Apresiasi Awal 2026

Apresiasi Awal 2026

Selamat datang, 2026.

Setelah akhir tahun yang cukup padat merayap, sok sibuk coba-coba penelitian komputasi, belajar ini itu, ngulak-ngulik, ngutak-ngatik, sampai ngejar deadline terbit jurnal ISSN yang saya editori, saya merasa perlu membela diri sedikit.

Bahwa alfanya tulisan receh di blog ini sepanjang November–Desember 2025 bukan berarti saya tidak produktif, ya. Saya produktif, tapi di jalur yang agak serius, hehe. Tulisan Desember tidak muncul di blog ini, melainkan nyasar ke Jurnal Ilmiah. Bedanya nulis di blog pribadi dan di jurnal itu ya begitu: kita nggak pernah benar-benar tahu kapan editor memproses artikel kita. Itu hanya Allah dan editornya yang tahu.

Tapi tak apa. Tahun 2026 ini saya ingin mengawalinya dengan satu hal sederhana: mengapresiasi diri sendiri. Ala-ala Gen Z yang nulis kata pengantar skripsi, “Terima kasih kepada diriku, yang telah kuat, tegar, dan tabah menghadapi semuanya. Thank you for me!” Hehe.

Belakangan saya justru merasa, megapresiasi diri ala Gen Z ini perlu juga dilakukan. Bukan untuk narsis berlebihan, tapi supaya tumbuh rasa bangga atas apa yang sudah kita lewati, sekaligus jadi bahan bakar untuk terus memperbaiki diri ke depan.

Malam ini saya baru selesai menonton film SORE di Netflix. Awalnya bikin jemu, lalu pelan-pelan bikin haru. Jujur, mata saya sedikit berkaca-kaca. Sore memang “gila, berkali-kali ia mencoba mengubah suaminya, berkali-kali pula gagal. Duh, spoiler. Intinya, poin yang saya tangkap: manusia itu bisa berubah, dan perubahan itu bisa diupayakan, meski tak selalu mulus.

Soal manusia berubah ini, nyambung dengan tulisan sebelumnya: saya yang sudah beberapa bulan berhenti merokok. Alhamdulillah, dari dulu sampai tulisan ini dirilis, saya masih konsisten berhenti dari rutinitas itu. Padahal, beberapa tahun lalu saya merasa berhenti merokok adalah kemustahilan. Ternyata bisa juga dilewati, dengan selow dan santuy.

Resolusi 2026? Apa saja, yang penting baik dan bermanfaat. Intinya, terima kasih kepada diriku sendiri, yang sudah kuat, sudah berjuang, dan cukup tegar menghadapi hidup sejauh ini. Soal olahraga? Let’s see.

Selamat Tahun Baru 2026

Laporan Tracer Study Alumni Pengepul Asap

Laporan Tracer Study Alumni Pengepul Asap

Kecepatan penyebaran informasi saat ini memang bukan main. Saking cepatnya bahkan dalam satu hari, ada 1-2 isu nasional yang muncul, belum clear itu isu, sudah switch ke isu lainnya. Mantapnya lagi, bahkan ada sebuah isu yang udah lewat “greng”nya kemarin, dan saya ketinggalan info padahal mantengin hape udah 7 jam perhari sesuai laporan riwayat mingguan. Gendeng memang zaman medsos ini.

Pernjataan ngawoer anggauta DPR memang mendjadi satoe hal jang ditunggu oleh khalayak masjarakat. Setelah demo besar akhir agustus yang dipicu statemen anggota DPR, kemaren-kemaren ini ada statemen tentang rokok yang sebenernya bener, tapi gabener. Duh, gimana ya, intinya begitulah.

Persoalan statemen blio ini sebenernya sudah banyak ditanggapi oleh banyak ahli bahwa ada perbedaan antara faktor resiko, dan penyebab langsung. Korelasinya rokok dengan kanker, sakit jantung, dan penyakit paru ini permainan 3-4 premis nih, bukan 2 premis doang.

Saya berdiri dalam argumentasi-argumentasi ini. Sehingga 3 bulan lalu ketika saya mulai meletakkan korek dan memberikan sebungkus Sampoerna Mild yang baru kalong 2 itu ke orang lain, saya berangkat dari pemahaman ini. Yes, menjawab tulisan saya sebelumnya, dengan penuh kerendahan hati, saya mudah-mudahan akan selalu menjadi alumni perokok.

Sejujurnya keinginan berhenti merokok itu sudah muncul sejak zama penjajahan. Tapi menghetikan aktivitas ternikmat setelah makan dan pas boker itu sangat-sangatlah tidak mudah bagi saya. Butuh 2 tahun dari sejak perencanaan ke pelaksanaan, hehe. Tapi, bermodalkan alasan yang sama saat saya melakukan penurunan berat badan, alhamdulillah sekarang sudah sampe di BAB IV, semoga segera nyampe ke Bab V, sehingga bisa memberikan kesimpulan dan saran-saran untuk mereka yang punya niat berhenti merokok.

Oh iya, menyoal bahaya kesehatan rokok, sebagai orang kimia yang ngajar farmasi, sulit bagi saya menjadi orang yang denial atas bahaya rokok. Maka, meskipun dulu adalah perokok, saya bukan tipe orang yang ngeyel ketika ada orang yang menasihati bahaya merokok, apalagi beretorika mencari pembenaran merokok dengan mentauhidkan sampoerna A mild, ampuuuun.

Tapi memang urusan rokok ini bukan urusan kesehatan bloko. Ada faktor ekonomi yang perlu dipikirkan. Perlu dipertimbangkan rokok sebagai sebuah industri yang menghasilkan cukai dan penerimaan negara yang besar. Ada banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya dari industri ini. Jika tiba-tiba industri ini dihabisi tanpa pemilik usaha diberi waktu untuk melakukan diversifikasi, tentu bahaya bagi keberlangsungan hidup banyak keluarga.

Saya sepakat bahwa rokok lebih banyak madhorotnya dibanding maslahatnya. Tapi seperti kata sebuah kaidah, “dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih”, menghindari kerusakan harus didahulukan daripada menciptakan kemaslahatan. Menyelamatkan penghidupan keluarga pekerja industri rokok harus didahulukan daripada memberangus industri rokok.

Kunci utamanya pasti di pemerintah. Pemerintah harus berpikir dan memiliki perencanaan yang baik dalam menangani industri rokok dan perokok muda yang megancam masa depan bangsa. Yaaah, saya masih percaya ada hal-hal baik yang akan terjadi pada masa depan kita semua.

Dan untuk semua teman, keluarga, pembaca yang masih merokok. Silakan merokok, karena saya tahu, berhenti merokok itu tantangannya luar biasa sulit. Kalo boleh saya spill laporan tracer study alumni pengepul asap seperti saya ini, ada peningkatan intensitas membuka kulkas tanpa tujuan, clingak clinguk abis makan, dan planga plongo saat di jamban. Meski begitu, ditemukan peningkatan signifikan dalam durasi tidur, rasa apresiasi diri, dan uang jajan yang lebih awet.

Jadi gini ajalah, paling tidak kita harus berhenti menjadi perokok yang bebal dan banyak berdalih bahwa rokok tidak berbahaya, merokok berpahala, atau bahkan merokok mengandung nilai tauhid. Mari kita sudahi itu. Akuilah bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan, tapi memang untuk berhenti dari kebiasaan itu, perlu sesuatu yang lebih dari sekedar ilmu dan pengetahuan.

Fitokimia Farmasi, Buku Pertama dari si Bubuk Rengginang

Fitokimia Farmasi, Buku Pertama dari si Bubuk Rengginang

Sejujurnya, saya suka menulis. Saya suka menuliskan sesuatu yang saya pikirkan. Lebih bayak yang tidak dipublikasikan. Kepikiran ini itu saya coba tulis di google keep saya yang acak-acakan itu.

Kejujuran selanjutnya, saya harus mengakui saya bukan penulis yang baik. Bahkan, haqqul yaqin belum pantas disebut “penulis”. Saya pernah nulis buku saat mahasiswa dulu, tapi “belum sah” disebut penulis karena bukunya ditulis keroyokan, alias dalam bentuk bunga rampai. Kompilasi sekitar 20 artikel pendek saja bersama teman-teman.

Maka dari itu, menulis dengan sebuah tujuan akhir menjadi sebuah buku adalah salah satu cita-cita saya. Tapi, seringkali saya merasa gagasan dan pengetahuan saya cenderung parsial dan sporadis. Saya sulit menemukan satu tema yang saya bisa bahas hingga menghasilkan output berupa buku. Bukan berarti persoalannya tidak ada, tapi saya merasa tidak pantas dan punya kapasitas untuk menulis dan mengulas persoalan itu. Ada pakarnya sendiri yang lebih bisa membahasnya daripada saya, dan saya tidak merasa expert disitu.

Tiga tahun awal menjadi dosen di kampus swasta, mengampu mata kuliah tertentu, menyusun Rencana Pembelajaran Semester, mengembangkan bahan ajar, dan menyampaikannya di kelas membuat saya merasa terilhami bahwa disinilah celah yang bisa saya gunakan untuk menulis buku. Dengan bermodalkan mengajar mata kuliah Fitokimia di dua semester, sepertinya ini momentum yang tepat untuk saya menuliskannya menjadi sebuah buku.

Dengan mengajak partner sesama dosen yang di semester sebelumnya team teaching bersama, akhirnya saya mencoba menyusun struktur bukunya dengan dasar awal RPS. Dengan sedikit modifikasi, jadilah struktur buku tersebut. Perlahan tapi pasti, Bab demi Bab lahir.

Gayung bersambut! Selepas diterima sebagai dosen di UIN Cirebon, sebelum Latsar di mulai, tersedia banyak waktu luang yang tentu saja saya manfaatkan untuk menyelesaikan buku yang akhirnya saya beri judul Fitokimia Farmasi: Kimia Bahan Alam untuk Mahasiswa Farmasi.

Ditengah perjalanan Latsar, alhamdulillah buku selesai ditulis dan segera saya dan rekan lakukan penyesuaian dan perbaikan. Tak lama juga, kami kirimkan ke Penerbit yang sudah kami seleksi seketat-ketatnya sebagai penerbit yang paling ramah di kantong, hehehe.

Alhamdulillah beberapa hari yang lalu Buku tersebut telah terbit. Seperti yang ada pada blurb buku tersebut. Buku ini bisa menjadi buku pegangan bagi mahasiswa farmasi yang sedang mengambil mata kuliah fitokimia atau sejenisnya, atau bahkan untuk dosen yang akan mengajar mata kuliah terkait.

Semoga bukunya bermanfaat. Daaan, tentu saja, selalu ada ambisi untuk saya menulis dan terus menulis. Saran dan kritik sangat boleh, bahkan sangat diperlukan, apalagi bagi penulis kelas bubuk rengginang macam saya.

Wallahu alam.

Pesantren Bukan Sarang Feodal

Pesantren Bukan Sarang Feodal

Beberapa waktu lalu, program Xpose Uncensored di Trans7 menayangkan liputan yang menggambarkan pesantren sebagai ruang penuh praktik feodal dan pengkultusan Kyai. Tayangan itu menyorot santri yang menunduk, mencium tangan, bahkan memberi uang kepada kyai, seolah-olah semua itu bentuk eksploitasi dan perbudakan spiritual. 

Framing semacam ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merusak citra pesantren sebagai lembaga yang sejak berabad-abad menjadi penjaga akhlak dan ilmu di Nusantara. Namun untuk memahami mengapa framing semacam itu bisa muncul, sepertinya kita perlu membaca konteks sosial secara lebih mendalam. Karena sebuah peristiwa, tentu saja tidak muncul dari ruang hampa.

 

Dari Tragedi Menuju Stigma

Dalam pikiran saya, sangat sulit untuk melepaskan framing negatif Trans7 ini dari tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo yang menelan banyak korban jiwa tersebut. Dalam suasana duka itu, KH. Abdussalam Mujib menyampaikan bahwa peristiwa tersebut merupakan musibah dan takdir. Saya paham bahwa kalimat ini di dunia pesantren dipahami sebagai bentuk ketabahan dan upaya menenangkan batin, namun di mata publik modern ia dianggap sebagai penolakan terhadap tanggung jawab.

Terjadilah benturan dua bahasa, bahasa spiritual yang menenangkan jiwa dan bahasa modern yang menuntut audit serta akuntabilitas. Keduanya sama-sama punya tempat. KH. Mujib berbicara dalam kapasitas moral dan psikologis, sementara masyarakat menuntut penegakan hukum. Masalahnya muncul ketika tafsir spiritual dipotong dan dipelintir untuk memperkuat kesan bahwa pesantren itu anti kritik, tertutup, dan tidak rasional. 

Dari duka ini, muncullah penggiringan opini terus menerus yang mengarah pada fitnah bahwa pesantren adalah adalah sarang feodal, sarang pengkultusan, dan tempat tumbuhnya kekuasaan absolut para kyai. Saya menduga, ada pula pihak-pihak yang sejak awal memang tidak menyukai dunia pesantren, lalu memanfaatkan suasana duka untuk memperkeruh persepsi publik. Dunia ini, bagaimanapun, tidak pernah benar-benar bebas nilai, bukan?

 

Adab Bukan Feodalisme

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, feodalisme adalah sistem sosial yang menempatkan kekuasaan di tangan segelintir orang dan mengagungkan jabatan di atas prestasi. Tapi hierarki di pesantren sama sekali tidak lahir dari kekuasaan. Ia tumbuh tradisi yang mengagungkan adab dan ilmu. Menempatkan ilmu sebagai cahaya, setinggi-tingginya, seterang-terangnya, semulia-mulianya.

Mari kita jernih memahami, dalam sistem feodal, status dijaga agar yang di atas tetap di atas, bahkan cenderung menghalalkan segala cara agar tetap diatas. Sedangkan dalam sistem pesantren, penghormatan justru mendidik agar santri layak naik derajat. Menjadi penerus kyai dalam menjaga cahaya ilmu di tengah dunia yang kehilangan arah dan keteduhan. Saya dan para santri menghormati kiai bukan karena keturunan, tetapi karena keluasan ilmu yang lahir dari ketekunan menuntut, keikhlasan mengajar, dan kesungguhan menjaga cahaya ilmu agar tetap hidup.

Ana ‘abdu man ‘allamani harfan wahidan.

 Aku adalah hamba bagi siapa pun yang telah mengajarkan kepadaku satu huruf.

Ini adalah ungkapan populer Sayyidina Ali Kw, sebagaimana dikutip dalam kitab Ta’lim Muta’alim, yang menjadi dasar keta’dziman para santri di pesantren. Dalam kitab itu pula dijelaskan bahwa menghormati ilmu berarti juga harus menghormati ahlinya. Maka, santri menghormati gurunya bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ilmu tidak bisa tumbuh di hati yang penuh kesombongan. Ketika santri menunduk dihadapan kyai, sejatinya yang ditundukkan bukan tubuhnya, melainkan egonya.

Sekali lagi, feodalisme bertujuan melanggengkan legitimasi. Penguasa ingin kekuasaan tetap berada di tangannya. Pesantren justru sebaliknya, ia hidup dari semangat regenerasi. Kyai sejati selalu berdoa agar santrinya menjadi penerus yang lebih baik, lebih luas ilmunya, dan lebih dalam pengabdiannya.

Dalam tradisi pesantren, hidup nilai tawassuth(moderat) dan tawazun (seimbang) yang menjaga harmoni antara penghormatan dan rasionalitas. Kiai dihormati, tetapi bukan berarti kebal dari musyawarah. Santri tunduk dengan adab, namun sekaligus dididik untuk berpikir kritis dan argumentatif. Maka, bukankah sebuah ironi jika pesantren dituduh tidak progresif, sementara banyak intelektual muslim yang tajam dalam berpikir justru lahir dari rahim pesantren?

 

Kritik Boleh, Framing Tidak

Memang ada individu yang menyalahgunakan status “gus” atau posisi “dzurriyah kyai” untuk bertindak semena-mena. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi penyimpangan individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menstigma seluruh sistem. Pesantren bukan ruang sempurna, kekurangannya pun bisa dilihat dengan jujur, dan saya sendiri memiliki sejumlah kritik terhadapnya. Tetapi menggiring opini hingga menjelma fitnah adalah tindakan yang kejam dan tidak beradab.

Masyarakat boleh dan bahkan perlu mengkritik pesantren terutama dalam hal tata kelola, transparansi, dan keselamatan fisik santri. Namun kritik yang sehat berbeda jauh dengan framing yang tendensius. Kritik lahir dari cinta terhadap kebenaran, sedangkan framing lahir dari keinginan menjatuhkan martabat. 

Pesantren tidak anti kritik! Yang  saya dan semua santri tolak adalah penghinaan terhadap marwah keilmuan. Apalagi ketika kritik itu diarahkan bukan kepada pelaku yang salah, tapi kepada sosok-sosok yang justru menjadi teladan keikhlasan seperti KH. Anwar Manshur dari Lirboyo seorang alim yang hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk ilmu dan umat. 

 

Penutup: Sang Penuntun Cahaya

Aswaja mengajarkan kita i’tidal (tegak lurus) dalam menilai sesuatu dan tasamuh (toleran) terhadap perbedaan. Dalam semangat itu, kita boleh berkaca dari tragedi dan kritik yang datang, tapi jangan sampai kehilangan cahaya yang menerangi jalan kita.

Feodalisme hidup dari rasa takut kehilangan kuasa. Pesantren hidup dari cinta untuk mewariskan ilmu. Feodalisme membangun menara agar rakyat tak bisa naik, sedangkan pesantren membangun tangga agar santri bisa naik dengan adab dan etika yang menyertai setiap langkah menuju ilmu.

Maka ketika ada yang menuduh pesantren sebagai sarang feodalisme hanya karena santrinya menunduk di hadapan kyai, mungkin ia belum mengerti bahwa di pesantren, menunduk bukan tanda ketundukan absolut, tetapi tanda hormat kepada penuntun cahaya ilmu dan kebijaksanaan.

Wallahu a’lam.

Fenomena Seremonial 5.0: Menyentuh Screen yang Bahkan Bukan Touchsreen

Fenomena Seremonial 5.0: Menyentuh Screen yang Bahkan Bukan Touchsreen

src: upradio.id/perayaan-hut-ke-32-rswan-gedung-igd-diresmikan/

Seumur hidup saya yang baru 30-an ini, saya sudah melalui banyak seremonial kegiatan. Zaman saya mahasiswa, gong adalah instrumen mutakhir untuk membuka acara atau program tertentu. “Dengan mengucapkan Bismillah, secara resmi acara x dibuka.”. “gooooong”. Selain itu masih banyak, ada pemotongan pita dan pelepasan balon. Atau kalau panitia lagi niat, ada pelepasan burung merpati yang langsung kabur ke arah parkiran. 

Namun, yang pasti sama dari semua peresmian dan pembukaan acara itu adalah pelaksanaannya yang tidak sekeren pembukaannya. Hahahaha. Itulah problem bangsa kita. Kita seringkali sibuk dengan seremonial membuka program, menginisiasi program, memberi ruang pejabat setinggi mungkin untuk membukanya, tapi realisasinya? tong kosong.

Kini, gong, pita hingga balon sudah mulai pensiun. Era kemajuan teknologi menggeser cara kita dan pejabat membuka program. Mereka sudah digantikan oleh sebuah layar besar dengan 3-5 animasi telapak tangan. Begitu para pejabat  meletakkan telapak tangannya disitu, operator dibelakang layar menekan tombol right arrow di keyboard untuk memunculkan slide berikutnya bertuliskan “Program Resmi Diluncurkan”. Sungguh keren dan sangar sekali, setidaknya sampai kursor mouse-nya ikut muncul di pojok layar. 

Saya menyaksikan mereka tersenyum, dengan tangan mengarah ke layar, seolah sedang menyalakan masa depan bangsa, padahal yang menyala cuma animasi PowerPoint dengan efek “fade in.” Kadang ada kursor mouse nyangkut di pojokan, tanda panik operator yang sedang berjuang menjaga momen sakral itu tetap tampak futuristik. 

Entah siapa yang pertama kali menemukan ide ini. Tapi satu yang pasti, kok saya merasa geli. Mungkin menurut mereka, ini menunjukkan simbol atas kemajuan, sebuah program keren yang dibuka secara futuristik. Tapi meletakkan telapak tangan pejabat di layar yang bahkan bukan layar sentuh rasanya kok menggelikan ya? kecuali kalo memang layarnya benar-benar touchsreen, atau sekalian pakai “fingerprint authentication” kayak buka aplikasi m-banking di smartphone kita.

Sudah mah geli di seremonial, realisasi programnya hampir nihil. Bahkan seringkali kita dikenal sebagai masyarakat yang mengesankan peresmian lebih penting dari pelaksanaan. Dalam kosmologi proyek Indonesia, foto bersama di depan backdrop lebih abadi daripada laporan progres. Programnya bisa tersendat, tapi momen tapping layar itu wajib menjadi evidence di media sosial.

Saya sering mikir, mungkin nanti kita akan punya upacara peresmian versi metaverse. Para pejabat tinggal di rumah masing-masing, mengenakan headset VR, dan bersama-sama menekan tombol virtual bertuliskan “Launch.” Lalu muncul teks holografik di udara: “Program berhasil diresmikan. Pelaksanaan menunggu anggaran.” Hahahaha.

Saya takutnya fenomena ini menjadi generalisasi dari cara kita memaknai kinerja publik, selama ada bukti foto dan video pembukaan, berarti program itu exsisting. Sedangkan substansi program itu belakangan, atau bahkan tidak perlu ada programnya, Kita tidak perlu bertanya apakah programnya berkelanjutan, yang penting ada foto, ada liputan, dan ada narasi “sinergi semua pihak.” Jangan sampai ini jadi “Indonesian Values”, miris banget soalnya.

Mungkin ritual “menyentuh layar” itu bukan soal membuka program, tapi menegaskan bahwa kita masih suka pura-pura menyentuh masa depan. Kita ingin terlihat modern, tapi masih takut benar-benar menyentuh kenyataan. Kita tidak mau jujur dengan keterbelakangan kita, atau memang kita lebih suka dengan kepura-puraan, menjadi si paling teknologi dengan menyentuh layar gede, hahaha.

Dan dalam konteks ini, rasa-rasanya kok gong terasa jauh lebih jujur ya. Setidaknya, gong berbunyi karena dipukul beneran, juga mencerminkan bahwa kita belum semaju itu, wkwkwk. Sehingga suara hasil gongnya juga beneran kedengeran, bukan dari pura-pura touchscreen dengan efek animasi dari operator yang sedang menekan tombol di belakang panggung, yang panik sampe keluar kursornya itu.

Wallahu alam.