Ngaji Hikam 3: Segala yang Tak Sesuai Rencana

Ngaji Hikam 3: Segala yang Tak Sesuai Rencana

Istiqomah dan konsisten adalah hal yang sulit. Sudah 4 hari sejak ngaji hikam 2 Gus Mus saya ikuti dan hari ini saya baru bisa melanjutkan mengaji lagi untuk ngaji hikam episode 3. Namun, kalam hikmah yang dibacakan di ngaji hikam 3 ini agaknya seperti membela inkonsistensi saya. Berikut adalah kalam hikmah ke-17 Syaikh Ibnu Athaillah:

“Barangsiapa menghendaki terjadinya sesuatu pada waktu yang bukan waktunya menurut ketentuan Allah, maka ia tidak meninggalkan satu bentuk kebodohan pun.”

Sebodoh-bodohnya orang adalah ketika ia memaksakan kehendaknya agar sesuatu terjadi pada timing yang ia inginkan, padahal Allah belum menakdirkan hal itu terjadi. Contoh yang diambil Gus Mus adalah ketika seseorang berada dalam kondisi sederhana, lalu ia ingin segera keluar dari kesederhanaan itu dengan tergesa-gesa, seakan-akan keadaan tersebut adalah kesalahan yang harus segera diperbaiki, padahal bisa jadi keadaan itulah ketetapan Allah baginya pada saat itu.

Saya sejak kemarin tentu ingin melanjutkan ngaji ini, tetapi aktivitas saya sebagai dosen, pegawai, suami dan berbagai tanggung jawab lain menjadikan ngaji ini tertunda beberapa hari. Kejadian ini tentu bagian dari apa yang sedang Allah tetapkan dalam waktu tersebut. Maka kekesalan saya karena baru sempat mengaji pagi ini sebenarnya lahir dari keinginan agar kenyataan mengikuti rencana saya, bukan mengikuti ketentuan-Nya. Kita hanya bisa merencanakan, Allah lah yang menentukan.

Yang lalu biarlah berlalu. Tidak semua keterlambatan adalah kelalaian, dan tidak semua kesibukan adalah penghalang kebaikan. Selama yang terjadi bukan kemaksiatan yang kita sengaja lakukan, kita perlu belajar menerima alur dan timing yang Allah tetapkan. Prinsipnya, ketika kita memiliki banyak aktivitas kebaikan yang saling bertabrakan dan kita tidak mampu mengatur prioritas sepenuhnya sesuai keinginan kita karena kewajiban dan keadaan, maka tidak perlu terlalu kesal. Bisa jadi justru di situlah bentuk ibadah kita hari itu. Usaha tentu saja wajib, tapi kita tidak boleh menuntut waktu dan hasilnya.

Contoh lain adalah ketika istri saya mengeluh karena sebelum menikah ia bisa menamatkan satu khataman Al-Qur’an setiap Ramadan. Ia sedih karena setelah menikah hal itu sulit dilakukan. Sebagai suami saya mengatakan, mungkin dahulu sumber pahalamu adalah mengkhatamkan Al-Qur’an, tetapi sekarang sumber pahalamu agak switching gitu: mengurus anak, mengantarkannya ke sekolah, memandikannya, menyuapinya, menidurkannya, dan merawatnya dengan kasih sayang. Bisa jadi pahala itu tidak berkurang, hanya bentuknya yang berubah. Bukankah itu juga ketetapan Allah yang patut disyukuri?

Senada dengan kalam hikmah ke-22:

“Tidak ada satu nafas pun yang engkau hembuskan melainkan Allah menjalankan padamu suatu ketentuan di dalamnya.”

Subhanallah. Sesungguhnya tidak satu hembusan nafas pun lepas dari ketetapan Allah. Karena itu, yang dituntut dari kita bukan mengendalikan seluruh peristiwa, tetapi menjaga sikap hati terhadap peristiwa. Akan ada yang terasa pahit dan manis, namun keduanya tetap berada dalam pengaturan-Nya. Kalimat “Coba kalau begini” atau “andaikan saja” seringkali lahir dari keinginan agar kenyataan mengikuti skenario kita, dan itu tidak sopan terhadap Allah taála.

Cocok pula dengan hikmah berikutnya:

“Jangan heran atas adanya kekeruhan di dunia, karena dunia memang tempat munculnya kekeruhan.”

Jadi kita tidak perlu terlalu terkejut dengan rumitnya kehidupan. Di satu sisi, kita selow aja sama pahit manisnya hidup, yang penting kita jangan lepas dari berusaha dan berikhtiar saja. Karena rancang bangun dunia memang bukan tempat kesempurnaan, tapi keruwetan dan kekeruhan. Pilihan kita adalah tetap berjalan dengan hati yang ridha sambil berusaha sebaik mungkin, tetap berhati-hati, dan tetap berpegangan kepada Allah di tengah keruwetan itu. Yang Maha Mengatur kan bukan kita.

Saya jadi ingat lagu dangdut jadul, “Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka. Semua insan pasti pernah merasakannya. Jalan hidup rupa-rupa, Bahagia dan kecewa, Baik buruknya sudah pasti ada hikmahnya. Susah senang datangnya silih berganti, bagai roda-roda yang terus berputar, Hadapilah resapilah hidup ini, jangan terlena jangan putus asa.”. Asek asek, Jos. Hak eee.

Wallahu a’lam.

Titik Balik

Titik Balik

Hari-hari saat di pesantren adalah hari dimana fokus dan fikiran kita tidak banyak terbelah. Tujuan kita pada saat itu cuma tiga, mengaji, mengaji dan mengaji. Salah satu yang paling teringat adalah saat dikabalongkeun, yaitu dihukum dengan menyeburkan diri kedalam kolam yang (cukup) kotor selama beberapa waktu, biasanya saat saya atau santri yang lain kedapatan nundutan. Nundutan ini bahasa sunda, bahasa inggrisnya sleep while sit, hahaha. Nundutan itu, saat kita ma’nani atau ngalogatan kitab kuning di halaman 10 >tidak sadar > sadar > dan ternyata sudah sampai halaman 15. Bolonglah ma’nani itu sebanyak 4 halaman. Dihalaman 10 itu, berdiri sebuah pulau yang menjadi lokasi DAHDIR KINGDOM, hahaha.

Tradisi mengaji atau ma’nani kitab kuning itu bertahun-tahun hilang dari keseharian saya. Kalo tidak salah, kitab terakhir saya ma’nani itu adalah kitab Nashoihul Ibad saat berkuliah di Malang dulu, itupun semester satu dan dua. Setelah itu, dialektika saya dalam menyelami kutubut turots memang benar-benar luput. Selain memang saat kuliah dulu saya tidak lagi mondok, alias ngekos dan ngontrak. Memang juga saya ikut berorganisasi dan fokus di bidang jurusan kuliah saya, kimia. Dan itu berlanjut hingga saya selesai studi S2 kemarin-kemarin itu.

Jadi, bisa anda bayangkan, bab demi bab Jurumiyah, bait demi bait Imrithi dan Alfiyah harus saya recall. Dan proses recalling itu jelas sulit, karena sudah sekitar 5-6 tahunan. Astaghfirullah. Intinya saat ini, saya merasa ingin menyambungkan kembali tali yang (hampir) putus itu. Dan kemarin adalah waktu dimana saya berkesempatan menyambungkan kembali benang demi benang dari tali yang sudah hampir putus itu.

Ba’da jumat kemarin (19/11/2021), saya memulai kembali tradisi mengaji kitab kuning itu. Kali ini saya nimbrung di pengajian rutinan alumni dan muhibbin Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Bertempat di Pondok Pesantren Cabang Lirboyo V, Tegalaren, Ligung, Majalengka, saya, Bapa dan adik saya ikut mengaji bersama para alumni Lirboyo. Kitab yang dikaji adalah kitab Minhajul Abidin, karya dari Hujjatul Islam, Imam Ghazali yang menjelaskan beberapa aqobah (jalan terjal) yang harus ditempuh oleh seorang hamba untuk meningkatkan kualitas untuk beribadah kepada Allah, baik yang mahdloh maupun yang ghoir mahdloh.

Pada kesempatan itu, pengajian diisi oleh KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, dari Lirboyo Pusat. Kitab tasawwuf macam ini sangat tepat dikaji ditengah masyarakat, dan khususnya untuk saya sendiri. Dimana mudah-mudahan, melalui mutiara kebijaksanaan yang diuraikan dalam kitab ini dapat mentransformasi saya pribadi menjadi lebih bijaksana dan intinya lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Kesempatan ma’nani kitab seperti kemarin adalah titik balik saya. Dalam arti sempitnya, mengobati kerinduan saya akan tradisi nulis arab pegon kecil pake pulpen hitec-c yang harganya 20 ribu itu. Yang sekali jatuh saja, si santri itu akan pusing karena seringkali langsung macet, duh. Semoga saya istiqomah bisa mengikuti pengajian kitab ini setiap bulannya, Amiiin.

Eh, pulpen hitec-c harganya masing 20 ribu tah? Atau sudah naik? Beneran nanya.

Wallahu a’lam