini sudah aktif mengajar dan terikat dengan pekerjaan, saya tak bisa terlalu santuy menunda mudik, nanti malah bentrok dengan pekerjaan. Maka saya beranikan mudik H+3, dan alhamdulillah sepanjang jalan saya tak menemukan kemacetan, anak-anak pun tak ada yang rewel. Kalo sudah rewel, bahaya, karena saya nyupir sendiri, otomatis istri pegang 3 ummat yang harus dijinakkan.

Yah, sebetulnya banyak keistimewaan lain yang mungkin belum tertulis, karena memang tulisan ini ditulis biar blog saya gak kosong-kosong amat. Maka poin 1 adalah poin yang sangat tidak penting untuk diceritakan hehe.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H semuanya, semoga ibadah kita dan puasa kita diterima sebagai amal ibadah, semoga kita semua termasuk dari orang-orang yang kembali kepada kesucian dan meraih kemenangan, Mohon maaf lahir dan batin.

Menjadi Konsultan Gadget Keluarga

Menjadi Konsultan Gadget Keluarga

Memilah dan memilih perangkat gadget bagi sebagian orang adalah hal yang cukup membingungkan. Apalagi jika orang tersebut tak punya interest dalam perihal teknologi. Tentu itu bukan kesalahan, karena setiap orang punya interest tersendiri dalam kehidupannya.

Saya sendiri adalah pribadi yang cukup antusias dengan perkembangan teknologi. Entah itu laptop, hape, atau beberapa gadget lainnya. Maka, saat saya ingin membeli suatu perangkat untuk daily driver, banyak channel youtube saya tonton, macam gadgetin, jagatreview, dll. Tentu saya bukan expert, melainkan hanya kaum mendang-mending yang tak ingin budget minimnya menghasilkan pembelian yang tidak “value for money” atau “worth it”, hehehe.

Urusan hape, daily driver saya adalah Samsung A52 dengan chipset Snapdragon 720G. Sudah hampir 3 tahunan ini saya gunakan dan belum ada keluhan berarti, masih nyaman-nyaman saja. Sebelumnya saya sudah menjajal brand lain seperti xiaomi & oppo, dan menurut saya, samsung yang saya pakai ini masih juaranya. Kalo di kelompokkan, hape yang jadi daily driver saya ini termasuk kelompok mid-range lah, tentu yang sesuai dengan budget saya saat membelinya. Pengen sih suatu saat punya gadget macam iPhone, namun sayang seribu sayang, duite ra nututi, wkwkwk. Masih banyak alokasi dana yang lebih penting daripada beli gadget seharga motor. Hahaha.

Untuk laptop juga masih menengah kebawah lah, Lenovo IP Slim 3 jadi pilihan. Ryzen 5, RAM 8GB dan memori sudah SSD sudah cukup untuk daily driver. Cukup untuk office harian dan editing grafis macam Corel dan Photoshop. Yang penting gak celeron-celeron amat. Yang baru dinyalakan sudah bikin emosi. Perdebatan Intel & AMD? Saya tim AMD! Alasannya, tentu juga selisih harga, hahahaha.

Track record begitu-begitu itu rupanya membuat beberapa keluarga yang berminat untuk membeli perangkat semi-semi konsultasi ke saya. Di bulan ini sudah ada 2 anggota keluarga yang minta rekomendasi seputar laptop. Sebenernya, saya gak terlalu pede memberi rekom laptop ke belio-belio. Tapi karena gak enak, saya carikan beberapa rekoman, tapi juga saya kasih disclaimer sebelum mereka memutuskan untuk meminang, “Resiko ditanggung perusahaan masing-masing ya, saya hanya memberi masukan, wkwkwk.”.

Ya memang begitu, pada dasarnya, pembelian perangkat harus didasarkan kebutuhan penggunaan dan budgetnya. Titik tumpu perekomendasi berangkat dari sana, dengan budget yang ada, sesuaikan dengan kebutuhan, dan kita dapat apa. Dan satu hal yang penting dalam masukan saya, saya hampir tak pernah memberi rekomendasi perangkat bekas. Kenapa? Karena track record terbaik saya beli perangkat bekas hanya membeli iPhone 11 untuk istri saya dari PS Store, selebihnya gatot, wkwkwk.

Udah itu aja cerita hari ini. Semoga kita semua diberi kelancaran dalam mengais rezeki, dan suatu saat mampu membeli gadget-gadget impian. Amin. Dan tentunya, jangan memaksakan diri untuk membeli gadget yang berada di luar jangkauan keuangan kita, apalagi jika sampai harus kredit, atau bahkan jual ginjal. Tapi, lagi-lagi disclaimer, semua tergantung financial planning anda.

Film Budi Pekerti: Media Sosial (Terkadang) Memang Menyebalkan

Film Budi Pekerti: Media Sosial (Terkadang) Memang Menyebalkan

Saya baru saja menonton film “Budi Pekerti” via Netflix. Film ini sepertinya berlatar di Yogyakarta, menceritakan seorang Bu Prani, seorang guru BP yang viral akibat ia naik pitam saat menemukan seorang pria yang menyerobot antrian putu. Lebih lanjut, ternyata bu Prani adalah guru BP yang kreatif, memberikan hukuman-hukuman unik untuk siswa, bahkan sampai yang (dianggap) kontroversial. Bu Prani tak mau menyebutnya sebagai “Hukuman”, tetapi “Refleksi”.

Inti cerita film ini menurut saya adalah bagaimana media sosial dan tetek bengeknya sangat mempengaruhi opini kita terhadap suatu realitas. Kisah bu Prani ini sangat relevan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sosial kita hari ini, dimana opini media sosial menjadi raja “kebenaran” yang absolut. Begitu mudahnya suatu fakta dari peristiwa dapat menjadi viral, dilihat banyak orang dengan segenap opini yang menyertainya.

Terlebih, tingkat literasi media sosial masyarakat kita yang buruk. Menyebabkan kita seringkali tak utuh melihat konten yang mungkin berisi penggiringan opini, membiarkan kita terpengaruhi. Boro-boro kita paham peristiwa sebenarnya, kita terjebak dalam penggiringan itu. Akibatnya, Bu Prani dalam film ini mendapatkan kecaman dan perundungan, ramai-ramai dirujak netizen.

Belakangan ini, kita juga mengenal istilah buzzer. Buzzer adalah pasukan yang diturunkan oleh seseorang yang punya kepentingan untuk mengkapitalisasi dan menggiring opini dari suatu realita peristiwa. Sehingga opini publik dapat terkuasai akibat pengaruh buzzer ini. Dampaknya, siapa yang berani melawan opini publik alias netizen, siap-siaplah dirujak ramai-ramai olehnya.

Bagi saya, fenomena ini berbahaya. Mungkin banyak dari mereka yang punya reputasi mentereng di media sosial, atau mereka yang berasal dari kaum berada, tak perlu demikian khawatir dengan penggiringan opini demikian. Tapi di luar saya, banyak orang-orang kecil dan lemah, yang dapat terdampak akibat penggiringan opini ini, contohnya adalah apa yang terjadi dengan kehidupan keluarga Bu Prani. Bagaimana citra Mukhlas, putra dari Bu Prani hancur, Tita yang dikeluarkan dari Band, dan terakhir Bu Prani yang mengambil pilihan yang berat diakhir cerita.

Maka, ini menurut saya, apa yang terjadi di media sosial, tak boleh kita anggap adalah “kebenaran mutlak”. Anggaplah ia bagian kecil dari realitas sebenarnya. Jangan jadikan ia rujukan utama. Karena bisa saja, meminjam istilah Chomsky, fakta yang anda lihat di media adalah rekonstruksi tertulis dari sebuah realitas di masyarakat yang diopinikan untuk kepentingan tertentu, alias bukan peristiwa sebenarnya yang terjadi. Jika dulu Chomsky mengingatkan kita akan adanya kepentingan “besar” dari apa yang diberitakan media massa. Agaknya kita juga perlu skeptis dengan media sosial, bahwa ada kepentingan tertentu dari apa yang ditulis dan viral di media sosial.

Dengan demikian, bukalah mata anda, jangan anggap apa yang anda lihat di medsos sebagai “kebenaran” satu-satunya. Jangan jadikan konten medsos sebagai rujukan utama dalam memahami peristiwa. Dahulukan Klasifikasi dan tabayyun sesaat anda melihat konten di medsos.

Dan untuk para kreator konten, bijaklah dalam memproduksi konten, janganlah anda politisasi dan kapitalisasi viralitas konten untuk kepentinganmu sendiri, apalagi sampai merugikan orang lain, janganlah menjadi konten kreator yang menjadikan media sosial menyebalkan. Akhiron, yuk tonton filmnya, semoga jadi bahan “refleksi” kita semua. Selamat Santap Sahur!

Rakyat Kita Sudah Cerdas?

Rakyat Kita Sudah Cerdas?

Dalam berbagai macam talkshow, podcast dan acara sejenis, khususnya yang bergenre politik dengan narasumber politisi-politisi, tentu kita akrab dengan kata-kata “rakyat kita sudah cerdas.” Konteksnya, seringkali itu diungkapkan oleh seseorang yang mencoba mempertahankan status quo, atau apapun kepentingannya. Dengan ungkapan itu, politisi tersebut biasanya berhasil men-skakmat lawan bicaranya. Karena lawan bicara seringkali tak akan berani menegasikan atau menolak statemennya bahwa sebenarnya “Rakyat Indonesia belum Cerdas.” Jika ia berani menarasikan negative statement tersebut, ia mungkin takut kehilangan afirmasi politik di masyarakat, atau paling tidak, takut dihujat netizen, hahaha.

Menurut KBBI, cerdas adalah sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti dan sebagainya); tajam pikiran. Kata kuncinya adalah akal budi, akal mewakili pemikiran (kognitif) dan budi mewakili perasaan (afektif) yang berkaitan dengan moralitas dalam suatu konstruksi budaya atau peradaban. Terdapat teori populer juga yang membagi kecerdasan kedalam tiga aspek, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). IQ berkaitan kognitif, EQ berkaitan afektif dan SQ terkait dengan relasi ketuhanan.

Dari teori dan definisi “cerdas” diatas, bisa kita bilang bahwa kecerdasan hanya akan didapatkan jika kita sebagai manusia melalui proses tertentu untuk mencapainya, yaitu proses belajar. Menuju kesempurnaan akal budi, manusia perlu mempelajari banyak hal, dan prosesnya tentu tak singkat. Saking pentingnya belajar, agama Islam mewajibkan ummatnya untuk belajar dengan segenap nilai-nilai keutamaan yang dinarasikan yang ujung-ujungnya adalah untuk menuju kecerdasan, menuju kesempurnaan akal budi. Tentu seorang muslim paham bahwa Rasulullah SAW pun diutus untuk menyempurnakan akhlak, dimana akhlak disini adalah manifestasi dari kesempurnaan akal budi, atau kecerdasan itu sendiri. Disamping itu, dalam konteks kenegaraan, kecerdasan merupakan sesuatu yang menjadi tujuan bernegara kita, karena dalam pembukaan UUD 1945, tercantum salah satu cita-cita nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa, yang berarti mengupayakan agar bangsa Indonesia hidup dengan kecerdasan, hidup dengan kesempurnaan akal budi.

Untuk mencapai kecerdasan sebagai cita-cita nasional itu, pendidikan adalah jalan untuk mencapainya. Direalisasikan melalui didirikannya berbagai macam lembaga pendidikan, dengan strata-strata tertentu. Dari PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA, hingga perguruan tinggi. Setelah melalui seluruh proses belajar pada lembaga-lembaga pendidikan ini, manusia Indonesia “diharapkan” menjadi rakyat yang cerdas, rakyat yang sempurna akal budinya, tajam pikirannya, seimbang IQ, EQ dan SQ nya. Maka dapat dikatakan, kecerdasan sebagai tujuan bisa didapatkan saat seseorang mampu menyelesaikan tingkat pendidikan setinggi-tingginya. Semakin tinggi persentase penyelesaian tingkat pendidikannya, maka semakin tinggi pula tingkat kecerdasannya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat pendidikan, semakin rendah pula kecerdasannya.

Mari kita buka fakta angka pendidikan di Indonesia. Data statistik pendidikan 2022 mencatat bahwa 59,88% penduduk Indonesia menamatkan pendidikan dasar, sebanyak 29,97% menamatkan pendidikan menengah, dan hanya 10,15% yang menamatkan pendidikan tinggi. Jika angka-angka ini menjadi acuan untuk menentukan tingkat kecerdasan rakyat Indonesia, agaknya sulit mengatakan bahwa “Rakyat kita sudah cerdas” bukan?

Oke, saya mencoba memahami cara berpikir pembaca. Sepetinya tidak adil mengukur kecerdasan seseorang dari tingkat pendidikan yang telah dilaluinya, toh banyak mereka yang berpendidikan tinggi menjadi koruptor, dan mereka yang lulusan SD adalah mereka yang baik dan jujur. Disamping itu, belum pula kita masukkan parameter pendidikan lain, misal pendidikan karakter dari orang tua, keluarga, lingkungan, pesantren yang perlu menjadi acuan juga. Saya punya kaidah yang keren untuk menjawab ini. Maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu, sesuatu yang tidak bisa kita capai sepenuhnya, tak boleh kita tinggalkan sepenuhnya juga, rugi dong.

Saya paham bahwa melihat strata pendidikan tak benar-benar valid untuk menakar kecerdasan atau kesempurnaan akal budi manusia. Tapi dari situlah kita setidaknya bisa mendapatkan potret kecerdasan rakyat Indonesia. Memang lembaga pendidikan kita ini masih banyak yang perlu dikoreksi, misal seringnya gonta-ganti kurikulum, rendahnya kualitas, beban administratif yang tak masuk akal, kurangnya profesionalitas dalam pengelolaan, ongkos pendidikan yang mahal dan seabrek PR bangsa ini dibidang pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika sedemikian bobroknya, maka angka-angka statistik diatas bisa dianggap angka yang menutupi keadaan aslinya. Dengan kata lain, keadaan sebenarnya bisa jadi lebih buruk. Bagaimana tidak, 10% mereka yang tamatan Perguruan Tinggi saja dipertanyakan kecerdasannya, apa kabar dengan 59,88%?

Kondisi objektif lain juga dapat dilihat dari berbagai parameter lain. Tingginya angka korupsi, hadirnya oligarki yang memainkan pemerintahan, manipulasi hukum ditingkat elit, politik yang sudah tak berbasis nilai dan ideologi, lebih transaksional, persetan dengan gagasan dan ide-ide kepemimpinan, yang penting adalah cuan dan cuan yang diberikan. Tanpa kita mengetahui angka-angka detilnya, tanpa kita tahu bukti-buktinya (karena memang sulit untuk meng-capture-nya), kita merasakan bahwa bangsa kita ini sedang krisis kecerdasan dan krisis kesempurnaan akal budi. Bisa jadi, kita sedang memelihara kedunguan.

Saya skeptis bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa tak benar-benar serius dilakukan. Akhirnya kita sebagai rakyat dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh banyak politisi, pejabat dan pebisnis untuk mengeruk keuntungan lebih. Kita dinina bobokan oleh mereka, dijejali bansos, dihipnotis dengan drama-drama media sosial, seolah kita dibiarkan tidak cerdas, dibiarkan tidak sempurna akal budinya alias dungu, agar tetap hidup dalam manipulasi genjutsu para pemimpin kita. Maka hidup kita ini akan selalu terasa begini-begini saja, tentu saja karena yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Mengapa pemerintah atau politisi kita perlu memelihara kedunguan kita? Karena mereka yang dungu lebih mudah dimanipulasi. Yang dungu lebih memilih pemimpin dengan pertimbangan serangan fajar daripada nuraninya, lebih mempertimbangkan cuan dibanding gagasan. Para politisi takut jika rakyat bangkit, jika semua rakyat cerdas, tuntutan kepada mereka akan meninggi, banyak dari kita akan meminta politisi untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang mantap dan menyeluruh, upah tenaga kerja yang layak, transportasi umum yang nyaman, riset dan penelitian mendunia, dan infrastruktur yang memadai. Namun, saat ini politisi kita cukup bernapas lega, karena yang diminta rakyat hanyalah beras dan sembako.

Akhiron, apakah kalian masih percaya dengan statemen “Rakyat kita sudah cerdas” dari politisi kita? Bagi saya, itu bagai genjutsu yang memanipulasi dan menutupi keadaan sebenarnya. Dan pertanyaan terakhir, lebih baik menyadari kenyataan lalu mengoreksi? Atau mengabaikan kenyataan lalu menutup mata?