Ngaji Hikam 3: Segala yang Tak Sesuai Rencana

Ngaji Hikam 3: Segala yang Tak Sesuai Rencana

Istiqomah dan konsisten adalah hal yang sulit. Sudah 4 hari sejak ngaji hikam 2 Gus Mus saya ikuti dan hari ini saya baru bisa melanjutkan mengaji lagi untuk ngaji hikam episode 3. Namun, kalam hikmah yang dibacakan di ngaji hikam 3 ini agaknya seperti membela inkonsistensi saya. Berikut adalah kalam hikmah ke-17 Syaikh Ibnu Athaillah:

“Barangsiapa menghendaki terjadinya sesuatu pada waktu yang bukan waktunya menurut ketentuan Allah, maka ia tidak meninggalkan satu bentuk kebodohan pun.”

Sebodoh-bodohnya orang adalah ketika ia memaksakan kehendaknya agar sesuatu terjadi pada timing yang ia inginkan, padahal Allah belum menakdirkan hal itu terjadi. Contoh yang diambil Gus Mus adalah ketika seseorang berada dalam kondisi sederhana, lalu ia ingin segera keluar dari kesederhanaan itu dengan tergesa-gesa, seakan-akan keadaan tersebut adalah kesalahan yang harus segera diperbaiki, padahal bisa jadi keadaan itulah ketetapan Allah baginya pada saat itu.

Saya sejak kemarin tentu ingin melanjutkan ngaji ini, tetapi aktivitas saya sebagai dosen, pegawai, suami dan berbagai tanggung jawab lain menjadikan ngaji ini tertunda beberapa hari. Kejadian ini tentu bagian dari apa yang sedang Allah tetapkan dalam waktu tersebut. Maka kekesalan saya karena baru sempat mengaji pagi ini sebenarnya lahir dari keinginan agar kenyataan mengikuti rencana saya, bukan mengikuti ketentuan-Nya. Kita hanya bisa merencanakan, Allah lah yang menentukan.

Yang lalu biarlah berlalu. Tidak semua keterlambatan adalah kelalaian, dan tidak semua kesibukan adalah penghalang kebaikan. Selama yang terjadi bukan kemaksiatan yang kita sengaja lakukan, kita perlu belajar menerima alur dan timing yang Allah tetapkan. Prinsipnya, ketika kita memiliki banyak aktivitas kebaikan yang saling bertabrakan dan kita tidak mampu mengatur prioritas sepenuhnya sesuai keinginan kita karena kewajiban dan keadaan, maka tidak perlu terlalu kesal. Bisa jadi justru di situlah bentuk ibadah kita hari itu. Usaha tentu saja wajib, tapi kita tidak boleh menuntut waktu dan hasilnya.

Contoh lain adalah ketika istri saya mengeluh karena sebelum menikah ia bisa menamatkan satu khataman Al-Qur’an setiap Ramadan. Ia sedih karena setelah menikah hal itu sulit dilakukan. Sebagai suami saya mengatakan, mungkin dahulu sumber pahalamu adalah mengkhatamkan Al-Qur’an, tetapi sekarang sumber pahalamu agak switching gitu: mengurus anak, mengantarkannya ke sekolah, memandikannya, menyuapinya, menidurkannya, dan merawatnya dengan kasih sayang. Bisa jadi pahala itu tidak berkurang, hanya bentuknya yang berubah. Bukankah itu juga ketetapan Allah yang patut disyukuri?

Senada dengan kalam hikmah ke-22:

“Tidak ada satu nafas pun yang engkau hembuskan melainkan Allah menjalankan padamu suatu ketentuan di dalamnya.”

Subhanallah. Sesungguhnya tidak satu hembusan nafas pun lepas dari ketetapan Allah. Karena itu, yang dituntut dari kita bukan mengendalikan seluruh peristiwa, tetapi menjaga sikap hati terhadap peristiwa. Akan ada yang terasa pahit dan manis, namun keduanya tetap berada dalam pengaturan-Nya. Kalimat “Coba kalau begini” atau “andaikan saja” seringkali lahir dari keinginan agar kenyataan mengikuti skenario kita, dan itu tidak sopan terhadap Allah taála.

Cocok pula dengan hikmah berikutnya:

“Jangan heran atas adanya kekeruhan di dunia, karena dunia memang tempat munculnya kekeruhan.”

Jadi kita tidak perlu terlalu terkejut dengan rumitnya kehidupan. Di satu sisi, kita selow aja sama pahit manisnya hidup, yang penting kita jangan lepas dari berusaha dan berikhtiar saja. Karena rancang bangun dunia memang bukan tempat kesempurnaan, tapi keruwetan dan kekeruhan. Pilihan kita adalah tetap berjalan dengan hati yang ridha sambil berusaha sebaik mungkin, tetap berhati-hati, dan tetap berpegangan kepada Allah di tengah keruwetan itu. Yang Maha Mengatur kan bukan kita.

Saya jadi ingat lagu dangdut jadul, “Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka. Semua insan pasti pernah merasakannya. Jalan hidup rupa-rupa, Bahagia dan kecewa, Baik buruknya sudah pasti ada hikmahnya. Susah senang datangnya silih berganti, bagai roda-roda yang terus berputar, Hadapilah resapilah hidup ini, jangan terlena jangan putus asa.”. Asek asek, Jos. Hak eee.

Wallahu a’lam.

Ngaji Hikam 2: Melihat Alam, Melihat Allah

Ngaji Hikam 2: Melihat Alam, Melihat Allah

Sebagai orang dengan latar belakang akademik ilmu alam, dalam perjalanan saya mempelajarinya, tentu saja banyak fenomena alam yang patut dikagumi. Di dalam diri kita saja, bagaimana setiap harinya jantung kita berdetak rata-rata sebanyak puluhan ribu kali perhari tanpa protes, kita dapat menarik oksigen dari alam tanpa rasa sesak, aktivitas tubuh di level molekuler yang begitu sangat rapi dan terprogram. Darah kita mampu “mengenali” mana bagian tubuh yang luka lalu membentuk bekuan hanya pada lokasi tersebut tanpa menutup seluruh aliran pembuluh, sel-sel tubuh mampu menggandakan DNA dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil setiap kali membelah, bahkan di dalam setiap sel terdapat mekanisme perbaikan ketika terjadi kerusakan genetik. Sistem imun dapat membedakan mana bagian tubuh sendiri dan mana benda asing, dan ketika bakteri masuk, tubuh dapat “mengingatnya” sehingga serangan berikutnya menjadi lebih ringan. Di tingkat kosmik, bumi berputar dengan kecepatan konstan tanpa kita rasakan, berada pada jarak yang sangat presisi dari matahari sehingga air tetap dalam bentuk cair, dan atmosfer menjaga suhu serta melindungi kita dari radiasi berbahaya. Semua berlangsung tanpa kita sadari, tanpa kita kendalikan, namun bekerja seolah-olah ada sistem pengaturan yang sangat teliti..

Uniknya, sains yang hari ini kita nikmati dalam perkembangannya kemudian sering dipahami dalam kerangka yang mengesampingkan entitas ketuhanan. Seolah alam ini adalah objek yang berjalan alamiah saja secara otonom, cukup dijelaskan melalui hukum-hukum fisika dan kimia yang terukur. Realitas dipersempit menjadi sesuatu yang dapat diamati dan diverifikasi oleh panca indera. Sedangkan Islam mengajarkan ummatnya bahwa alam semesta adalah tajalli atau manifestasi dari Tuhan, tanda-tanda kebesaran-Nya yang mengarah pada kesadaran transendental. Rasanya sulit menganggap alam semesta yang sedemikian teratur ini tidak memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri. Keteraturan hukum alam memang dapat dijelaskan, tetapi pertanyaan tentang makna dan sumber keteraturan itu tetap terbuka.

Pada ngaji Hikam 2 gusmus lalu, saya dipertemukan dengan Hikmah ke-14, di mana Syeikh Ibnu Athaillah mengatakan:

“Alam semuanya adalah kegelapan, dan yang meneranginya ialah kewujudan Allah s.w.t. pada alam itu sendiri. Maka barangsiapa yang melihat alam sedangkan ia tidak melihat Allah dalamnya atau di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka sungguhnya ia telah melumpuhkan wujud dari cahaya-cahaya, dan terhalang oleh awan-awan dari cahaya makrifat.”

Syeikh Ibnu Athaillah dengan tegas mengingatkan bahwa siapa pun yang melihat alam ini tanpa menangkap makna ilahiah di baliknya, sesungguhnya sedang terhijab dari cahaya makrifat. Alam bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan sesuatu yang menjadi terang ketika disadari sebagai pertanda. Untuk bisa merasakan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya, perlu refleksi mendalam yang mendudukkan hati dan pikiran secara tepat. Ini selaras dengan konsep Ulul Albab, di mana seorang ulul albab adalah pribadi yang mampu menyelaraskan aktivitas dzikir dan fikir yang nantinya melahirkan kesadaran teologis bahwa tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia.

Dengan demikian, sejatinya melalui sains seseorang juga dapat mendekati level ma’rifat dan mengenal Allah secara lebih dalam. Bukan karena sains membuktikan keberadaan-Nya, tetapi karena kemampuan tafakkur dan refleksi yang diasah oleh sains membuat seseorang semakin sadar akan keteraturan, keterbatasan, dan ketergantungan segala sesuatu. Ketika seseorang menyelami realitas hingga level mikroskopis, molekuler, bahkan atomik, dan tetap menemukan hukum yang konsisten serta keteraturan yang tidak berdiri sendiri, di situlah hati yang jernih dapat tersentuh oleh kesadaran bahwa alam semesta ini bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan belaka.

Wallahu a’lam.

Ngaji Hikam 1: Bahaya Ketika Amal Menjadi Sandaran

Ngaji Hikam 1: Bahaya Ketika Amal Menjadi Sandaran

Hikmah dari Ngaji Hikam 1:

Min ‘alāmāti al-i‘timād ‘ala al-‘amal nuqṣān al-rajā’ ‘inda wujūd al-zalal

“Salah satu tanda seseorang bergantung pada amalnya sendiri adalah berkurangnya harapan kepada Allah saat terpeleset ke dalam dosa.”

Kita langsung disuguhi dengan kalam hikmah yang menohok. Bahwa seorang sufi tidak boleh memiliki pikiran transaksional dengan Allah. Misal saya yakin akan dimasukkan surga oleh Allah karena saya rajin beribadah, rajin puasa senin-kamis bahkan daud, shalat sunnah semua dilaksanakan, haji berkali-kali, dan lainnya. Juga, misal ia pasrah akan dimasukkan ke neraka karena telah melakukan banyak dosa, sehingga ia tidak mau memperbaiki diri. Sudah terlanjur kotor, anggapnya.

Padahal, kita tidak boleh beranggapan demikian. Seharusnya, seorang sufi beribadah kepada Allah bukan karena-karena. Bukan ingin surga atau takut neraka, tapi karena memang itu adalah tugas kita sebagai hamba untuk beribadah. Mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, menjauhi apa yang dilarang-Nya. Urusan surga dan neraka itu terserah Allah. Kita harus percaya kasih sayang dan karunia-Nya.

Jangan sombong saat merasa banyak amal baik. Jangan putus asa saat berbuat dosa. Maka menurut Gusmus, posisi sikap paling ideal kita terhadap Allah berada diantara roja (harapan) dan khauf (rasa takut), atau dalam Bahasa Indonesia yang paling pas adalah harap-harap cemas. Ini posisi moderat.

Jangan sampai hanya roja. Jika hanya roja, misal karena kita yakin Allah maha pengasih, kita seenaknya melakukan dosa-dosa besar, karena toh nantinya juga diampuni. Kan Allah maha penyayang. Atau, hanya khauf, karena takut akan amarah-Nya, kita jadi sangat saklek dalam menjalani kehidupan, menangis sepanjang hari hingga abai dalam kehidupan bermasyarakat.

Sejujurnya, saya seringkali masih bersikap transaksional. Seperti halnya puasa ramadan ini, saya berpuasa terkadang hanya takut dosa dan neraka saja kalau tidak berpuasa, bukan “murni”karena niat beribadah sebagai manifestasi penghambaan saya kepada Allah. Semoga dengan Mutiara hikmah pertama ini menjadi pengingat bagi saya dan kita semua untuk melakukan rekonstruksi niat kita dalam melakukan berbagai macam ibadah. Dan juga saat kita berbuat dosa, yakinlah bahwa kita tidak boleh putus harapan dari Allah Subhanahu wataala.

Wallahu a’lam.

Akhirnya Ngaji Kitab Hikam Juga

Akhirnya Ngaji Kitab Hikam Juga

Sejak bertahun-tahun yang lalu,bahkan sejak masih di pondok pesantren, saya sangat tertarik mengaji kitab Hikamnya Syeikh Ibnu Athoillah Assakandari. Tapi kalo pas masih di pondok, tentu saja masih merasa tidak pantas karena konon hikam adalah kitab yang belum cocok untuk anak semuda saya kala itu. Disamping itu karena juga memang belum sempat aja saya mengikutinya.

Hiruk pikuk dunia saat ini membuat saya merasa perlu menyirami diri ini dengan mutiara hikmah yang menenangkan jiwa. Agar saya bisa lebih matang dan dewasa menghadapi persoalan hidup, dan agar saya tak sombong, pongah dan congkak dalam kehidupan sehari-hari. Maka sejak beberapa bulan yang lalu, di perjalanan saat berangkat kerja, disamping podcast popular dan terkadang kuliah topik kimia yang tersedia di youtube, saya kerap kali mencari dan mendengarkan pengajian-pengajian yang memuat pesan hikmah, termasuk pengajian kitab Hikam. Pengajian ya, bukan ceramah.

Dan, era digital menjadi privilege yang menyenangkan. Ditengah pencarian pengajian yang cocok, kemarin algoritma youtube saya menampakkan Pengajian Hikam yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri alias Gusmus. “Cocok ini.”, batin saya. Masih ngaji kedua, jadi saya belum ketinggalan. Meskipun sekarang juga masih muda, hehe, akhirnya saya mantapkan hati untuk mengikuti pengajian beliau melalui kanal youtube “GusMus Channel”.

Setelah menyelesaikan episode 1 ngaji hikam Bersama Gus Mus. Saya kok merasa eman aja gitu catatannya berakhir di goodnotes saja. Saya merasa perlu mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan di blog saya. Disamping mengamini sebuah hadits, bahwa ilmu itu layaknya hewan buruan, maka ikatlah ia dengan cara menuliskannya biar gak kabur, saya juga ingin menyertakan refleksi pribadi saya, atau paling tidak POV saya terhadap setiap ungkapan-ungkapan aforis Syekh Ibnu Athoillah. Ke depan, untuk setiap hari di bulan ramadan, saya akan menuliskan 1 hikmah dari beliau beserta interpretasinya, kemudian saya akan memberikan perspektif sesuai POV saya, misal dari sisi seorang anak, ayah, suami, dosen, makhluk biasa, santri, dll. Tentu saja tidak akan selesai semua hikmah di bulan ramadan ini. Karena total semuanya ada 264 hikmah, maka dari beberapa hikmah yang disampaikan pada setiap episode ngaji hikam gusmus, saya akan mengambil 1 hikmah saja yang akan saya coba refleksikan dalam tulisan.

Oh iya, kenapa tidak dalam video pendek atau reels? Saya masih punya banyak PR untuk video. Mungkin kedepan akan saya lakukan. Saat ini saya masih merasa belum pede aja, dari mulai skill editing video yang masih newbie, kurang pede saat take video, hingga pada level kapasitas keilmuan. Jadi sepertinya, tulisan adalah pilihan yang cukup aman untuk saat ini ya, hehe.

Semoga bisa konsisten ya, mari kita mulai di tulisan selanjutnya.

Ketika Adab Direduksi Menjadi Sopan Santun

Ketika Adab Direduksi Menjadi Sopan Santun

Sepertinya baru beberapa minggu yang lalu, kita semua tercengang dengan viralnya peristiwa seorang guru yang dikeroyok siswanya sendiri. Terlepas dari apapun sebabnya dan entah bagaimana nasib kasusnya saat ini, tetap saja itu sangat miris. Ada juga peristiwa ketika seorang guru sudah malas mengingatkan siswanya yang menaikkan kakinya di meja, tidur, bermalas-malasan dan aktivitas meremehkan lainnya. Tidak ada yang peduli apa yang sedang disampaikan oleh guru yang cenderung sudah sepuh tersebut.

Setelah terpicu dengan banyaknya peristiwa yang sangat tidak mengenakkan tentang relasi guru dan siswa, saya seringkali merenung sambil nyeruput kopi di malam hari, apa sih sebenarnya akar masalahnya? Mungkin juga sebagian dari generasi saya akan menganggap bahwa memang gen Z memang nir adab, tidak punya sopan santun, dan seabreg tuduhan lainnya. Padahal mungkin dulu juga sama saja, hanya belum ada instagram dan TikTok yang membuat peristiwa zaman dulu tak bisa viral seperti sekarang ini. Sepertinya kok tidak sesederhana siswa nakal dan guru yang abai. Ini seperti ada kepingan hilang.

Saya kemudian flashback masa-masa saat di Pesantren dulu. Di Pesantren, santri mencium tangan Kyai, duduk rapi, menunduk, berbahasa sesopan mungkin, berjalan ngesot adalah ekspresi cara santri menghormati seorang guru. Tertib dan khidmat.

Sebagai otokritik, saya juga punya pikiran yang cukup mengganjal tentang dunia pesantren, tapi bukan tuduhan feodalisme, melainkan bagaimana adab itu dipraktekkan. Saat para santri memasuki jam sekolah formal, kesopanannya terhadap Kyai tidak mampu mereka duplikasi menjadi kesopanan pada guru matematika, TIK, hingga bahasa inggris. Mereka cenderung meremehkan pendidikan formal. Mungkin mereka menganggap ilmu punya kasta, biologi levelnya dibawah nahwu, dan tasrifan lebih penting dibanding termodinamika, sehingga mereka bersikap dikotomis bahkan kepada transmiter pengetahuan tersebut. Kepada pengajar alfiyah, ia cium tangan bolak balik saat berpapasan, sedangkan kepada pengajar geografi, menyapa saja tidak. Ini bisa dianggap bias.

Fenomena diatas tidak bisa digeneralisir di semua pesantren, hanya bersifat kasuistik. Akan tetapi, apapun itu, saya merasa, kita tidak perlu mendikotomi ilmu. Sehingga kita juga tidak perlu menseleksi adab kita terhadap sesama pembawa ilmu. Mungkin, ada yang salah tentang cara siswa ataupun santri memandang sosok guru. Dan, untuk semua fenomena diatas, kita punya potensi keliru memahami adab dan sopan santun.

Kita mungkin telah menyamakan adab dengan sopan santun, dengan tata krama, dengan cium tangan, dengan kesantunan bahasa. Hemat saya, sopan santun dan tata krama adalah ekspresi budaya dari adab yang dijunjung tinggi. Maka, di setiap bangsa bahkan suku, ekspresinya bisa beda. Di pesantren seperti studi kasus diatas, ekspresi budaya dari adabnya adalah cium tangan dan membungkuk. Sedangkan di sekolah formal yang notabene dianggap impor dari barat, atau bahkan di barat itu sendiri, ekspresi budaya dari adabnya bersalaman biasa saja. Atau di Jepang, membungkuk menjadi standar ekspresi budaya atas adab. Gesturnya boleh beda.

Sopan santun dan tata krama adalah bentuk lahiriah. Adab adalah sumber batinnya. Tata krama adalah caranya, kesopanan adalah bahasanya, tetapi adab adalah kesadarannya. Karena itu, tidak semua pelanggaran sopan santun otomatis berarti kehilangan adab, dan tidak semua kesopanan berarti seseorang beradab. Gestur bisa menjadi tanda, tetapi bukan ukuran mutlak.

Adab adalah sesuatu yang lebih substantif dari semua ragam ekspresinya. Adab bukan hanya soal gestur. Adab adalah soal posisi batin. Bagi saya, adab dalam pendidikan adalah kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar informasi layaknya feeds dan reels, bahwa guru bukan sekedar penyampai materi pelajaran. Belajar di kelas bukan sekedar transaksi nilai dan kenaikan kelas.

Saat seorang siswa berpapasan dengan guru fisika dan bersalaman tanpa mencium tangan, kita tidak bisa langsung menghakimi ia tidak punya adab, mungkin hanya kurang sopan, ada benturan ekspresi budaya dan mungkin keduanya berasal dari daerah yang berbeda. Kemudian, saat seorang siswa menaikkan kakinya di meja ketika guru menjelaskan, memang itu tidak sopan dan melanggar tata krama. Tetapi yang lebih serius dari itu, ia menunjukkan tidak adanya respect terhadap proses belajar itu sendiri.

Sebaliknya, seseorang bisa saja sangat sopan namun tetap tidak beradab. Seorang siswa dapat berbicara halus, mencium tangan guru, bahkan terlihat sangat hormat, tetapi menyontek saat ujian, meremehkan pelajaran, atau belajar hanya demi mengejar nilai. Di sini kesopanan hadir, tetapi adab terhadap ilmu tidak ada. Ia hanya menghormati figur, tetapi tidak menghormati pengetahuan.

Atau, ketika seorang santri membungkuk dan mencium tangan kyai, disisi lain ia bersikap meremehkan guru bahasa indonesia di kelas dan menertawakannya karena dianggap tidak penting, atau bahkan melanggar peraturan pesantren, maka ada persoalan serius disini. Kita mungkin berhasil mempertahankan sopan santun dan tata krama disatu sisi. Tapi kehilangan adab di sisi lain. Sopan santun telah lepas dari rahim asalnya. Ini juga mengkhawatirkan.

Meskipun sopan santun dan tata krama itu penting sesuai dengan budayanya, adab yang lebih esensial adalah ketika siswa memiliki atensi penuh terhadap ilmu, menghargai aturan yang berlaku, mengerjakan tugas dengan integritas dan tanggung jawab, serta merasa tidak enak jika meremehkan pelajaran karena ia sadar sedang berhadapan dengan proses panjang peradaban.

Adab juga bukan mengkultuskan guru sebagai individu. Guru bisa salah, bahkan keliru. Namun sikap merendahkan proses belajar dan mempermainkan ruang kelas bukan kritik ilmiah, melainkan hilangnya adab terhadap ilmu itu sendiri. Kritik tetap mungkin, tetapi penghinaan bukan bagian dari tradisi keilmuan. Menghormati guru bukan karena ia guru, tapi ia adalah representasi dari ilmu dan proses pengetahuan.

Tak hanya untuk siswa, guru juga harus memiliki adab. Guru yang mempermalukan siswa di depan kelas, guru yang menjadikan otoritas sebagai tameng, guru yang anti kritik, adalah serangkaian contoh seorang guru yang juga kehilangan adab. Adab bukan membungkam pendapat, dan bukan pula anti kritik.

Adab mengikuti makna yang kita berikan pada ilmu. Jika ilmu dipahami hanya sebagai sarana memperoleh nilai, ijazah, dan pekerjaan, maka ruang kelas menjadi sekadar ruang administratif. Tetapi jika ilmu dipahami sebagai jalan memahami realitas dan memperbaiki kehidupan, maka penghormatan terhadap proses belajar muncul secara alami. Adab tidak bisa dipaksakan, ia lahir dari makna yang kita berikan pada ilmu. Disinilah letak pentingnya seorang guru yang cakap dalam pedagogis moral, menyampaikan ilmu yang diiringi dengan mandat nilai peradaban.

Saya jadi teringat satu pepatah Arab yang sering dikutip, yakni al-adab fawq al-‘ilm, yang berarti Adab di atas ilmu. Ungkapan ini bukan berarti adab lebih penting dari ilmu secara substansi. Tapi tanpa adab, ilmu bisa melahirkan generasi yang pintar, tapi tidak punya rasa hormat terhadap sesama manusia. Dan mungkin ini yang sedang terjadi saat ini.

Pendidikan kita sepertinya terlalu sibuk mengejar nilai, skor, peringkat, akreditasi. Semua sekolah terakreditasi A, semua kampus terakreditasi Unggul. Ilmu direduksi jadi nilai KKM yang tinggi tanpa melihat kompetensi sebenarnya. Guru direduksi jadi pengejar target kurikulum dan seabreg tugas administratif. Di tengah sistem yang instrumental seperti itu, adab seolah tidak diberi ruang untuk bertumbuh dan ditumbuhkan.

Maka jangan heran jika siswa menganggap kelas sebagai ruang bebas berekspresi, bukan ruang pertemuan dengan pengetahuan. Dan jangan heran jika sebagian santri hanya memuliakan ilmu di pesantren, tapi memandang ilmu yang diajarkan di sekolah sebagai sarana untuk meraih selembar kertas bukti pernah menempuh bangku pendidikan formal. Kita seperti jauh dari kata berhasil menyampaikan bahwa semua ilmu yang membawa kemaslahatan adalah amanah.

Saya tidak ingin tulisan ini menjadi nostalgia masa lalu. Zaman dulu pun gak suci-suci amat. Tapi saya khawatir jika kita terus menyamakan adab dengan sekadar sopan santun, kita akan puas dengan ritual tanpa ruh. Kita akan sibuk mengatur posisi duduk, tapi lupa membangun rasa hormat. Kita akan sibuk melarang kaki naik ke meja, tapi tidak pernah mengajarkan mengapa ilmu itu mulia dan harus dihormati. Pendidikan pada dasarnya bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi pembentukan cara manusia berhubungan dengan kebenaran. Tanpa adab, ilmu hanya menjadi kemampuan kognitif. Ia membuat seseorang cerdas, tetapi tidak membuatnya bijaksana.

Jika adab hilang, ilmu tidak lantas akan hilang. Ia tetap ada. Hanya saja, pendidikan akan berhenti membentuk manusia, ia hanya akan memproduksi lulusan yang kering akan moralitas dan rasa hormat. Kita sering keliru menilai moralitas dari kesopanan perilaku. Padahal sejarah menunjukkan, kerusakan besar sering dilakukan oleh orang-orang yang tampak paling beretika dalam penampilan sosialnya, namun tidak beradab, seperti para pejabat yang sangat sopan bersikap, santun dapat berucap, memegang teguh tata krama dalam bersosial, tapi ternyata melakukan korupsi dan merampas hak masyarakat.

Wallahu alam.

Apresiasi Awal 2026

Apresiasi Awal 2026

Selamat datang, 2026.

Setelah akhir tahun yang cukup padat merayap, sok sibuk coba-coba penelitian komputasi, belajar ini itu, ngulak-ngulik, ngutak-ngatik, sampai ngejar deadline terbit jurnal ISSN yang saya editori, saya merasa perlu membela diri sedikit.

Bahwa alfanya tulisan receh di blog ini sepanjang November–Desember 2025 bukan berarti saya tidak produktif, ya. Saya produktif, tapi di jalur yang agak serius, hehe. Tulisan Desember tidak muncul di blog ini, melainkan nyasar ke Jurnal Ilmiah. Bedanya nulis di blog pribadi dan di jurnal itu ya begitu: kita nggak pernah benar-benar tahu kapan editor memproses artikel kita. Itu hanya Allah dan editornya yang tahu.

Tapi tak apa. Tahun 2026 ini saya ingin mengawalinya dengan satu hal sederhana: mengapresiasi diri sendiri. Ala-ala Gen Z yang nulis kata pengantar skripsi, “Terima kasih kepada diriku, yang telah kuat, tegar, dan tabah menghadapi semuanya. Thank you for me!” Hehe.

Belakangan saya justru merasa, megapresiasi diri ala Gen Z ini perlu juga dilakukan. Bukan untuk narsis berlebihan, tapi supaya tumbuh rasa bangga atas apa yang sudah kita lewati, sekaligus jadi bahan bakar untuk terus memperbaiki diri ke depan.

Malam ini saya baru selesai menonton film SORE di Netflix. Awalnya bikin jemu, lalu pelan-pelan bikin haru. Jujur, mata saya sedikit berkaca-kaca. Sore memang “gila, berkali-kali ia mencoba mengubah suaminya, berkali-kali pula gagal. Duh, spoiler. Intinya, poin yang saya tangkap: manusia itu bisa berubah, dan perubahan itu bisa diupayakan, meski tak selalu mulus.

Soal manusia berubah ini, nyambung dengan tulisan sebelumnya: saya yang sudah beberapa bulan berhenti merokok. Alhamdulillah, dari dulu sampai tulisan ini dirilis, saya masih konsisten berhenti dari rutinitas itu. Padahal, beberapa tahun lalu saya merasa berhenti merokok adalah kemustahilan. Ternyata bisa juga dilewati, dengan selow dan santuy.

Resolusi 2026? Apa saja, yang penting baik dan bermanfaat. Intinya, terima kasih kepada diriku sendiri, yang sudah kuat, sudah berjuang, dan cukup tegar menghadapi hidup sejauh ini. Soal olahraga? Let’s see.

Selamat Tahun Baru 2026