
Otak atik website memang sudah menjadi bagian dari hobi saya sejak kuliah dulu. Tapi membangun website itu harus punya tujuan, gak bisa asal belajar. Maka pada saat S1 dulu dan berkecimpung di beberapa organisasi, membuat website organisasi adalah tujuan yang bisa diterapkan. Sekali mendayung, dua pulau terlewati. Organisasi punya website, saya punya tujuan dalam belajar.
Hobi perwebsitean inilah yang mendorong saya mempertahankan website pribadi saya. Meskipun masih PR banget dalam mengisi kontennya, saya suka aja gitu kalo punya website pribadi. Mungkin ini sindrom yang dimiliki segelintir orang generasi saya yang mulai dewasa saat aktivitas ngeblog sedang naik daun, hahaha. Ini juga yang mendorong saya dengan “mudah” beradaptasi dalam penguasaan website jurnal berbasis OJS yang berkaitan dengan aktivitas saya sebagai dosen, dan saat ini mengelola beberapa jurnal, bahkan punya rencana untuk bisnis di dunia jurnal.
Beberapa minggu lalu, saya yang pada awalnya sudah menggunakan chatgpt sebagai ai assistant harian mulai penasaran dengan AI lain yang banyak dibicarakan, Claude. Bukan claude mobile legends ya, tapi claude.ai besutan antropic. Setelah melakukan mini riset, akhirnya saya putuskan untuk berpindah hati pada claude. Maap ya gepete. Bukannya aku tak tega, bukannya aku tak cinta, aku hanya penasaran dengan rumput tetangga, hehe.
Semakin saya mendalami dan mempelajari claude, ternyata memang ia lebih hijau. Fiturnya banyak dan membuat saya terobsesi untuk mempelajari bagian-bagian di dalamnya. Saya bingung belajar darimana. Akhirnya saya belajar fitur claude dengan minta tolong ke claude, hahaha. Fitur yang pertama saya pelajari (disamping skill) adalah claude code. Saya coba brainstorming sama dia cara pake si claude code gimana. Saya ikuti petunjuknya, tahap demi tahap, yang ternyata ia bisa bantu develop website, sampai satu ketika saya bertanya tentang apa yang perlu saya pelajari after penguasaan wordpress. Ia jawab framework “laravel” sebagai salah satu opsi.
Berbantukan modul yang dibuatkan claude juga, saya sudah membuat dua produk website dengan dasar framework laravel, yaitu CIU Scholar dan Fariha Pay. CIU Scholar ini semacam portal portofolio tridharma dosen UIN SSC. Iya ini bukan tugas saya di kampus. Tapi karena belajar harus punya tujuan, jadi saya bangun itu CIU Scholar sekeren-kerennya, meskipun tentu saja kampus belum tentu akan menggunakannya karena mereka punya belasan pranata komputer yang kompeten, bukan abal-abal sampingan hobi doang kayak saya. Nah, kalo Fariha Pay ini adalah aplikasi kasir POS buat bisnis saya sama istri yang gak mau ngeluarin budget buat langganan POS berbayar mahal macam Majoo, Moka POS, Qasir waakhwatuha.
Saya yang sebelumnya hanya menguasai wordpress dan blogger. Settingan berbasis template, elementor, divi, pemanfaatan plugin, dan seterusnya, kini sudah bisa membangun website berbasis laravel yang rumit itu dalam waktu yang singkat. Bahkan Fariha Pay selesai dalam waktu kurang dari 24 jam dan saat ini mulai digunakan istri saya sebagai aplikasi kasir toko. Mengerikan memang claude code ini. Meskipun dibalik kengeriannya, tentu saja penggunaan claude code ini gak bisa sembarang prompting, dan perlu step by step tertentu. Ini bagian serius deh, prompting juga perlu skill dan pengetahuan arsitektur website di belakangnya. AI itu ibarat karyawan terampil. Jika anda bosnya bisa mendirect perintah secara tepat, maka hasilnya akan luar biasa.
Maka, jika seni prompting dan pengetahuan arsitektur website sudah cukup dikuasai, saat ini, semua orang (yang mau sedikit effort untuk belajar) akan dengan mudah membuat website keren yang fungsional, reprodusibel dan terjangkau. Thanks Claude Code! Kapan-kapan saya tuliskan artikel terpisah atau mungkin video youtube ulasan untuk 2 produk website saya itu, kalo sempet, hahaha. Wallahu a’lam