
Beberapa waktu lalu, saya ngobrol dengan seorang rekan yang asli Cirebon. Ia bercerita bahwa destinasi liburan yang paling dicari adalah tempat-tempat bernuansa pegunungan, seperti naik gunung, curug, glamping, terasering, udara dingin, dan segala hal yang kira-kira bisa membuat badan lupa bahwa Cirebon itu panasnya kadang seperti kita bagai kerupuk mlarat yang disangrai pelan-pelan.
Saya yang mendengarkannya dengan agak. Dalam hati, “Lha kok liburan masih nyari sawah, gunung, dan perkampungan?” Bukan karena tidak indah, tetapi mungkin karena saya sudah cukup akrab dengan lanskap seperti itu. Saya justru lebih tertarik ke pantai, kota, atau sekadar staycation di hotel. Intinya, kalau bisa rebahan di kamar ber-AC sambil sarapan buffet, kenapa harus ngos-ngosan muncak cuma buat liat sawah, hutan & bangunan dari puncak? Ini bukan kemalasan, ini efisiensi energi. Lagi musim kan? hehe.
Dari obrolan ringan itu, saya jadi berpikir bahwa manusia memang sering mencari sesuatu yang tidak sedang ia miliki. Orang yang setiap hari hidup di daerah panas merindukan dinginnya pegunungan. Orang yang terbiasa dengan suasana desa ingin sesekali menikmati hiruk-pikuk kota. Orang yang tiap hari melihat sawah seperti saya lebih terpesona melihat ombak dan laut, sementara orang kota mungkin justru membayar mahal untuk tidur di tengah sawah belakang rumah, wkwkwk. Rumput tetangga bukan hanya terlihat lebih hijau, kadang juga sudah termasuk paket breakfast dan free Wi-Fi.
Dalam batas yang wajar, kecenderungan ini sangat manusiawi. Keinginan untuk mengalami dan menikmati hal-hal baru adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, ia bisa menjadi masalah ketika rasa ingin memiliki berubah menjadi rasa tidak pernah cukup. Dari sekadar ingin suasana baru, pelan-pelan bisa bergeser menjadi iri, dengki, serakah bahkan menempuh jalan yang tidak etis untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Di sinilah rasa syukur menjadi penting. Syukur bukan berarti berhenti menginginkan hal baik. Syukur juga bukan pura-pura puas atas semua keadaan. Syukur adalah kemampuan untuk melihat nikmat yang sudah ada, sebelum mata terlalu sibuk menghitung nikmat yang ada pada orang lain. Sebab kalau kita mau sedikit menunduk dan menengok hidup sendiri, sebenarnya terlalu banyak karunia Tuhan yang selama ini kita nikmati tanpa sempat kita hitung satu per satu. Al-Qur’an mengingatkan, “Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā” — dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.
Maka, mungkin benar bahwa manusia sering “nyari yang gak ada”. Tapi kebijaksanaan hidup menuntun kita agar pencarian itu tidak membuat kita kehilangan rasa syukur, apalagi kehilangan diri sendiri. Sesekali mencari pantai, gunung, kota, atau hotel boleh saja. Yang bahaya itu ketika seluruh hidup kita habis untuk menyamai hijau cantiknya rumput tetangga, akhirnya hijaunya kepalang jadi stabilo dan glossy menyilaukan pandangan kita dari kesadaran atas besar nikmat yang diberikan-Nya.
Wallahu alam.