Akhir-akhir ini, ada fenomena yang rasanya semakin mudah dijumpai, yaitu pesantren mulai banyak mendirikan perguruan tinggi. Dan menurut saya, itu kabar baik. Artinya, pesantren sedang berusaha menjaga relevansinya dengan perkembangan zaman. Bukan dengan meninggalkan identitasnya, melainkan dengan memperluas medan khidmahnya.
Harapannya tentu jelas. Dengan adanya kampus di lingkungan pesantren, akses pendidikan tinggi bagi santri menjadi semakin dekat dan lebih mudah dijangkau. Kapasitas keilmuan pesantren di bidang agama pun memperoleh legitimasi formal negara, misalnya melalui model pendidikan tinggi yang sudah mapan, maupun melalui jalur pendidikan tinggi khas pesantren seperti Ma’had Aly.
Indonesia saat ini memiliki lebih dari 42 ribu pesantren aktif yang tersebar di berbagai daerah. Jumlah ini menjadikan pesantren sebagai salah satu ekosistem pendidikan terbesar di negeri ini. Pada level pendidikan tinggi pesantren, perkembangan juga terlihat cukup signifikan. Kementerian Agama mencatat bahwa hingga 2025 sudah terdapat sekitar 91 Ma’had Aly berizin resmi di Indonesia. Jadi, pesantren sesungguhnya tidak sedang diam, ia sedang bergerak.
Pesantren memang sejak lama sangat kental dengan tradisi pembelajaran keislaman seperti fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, balaghah, dan berbagai disiplin ilmu alat lainnya, maka wajar bila perguruan tinggi yang dibuka adalah model Ma’had Aly, atau kalaupun PT yang mainstream, program studi yang dibuka banyak berkaitan dengan studi Islam. Itu keputusan yang tepat dan sangat masuk akal.
Namun, beberapa tahun belakangan muncul perkembangan yang menurut saya jauh lebih menarik, yaitu mulai bermunculannya pesantren yang berani membuka perguruan tinggi dengan program studi umum, sains, kesehatan, pertanian, teknologi, ekonomi, bahkan bidang-bidang profesional lainnya. Bagi saya, ini angin segar. Karena sejatinya, pesantren tidak pernah hanya menjadi tempat belajar agama semata. Dalam sejarah Indonesia, pesantren juga merupakan ruang perjuangan. Ia ikut membentuk kesadaran kebangsaan, melahirkan pejuang, menggerakkan masyarakat, menjaga republik pada masa-masa genting, bahkan ikut mengawal lahirnya fondasi bangsa ini.
Kalau dulu pesantren ikut berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini mungkin salah satu bentuk perjuangan berikutnya adalah mengisi kemerdekaan itu sendiri. Dan salah satu sektor yang masih perlu diisi serius adalah pembangunan sumber daya manusia bidang sains, kesehatan, teknologi, ekonomi, hukum, dan inovasi.
Indonesia saat ini masih punya pekerjaan rumah besar dalam pembangunan SDM berbasis sains dan teknologi. Kita sering berbicara tentang bonus demografi, hilirisasi industri, transformasi digital, ekonomi hijau, kesehatan nasional, kemandirian pangan, bahkan kecerdasan buatan. Tapi semua itu pada akhirnya membutuhkan satu hal yang sama, yaitu manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis. Kita butuh lebih banyak saintis, tenaga kesehatan, engineer, peneliti, bahkan inovator. Karena negara maju tidak dibangun hanya dengan slogan dan pidato berapi-api. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang menguasai dan menghargai ilmu yang dibentuk melalui arah kebijakan yang mengarusutamakan spending pada riset, akademik dan sumber daya manusia.
Di titik inilah saya merasa pesantren sebenarnya punya peluang yang unik, sekaligus tantangan yang tidak mudah. Bayangkan profil lulusan yang lahir dari rahim pesantren. Ia paham agama, akhlaknya ditempa, terbiasa hidup sederhana, membumi, tetapi juga menguasai farmasi, pertanian, teknologi pangan, kecerdasan buatan, kesehatan masyarakat, atau bioteknologi. Bayangkan transformasi apa yang bisa dilakukan sosok yang “MASAGI” demikian.
Terdengar terlalu idealis? Memang iya. Tapi bukankah banyak perubahan besar memang sering diawali dari sesuatu yang pada awalnya terdengar terlalu ideal? KH. Mustofa Aqiel Siroj pernah menyampaikan dalam sebuah kesempatan di STIKes KHAS Kempek tentang mandat manusia dalam QS. Hud ayat 61:
”… huwa an sya-akum minal ardhi wastakmarakum fiiha…” ”…Dia menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya…”
Ayat ini sangat meaningful. Karena “memakmurkan bumi” jelas bukan pekerjaan satu disiplin ilmu saja. Untuk menjalankan mandat tersebut, manusia memerlukan ilmu kesehatan, ekonomi, teknologi, pertanian, lingkungan, hukum, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya, bahkan kolaborasi lintas bidang.
Menyembuhkan penyakit adalah bagian dari memakmurkan bumi, mengembangkan teknologi pangan adalah bagian dari memakmurkan bumi. Pun dengan membangun sistem ekonomi yang adil hingga mengelola lingkungan secara berkelanjutan tentu saja bagian dari memakmurkan bumi.
Sudang barang tentu, niat baik saja tidak cukup bagi pesantren. Membuka program studi sains bukan perkara sederhana. Ada biaya pengadaan dan maintenance laboratorium yang melangit, instrumen praktikum mahal, standar akreditasi ketat, dan kebutuhan SDM dosen yang niche nya sempit. Belum lagi tuntutan mutu yang semakin tinggi agar lulusan mampu bersaing. Jika membuka prodi ilmu sosial keagamaan ibarat membeli motor, maka membuka prodi kesehatan atau sains tertentu ibarat kita membeli motor beserta dealer seisinya.
Tetapi terus terang, saya kok tidak terlalu khawatir soal kreativitas pesantren dalam urusan survive. Sejarah pesantren terlalu panjang untuk diragukan soal itu. Berapa banyak pesantren berdiri dari modal yang secara kalkulasi Excel sebenarnya tampak mustahil? Berapa banyak pesantren berkembang dari wakaf kecil, gotong royong masyarakat, jaringan alumni, dan pertolongan yang sering kali datang min haitsu la yahtasib?
Pesantren, yang dalam bahasa Gusdur adalah sub-kultur, punya modal sosial yang luar biasa. Maka saya kira, tantangan terbesarnya mungkin bukan pertama-tama soal dana. Tetapi soal keyakinan epistemologis insan pesantren. Apakah kita sungguh percaya bahwa belajar biologi, farmasi, teknik lingkungan, data science, kesehatan masyarakat, pertanian, atau kecerdasan buatan juga merupakan bagian dari perjuangan keilmuan Islam? Apakah kita sungguh percaya bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum?
Disamping paradigma ilmu yang perlu direfleksikan, ada juga paradigma terkait dengan mutu. Dalam banyak hal, kesederhanaan & prihatinity adalah kekuatan pesantren. Tetapi belajar sains tidak bisa sepenuhnya dijalankan dengan prinsip prihatin, peralatan seadanya, dan narasi “insyaAllah nanti sambil jalan.” Fiqih mungkin bisa dipelajari di serambi masjid beralas tikar, tetapi farmasi, bioteknologi, keperawatan, kimia, atau teknologi pangan membutuhkan laboratorium, instrumen, skill lab, standar keselamatan, dan dosen yang benar-benar kompeten. Ini bukan soal qonaah dan tawakal, tetapi karena kompetensi teknis memang menuntut fasilitas teknis.
Maka jika pesantren ingin membuka prodi sains, ia tidak bisa masuk hanya dengan semangat menggebu-gebu, tetapi harus selesai dalam paradigma keilmuan dan kesungguhan dalam peningkatan mutu. Mahasiswa tidak sekedar mengharap barokah; mereka menitipkan masa depan kompetensinya. Tawakkal tetap penting, tetapi dalam pendidikan sains, tawakkal harus hadir bersama mikroskop yang berfungsi, instrumen yang terkalibrasi, laboratorium yang layak, kurikulum yang kuat, dan budaya akademik yang suportif. Tidak bisa setengah hati.
Kalau dua paradigma itu sudah clear, saya optimis para kiai, komunitas pesantren, alumni, dan masyarakat akan menemukan seribu satu strategi untuk memenuhi tuntutan mutu perguruan tinggi sains. Pesantren terlalu berpengalaman dalam mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Tapi, jika belum clear, mungkin niatnya lebih baik ditunda. Atau persiapkan saja santri untuk masuk ke PTN/PTS favorit di dalam/luar negeri. Karena kompetensi adalah segalanya. Inkompetensi membunuh lebih banyak orang daripada kejahatan itu sendiri. Jangan sampai pendidikan sains di pesantren menghasilkan lulusan yang inkompeten.
Saya membayangkan satu profil lulusan pesantren masa depan. Ia fasih membaca Taqrib, tetapi juga mampu membaca artikel Nature atau Elsevier. Ia hafal Imrithi, tetapi juga paham statistik, laboratorium, atau analisis data. Ia mengerti hukum air mutlak, sekaligus mampu mengembangkan teknologi pengolahan air bersih untuk masyarakat. Ia memahami maqashid syariah, tetapi juga mampu merancang solusi kesehatan publik atau inovasi pangan halal.
Bukankah profil seperti ini layak diperjuangkan? Tidak sederhana memang. Tetapi bukankah pesantren sejak dulu memang tidak pernah memilih jalan yang sederhana? Dan siapa tahu, justru dari pesantren lahir model SDM Indonesia yang selama ini kita cari-cari, yaitu manusia yang kuat spiritualitasnya, luas wawasan keagamaannya, tetapi juga tangguh dalam sains, teknologi, dan pengabdian sosial.
Beberapa waktu lalu, saya ngobrol dengan seorang rekan yang asli Cirebon. Ia bercerita bahwa destinasi liburan yang paling dicari adalah tempat-tempat bernuansa pegunungan, seperti naik gunung, curug, glamping, terasering, udara dingin, dan segala hal yang kira-kira bisa membuat badan lupa bahwa Cirebon itu panasnya kadang seperti kita bagai kerupuk mlarat yang disangrai pelan-pelan.
Saya yang mendengarkannya dengan agak. Dalam hati, “Lha kok liburan masih nyari sawah, gunung, dan perkampungan?” Bukan karena tidak indah, tetapi mungkin karena saya sudah cukup akrab dengan lanskap seperti itu. Saya justru lebih tertarik ke pantai, kota, atau sekadar staycation di hotel. Intinya, kalau bisa rebahan di kamar ber-AC sambil sarapan buffet, kenapa harus ngos-ngosan muncak cuma buat liat sawah, hutan & bangunan dari puncak? Ini bukan kemalasan, ini efisiensi energi. Lagi musim kan? hehe.
Dari obrolan ringan itu, saya jadi berpikir bahwa manusia memang sering mencari sesuatu yang tidak sedang ia miliki. Orang yang setiap hari hidup di daerah panas merindukan dinginnya pegunungan. Orang yang terbiasa dengan suasana desa ingin sesekali menikmati hiruk-pikuk kota. Orang yang tiap hari melihat sawah seperti saya lebih terpesona melihat ombak dan laut, sementara orang kota mungkin justru membayar mahal untuk tidur di tengah sawah belakang rumah, wkwkwk. Rumput tetangga bukan hanya terlihat lebih hijau, kadang juga sudah termasuk paket breakfast dan free Wi-Fi.
Dalam batas yang wajar, kecenderungan ini sangat manusiawi. Keinginan untuk mengalami dan menikmati hal-hal baru adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, ia bisa menjadi masalah ketika rasa ingin memiliki berubah menjadi rasa tidak pernah cukup. Dari sekadar ingin suasana baru, pelan-pelan bisa bergeser menjadi iri, dengki, serakah bahkan menempuh jalan yang tidak etis untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Di sinilah rasa syukur menjadi penting. Syukur bukan berarti berhenti menginginkan hal baik. Syukur juga bukan pura-pura puas atas semua keadaan. Syukur adalah kemampuan untuk melihat nikmat yang sudah ada, sebelum mata terlalu sibuk menghitung nikmat yang ada pada orang lain. Sebab kalau kita mau sedikit menunduk dan menengok hidup sendiri, sebenarnya terlalu banyak karunia Tuhan yang selama ini kita nikmati tanpa sempat kita hitung satu per satu. Al-Qur’an mengingatkan, “Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā” — dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.
Maka, mungkin benar bahwa manusia sering “nyari yang gak ada”. Tapi kebijaksanaan hidup menuntun kita agar pencarian itu tidak membuat kita kehilangan rasa syukur, apalagi kehilangan diri sendiri. Sesekali mencari pantai, gunung, kota, atau hotel boleh saja. Yang bahaya itu ketika seluruh hidup kita habis untuk menyamai hijau cantiknya rumput tetangga, akhirnya hijaunya kepalang jadi stabilo dan glossy menyilaukan pandangan kita dari kesadaran atas besar nikmat yang diberikan-Nya.
Beberapa waktu lalu, program Xpose Uncensored di Trans7 menayangkan liputan yang menggambarkan pesantren sebagai ruang penuh praktik feodal dan pengkultusan Kyai. Tayangan itu menyorot santri yang menunduk, mencium tangan, bahkan memberi uang kepada kyai, seolah-olah semua itu bentuk eksploitasi dan perbudakan spiritual.
Framing semacam ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merusak citra pesantren sebagai lembaga yang sejak berabad-abad menjadi penjaga akhlak dan ilmu di Nusantara. Namun untuk memahami mengapa framing semacam itu bisa muncul, sepertinya kita perlu membaca konteks sosial secara lebih mendalam. Karena sebuah peristiwa, tentu saja tidak muncul dari ruang hampa.
Dari Tragedi Menuju Stigma
Dalam pikiran saya, sangat sulit untuk melepaskan framing negatif Trans7 ini dari tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo yang menelan banyak korban jiwa tersebut. Dalam suasana duka itu, KH. Abdussalam Mujib menyampaikan bahwa peristiwa tersebut merupakan musibah dan takdir. Saya paham bahwa kalimat ini di dunia pesantren dipahami sebagai bentuk ketabahan dan upaya menenangkan batin, namun di mata publik modern ia dianggap sebagai penolakan terhadap tanggung jawab.
Terjadilah benturan dua bahasa, bahasa spiritual yang menenangkan jiwa dan bahasa modern yang menuntut audit serta akuntabilitas. Keduanya sama-sama punya tempat. KH. Mujib berbicara dalam kapasitas moral dan psikologis, sementara masyarakat menuntut penegakan hukum. Masalahnya muncul ketika tafsir spiritual dipotong dan dipelintir untuk memperkuat kesan bahwa pesantren itu anti kritik, tertutup, dan tidak rasional.
Dari duka ini, muncullah penggiringan opini terus menerus yang mengarah pada fitnah bahwa pesantren adalah adalah sarang feodal, sarang pengkultusan, dan tempat tumbuhnya kekuasaan absolut para kyai. Saya menduga, ada pula pihak-pihak yang sejak awal memang tidak menyukai dunia pesantren, lalu memanfaatkan suasana duka untuk memperkeruh persepsi publik. Dunia ini, bagaimanapun, tidak pernah benar-benar bebas nilai, bukan?
Adab Bukan Feodalisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, feodalisme adalah sistem sosial yang menempatkan kekuasaan di tangan segelintir orang dan mengagungkan jabatan di atas prestasi. Tapi hierarki di pesantren sama sekali tidak lahir dari kekuasaan. Ia tumbuh tradisi yang mengagungkan adab dan ilmu. Menempatkan ilmu sebagai cahaya, setinggi-tingginya, seterang-terangnya, semulia-mulianya.
Mari kita jernih memahami, dalam sistem feodal, status dijaga agar yang di atas tetap di atas, bahkan cenderung menghalalkan segala cara agar tetap diatas. Sedangkan dalam sistem pesantren, penghormatan justru mendidik agar santri layak naik derajat. Menjadi penerus kyai dalam menjaga cahaya ilmu di tengah dunia yang kehilangan arah dan keteduhan. Saya dan para santri menghormati kiai bukan karena keturunan, tetapi karena keluasan ilmu yang lahir dari ketekunan menuntut, keikhlasan mengajar, dan kesungguhan menjaga cahaya ilmu agar tetap hidup.
“Ana ‘abdu man ‘allamani harfan wahidan.”
Aku adalah hamba bagi siapa pun yang telah mengajarkan kepadaku satu huruf.
Ini adalah ungkapan populer Sayyidina Ali Kw, sebagaimana dikutip dalam kitab Ta’lim Muta’alim, yang menjadi dasar keta’dziman para santri di pesantren. Dalam kitab itu pula dijelaskan bahwa menghormati ilmu berarti juga harus menghormati ahlinya. Maka, santri menghormati gurunya bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ilmu tidak bisa tumbuh di hati yang penuh kesombongan. Ketika santri menunduk dihadapan kyai, sejatinya yang ditundukkan bukan tubuhnya, melainkan egonya.
Sekali lagi, feodalisme bertujuan melanggengkan legitimasi. Penguasa ingin kekuasaan tetap berada di tangannya. Pesantren justru sebaliknya, ia hidup dari semangat regenerasi. Kyai sejati selalu berdoa agar santrinya menjadi penerus yang lebih baik, lebih luas ilmunya, dan lebih dalam pengabdiannya.
Dalam tradisi pesantren, hidup nilai tawassuth(moderat) dan tawazun (seimbang) yang menjaga harmoni antara penghormatan dan rasionalitas. Kiai dihormati, tetapi bukan berarti kebal dari musyawarah. Santri tunduk dengan adab, namun sekaligus dididik untuk berpikir kritis dan argumentatif. Maka, bukankah sebuah ironi jika pesantren dituduh tidak progresif, sementara banyak intelektual muslim yang tajam dalam berpikir justru lahir dari rahim pesantren?
Kritik Boleh, Framing Tidak
Memang ada individu yang menyalahgunakan status “gus” atau posisi “dzurriyah kyai” untuk bertindak semena-mena. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi penyimpangan individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menstigma seluruh sistem. Pesantren bukan ruang sempurna, kekurangannya pun bisa dilihat dengan jujur, dan saya sendiri memiliki sejumlah kritik terhadapnya. Tetapi menggiring opini hingga menjelma fitnah adalah tindakan yang kejam dan tidak beradab.
Masyarakat boleh dan bahkan perlu mengkritik pesantren terutama dalam hal tata kelola, transparansi, dan keselamatan fisik santri. Namun kritik yang sehat berbeda jauh dengan framing yang tendensius. Kritik lahir dari cinta terhadap kebenaran, sedangkan framing lahir dari keinginan menjatuhkan martabat.
Pesantren tidak anti kritik! Yang saya dan semua santri tolak adalah penghinaan terhadap marwah keilmuan. Apalagi ketika kritik itu diarahkan bukan kepada pelaku yang salah, tapi kepada sosok-sosok yang justru menjadi teladan keikhlasan seperti KH. Anwar Manshur dari Lirboyo seorang alim yang hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Penutup: Sang Penuntun Cahaya
Aswaja mengajarkan kita i’tidal (tegak lurus) dalam menilai sesuatu dan tasamuh (toleran) terhadap perbedaan. Dalam semangat itu, kita boleh berkaca dari tragedi dan kritik yang datang, tapi jangan sampai kehilangan cahaya yang menerangi jalan kita.
Feodalisme hidup dari rasa takut kehilangan kuasa. Pesantren hidup dari cinta untuk mewariskan ilmu. Feodalisme membangun menara agar rakyat tak bisa naik, sedangkan pesantren membangun tangga agar santri bisa naik dengan adab dan etika yang menyertai setiap langkah menuju ilmu.
Maka ketika ada yang menuduh pesantren sebagai sarang feodalisme hanya karena santrinya menunduk di hadapan kyai, mungkin ia belum mengerti bahwa di pesantren, menunduk bukan tanda ketundukan absolut, tetapi tanda hormat kepada penuntun cahaya ilmu dan kebijaksanaan.
Pergulatan duniawi akhir-akhir ini sungguh unik. Berbagai peristiwa, masifnya informasi diproduksi yang pada awalnya diharapkan menjadi landasan kecermatan dalam decision making dan menarik konklusi, malah menjadi semacam rasa takut bagi seseorang mengambil keputusan. Tetapi untuk hal-hal yang berada di luar “kepentingan”-nya, narasi dan komentar bisa lebih sadis dari peristiwa yang diinformasikan.
Fenomena ini tampak jelas dari cara kita menanggapi tragedi yang baru-baru ini menimpa dunia pesantren. Minggu ini kita disuguhkan sebuah musibah yang menyayat hati: sebuah bangunan pesantren di Sidoarjo roboh pada hari pengecoran. Nahas, sekitar 100 santri yang sedang berjamaah di lantai dasar terjebak dan tertimbun reruntuhan. Saat saya menulis ini, puing-puing sedang diangkat karena sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Data mengenai korban dan kerusakan bisa dengan mudah ditemukan di berbagai media.
Sebagian netizen kemudian menghakimi pihak pesantren telah abai terhadap standar konstruksi bangunan. Para ahli pun menyatakan bahwa memang ada kegagalan struktur di sana. Pada titik ini, saya sepakat bahwa pesantren memang perlu memberi perhatian serius terhadap keamanan bangunan dan standar konstruksinya. Apakah ada yang harus dipidanakan? Saya bukan ahli hukum, jadi saya menyerahkannya pada pihak yang berwenang.
Sebagai seseorang yang sepertiga hidupnya dihabiskan di bilik pesantren, saya hanya ingin menyampaikan satu hal bahwa keikutsertaan santri dalam kegiatan seperti mengecor, mengaduk, atau kerja bakti bukan bentuk eksploitasi, melainkan wujud rasa khidmah kami sebagai santri. Di sana kami hanyalah “laden”, bukan “tukang”, apalagi “mandor” atau “arsitek” yang menentukan konstruksi bangunan.
Kami sama sekali tidak menganggap semua itu sebagai perbudakan atau ekploitasi tenaga kerja gratis. Mayoritas aktivitas kami tetap belajar dan mengaji. Ngecor hanya bagian kecil dari rutinitas; ngala batu cuma sepotong dari hari-hari panjang kami. Selebihnya, kami dididik untuk menjadi manusia yang percaya kepada Tuhan dan mencintai ilmu pengetahuan.
Maka ketika ada kerja bakti, gotong royong, atau santri membantu pembangunan, itu bukan eksploitasi, melainkan ekspresi kebersamaan dan rasa memiliki terhadap lembaga tempat mereka menuntut ilmu.
Perlu dipahami juga bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan kalkulator untung-rugi. Banyak netizen menilai pesantren dengan logika efisiensi, padahal pesantren salaf seperti “Alkhoziny” justru berjuang agar pendidikan bisa dijangkau semua kalangan. Biayanya sangat terjangkau, bahkan banyak wali santri yang tetap menunggak karena kesulitan ekonomi.
Jika ini terjadi di sekolah umum, mungkin saja mereka sudah diultimatum atau bahkan dikeluarkan. Tapi dunia pesantren berbeda, para Kiai sering kali tidak tega mengeluarkan santri yang kesulitan. Beliau justru memutar otak agar pesantren tetap berjalan dengan dana seadanya, menguras rekening pribadi, menjual aset, dll.
Maksud saya, mari kita menjaga sikap. Jangan tergesa menggeneralisir bahwa pendidikan pesantren adalah eksploitasi tenaga kerja, perbudakan, atau pembodohan berbungkus agama. Mari berpikir jernih. Jika memang ada kelalaian dalam konstruksi atau pengawasan, itu kritik yang baik. Bahwa banyak nyawa yang syahid di sana dan harus dipertanggungjawabkan, silakan diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak semua hal bisa dilihat dengan kacamata hitam-putih.
Di sisi lain, ini menjadi tamparan keras bagi dunia pesantren dan kita semua. Di pesantren saya dulu, diajarkan sebuah hadits Rasulullah SAW: “Idza wusidal amru ilaa ghairi ahlihi, fantadziris sa’ah.” — Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu. Maka, ketika kita hendak membangun bangunan, panggillah arsitek; saat sakit, pergilah ke dokter; saat merasa bodoh, belajarlah ke institusi pendidikan. Semua ada ahlinya.
Saya meyakini, banyak masalah di negeri ini bersumber dari kebiasaan menyerahkan urusan bukan kepada ahlinya. Dan seperti sabda Nabi, kehancuran akan datang bila hal itu terus terjadi. Wallahu a’lam.
Teruntuk para santri korban reruntuhan. Alfaatihah.
Malam hari memang menjadi momentum yang pas untuk melakukan refleksi, berkontemplasi, hingga sekedar merenungi banyak hal yang telah terjadi sepanjang hari, minggu, bulan bahkan selama hidup ini. Sembari nyeruput kopi, terkadang saya masih tidak menyangka, saya sudah mencapai titik kehidupan seperti ini. Menjadi seorang dosen yang memang menjadi cita-cita saya. 10-12 tahun lalu saat S1, saya memantapkan diri bahwa saya ingin menjadi dosen, dan spesifik menjadi dosen kimia di kampus UIN, hahaha.
Kenapa UIN? Bukan Unpad, ITB atau kampus umum lainnya? Jujur saja saya agak insecure jika harus mengejar yang itu, wkwkwk. Tapi lebih daripada itu, saya merasa kampus-kampus UIN adalah yang paling match dengan purwadaksi saya. Paradigma integrasi islam dan sains yang diusung UIN adalah salah satu alasan kuat untuk saya menyemplungkan diri ke dalam keluarga besar UIN.
Mengapa integrasi ini menarik? karena dalam pikiran saya, pesantren bahkan islam secara umum belum mengarusutamakan sains sebagai salah satu kunci utama untuk mengarungi kehidupan guna menjalankan mandat dari Tuhan sebagai khalifatullah fil ardl. Bahkan dalam beberapa aspek, ada juga yang masih kaku dan menganggap sains tidak penting, ilmunya orang kafir, dll.
Saat ini, alhamdulillah saya telah menjadi bagian dari keluarga besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC). Sungguh sebuah kehormatan bagi saya menjadi dosen pada kampus berbasis siber ini. Karena ini adalah semacam “dream comes true”, maka sepertinya saya akan bekerja pada institusi ini dengan sepenuh hati, memastikan diri ini ikut terlibat untuk mewujudkan kampus ini unggul dan mendunia seperti visinya. Amin.
Ada Turots, Jangan Langsung Loncat
Bicara wacana integrasi islam sains, memang sudah lebih dari dua dekade, UIN-UIN di Indonesia berjuang keluar dari bayang-bayang dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. UIN Malang dengan Pohon Ilmu-nya, UIN Jogja dengan Jaring Laba-Laba Interkoneksi-nya, berhasil memberi fondasi filosofis yang kokoh. Mereka mengajarkan bahwa ilmu agama dan ilmu umum tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan menyatu dalam satu sistem keilmuan yang holistik.
Namun ada satu hal yang masih terasa menggantung. Di ruang kelas, di jurnal penelitian, dan dalam diskusi akademik, integrasi itu sering berhenti sebagai konsep. Kita masih sering sibuk mencari “ayat pasangannya” untuk setiap teori sains, sehingga ujungnya terjebak pada praktik “cocokologi.” Seolah-olah nilai sebuah penelitian hanya sah jika bisa dicantolkan langsung ke Qur’an, meski kadang sambungannya dipaksakan.
Kekayaan tradisi Islam sebenarnya menyediakan jembatan epistemik yang sering kita lupakan. Sebelum langsung melompat dari fenomena ke Qur’an, kita punya kutubutturots dan kaidah-kaidah ushul fiqh. Kaidah seperti “mā lā yudraku kulluh lā yutraku kulluh” (sesuatu yang tak bisa diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya) atau “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih” (menolak kerusakan lebih utama daripada meraih kebaikan) adalah contoh “hukum universal” yang bisa menjadi landasan interpretasi ilmiah.
Dengan jembatan ini, kita bisa menghindari jebakan cocokologi. Misalnya, penelitian tentang ekologi tidak perlu buru-buru mencari ayat tentang tumbuhan atau hewan. Lebih bermakna jika hasil penelitian itu dibaca melalui kaidah “menolak mafsadah” lalu diinternalisasi sebagai dorongan etis menjaga kelestarian alam. Sains tetap pada jalurnya, agama tetap pada marwahnya, dan keduanya bertemu dalam ruang nilai dan aksi.
Cirebon dan Warisan Sufistik Para Wali: Dari Integrasi ke Aksiologi
Cirebon adalah kota wali yang punya warisan sejarah yang kaya. Syekh Nurjati yang dipakai UIN Cirebon sebagai nama ini adalah figur ulama sufi, guru dari Sunan Gunung Jati yang jejaknya masih hidup hingga kini. Beliau dikenal sebagai pendidik sekaligus mursyid, yang mengajarkan Islam dengan pendekatan lembut dan damai. Beliau menyepi di gua untuk bermunajat, lalu mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan ilmu dan spiritualitas. Dakwahnya tidak menghapus budaya lokal, tapi mengolahnya menjadi wahana dakwah yang ramah dan membumi. Kita sepertinya harus bisa menggali lebih lanjut spirit sufistik Syekh Nurjati yang nantinya “mungkin” bisa menjadi landasan epistemik dari paradigma keilmuan UIN SSC.
Menyoal sufistik, ini juga bisa menjadi ruang opsi bagi UIN SSC. Disaat UIN Malang dan UIN Jogja bicara di tataran epistemologinya, UIN SSC bisa mengisi dan melengkapi wacana ini. Alih-alih menciptakan paradigma baru, UIN SSC bisa kemudian mensintesis watak yang lebih aksiologis dari integrasi sains dan islam yang bisa disuntik dengan ruh sufistik dari khazanah lokal.
Maksudnya, kita tidak boleh berhenti di tataran konsep: “Adakah relasi yang tepat antara sains dan islam?”, anggaplah itu sudah dijawab UIN Jogja dan Malang. Mari kita bergeser pada pertanyaan: “Bagaimana ilmu dipakai, bagaimana ia membentuk sikap, dan bagaimana ia mengubah kehidupan sehari-hari”. Aksiologi memberi ruh, sehingga ilmu tidak berhenti sebagai kumpulan data atau teori, tapi menjelma menjadi perilaku dan peradaban.
Sepertinya ini nantinya akan lebih asik. Karena ilmu nantinya bukan tulisan diatas kertas, tapi memastikan bahwa ilmu itu benar-benar menghidupkan laku dan akhlak. Di sinilah UIN SSC bisa menawarkan penyempurnaan. Jika Malang dan Jogja menegaskan “bagaimana ilmu dipahami,” maka Cirebon bisa menambahkan dimensi “bagaimana ilmu dihidupi.”
Ilmu yang Dihidupi: Dari Teori ke Perilaku
Kemudian pertanyaan muncul, lalu seperti apa cara kerjanya? Contohnya bisa kita lihat di berbagai disiplin ilmu. Dalam Tadris IPS, ilmu sosial bukan sekadar teori tentang masyarakat, tapi melatih mahasiswa bersikap adil, solider, dan penuh empati. Dalam Akuntansi Syariah, kejujuran dan amanah menjadi inti, sehingga laporan keuangan tidak hanya rapi secara angka, tapi juga bersih secara moral.
Di bidang Informatika, mahasiswa belajar bahwa coding dan algoritma hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dipakai secara etis: menjaga privasi, melawan hoax, dan menebarkan manfaat. Sedangkan dalam Teknik Industri, konsep efisiensi bukan dijalankan untuk eksploitasi, tapi sebagai wujud ihsan dalam bekerja: mengatur sumber daya agar maslahatnya meluas tanpa merusak manusia dan alam.
Analogi yang pas adalah sains data. Validitas data dan metode analisis memang penting, tapi yang paling menentukan adalah bagaimana kita menginterpretasikan data itu dengan paradigma yang tepat. Tanpa aksiologi, data bisa dipakai untuk menyehatkan masyarakat, atau sebaliknya untuk manipulasi politik. Begitu juga dengan ilmu, ia hanya bermakna bila dihidupi.
Siber sebagai Ruang Suluk Baru
Selanjutnya, bagaimana dengan branding sibernya? Dunia siber memberi tantangan etika yang sangat nyata. Hoax, ujaran kebencian, plagiarisme daring, dan kecanduan gadget adalah problem yang mengintai setiap mahasiswa.
Di sinilah sufistik bisa hadir. Disiplin dalam kuliah online adalah latihan mujahadah. Kejujuran dalam ujian daring adalah cermin amanah. Wara’ dalam berselancar di media sosial adalah praktik taqwa di ruang maya. Dengan cara ini, dunia digital menjadi ruang suluk baru, sebuah pesantren virtual di mana ilmu dan akhlak tetap bisa dipelihara.
Maka, branding “siber” tidak perlu dipaksakan masuk ke ranah filosofis. Cukup ditempatkan sebagai wasilah, yakni jalan baru untuk menguji bagaimana ilmu benar-benar dihidupi, bahkan ketika dunia bergeser ke ruang maya.
Tungtungtung
Akhiron, jika UIN Malang bicara ilmu disatukan, UIN Jogja bicara ilmu dihubungkan, UIN Cirebon bisa dengan mantap mengatakan ilmu dihidupi, hehehe. Ya entahlah apa nama kerennya. Tentu saja ini perlu upaya bersama. Lagian, siapa saya sok-sokan menawarkan paradigma baru. Saya masih anak bau kencur di kampus ini. C-nya aja belum hilang, wkwkwk. Ini hanyalah tulisan yang lahir akibat dari lamunan selepas isya sembari nyeruput kopi. Saking bosennya scrolling IG. Maap kalo judul diatas ganyambung sama isinya ya. Wallahu a’lam.
Beberapa hari yang lalu, saya ditodong untuk menjadi narasumber pengganti dalam agenda orientasi mahasiswa baru jurusan Tadris Kimia UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Sebagai dosen baru di kampus, rupanya bukan hanya maba yang di ospek, sayapun juga di ospek mahasiswa. Undangan mahasiswa diantarkan hanya 3 jam sebelum acara. Sungguh tahu bulat.
Saya diminta menyampaikan materi sejarah kimia dan integrasinya dengan Islam. Saya siapkan materi “digoreng dadakan” namun tetap kresss dan bukan asal ngacapruk. Intinya bahwa kimia yang kita kenal saintifik dan empiris banget itu embrionya sangat kental dengan nuansa mistis. Dan integrasinya dengan islam? meski aspek epistemologinya sudah cukup mapan dibahas (minimal di PTKIN), tapi cukup menarik saat ada pertanyaan dari seorang mahasiswa.
“Pak, sebenarnya kalo kita belajar sains seperti kimia ini apakah bisa membuat kita jadi semakin Islam?”, kira-kira begitu parafrase pertanyaan mahasiswa baru tadi. Seketika saya teringat dalam suatu kegiatan penguatan moderasi beragama di suatu tempat. Pada saat itu diisi oleh fasilitator dari Fahmina Institut, beliau bertanya, “Apa yang membuatmu bersyukur setiap hari?”
Beberapa peserta menjawab dengan heroik, ada yang menjawab berkaitan dengan keluarga, pekerjaan, finansial, dll. Tawa dan sorak sorai bergemuruh. Saya adalah salah satu peserta dengan jawaban yang “terlalu biasa”. Saya menjawab, “Saya bersyukur karena detik ini saya masih diberi oksigen yang pas untuk bernafas.”.
Tentu saja jawaban saya ini tak mendapat tepuk tangan atau sorakan apapun karena ya jawabannya “apaan sih”. Oksigen ya dianggap hal biasa dan lumrah saja. Manusia pasti bernafas, oksigen pasti ada, tak ada yang istimewa kan?
Bagi banyak orang, mungkin terdengar biasa. Tapi bagi orang yang mempelajari sains, oksigen adalah bahasan yang sangat panjang, dan bernafas bukanlah skema kerja tubuh yang “terlalu biasa”. 21% oksigen yang ada dan tersedia untuk kita bernapas adalah buah dari kontribusi makhluk hidup lain seperti tumbuhan dan fitoplankton. Keduanya memproduksi oksigen dengan prekursor CO2. Saat CO2, pemanasan global semakin parah, iklim kacau, semua dari kita terancam dari berbagai sisi. Dalam jangka panjang, ada potensi kadar oksigen di bumi akan berkurang juga.
Saat bumi semakin panas, gelombang panas ekstrem mengancam kesehatan manusia, permukaan laut naik menenggelamkan kawasan pesisir, sementara kekeringan, badai, dan kebakaran hutan mengganggu ketersediaan pangan. Semua ini pada akhirnya bermuara pada perebutan sumber daya yang menimbulkan instabilitas sosial.
Bukankah dengan banyaknya hubungan sebab akibat ini menjadikan oksigen dan karbon dioksida ini tak boleh disepelekan? Perannya sangat vital bagu kehidupan. Kita sangat “bermanja ria” terhadap oksigen. 1 menit saja tanpa oksigen, akan sangat fatal bagi manusia, 3 menit tanpa oksigen akan memulai fase dimana kerusakan otak mulai terjadi dan semakin lama terjadi, kematian akan menghampiri.
Bgai saya, disinilah sains & islam bertemu. Sains seringkali membuat saya berkontemplasi atas anugerah-Nya dalam hidup. Hal-hal yang menurut kita biasa saja, ternyata “sangat tidak biasa” ketika kita pahami lebih jauh konsepnya. Bagaimana milyaran sel dalam tubuh kita setiap detiknya bekerja begitu detil. Melakukan skema spesialisasi, sehingga tidak ada ceritanya sel kita salah memprogram. Yang harusnya jadi sel kulit misalnya, malah menspesialisasi menjadi sel saraf atau sel darah. Saat tubuh masih dalam proses pembentukan organ didalam janin, tidak ada pemrograman yang tertukar untuk melokalisasi organ. Hidung tetap pada tempatnya dibawah kedua mata, lokasi mata tidak tertukar dengan telinga, dll.
Disisi lain, setiap kali kita menggerakkan tubuh, sejatinya terjadi sebuah kerja sama halus antara listrik dan kimia dalam sistem saraf. Otak mengirimkan impuls listrik melalui jaringan neuron, lalu di ujung saraf sinyal ini diterjemahkan menjadi pesan kimia berupa neurotransmitter bernama asetilkolin, yang menjembatani komunikasi dengan otot. Tanpa mekanisme ini, perintah otak hanya akan berhenti sebagai “getaran listrik” tanpa makna. Di sini kita bisa melihat betapa rapuh sekaligus canggihnya tubuh manusia: gerakan sekecil mengedipkan mata saja adalah hasil orkestrasi sinyal listrik dan molekul kimia yang bekerja dalam harmoni.
Inilah refleksi saya sebagai orang yang belajar kimia dalam memahami keajaiban ciptaan-Nya. Maka merefleksikan ayat-ayat kauniyah adalah wiridnya seorang saintis, mekanisme olah batin yang penting untuk bagaimana kita mensyukuri “kerennya” anugerah Allah SWT. Disinilah letak integrasi nilai sains-islam. Refleksi atas insight fenomena sains memunculkan hikmah yang menuntun kita pada kesadaran atas makna hidup berdasar nilai kesilaman yang selanjutnya menjadi output berupa kebaikan sikap dan perilaku. Bersyukur atas hidup, menghargai sesama dan menjaga alam serta berperan menjadi seorang manusia dengan sebaik-baiknya adalah citra diri dan akhlak seorang saintis islam.
Bagi saya, disinilah sains sebagai ilmu yang seringkali dikonotasikan sebagai ilmu duniawi, ternyata sangat mendalam merefleksikan kesadaran teologis. Sederhananya, hikmah sains meningkatkan ketaqwaan kita kepada Tuhan, menjadikan kita manusia yang lebih “beragama”. Sebab sains tanpa iman hanya data, sementara iman tanpa sains bisa buta. Bila keduanya dipadukan, ia menuntun kita menjadi manusia seutuhnya.
Hai, Saya Fawwaz Muhammad Fauzi, suatu produk hasil persilangan genetik Garut-Majalengka. Menjadi Dosen Kimia adalah profesi utama saya saat ini. Selain itu, ya membahagiakan istri, anak dan orang tua. Melalui blog ini, saya ingin menuliskan kisah-kisah keseharian saya yang pasti receh. Mungkin sedikit esai-esai yang sok serius tapi gak mutu. Jadi, tolong jangan berharap ada naskah akademik atau tulisan ilmiah disini ya, hehe.
Kalau ada yang mau kontak, silahkan email ke [email protected]. Udah itu aja.