Sepulang ngegym di daerah Sumber sore kemarin, saat sedang sing along bersama adik di mobil yg dikendarainya, tiba-tiba ada motor Satria F1 tanpa plat nomor yg sedang berada dijalur tengah seketika menepi dengan lampu sein yang juga mendadak ia nyalakan.

“Brak!”, bagian depan Brio kuning itu menabrak bokong satria. Sontak saya bilang ke adik saya, “minggir dulu minggir. Ayo urusan dulu. Atau gimana?”. Dia cuma diam, akhirnya saya turun duluan.

Si pengendara motor yang berusia 20 tahunan itu lalu menghampiri saya. Dalam proses ia mendekat, sejujurnya pikiran saya berkecamuk. Bukan karena apa-apa, saya tidak pernah ada dalam kondisi tersebut, dan saya cenderung sulit mengekspresikan kemarahan dengan kata-kata. Tentu saja saya kesal, tapi meluapkannya dengan kata-kata, belum pernah deh kayaknya, hahaha.

Tapi, saya berkeyakinan bahwa anak ini harus diberi pemahaman untuk lebih berhati-hati. Dia tidak boleh begitu saja losss dolll merasa ini hal yang normal. Otak saya mencoba mencari cara agar saya mampu mengekspresikan kemarahan dengan bumbu emosi yang pas, emosi tapi ya gak sampe mencak-mencak, lagian juga gak bisa.

“Tadi rantainya mau copot pak, jadi saya mau minggir.”, ujar si bocah itu.

“Lho ini lihat tuh, gimana spakbor nya sampe sobek nih. Gimana ini urusannya. Ente tadi lagi dikanan kok menepi tiba-tiba, kan gini akhirnya.”. Saya mengungkapkan kata-kata dengan nada bahasa Cerbonan.

“Nabrak ta pak. Soalnya tadinya rantai saya ….”

“… Gak urusan rantai mu atau gimana. Selama itu motor dalam kendalimu. Itu tanggungjawabmu. Jelas nabrak lhu deleng lhu. Sobek kuh. Katon beli.”, saya memotongnya.

“Iya pak, maaf pak.”.

Barulah adik saya keluar mobilnya. Saya lalu terus menyerocos kepada si bocah itu tentang tanggungjawab dalam berkendara dan konsekuensinya. “Trus priben kih lamun wis mengkenen?”, tunjuk saya ke arah spakbor.

“Pak, saya masih sekolah pak. Masih belum kerja. Saya gak punya uang pak.”

Adik saya itu juga kurang lebih sama dengan saya, bahkan versi lebih esktrim. Dia tidak pernah marah, atau paling tidak sukit mengekspresikan kemarahan dalam situasi maupun kondisi apapun, wkwkwk.

“Gimana nih fadhly, sobek tuh. Coba lihat.”, ujar saya.

Saya kembali menceramahi bocah itu. Sesekali ia mencoba ngeles menyalahkan kondisi motornya. Saya mencecarnya, “Lalu saya harus minta pertanggungjawaban motormu? Ya pengendaranya yg bertanggungjawab.”

“Ya udah mas, lain kali berhati-hati kalo berkendara.”, adik saya meneruskan.

“Udah nih gak papa?”, tanyaku ke adik. Ia mengangguk.

Saya lalu mencoba menjelaskan kembali pada si bocah satria itu untuk selalu berhati-hati, tenang dalam berkendara, jangan ngikuti anak-anak SMA yang memang banyak ngeselin kalo berkendara sampai membahayakan. Akhirnya, fa fi fu tragedi itu diakhiri salaman.

Pada akhirnya, peristiwa diatas memberi saya pelajaran, ya bahwa untuk marah saja, saya perlu belajar. Dalam kondisi begitu, bagaimana kita harus bersikap, seperti apa kita harus mengekspresikan emosi kita. Tentu saja menangkap memori dari tontonan orang terdekat hingga di medsos sebagai referensi kita harus bersikap seperti apa. Menyesuaikan dengan siapa kita berhadapan. Kalaulah itu Bapak-bapak yang sudah mapan, saya perlu belajar menghadapinya dengan cara berbeda.

Apakah memang marah itu perlu belajar? atau karena memang saya terlalu overthingking? hahaha.

Wallahu a’lam.