Akhir-akhir ini, ada fenomena yang rasanya semakin mudah dijumpai, yaitu pesantren mulai banyak mendirikan perguruan tinggi. Dan menurut saya, itu kabar baik. Artinya, pesantren sedang berusaha menjaga relevansinya dengan perkembangan zaman. Bukan dengan meninggalkan identitasnya, melainkan dengan memperluas medan khidmahnya.

Harapannya tentu jelas. Dengan adanya kampus di lingkungan pesantren, akses pendidikan tinggi bagi santri menjadi semakin dekat dan lebih mudah dijangkau. Kapasitas keilmuan pesantren di bidang agama pun memperoleh legitimasi formal negara, misalnya melalui model pendidikan tinggi yang sudah mapan, maupun melalui jalur pendidikan tinggi khas pesantren seperti Ma’had Aly.

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 42 ribu pesantren aktif yang tersebar di berbagai daerah. Jumlah ini menjadikan pesantren sebagai salah satu ekosistem pendidikan terbesar di negeri ini. Pada level pendidikan tinggi pesantren, perkembangan juga terlihat cukup signifikan. Kementerian Agama mencatat bahwa hingga 2025 sudah terdapat sekitar 91 Ma’had Aly berizin resmi di Indonesia. Jadi, pesantren sesungguhnya tidak sedang diam, ia sedang bergerak.

Pesantren memang sejak lama sangat kental dengan tradisi pembelajaran keislaman seperti fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, balaghah, dan berbagai disiplin ilmu alat lainnya, maka wajar bila perguruan tinggi yang dibuka adalah model Ma’had Aly, atau kalaupun PT yang mainstream, program studi yang dibuka banyak berkaitan dengan studi Islam. Itu keputusan yang tepat dan sangat masuk akal.

Namun, beberapa tahun belakangan muncul perkembangan yang menurut saya jauh lebih menarik, yaitu mulai bermunculannya pesantren yang berani membuka perguruan tinggi dengan program studi umum, sains, kesehatan, pertanian, teknologi, ekonomi, bahkan bidang-bidang profesional lainnya. Bagi saya, ini angin segar. Karena sejatinya, pesantren tidak pernah hanya menjadi tempat belajar agama semata. Dalam sejarah Indonesia, pesantren juga merupakan ruang perjuangan. Ia ikut membentuk kesadaran kebangsaan, melahirkan pejuang, menggerakkan masyarakat, menjaga republik pada masa-masa genting, bahkan ikut mengawal lahirnya fondasi bangsa ini.

Kalau dulu pesantren ikut berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini mungkin salah satu bentuk perjuangan berikutnya adalah mengisi kemerdekaan itu sendiri. Dan salah satu sektor yang masih perlu diisi serius adalah pembangunan sumber daya manusia bidang sains, kesehatan, teknologi, ekonomi, hukum, dan inovasi.

Indonesia saat ini masih punya pekerjaan rumah besar dalam pembangunan SDM berbasis sains dan teknologi. Kita sering berbicara tentang bonus demografi, hilirisasi industri, transformasi digital, ekonomi hijau, kesehatan nasional, kemandirian pangan, bahkan kecerdasan buatan. Tapi semua itu pada akhirnya membutuhkan satu hal yang sama, yaitu manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis. Kita butuh lebih banyak saintis, tenaga kesehatan, engineer, peneliti, bahkan inovator. Karena negara maju tidak dibangun hanya dengan slogan dan pidato berapi-api. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang menguasai dan menghargai ilmu yang dibentuk melalui arah kebijakan yang mengarusutamakan spending pada riset, akademik dan sumber daya manusia.

Di titik inilah saya merasa pesantren sebenarnya punya peluang yang unik, sekaligus tantangan yang tidak mudah. Bayangkan profil lulusan yang lahir dari rahim pesantren. Ia paham agama, akhlaknya ditempa, terbiasa hidup sederhana, membumi, tetapi juga menguasai farmasi, pertanian, teknologi pangan, kecerdasan buatan, kesehatan masyarakat, atau bioteknologi. Bayangkan transformasi apa yang bisa dilakukan sosok yang “MASAGI” demikian.

Terdengar terlalu idealis? Memang iya. Tapi bukankah banyak perubahan besar memang sering diawali dari sesuatu yang pada awalnya terdengar terlalu ideal? KH. Mustofa Aqiel Siroj pernah menyampaikan dalam sebuah kesempatan di STIKes KHAS Kempek tentang mandat manusia dalam QS. Hud ayat 61:

”… huwa an sya-akum minal ardhi wastakmarakum fiiha…”
”…Dia menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya…”

Ayat ini sangat meaningful. Karena “memakmurkan bumi” jelas bukan pekerjaan satu disiplin ilmu saja. Untuk menjalankan mandat tersebut, manusia memerlukan ilmu kesehatan, ekonomi, teknologi, pertanian, lingkungan, hukum, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya, bahkan kolaborasi lintas bidang.

Menyembuhkan penyakit adalah bagian dari memakmurkan bumi, mengembangkan teknologi pangan adalah bagian dari memakmurkan bumi. Pun dengan membangun sistem ekonomi yang adil hingga mengelola lingkungan secara berkelanjutan tentu saja bagian dari memakmurkan bumi.

Sudang barang tentu, niat baik saja tidak cukup bagi pesantren. Membuka program studi sains bukan perkara sederhana. Ada biaya pengadaan dan maintenance laboratorium yang melangit, instrumen praktikum mahal, standar akreditasi ketat, dan kebutuhan SDM dosen yang niche nya sempit. Belum lagi tuntutan mutu yang semakin tinggi agar lulusan mampu bersaing. Jika membuka prodi ilmu sosial keagamaan ibarat membeli motor, maka membuka prodi kesehatan atau sains tertentu ibarat kita membeli motor beserta dealer seisinya.

Tetapi terus terang, saya kok tidak terlalu khawatir soal kreativitas pesantren dalam urusan survive. Sejarah pesantren terlalu panjang untuk diragukan soal itu. Berapa banyak pesantren berdiri dari modal yang secara kalkulasi Excel sebenarnya tampak mustahil? Berapa banyak pesantren berkembang dari wakaf kecil, gotong royong masyarakat, jaringan alumni, dan pertolongan yang sering kali datang min haitsu la yahtasib?

Pesantren, yang dalam bahasa Gusdur adalah sub-kultur, punya modal sosial yang luar biasa. Maka saya kira, tantangan terbesarnya mungkin bukan pertama-tama soal dana. Tetapi soal keyakinan epistemologis insan pesantren. Apakah kita sungguh percaya bahwa belajar biologi, farmasi, teknik lingkungan, data science, kesehatan masyarakat, pertanian, atau kecerdasan buatan juga merupakan bagian dari perjuangan keilmuan Islam? Apakah kita sungguh percaya bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum?

Disamping paradigma ilmu yang perlu direfleksikan, ada juga paradigma terkait dengan mutu. Dalam banyak hal, kesederhanaan & prihatinity adalah kekuatan pesantren. Tetapi belajar sains tidak bisa sepenuhnya dijalankan dengan prinsip prihatin, peralatan seadanya, dan narasi “insyaAllah nanti sambil jalan.” Fiqih mungkin bisa dipelajari di serambi masjid beralas tikar, tetapi farmasi, bioteknologi, keperawatan, kimia, atau teknologi pangan membutuhkan laboratorium, instrumen, skill lab, standar keselamatan, dan dosen yang benar-benar kompeten. Ini bukan soal qonaah dan tawakal, tetapi karena kompetensi teknis memang menuntut fasilitas teknis.

Maka jika pesantren ingin membuka prodi sains, ia tidak bisa masuk hanya dengan semangat menggebu-gebu, tetapi harus selesai dalam paradigma keilmuan dan kesungguhan dalam peningkatan mutu. Mahasiswa tidak sekedar mengharap barokah; mereka menitipkan masa depan kompetensinya. Tawakkal tetap penting, tetapi dalam pendidikan sains, tawakkal harus hadir bersama mikroskop yang berfungsi, instrumen yang terkalibrasi, laboratorium yang layak, kurikulum yang kuat, dan budaya akademik yang suportif. Tidak bisa setengah hati.

Kalau dua paradigma itu sudah clear, saya optimis para kiai, komunitas pesantren, alumni, dan masyarakat akan menemukan seribu satu strategi untuk memenuhi tuntutan mutu perguruan tinggi sains. Pesantren terlalu berpengalaman dalam mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Tapi, jika belum clear, mungkin niatnya lebih baik ditunda. Atau persiapkan saja santri untuk masuk ke PTN/PTS favorit di dalam/luar negeri. Karena kompetensi adalah segalanya. Inkompetensi membunuh lebih banyak orang daripada kejahatan itu sendiri. Jangan sampai pendidikan sains di pesantren menghasilkan lulusan yang inkompeten.

Saya membayangkan satu profil lulusan pesantren masa depan. Ia fasih membaca Taqrib, tetapi juga mampu membaca artikel Nature atau Elsevier. Ia hafal Imrithi, tetapi juga paham statistik, laboratorium, atau analisis data. Ia mengerti hukum air mutlak, sekaligus mampu mengembangkan teknologi pengolahan air bersih untuk masyarakat. Ia memahami maqashid syariah, tetapi juga mampu merancang solusi kesehatan publik atau inovasi pangan halal.

Bukankah profil seperti ini layak diperjuangkan? Tidak sederhana memang. Tetapi bukankah pesantren sejak dulu memang tidak pernah memilih jalan yang sederhana? Dan siapa tahu, justru dari pesantren lahir model SDM Indonesia yang selama ini kita cari-cari, yaitu manusia yang kuat spiritualitasnya, luas wawasan keagamaannya, tetapi juga tangguh dalam sains, teknologi, dan pengabdian sosial.

Patut dicoba, bukan? Wallahu a’lam.