Iqro’ biamirobbikalladzi kholaq. Kholaqol insana min ‘alaq. Iqro’ warobbukal akrom. Alladzi allama bil qolam. Allamal insana ma lam ya’lam (QS. AL-Alaq 1-5)

pramudya-menulis-quote

Sebagai umat muslim, kita pasti mengetahui bahwa ayat-ayat yang pertama diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW adalah membaca dan menulis. Hal itu tertera dari kata Iqro’ dan Alladzi ‘allama bil qolam. Dalam beberapa tafsirnya, jumhur ulama menafsirkan bahwa membaca dan menulis adalah sebuah kewajiban. Membaca membuka Jendela Dunia. Apapun teori maupun teknik membaca yang digunakan, luasnya pengetahuan yang kita miliki adalah konsekuensi logis yang akan kita raih.
Membaca yang penulis maksud disini bukan hanya melalui buku-buku, koran-koran, atau bahkan novel, cerpen, komik dan media-media cetak lainnya yang bersifat informatif faktual maupun informatif non-faktual (opini). Arti dari membaca yang penulis maksud tidak sesempit itu. Membaca adalah kegiatan meresepsi, menganalisa, dan menginterpretasi yang dilakukan terhadap suatu hal yang nampak, terdengar, terasa, teraba, dan tercium oleh seseorang. Dalam artian, membaca disini adalah proses kita untuk memahami hal yang kita hadapi. Gray and Rogers (1995) dalam bukunya menyatakan bahwa dengan membaca, kita dapat mengembangkan diri, memenuhi tuntutan inteletual, mengetahui hal-hal yang penting dan aktual.

Siapa yang tak kenal Almaghfurlah Gusdur (KH. Abdurrahman Wahid)? Presiden Indonesia ke-4 yang sangat disegani di mata dunia adalah seorang penggiat membaca. Teringat sewaktu penulis masih tholabul ilmi di suatu Pondok Pesantren, guru ngaji penulis menuturkan bahwa saking rajinnya membaca, beliau sampai mengalami gangguan mata hingga beliau tidak dapat melihat. Terlepas dari perkataan itu benar atau tidak, beliau telah membuktikan bahwa dengan membaca, beliau dapat menjadi orang nomor wahid di Indonesia, bahkan disegani di lintas agama, lintas ideologi, lintas Negara, bahkan lintas kehidupan (semacam guyonan).
Tak afdol rasanya ketika pembahasan membaca tak dikaitkan dengan pembahasan pentingnya menulis. Menulis memang erat kaitannya dengan membaca. Menulis adalah sebuah langkah aplikatif dari hasil membaca. Dari hasil kita membaca dari berbagai sumber, referensi, realita dan dinamika yang ada, secara tidak langsung, baik secara terstruktur maupun tidak, kita akan menganalisis dari apa yang kita baca. Dan langkah aplikatif yang efektif untuk mengungkapkan analisa yang didapatkan dari apa yang kita baca adalah menulis. Begitulah kiranya penulis memahami relasi dari membaca dan menulis.
Seperti yang kita ketahui, pentingnya menulis juga sering diungkapkan oleh para uswah kita. Shahabat Ali Ra pernah berkata, “Ilmu adalah buruan, dan menulis bagaikan pengikatnya, maka ikatlah ilmumu dengan menulis”. Imam Al-Ghazali yang terkenal dengan tulisannya yang berbau tasawwuf pun adalah penggiat menulis, beliau mengingatkan kita dalam sebuah karyanya, “Kalau kamu bukan anak raja atau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Zaman peralihan pun berperan dalam melahirkan sastrawan fenomenal, Pramoedya dengan Karya sastra Manusia Bumi-nya menuturkan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Tak perlu jauh-jauh kita ber-uswah, sebagai warga pergerakan, kita pasti mengenal sosok-sosok seperti Soe-Hok Gie, Mahbub Junaidi (Pendiri PMII), Lafran Pane (Pendiri HMI) dan Prof. Dr. Sri Soemantri (Pendiri GMNI) adalah sosok penggiat menulis yang patut kita contoh. Dengan menulis, sampai saat ini, ideologi dan pemikiran yang berasal dari tulisan-tulisannya dianut, dikaji dan difahami sampai saat ini.
Menulis yang dimaksud penulis bukan sebatas menulis laporan praktikum, skripsi, menulis status facebook dan twitter yang terkesan tidak penting (karena jarang sekali orang yang memanfaatkan medsos sebagai wadah menulis yang produktif). Namun lebih kepada menulis dari apa yang kita baca, kita lihat dan kita dengar dalam konteks kepekaan wacana sosial dan kemasyarakatan. Hal yang disebut diatas memang terkelompokkan dalam aktivitas menulis. Namun sebagai kaum terpelajar, kita harus menulis yang lebih “GO AHEAD” dari itu. Menulis yang lebih kontributif terhadap perkembangan politik, sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan atau hal apapun di negeri sehingga kita menjadi penulis yang penulis, bukan penulis yang hanya menulis karena tekanan akademik, tuntutan pergaulan medsos atau berdasarkan nada-nada pencitraan yang membosankan.

Membaca dan Menulis sebagai Budaya Insan Pergerakan
13342366791271018236Sangat disayangkan, beberapa survey menyatakan bahwa minat membaca dan menulis sangat rendah. Bahkan, data UNESCO pada tahun 2011 menyebutkan bahwa indeks baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, yang berarti dari 1000 orang, hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Sementara itu, dalam ranah tulis menulis, dapat kita lihat dari jurnal ilmiah yang dimiliki oleh Negara kita yang menurut survey Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.
Terlepas dari survey-survey yang ada, valid atau tidak, faktanya memang harus diakui bahwa kita sebagai insan pergerakan dekade ini telah memberikan sumbangsih besar dalam rendahnya hasil survey tersebut. Sebagai mahasiswa aktivis, hal ini adalah sebuah degradasi yang tidak boleh dibiarkan. Sangat jelas terlihat saat ini, di Indonesia lebih banyak tokoh politik daripada tokoh penulis. Dari banyaknya tokoh politikpun, hanya sedikit tokoh politik yang melek baca tulis, sehingga akhirnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan para politisi di Parlemen maupun di Istana sangat tidak Pro-Aktif terhadap pengembangan minat baca tulis, termasuk Kurikulum 2013 yang dicanangkan Mendikbud pada akhir rezim SBY.
Indonesia memang sedang dihantam oleh globalisasi yang menggila. Neo-kapitalisme, konsumerisme dan hedonisme menyisihkan idealisme, humanisme dan local wisdom masyarakat Indonesia termasuk kalangan muda seperti mahasiswa. Mahasiswa dengan segala idealismenya dibunuh habis-habisan melalui jalan apapun. Wilayah geraknya dibatasi secara tidak langsung melalui kebijakan-kebijakan yang penuh intervensi dan ancaman, bahkan melalui praktik suap menyuap. Menurut analisa pribadi penulis, jarang sekali kampus yang menggerakkan minat membaca dan menulis untuk mahasiswanya secara masif dan terorganisir. Paling hanya sebatas seminar-seminar yang masuk dari kuping kanan, keluar dari kuping kiri, pelatihan-pelatihan yang dijadikan ajang adu eksistensi, dan workshop-workshop penulisan yang hanya sebatas kebutuhan skripsi. Memang tidak ada habisnya jika kita menganalisa bobroknya birokrasi negeri dan carut marutnya sistem pendidikan di negeri ini. Bagaimana tidak carut marut? Ganti menteri ganti program, ganti kurikulum, ganti kepentingan. Revisi teknis, revisi anggaran, revisi pejabat. Kacau! Sudahlah! Mari kita analisa melalui instropeksi diri sendiri saja.
Jika dilihat secara periodisasi, beberapa dekade yang lalu kita mempunyai aktivis-aktivis hebat yang dikenal karena tulisannya seperti Soe-Hok Gie, Pramoedya, Emha Ainun Najib, Mahbub Junaidi, Lafran Pane, dan lain-lain. Saat ini, sangat sedikit sekali aktivis pergerakan yang melek literasi (membaca dan menulis). Penulis tidak menyatakan bahwa penulis juga melek akan membaca dan menulis. Tulisan ini sekedar merefleksi diri kita masing-masing akan pentingnya menulis dan membaca sebagai insan pergerakan, agar kemudian aktivis-aktivis disini tidak hanya meneriakkan kebenaran melalui aksi bertajuk parlemen jalanan, melainkan mempunyai gerakan alternatif dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Penulis kira, gerakan ini lebih santun dan efektif dalam menggugah kesadaran nurani masyarakat untuk ikut serta bergerak bersama mahasiswa melawan kebathilan, meski sejatinya turun ke jalan adalah konsekuensi logis yang harus dilakukan aktivis pergerakan dalam membela bangsa dan menegakkan agama.
Membaca dan menulis dalam aplikasinya memang tidak mudah. Membaca yang berkualitas dengan benar-benar memahami isi suatu buku atau realita (fakta) memang perlu pembiasaan sehingga kita dapat memahami untuk kemudian menganalisa tulisan tersebut dengan tajam, baik secara wacana yang diangkat maupun framing yang dibentuk. Pun demikian dalam proses menulis. Untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas tidaklah mudah, perlu pembendaharaan kosakata, pengetahuan kebahasaan dan kekayaan pustaka yang dimilik karena memang menulis bisa dibilang langkah follow-up dari proses membaca. Berangkat dari hal tersebut, menulis dan membaca perlu dibudayakan hingga warga pergerakan menjadikan menulis dan membaca sebagai kebutuhan primer dalam prosesnya sebagai seorang aktivis. Jika sebelumnya gadget yang dimiliki mahasiswa hanya sebatas berisi Lets Get Rich, Clash of Clans dan permainan lainnya, sekarang mari kita isi gadget kita dengan wikipedia.com, kompas.com, detik.com, dan online book untuk memperluas wawasan kita. Jika sebelumnya membuka facebook dan medsos lainnya hanya untuk upload foto selfie atau untuk memberitahu apa yang sedang kita lakukan dengan sahabat-sahabat kita, mari kita lengkapi dengan mem-posting artikel-artikel ilmiah maupun non-ilmiah hasil karya kita
Sekedar kata-kata untuk warga pergerakan. Membaca merupakan dzikir dan fikir sebagai usaha mencari kebenaran, kejujuran dan keadilan. Sedangkan menulis merupakan langkah amal sholeh dalam upayanya meningkatkan ketaqwaan, nilai-nilai professionalisme dan kapasitas intelektual. Maka tulislah seluruh hasil dzikir dan fikirmu melalui amal sholeh yang direpresentasikan melalui tulisan yang menggugah semangat pergerakan melawan kedzoliman. Semoga kedepannya, generasi Indonesia terutama pemudanya adalah generasi yang tidak miskin membaca dan menulis, sehingga mempunyai kapabilitas yang mumpuni dalam pergaulan internasional. Amiiin.
5/4/15, 02.49 AM
*) Kordinator Forum Komunikasi Eksakta (FKE) PMII Rayon Pencerahan Galileo 2014-2015.