Ini adalah tulisan pertama di tahun 2025. Ternyata, butuh 14 hari berlalu untuk membuat tulisan perdana di tahun 2025 ini, hehehe. Seperti yang banyak orang bilang, tahun demi tahun, kita harus punya resolusi. Satu, dua atau beberapa hal yang ingin dicapai di tahun yang baru. Apalagi kita seorang muslim yang memiliki prinsip ajaran (yang juga universal sebenarnya), bahwa “Orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini”.
Sabda Nabi SAW seolah mendorong kita untuk tidak bersikap statis, melainkan harus bersikap dinamis dan progresif dalam hidup. Siap menghadapi dan beradaptasi terhadap berbagai tantangan dalam fase-fase kehidupan. Belajar terus menerus untuk berkembang. Maka bagi saya, perkembangan adalah keharusan, dinamika itu keniscayaan, dan kesiapan memulai perubahan itu diperlukan. Meskipun seperti kata Yuval, manusia seringkali takut dalam menghadapi hal yang paling konsisten tersebut (baca:perubahan).
Awal tahun ini saya ditakdirkan diberi satu milestone baru dalam hidup, yakni kelulusan menjadi CPNS Dosen di salah satu perguruan tinggi. Setelah berjibaku dengan seleksi sejak akhir agustus tahun lalu, dan dari lowongan yang hanya 1 formasi, alhamdulillah saya terpilih menjadi orang yang mengisi formasi itu. Pastinya, mencapai milestone ini adalah hal yang tak mudah, perlu ketekunan dan keseriusan dalam usaha. Untungnya saya meyakini bahwa “al ujroh biqodril masyaqoh”, hasil tak akan mengkhianati proses! Saya betul-betul diilhami oleh kaidah ini.
Tentu saja saya meyakini, dibalik determinasi dan kegigihan yang saya tunjukkan untuk melalui beberapa tahapan dalam tes yang menguras tenaga dan pikiran, ada doa dan dukungan dari orang-orang tersayang. Maka saya ucapkan terima kasih untuk Istri, mamah, bapa, anak-anak, adik dan semua keluarga besar serta seluruh pihak yang mendoakan setulus hati untuk mencapai satu milestone ini. Istri yang menjadi support system luar biasa, ruang yang kau berikan untukku sangatlah berarti. Mamah bapa dengan doa “keramat”-nya demi keberhasilan anakmu ini. Anak-anak yang mengerti saat ayahnya ini perlu waktu untuk belajar dan tak bisa bermain bersama. Tak ada yang bisa saya persembahkan selain saya akan gunakan waktu hidup ini untuk bahagiakan semuanya.
Menjadi dosen memang cita-cita saya sejak dulu, tetapi jujur saja, menjadi Dosen PNS sebelumnya tak pernah terpikirkan. Dinamika dalam kehidupan lah yang membawa saya terdorong untuk mengikuti seleksi CPNS Dosen di Tahun lalu. Salah satunya adalah keinginan untuk menerima tantangan-tantangan baru dan keinginan untuk berkembang terus menerus dalam hidup, karena saya adalah “Long-Life Learner”, mwehehehe.
Ibarat karbokation yang terbentuk dalam berbagai macam reaksi organik, saat menemui kesempatan untuk membentuk karbokation yang lebih stabil, ia tak segan untuk melakukan penataan ulang dirinya, entah penataan minor seperti pergeseran hidrida, atau mayor seperti pergeseran metida, yang pasti ia ambil kesempatan itu. Dengan terbentuknya karbokation yang lebih stabil, ia punya waktu yang cukup untuk bereaksi dengan nukleofil dan membentuk produk yang lebih stabil.
Begitupun saya, pengambilan keputusan ini adalah upaya saya untuk sedikit melakukan pergeseran yang cukup berarti untuk menuju kestabilan baru dalam kehidupan dan karir saya. Kestabilan ini dibutuhkan untuk kemudian mempersiapkan diri menghadapi tahapan-tahapan reaksi (kehidupan) berikutnya.
Saya termasuk orang yang “berupaya” tak terlalu fokus dengan hasil. Karena bagi saya hasil itu buah dari proses. Jadi, nikmatilah prosesnya. Karena saat proses yang kita lalui itu proses dijalani dengan sepenuh hati, hasil akan menjadi buah manis yang dapat dipetik. Sebaliknya, saat kita menuntut hasil tanpa dibarengi dengan penikmatan terhadap proses, maka yang terjadi adalah caci maki terhadap keadaan.
Tak banyak harapan saya di tahun 2025 ini, seperti saat saya panjatkan doa kepada-Nya tentang CPNS ini. Saya tak meminta kelulusan, saya hanya meminta untuk diberikan takdir yang terbaik dari-Nya. Jikalah kelolosan adalah takdir terbaik, maka itulah yang akan Sang Maha Kuasa berikan. Jika ketidaklolosan adalah takdir terbaik, saya pun tentu akan menerima dan tetap bersyukur atas semua rahman dan rahim-Nya. Semoga 2025 senantiasa ditunjukkan takdir-takdir terbaik dari-Nya, amin ya robbal alamin.
Saat berhadapan dengan penguji dalam suatu wawancara, ada pertanyaan unik nan menarik dari salah seorang penguji. “Coba jelaskan nilai-nilai kimia yang relevan dalam tasawuf”. Seketika otak saya dituntut untuk berpikir cepat untuk mencari bahan jawaban. Seketika saya teringat akan peran nukleofil, suatu spesi kimia yang kaya elektron, yang secara sukarela memberikan elektronnya untuk berikatan dengan spesi yang kekurangan elektron dalam suatu mekanisme reaksi substitusi nukelofilik.
Akhirnya saya jelaskanlah relevansinya, bahwa dalam hidup, kita sebagai seorang yang punya kelebihan, baik berupa ilmu, harta, tenaga, dan aspek lain harus punya kepedulian untuk membantu mereka yang membutuhkan dan kekurangan. Seperti halnya nukleofil, yang rela berbagi elektronnya kepada substrat yang membutuhkan, memberikan dukungan yang berarti. Bahkan, nukleofil ini mendonorkan elektronnya seraya mengajak substrat untuk berikatan dengannya dan melepaskan belenggu ikatan sebelumnya yang tak memberikan kestabilan yang selayaknya.
Begitulah terkadang, dalam berbagi, ada yang memang benar-benar kekurangan, seperti karbokation, atau yang dia kekurangan, namun tak benar-benar memahami bahwa ia sebenarnya butuh uluran tangan, seperti spesi parsial positif.
Karena saya adalah seorang dosen dan guru, maka dimensi berbagi saya lebih banyak pada berbagi ilmu pengetahuan. Di kampus kepada mahasiswa dan di pesantren kepada para santri. Seringkali kita temukan di kelas, ada mahasiswa atau santri yang memang ia menunjukkan dirinya perlu perhatian lebih untuk memahami materi, sehingga tentu saja itu perlu kita beri tambahan pemahaman materi. Saya kira mendekati dan memahamkan jenis mahasiswa begini lebih mudah. Ibarat karbokation, secara dzohir ia memang butuh diberi elektron untuk berikatan, artinya mahasiswa tersebut perlu bonding lebih dengan kita dalam pembelajaran.
Adalagi jenis mahasiswa yang ia tidak menunjukkan atau mungkin tidak tahu bahwa ia butuh perhatian lebih dalam pemahaman materi, tetapi sebenarnya ia membutuhkannya. Satu kesamaan dari keduanya adalah mereka sama-sama membutuhkan perhatian dalam pembelajaran. Namun tentu saja yang kedua ini tantangannya lebih berat bagi seorang dosen, ibarat spesi karboh parsial positif, meminjam istilah imam algazali, ini tergolong pada kelompok “rojulun la yadri wa la yadri annahu yadri”, begitu kira-kira.
Nukleofil dalam hal ini, ia menyiapkan dua mekanisme dalam membantu kedua jenis spesi berbeda ini, yaitu dengan mekanisme SN1 dan SN2. SN1 untuk mahasiswa tipe 1 dan SN2 untuk mahasiswa tipe 2. Dari kedua mekanisme ini, anggaplah kita seorang nukleofil, kita sebagai dosen perlu menyiapkan mekanisme pembelajaran yang adaptif untuk kedua jenis mahasiswa ini, sehingga goals nya sama. Mereka dapat kita bantu meningkatkan pemahamannya dalam ilmu pengetahuan.
Saya percaya bahwa berbagi itu ada seninya, perlu strategi khusus dalam berbagi, dan ini tidak hanya berlaku pada dunia pendidikan seperti diatas. Contoh lainnya adalah dalam realitas perekonomian masyarakat Indonesia. Jikalah pemerintah ini ibarat nukleofil yang punya segudang kekuasaan untuk mensejahterakan kita, maka pemerintah sudah seharusnya memperhatikan dua tipe substrat yang harus ia bantu. Ibaratnya, spesi karbokation adalah masyarakat kelas bawah, mereka memang perlu dan harus dibantu secara ekonomi dengan mekanisme tertentu.
Disamping itu, pemerintah juga harus perhatikan juga substrat lainnya, yaitu si parsial positif tadi, atau mereka yang ada di kelas menengah. Kelas menengah ini seolah-olah tidak butuh bantuan, namun sebenarnya mereka sangat memerlukan bantuan, sepakat kan ya? Nah, pemerintah ini juga harus menyiapkan mekanisme untuk memberikan bantuan elektronnya kepada kelas menengah untuk lebih berdaya. Ini yang saya maksud berbagi itu perlu kecerdasan dan kejelian.
Yah, mungkin ada yang berekspektasi saya akan membahasnya dengan makna sufistik “mainstream” dari cerita nukleofil, tapi pada akhirnya adalah aspek ekonomi juga yang dibahas, hehehe. Meski anggapan umum tasawuf itu dimensinya endogen, tapi sebetulnya ada dimensi sosial eksogen dari tasawuf. Bagi saya, tasawuf sudah tak bisa dipahami sebagai pengasingan diri dari hal-hal duniawi. Jikalau tasawuf ini berakar dari dimensi ihsan, maka sebagai pelaku tasawuf, kita harus mampu menunjukkan keihsanan kita dalam kehidupan sosial kita.
Saya teringat definisi ihsan “an ta’budallaha kannaka tarohu, fain lam takun tarohu fainnahu yaroka, beribadah seolah-olah kita melihat-Nya. Kalu tidak begitu, beribadahlah dengan meyakini bahwa Allah melihat kita.”. Kalo memahami ihsan dari definisi tersebut, ihsan berkaitan dengan ibadah, dimana jenis ibadah yang kita lakukan tentu saja tak hanya ibadah personal, ada juga ibadah sosial yang mengisi relung-relung kemasyarakat.
Maka, tasawuf zaman sekarang harus dipahami lebih luas, harus berangkat dari dimensi pribadi ke dimensi sosial, dari endogen ke eksogen. Peduli pada berbagai isu, seperti climate change, pangan, perkembangan AI, ekonomi global dan regional, termasuk PPN 12%, hehehe. Jadi seorang sufi zaman now haram bersikap asosial, wkwkwk.
Kembali ke bahasan semangat berbagi, mari kita belajar berbagi pada nukleofil, dimana berbagi butuh strategi dan seni, tidak bisa monoton dan asal-asalan. Wallahu a’lam.
Saat ini, kita sudah sampai di pertengahan Desember. Sebentar lagi, kita akan memasuki tahun yang baru. Seperti halnya manusia-manusia lainnya, saya pun memiliki beberapa resolusi yang telah dicapai di tahun 2024, dan resolusi yang ingin dicapai di tahun 2025. Tapi, itu semua gak ‘saklek’ ya, karena saya meyakini, manusia ini kewajibannya ya berencana dan berusaha, Allah lah yang menentukan.
Banyak hal dalam hidup yang kita rencanakan dengan baik, ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Sebaliknya, banyak juga hal yang tak kita rencanakan, tapi secara insidentil menjadi satu milestone dalam hidup. Begitulah hakikatnya, Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hidup kita daripada kita sendiri. Rencana-Nya pasti lebih indah. Itu yang saya yakini.
2024 ini cukup menarik, saya tak banyak memasang target yang ambisius. Cukup memasang target konsistensi atas capaian di 2023 dalam berbagai aspek hidup. Jalannya tentu saja berliku, ada kemunduran, ada kemajuan, saya sikapi dengan positif, saya yakin bahwa Allah sedang menuntun jalan hidup saya menuju rencana terbaik-Nya.
Satu hal yang menjadi milestone di luar rencana 2024 adalah keikutsertaan dalam suatu seleksi. Tak disangka dan tak dinyana, saya mampu melalui 1 tahapannya. Saat ini, satu tahap lagi menuju kelulusan yang diharapkan. Jujur saja, keikut sertaan saya bukanlah bagian dari rencana, saya mengikutinya dengan keputusan yang spontan saja. Saya yakin, mentalitas yang saya tunjukkan, kegigihan yang saya berikan, itu adalah skenario yang telah ditulis-Nya sehingga saya sampai pada tahap ini. Tentu saja berkat doa dan dukungan orang terdekat saya, keluarga.
Lalu, bagaimana jika tak berhasil memenangkannya? Saya tak masalah dengan hasil. Yang penting, saya sudah memberikan segala kemampuan yang saya punya, saya pastikan bahwa saya melakukannya dengan kegigihan dan usaha maksimal. Saya berusaha saja meyakini bahwa “hasil tidak akan mengkhianati proses”. Jika gagal, berarti mereka diluar sana punya usaha yang lebih dari saya sehingga lebih layak. Yang salah tentu saja jika kita berharap berhasil, tapi tak disertai usaha yang maksimal, hehehe. Saya percaya, berhasil atau tidaknya, ada skenario keren yang sedang dipersiapkan Allah untuk saya. Tugas kita hanya berusaha. Kata-kata yang mbulet sekali, wkwkwk.
Ya intinya begitu, akhir tahun 2024 ini adalah akhir tahun yang cukup menentukan dalam karir dan kehidupan saya. Saya tak berdoa untuk kelulusan atau kemenangan atas seleksi tersebut. Yang saya minta adalah berdoa diberikan takdir yang terbaik untuk kehidupan saya dan keluarga di masa depan. Kalaulah lulus adalah takdir terbaik, maka luluskanlah ya Allah, kalaulah tidak lulus adalah takdir terbaik, maka buatlah lulus menjadi takdir terbaik, hehe. Maafkan hamba-Mu yang suka guyon ini.
Inilah yang bisa saya sebut tawakkal dan berpasrah. Setelah berupaya keras disertai berdoa, hasilnya adalah domain Allah yang menentukan. Domain makhluk adalah gaspolll maksimal.
Ya Allah, berilah hamba takdir terbaik untuk kehidupan hamba di masa depan, amin ya robbal alamin.
Suatu ketika, saya mendengar ceramah ibu-ibu yang sedang membahas suatu hadits.
كن عالما أو متعلما أو مستمعا أو محبا ولاتكن خامسا فتهلك.
Artinya, jadilah orang yang berilmu (kyai, ilmuwan, seorang expert), atau menjadi pembelajar, atau menjadi pemerhati/analis, atau menjadi pencinta, tapi janganlah menjadi nomor 5 yang pasti celaka.
Penceramah menjelaskan maksud hadits ini kepada jamaahnya, “Ibu-ibu jamaah, kita itu diperintahkan untuk jadi orang alim. Kalo tidak bisa jadi orang alim (misal karena kesibukan rumah tangga), paling tidak jadilah orang yang mau belajar. Kalo masih tidak sempat, paling tidak jadilah orang yang mau memperhatikan. Pas ikut pengajian, jangan ngobrol sendiri-sendiri, dengarkan apa yang disampaikan dalam pengajian. Atau misal, dengan berbagai kesibukan, tidak bisa ikut pengajian, ya paling tidak didalam hatinya tertanam rasa cinta terhadap ilmu dan ahli ilmu. Jangan sampai jadi yang ke 5, karena Allah menyatakan bahwa yang nomor 5 adalah orang celaka.”.
Begitulah penggalan ceramah seorang pendakwah. Tentu saja itu adalah hal yang baik dan positif. Cukup relevan untuk disampaikan kepada jamaah ibu-ibu, meski terkesan permisif. Dan saya juga kurang tau persih, begitukah makna sebenarnya dari hadits tersebut. Setidaknya, tafsir ini mengakomodir suatu kaidah ma la yudroku kulluh, la yutroku kulluh. Sederhananya, kalau gak bisa kita capai yang paling ideal, ya jangan lantas akhirnya kamu tinggalkan seluruhnya. Kaidah yang cukup permisif di kalangan santri, tapi dalam satu kondisi, memang kita harus permisif dalam konteks tertentu saat kita tak bisa menancapkan idealisme kita sepenuhnya, hehe.
Saya punya point of view (POV) yang cukup berbeda dalam memaknai hadits ini, setidaknya jika ini disampaikan pada seseorang yang berstatus pelajar, atau bahkan bisa juga untuk kita semua secara universal. Karena, kita pun, selama masih punya semangat belajar, dalam bahasa kerennya adalah “Long-Life Learner”, patut rasanya untuk mempertimbangkan salah satu POV ini.
Bagi saya, alih alih memaknainya top-to-down, saya lebih suka memaknainya down-to-top. Maksudnya begini, anggaplah kita sebagai santri/siswa/mahasiswa ini berada pada kondisi level 5, yaitu calon orang celaka, si “halik”. Agar tak menjadi “halik”, kita harus berupaya naik ke level 4 menjadi orang yang mencintai ilmu, alias “muhibban.”. Misal kita adalah mahasiswa kimia, dan kita belum mencintai ilmu kimia, maka akan sulit bagi kita mempelajari ilmu kimia dengan baik dan menyenangkan. Apapun yang disampaikan dosen, secara tidak langsung akan tertolak.
Maka dari itu, agar kita lebih semangat belajar kimia, kita harus berupaya naik ke level 4, menjadi muhibban. Kita harus mencintai dulu ilmunya. Cara gimana? Kita harus berupaya mencari argumentasi, rasionalisasi dan alasan untuk mencintai suatu ilmu. Karena jikalau kita sudah cinta, maka apapun yang berkaitan dengan sesuatu yang kita cinta, atensi kita akan naik. Seperti halnya orang yang cinta terhadap pujaan hati, sekecil apapun tingkahnya akan menjadi atensi penuh kita. You know lah “the power of love”, wkwkwk. Apakah cinta bisa diargumentasikan? Saya adalah bagian dari orang yang percaya, bahwa dalam satu titik, cinta memerlukan logika, cinta butuh rasionalisasi, tak sepenuhnya 100% bergantung kepada naluri manusia saja.
Saat kita sudah mencapai level 4, menuju level berikutnya akan sangat mudah, yakali jadi stuck jadi muhibbin. Mencapai level 3 sebagai orang yang memperhatikan “kemungkinan besar” akan menjadi konsekuensi dari sikap mencintai. Apapun yang berkaitan dengan sesuatu yang kita cinta, perhatian kita akan lebih banyak kepada objek tersebut. Artinya jika kita sudah mencintai ilmu kimia, hal apapun yang berbau kimia disampaikan, kita tak rela untuk tidak memperhatikannya. Level 3 adalah “mustamian” alias orang yang memperhatikan & penuh atensi.
Orang yang penuh atensi, memperhatikan semua hal, menganalisis segalanya, otaknya akan dipenuhi berbagai macam pertanyaan, benaknya dipenuhi rasa penasaran, berbagai hal yang memerlukan jawaban, sehingga kita akan terpancing sendiri untuk mencapai level 2. Akhirnya, kita akan mempelajari bagian-bagian dalam ilmu tersebut. Kita masuk ke level 2, sang mutaallim, orang yang mencari ilmu.
Ketika kita konsisten dalam pencarian, kita kontinyu dalam mempelajari hal yang kita cintai dan menghabiskan atensi kita, lambat laun pengetahuan kita terhadap hal atau ilmu tersebut akan meningkat. Dan dalam satu kondisi, akan ada anggapan bahwa kita adalah seorang ahli, seorang yang punya kapasitas keilmuan dalam bidang tersebut, yang secara tidak langsung kita masuk ke level tertinggi, yaitu “aliman”, seorang yang alim, seorang yang berpengahuan luas, kyai, ilmuwan, ahli, dsj.
Pemaknaan down-to-top ini saya kira lebih relevan untuk disampaikan kepada pelajar ataupun santri agar bisa memahami titik tolak penting dalam meningkatkan semangat belajar. Ibarat energi aktivasi dalam reaksi kimia multitahap, memang, tahap dari level 5 ke level 4 adalah bagian yang cukup sulit, tetapi jika sudah mampu melewati tahap pertama itu, energi aktivasi untuk tahap reaksi selanjutnya tak sesulit tahap pertama.
Hari demi hari berlalu, ternyata cukup lama blog ini tak memuat tulisan receh. Kalau boleh saya beralasan, kemandekan ini akibat sibuknya saya persiapan tes CPNS, hehe. Selepas tes SKD, barulah saya bisa sedikit bernafas lega. Meski nilai belum memenuhi target, setidaknya sudah saya lalui dengan usaha yang cukup keras. Tinggal menunggu pengumuman apakah lolos ke tahap SKB atau tidak.
Selepas masuk di kelas mengisi Mata Kuliah Kimia Medisinal di Semester VII tadi. Pikiran saya serasa melayang terus menerus. Saya merasa ada insight menarik yang perlu ditulis. Dalam materi yang saya sampaikan tadi sore, ada konsep yang cukup menarik pada kimed, yaitu tentang Isosterisme.
Isosterisme adalah konsep yang terus berkembang sejak diusulkan oleh Langmuir (1919), Hukum pergeseran hidrida Grimm (1925) hingga menjadi konsep Bioisosterisme yang dikenalkan Friedman (1951). Singkatnya, konsep ini menceritakan bahwa dalam pengembangan atau modifikasi struktur obat, bisa dilakukan penggantian gugus fungsi tertentu. Gugus fungsi yang menggantikan haruslah gugus yang isosterik, artinya gugus yang memiliki distribusi elektron dan karakter sterik yang relatif sama.
Sebagai contoh, misal dalam suatu molekul obat, ada gugus -NH2, maka kita bisa substitusi gugus -NH2 itu dengan gugus -OH. -NH2 dan -OH adalah pasangan isoster karena punya distribusi elektron yang sama, yakni 9. Ini harus diikuti agar modifikasi struktur yang dilakukan tidak terlalu mengubah sifat kimia dan fisika molekul obat yang (misal) pada awalnya sudah baik sebagai obat. Tetapi harapannya, ketika berinteraksi dengan reseptor untuk menimbulkan efek terapi terhadap tubuh kita, ia bisa memberikan efek yang lebih baik pasca modifikasi struktur.
Reseptor protein didalam tubuh kita ternyata memang cukup unik. Ia punya sifat yang inklusif. Ia tak mempermasalahkan adanya pergantian gugus selama sifat dan karakteristik gugusnya relatif sama. Tak masalah atomnya apa, yang penting sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Ia tak perlu nanya ke molekul, asal gugusnya darimana, atau punya orang dalam atau tidak, hehe. Barulah kemudian saat gugus itu berikatan dengan reseptor, ada kebolehjadian bahwa gugus itu bisa menjadi lebih baik dari yang digantikan atau sebaliknya.
Dari sini, kita perlu belajar nilai inklusivitas dari reseptor protein-protein di dalam tubuh kita dalam berbagai aspek kehidupan kita. Contohnya, dalam berbagai lini kehidupan kita, selayaknya kita memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang yang dianggap mampu. Tak masalah ia dari suku apa, kelompok apa, kelas masyarakat apa, yang penting sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan. Tak perlu kita membeda-bedakan asal usulnya, yang penting ia bisa berkontribusi. Saya jadi teringat kutipan dari Gus Dur, “Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.”.
Perilaku reseptor protein juga seolah menjunjung tinggi budaya meritokrasi. Dalam konteks ini, ia memilih molekul berdasarkan atas asas kemampuan, kompetensi dan fungsi paling efektif dalam kinerjanya, sehingga tercipta afinitas terbaik molekul-reseptor yang (misalkan) “meningkatkan aktivitas biologisnya”. Dalam keseharian kita, budaya meritokrasi pun harus dijunjung tinggi. Dalam isu kepemimpinan, ada kaidah populer dalam bahasa arab yang berbunyi “Tasharruful imam ala roiyah, manutun bil maslahah”, artinya keabsahan seorang pemimpin bergantung pada bagaimana ia mampu menciptakan sebanyak-banyaknya kemaslahatan.
Maka, dalam kita memilih pemimpin, selayaknya kita memilih seperti reseptor protein dengan pertimbangan bioisosterisme yang meritokratis. “Tidak penting ia anak siapa”, yang terpenting adalah pemimpin dipilih harus berdasarkan atas kompetensi, kapabilitas dan track record kinerjanya sehingga antara pemimpin dan kita selaku rakyatnya, tercipta “afinitas” terbaik, dan harapannya adalah “meningkatkan aktivitas pembangunan negara” yang sesuai dengan rel yang telah ditetapkan seperti yang dicita-citakan para founding fathers.
Melihat satu postingan instagram gus Nadir yang berisi potongan video suasana Synchronize Fest dimana Hadad Alwi bersenandung melantunkan tembang “Rindu Muhammadku”, disitu terdapat sekelompok anak muda yang dengan semangatnya mengikuti alunan musik dan ikut melafalkan lirik yang berisi sholawat. Yang menarik adalah terdapat seorang wanita yang tak berhijab berurai air mata, menangis sendu, mungkin saking ia meresapi lirik demi lirik yang disampaikan.
Dari sini, saya tak akan membuat caption yang sama dengan gus Nadir tentunya. Saya justru ingin berbagi pengalaman pribadi betapa saya aneh terhadap diri sendiri. Disaat orang-orang terkadang punya preferensi genre musik yang disukai, bahkan musik yang ia benci. Beberapa orang pernah mengaku secara langsung bahwa ia tak menyukai dangdut koplo karena goyangan biduan yang seringkali tak senonoh. Saya malah tak bisa tak menyukai satu atau dua jenis musik.
Tentu saja saya hanyalah penikmat musik, bukan vokalis, pengguna alat musik ataupun musisi. Saya hanya penikmat. Memang, ada masa-masa dimana saya merasa memiliki suara yang bagus, apalagi ketika flu, kebindengan membuat suara lebih merdu, wkwkwk. Saat itu, saya merasa suara saya sebelas duabelas dengan Pasha Ungu. Namun, setelah mendengar saran teman saya untuk merekam suara sendiri, kemudian didengarkan sendiri, ternyata suara yang saya bangga-banggakan saat flu itu fales banget, hahaha.
Ya, tapi memang begitulah. Saya menyukai semua jenis musik. Sejak SD dulu, diera-era ketika musik Indonesia didominasi Band macam Slank, Peterpan, Ungu, Naff, ST12, dan sejenisnya, saya menyukai semua lagunya. Bahkan terkadang, satu dua kali saya dengar terasa kurang bisa dinikmati, tiga empat lima ternyata enak juga. Apalagi saat kita coba menerka dan memperhatikan lirik demi lirik yang dilantunkan. Ada yang bikin mesem-mesem karena relate, ada juga yang bikin sedih karena dalam, adapula berlirik sedih, namun full joget menertawakan kesedihan macam koplo. Hahaha.
Bahkan, selama ini saat berkendara dengan orang tua, saya khatamkan itu tembang-tembang kenangan, macam lagu “Aku masih seperti yang dulu”-nya Dian Pieshesha, “Surat untuk Kekasih”-nya Tommy J. Pisa, “Jangan Ada Dusta Diantara Kita”- nya Broery Marantika & Dewi Yull, Koes Plus, dan lain-lain, banyak banget. Saya tak merasa itu tak kekinian dan aneh. Saya menikmatinya. Lagu-lagu Negeri tetangga macam lagu “Tayammum”-nya Iklim juga suka-suka aja. Lagu-lagu Barat, saya tak masalah selain lirik yang kurang saya pahami. Tapi beberapa lagu Barat ini sempat ada yang saya translate saking keingintahuan saya memahami artinya.
Hingga beberapa tahun belakangan inipun, saat ada yang menghujat lagu-lagu koplo, ada yang mengkritik lagu-lagu alumni Indonesia Idol, saya malah menikmati semuanya, dari Denny Caknan sampai Tiara Andini, bahkan ketika mereka berdua duet. Its awesome. K-Pop? Tanpa koreonya, banyak nada-nada lagunya yang menyenangkan kok. Lagu-lagu galau dan mellow macam Bernadya, atau penyanyi lain yang naik daun sekarang ini seperti Sal Priadi, Nadin Amizah, Fortwnty, Banda Neira, Fiersa Besari saya tak ada alasan untuk tak menyukainya. Nada-nadanya menyenangkan, liriknya mungkin ada yang relate, ada yang terlalu mellow, terlalu berlebihan, bagi saya, ya itulah karya seni, dimana dalam seni, orang bebas untuk mengekspresikan isi kepala.
Jadi, ini memang untuk saya pribadi. Ada banyak alasan untuk menyukai sebuah karya daripada untuk tak menyukainya. Andai liriknya tak paham pun, masih ada nada dan irama yang bisa kita sukai, saat nadanya tak begitu masuk ditelinga, ada lirik yang begitu indah untuk dinikmati. Seperti dalam sholawat, terkadang karena berbahasa arab, kita tak memahami artinya. Saat membaca maulid, mahallul qiyam, ia berisikan sejarah yang disampaikan dengan seni sastra yang indah. Mungkin, saat wanita muda dalam video yang diunggah Gus Nadir itu membaca dan memahami kata demi kata dalam beberapa kita maulid seperti barzanji, diba’i, simtudduror hingga burdah, saya cukup yakin air matanya akan mengucur lebih deras.
Ini adalah apa yang saya rasakan sebagai penikmat, bukan berarti mereka yang punya preferensi, menyukai yang ini, tak menyukai yang itu, adalah orang yang tak menghargai karya seni dan musik. Karena orang tentu punya hak untuk suka dan tidak suka dong. Apalagi mereka yang berprofesi sebagai musisi atau mahir dalam alat musik, pasti punya penilaian yang lebih baik dan objektif daripada saya kan? Toh, kritik pun diperlukan dalam sastra. Jadi, saya yang terlalu adaptif dengan musik dan hampir menyukai semuanya termasuk lagu India dan DJ OKE GAS-nya Prabowo ini apakah anomali? Ataukah ada juga yang sama dengan saya?
Hai, Saya Fawwaz Muhammad Fauzi, suatu produk hasil persilangan genetik Garut-Majalengka. Menjadi Dosen Kimia adalah profesi utama saya saat ini. Selain itu, ya membahagiakan istri, anak dan orang tua. Melalui blog ini, saya ingin menuliskan kisah-kisah keseharian saya yang pasti receh. Mungkin sedikit esai-esai yang sok serius tapi gak mutu. Jadi, tolong jangan berharap ada naskah akademik atau tulisan ilmiah disini ya, hehe.
Kalau ada yang mau kontak, silahkan email ke [email protected]. Udah itu aja.