Sebagai orang dengan latar belakang akademik ilmu alam, dalam perjalanan saya mempelajarinya, tentu saja banyak fenomena alam yang patut dikagumi. Di dalam diri kita saja, bagaimana setiap harinya jantung kita berdetak rata-rata sebanyak puluhan ribu kali perhari tanpa protes, kita dapat menarik oksigen dari alam tanpa rasa sesak, aktivitas tubuh di level molekuler yang begitu sangat rapi dan terprogram. Darah kita mampu “mengenali” mana bagian tubuh yang luka lalu membentuk bekuan hanya pada lokasi tersebut tanpa menutup seluruh aliran pembuluh, sel-sel tubuh mampu menggandakan DNA dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil setiap kali membelah, bahkan di dalam setiap sel terdapat mekanisme perbaikan ketika terjadi kerusakan genetik. Sistem imun dapat membedakan mana bagian tubuh sendiri dan mana benda asing, dan ketika bakteri masuk, tubuh dapat “mengingatnya” sehingga serangan berikutnya menjadi lebih ringan. Di tingkat kosmik, bumi berputar dengan kecepatan konstan tanpa kita rasakan, berada pada jarak yang sangat presisi dari matahari sehingga air tetap dalam bentuk cair, dan atmosfer menjaga suhu serta melindungi kita dari radiasi berbahaya. Semua berlangsung tanpa kita sadari, tanpa kita kendalikan, namun bekerja seolah-olah ada sistem pengaturan yang sangat teliti..

Uniknya, sains yang hari ini kita nikmati dalam perkembangannya kemudian sering dipahami dalam kerangka yang mengesampingkan entitas ketuhanan. Seolah alam ini adalah objek yang berjalan alamiah saja secara otonom, cukup dijelaskan melalui hukum-hukum fisika dan kimia yang terukur. Realitas dipersempit menjadi sesuatu yang dapat diamati dan diverifikasi oleh panca indera. Sedangkan Islam mengajarkan ummatnya bahwa alam semesta adalah tajalli atau manifestasi dari Tuhan, tanda-tanda kebesaran-Nya yang mengarah pada kesadaran transendental. Rasanya sulit menganggap alam semesta yang sedemikian teratur ini tidak memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri. Keteraturan hukum alam memang dapat dijelaskan, tetapi pertanyaan tentang makna dan sumber keteraturan itu tetap terbuka.

Pada ngaji Hikam 2 gusmus lalu, saya dipertemukan dengan Hikmah ke-14, di mana Syeikh Ibnu Athaillah mengatakan:

“Alam semuanya adalah kegelapan, dan yang meneranginya ialah kewujudan Allah s.w.t. pada alam itu sendiri. Maka barangsiapa yang melihat alam sedangkan ia tidak melihat Allah dalamnya atau di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka sungguhnya ia telah melumpuhkan wujud dari cahaya-cahaya, dan terhalang oleh awan-awan dari cahaya makrifat.”

Syeikh Ibnu Athaillah dengan tegas mengingatkan bahwa siapa pun yang melihat alam ini tanpa menangkap makna ilahiah di baliknya, sesungguhnya sedang terhijab dari cahaya makrifat. Alam bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan sesuatu yang menjadi terang ketika disadari sebagai pertanda. Untuk bisa merasakan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya, perlu refleksi mendalam yang mendudukkan hati dan pikiran secara tepat. Ini selaras dengan konsep Ulul Albab, di mana seorang ulul albab adalah pribadi yang mampu menyelaraskan aktivitas dzikir dan fikir yang nantinya melahirkan kesadaran teologis bahwa tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia.

Dengan demikian, sejatinya melalui sains seseorang juga dapat mendekati level ma’rifat dan mengenal Allah secara lebih dalam. Bukan karena sains membuktikan keberadaan-Nya, tetapi karena kemampuan tafakkur dan refleksi yang diasah oleh sains membuat seseorang semakin sadar akan keteraturan, keterbatasan, dan ketergantungan segala sesuatu. Ketika seseorang menyelami realitas hingga level mikroskopis, molekuler, bahkan atomik, dan tetap menemukan hukum yang konsisten serta keteraturan yang tidak berdiri sendiri, di situlah hati yang jernih dapat tersentuh oleh kesadaran bahwa alam semesta ini bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan belaka.

Wallahu a’lam.