
Saya lahir di lingkungan dengan kultur NU, mengaji pada Guru ngaji NU, Sekolah di Lembaga dibawah pesantren Kyai NU. Aktif di organisasi berwatak NU sejak mahasiswa hingga saat ini. Dari sana juga saya belajar banyak hal seperti public speaking, leadership, mengelola kegiatan, hingga seni menghadapi karakter manusia yang beragam.
Prinsip hidup, cara memandang berbagai persoalan dan bersikap, rekam jejak keorganisasian, hingga cara beribadah, sepertinya akan mudah diidentikkan bahwa saya adalah Nahdliyin tulen. Nyel. Satu saja sepertinya yang saat ini bisa membuat orang meragukan ke-NU-an saya, yaitu saya sudah bukan lagi ahlul hisap, sudah jadi alumni, hehe.
Namun semakin bertambah usia, saya mulai merasakan kegelisahan yang pelan-pelan tumbuh. Saya melihat ada banyak energi besar yang terkadang habis untuk urusan internal, konflik kecil, perebutan pengaruh, atau sekadar sibuk menjaga simbol-simbol identitas. Sementara di luar sana, dunia bergerak sangat cepat, teknologi berkembang, industri berubah, kecerdasan buatan mulai mempengaruhi kehidupan manusia, riset dan inovasi menjadi penentu masa depan, tetapi pembicaraan tentang hal-hal itu belum benar-benar menjadi arus utama dalam banyak ruang gerakan, setidaknya di ruang-ruang yang saya ikuti, seperti agenda kaderisasi yang masih cenderung doktrinasi searah dan agenda rutin saja.
Saya mulai merasa ada gap nyata antara retorika yang sering digaungkan terkait relevansi zaman dengan gerak dan kesiapan yang real dilakukan untuk menghadapi tantangan zaman. Tentu saja, kegelisahan ini muncul justru karena saya merasa memiliki kedekatan emosional dengan rumah besar ini, bukan karena kebencian.
Saya terkadang merasa bersalah ketika intensitas aktivitas di organisasi mulai berkurang pasca selesai berkhidmat dari Ketua PAC Ansor Rajagaluh. Ada perasaan takut dianggap berubah, kurang loyal, atau terlalu “akademis” untuk tetap membumi dan srawung.
Di kepala saya waktu itu, khidmah cenderung harus selalu hadir di forum, aktif di struktur, atau sibuk mengurusi kegiatan organisasi. Itu memang bagian dari khidmah. Tapi saya mencoba berpikir kembali bahwa setiap orang mungkin memang perlu sejenak berefleksi, lalu memikirkan alternatif bentuk dan cara khidmahnya. Tidak semua harus berdiri di podium organisasi, tidak semua harus menjadi pengurus. Ada yang berjuang lewat pendidikan, ada yang lewat riset, ada yang lewat tulisan, dan ada juga yang diam-diam bekerja membangun kualitas manusia tanpa banyak diketahui orang lain.
Disamping sejak kecil saya sudah biasa di luar daerah dan “cenderung” kurang membumi, hari-hari ini saya mulai mengurangi intensitas ngopi-ngopi karena mencoba mengejar khidmah di dunia lain yang (mungkin) diperlukan. Saya mungkin cenderung tidak serutin dulu, tetapi nilai-nilai yang dulu saya pelajari tetap saya bawa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam cara saya mengajar mahasiswa, dalam cara saya memandang ilmu pengetahuan, bahkan dalam kegelisahan saya tentang masa depan umat Islam di tengah perkembangan sains dan teknologi.
Saya percaya bahwa membangun budaya intelektual, memperkuat riset, mendorong generasi muda menguasai teknologi, dan menghadirkan sains yang berpihak pada kemaslahatan juga merupakan bentuk khidmah. Barangkali tidak terlalu terlihat heroik, memang. Tidak ada seragam, tidak ada yel-yel, dan kadang tidak ada panggungnya. Tapi saya mulai percaya bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang paling sering terlihat, melainkan juga oleh mereka yang konsisten menyalakan lampu di ruang-ruang yang masih sepi. Salah satunya ruang sains dan teknologi, yang sebenarnya luas, tapi belum banyak kita jamah.
Tentu akan ada yang bertanya begini, “Kalau semua hal bisa disebut khidmah, jangan-jangan itu cuma cara halus membenarkan diri yang jarang hadir?” Pertanyaan itu wajar, dan jujur saja, saya sendiri belum selesai menjawabnya. Ukuran sementara saya sederhana, apakah yang saya kerjakan itu manfaatnya sampai kepada orang-orang yang selama ini saya khidmahi, bukan sekadar membuat saya merasa berkontribusi? Dari ukuran itu pula kegelisahan saya soal generasi muda NU bermula.
Saya kadang merasa generasi muda NU perlu mulai keluar dari rasa nyaman kejayaan masa lalu. Kita terlalu sering bangga menjadi pewaris ulama besar, tetapi kurang serius menyiapkan diri untuk menjadi generasi yang juga mampu melahirkan karya besar. Padahal tantangan hari ini tidak cukup dijawab hanya dengan semangat tradisi dan kemampuan beretorika.
Dunia membutuhkan kader yang mampu menguasai sains, teknologi, ekonomi digital, media, bahkan kecerdasan buatan, tanpa kehilangan akar nilai dan akhlaknya. Tradisi tetap penting, tentu saja. Tetapi tradisi seharusnya menjadi fondasi untuk melompat lebih jauh, bukan alasan untuk merasa cukup dengan keadaan sekarang. Saya menulis ini bukan dari seberang pagar. Saya bagian dari rumah ini, jadi anggap saja ini kritik sekaligus otokritik dari satu nahdliyin muda yang faqir.
Pada akhirnya, saya tetap mencintai NU sebagai rumah kultural tempat saya dibesarkan. Saya juga masih terlibat di beberapa forum dan kegiatan organisasi. Saya tetap menghormati para kiai, tradisi, dan nilai-nilai yang selama ini membentuk cara saya memandang agama dan kehidupan. Hanya saja, mungkin hari ini saya mencoba menggeser sedikit fokus khidmah yang berbeda dari mainstream perjuangan.
Dan semoga itu tidak masalah. Sebab cinta tidak selalu harus diwujudkan dengan cara yang sama. Kadang, mencintai sebuah rumah juga berarti berani jujur terhadap kekurangannya, sambil tetap berharap rumah itu tumbuh menjadi tempat yang lebih siap menghadapi masa depan.