Catatan Refleksi 6 Tahun Pernikahan

Catatan Refleksi 6 Tahun Pernikahan

Rasanya baru saja kemarin, saya dengan perasaan aneh dan campur aduk, mengucap “qobiltu” didepan khalayak, mempersunting pujaan hati dengan “mekanisme” di luar rancangan BAB III yang telah dipersiapkan. Bagaimana tidak, hari itu acaranya direncanakan untuk lamaran, namun malah berakhir dengan teriakan “sah!” dari para tamu undangan.

Kini, genap 6 tahun kami memadu kasih, menjalin cinta, membuahkan tiga pelita yang menerangi hati kami, yang gelombang cahayanya mengeksitasi energi kehidupan kami ke tingkat kebahagiaan tak terkira. Asek. Perjalanan ini bagi saya terasa singkat, namun jika diresapi lebih dalam, sudah cukup banyak hal-hal yang telah kami lewati bersama. Kadang senang, sedih, marah, kesal, pusing, semuanya kami lalui bersama.

Seperti halnya pasangan suami istri lainnya, kami juga seringkali bertengkar di skala nano hingga mikro, karena layaknya syair Donne Maula, “Cerita kita, takkan seperti dilayar-layar kaca, gemas romantis, tak masuk logika”. Misal berbeda pandangan, berbeda pemikiran, berbeda dalam berbagai aspek kehidupan, dan memang itulah esensi dari pernikahan, yakni ketika perbedaan-perbedaan bertemu dalam satu atap kehidupan. Cara kita menyikapi perbedaan itu sangat menentukan bagaimana akhirnya, apakah terelaborasi dengan baik didalam, atau mental sampai bising keluar? Alhamdulillah, kami lebih sering selesai didalam, aheeee. Jurus rahasianya apalagi kalo bukan petuah dan nasihat dari orang tua kami yang arif nan bijaksana, dan tentu, lebih berpengalaman dan sduah berhasil lebih dulu. Selain itu? Mungkin berasal dari kebijaksanaan yang lahir dari pengetahuan dan fitrah akal budi kami berdua.

Sebenarnya, saya bingung jika harus menulis semacam refleksi pernikahan. Saya tulis judul refleksi biar keren aja, wkwkwk. Intinya begini lah, alhamdulillah saya sangat bersyukur atas semua anugerah yang telah Allah berikan atas kehidupan saya. Dan yang lebih penting adalah melihat kedepan. Mempersiapkan masa depan, memberikan yang terbaik untuk anak-anak, orang yang kami sayangi, untuk kiprah saya dan istri dalam peran yang kami jalani bersama, resolusi, harapan, cita-cita, dan semoga rasa cinta saya dan istri akan tetap ada dan dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala hingga di akhirat nanti, amiiiin.

Mungkin tulisannya ditutup saja dengan reff lagunya Maher Zein yang dulu viral sebelum istilah viral itu viral. Teruntuk istriku tercinta…

“For the rest of my life, i’ll be with you

I’ll stay by your side, honest and true

Till the end of my time, i’ll be loving you, loving you…

For the rest of my life, through days and nights

I’ll thank Allah, for opening my eyes

Now and forever I’ll be there for you…

I know it deep in my heart … “

Terimakasih sedalam-dalamnya untuk istriku, sudah bersedia menjadi pendamping hidup dari sosok yang  sangat banyak kekurangan ini. 

Untuk anak-anakku,

Muhammad Faqih Zewail Alfauzi

Fathia Kamila Putri Fauziya

Faylashufa Nayra Fauziya

Tumbuh kembanglah dengan segala kebaikan yang menyertai, doakan kedua orang tuamu ini agar menjadi pribadi yang lebih baik. Jika suatu saat kalian membaca tulisan ini, menertawakannya adalah hal yang diperbolehkan, halal. Hahahaha.

Kepala Tiga

Kepala Tiga

Genap 30 tahun sejak saya dilahirkan ke dunia ini. Tentu telah banyak cerita yang telah terukir dalam perjalanan hidup ini. Segala peristiwa yang terjadi dalam hidup, yang masih terekam dalam ingatan, rasa-rasanya baru saja kemarin saya alami, seperti bukan peristiwa yang sudah dalam terpendam. Maka salah satu puisi Gus Mus ada yang berjudul “Rasanya Baru Kemarin”. Ini gambaran sederhana bahwa banyak hal yang telah terjadi dalam hidup, meskipun itu telah berlalu berpuluh-puluh tahun yang lalu, rasanya baru kemarin. Gus Mus menggambarkan dalam puisinya itu, rasanya baru kemarin mahasiswa-mahasiswa yang dulu rajin berdemonstrasi itu, sekarang sudah jadi menteri-menteri, dan menjadi objek yang didemonstrasi oleh mahasiswa-mahasiswa selanjutnya.

Senyum-senyum sendiri, itulah respon alami saat saya menulis tulisan ini, mengingat satu dua peristiwa yang saya alami di masa lalu. Secara garis besarnya, banyak hal yang patut disyukuri, banyak hal yang harus diingat dengan senyuman. Kehidupan “nomaden” sejak SD hingga S2 adalah cerita kehidupan yang luar biasa. Meskipun semuanya terjadi di pulau Jawa. Tapi semua fase berjalan di Kota, bahkan Provinsi yang berbeda-beda. Berinteraksi dengan banyak manusia yang dibentuk dalam budaya yang cukup berbeda, menambah kesadaran diri bahwa hidup harus saling menghargai antar sesama manusia, harus memupuk rasa toleransi seluas-luasnya.

Kini, saya sudah genap mencapai usia 30 tahun, atau dalam istilah lain, sudah masuk “kepala tiga”, usia yang mungkin sudah melalui “quarter life crisis”, sudah paham orientasi hidup dan bagaimana menjalani hidup yang selayaknya. Selain itu, ada juga yang bilang, usia 30 adalah saat dimana idealisme yang berapi-api mulai tergantikan dengan kacamata yang lebih realistis dalam memahami persoalan dalam pergaulan sosial. Apapun itu, saya rasa usia tak bisa menggeneralisir pengalaman orang per orang, tidak bisa menjustifikasi “kematangan” seseorang. Maka bisa saja sikap saya yang meski sudah 30 tahun ini masih seperti BOCIL, atau bahkan hobi menceramahi layaknya “sepuh” yang kenyang pengalaman, hehehe.

Yang pasti, usia yang kita punya ini bukan bertambah, tapi semakin hari adalah semakin berkurang. Teringat dalam syair karya Abu Nawas yang berbunyi, “Umur kami berkurang setiap harinya, sedangkan dosa-dosa terus bertambah, bagaimana kami sanggup memikulnya?”. Syair yang sangat kontemplatif tersebut tentu harus menjadi titik awal untuk bagaimana kita memaknai usia yang terus menerus berkurang setiap harinya. Narasi positifnya adalah kita dalam setiap langkah hidup harus senantiasa menebar kebaikan dan kebermanfaatan untuk sesama, sembari memohon ampunan kepada Sang Pemilik Hidup, atas pilihan-pilihan hidup yang mungkin ternyata tidak terlepas dari dosa-dosa adamiy maupun ilahiy secara langsung.

Keunikan usia 30 ini pada diri saya adalah rambut saya sudah mulai muncul uban. Seperti yang diketahui, uban ini muncul akibat menurunnya produksi eumelanin pada rambut. Penyebabnya bisa macam-macam, alamiah karena usia, genetik, atau mungkin stress. Untuk kasus saya ini, lebih besar kemungkinan karena usia atau genetik, karena kondisi hidup saya tak mengharuskan saya stress. Alhamdulillah, paling tidak kondisi hidup saat ini, betapapun katanya dunia sedang dilanda resesi dan kesulitan ekonomi, masih banyak sekali anugerah diluar itu yang harus bisa saya syukuri. Keberhasilan membangun rumah ditengah krisis misalnya, atau akan hadirnya anggota baru dalam keluarga saya, insyaAllah.

Seperti sebutannya, usia “kepala tiga” mencerminkan cabang yang banyak. Karena dalam gramatika bahasa arab, bilangan tiga sudah dianggap sebagai Jamak/banyak. Jika digunakan ilmu cocoklogi, hehe, artinya di usia kepala tiga ini secara umum kita sudah punya banyak peran dalam kehidupan, didalam pekerjaan, didalam keluarga, juga didalam masyarakat, kita semua punya peran masing-masing, yang peran itu semakin bercabang menjadi ranting-ranting peran kecil yang harus diupayakan semuanya tetap kokoh.

Ada kutipan menarik dari Jiraiya dalam serial Naruto, “Kewajiban kita adalah menjadi contoh dan membantu generasi berikutnya, mempertaruhkan nyawa sambil tersenyum demi itu”, artinya peran dalam hidup kita tak harus 100%  sempurna tanpa cacat, berusahalah semaksimal mungkin, sehingga kelak anak-anak kita akan mencontoh apa yang telah kita lakukan, karena masih menurut Jiraiya, “Seorang ninja tidak diukur dengan bagaimana mereka hidup, melainkan apa yang telah berhasil mereka lakukan sebelum kematian mereka.”. Bisa kita interpretasikan bahwa dalam hidup bukan tentang perannya apa, tapi tentang apa yang akan dan telah kita lakukan dalam menjalani peran itu. Sehingga, generasi kita bahkan orang lain akan melihat dan menilai warisan-warisan moril dari diri kita.

Puncak daripada memainkan peran dalam hidup ini bisa kita temukan dalam syair populer arab yang beberapa kali dikutip oleh Gusdur, yaitu “Waladatka ummuka yabna adama bakiya, wannasu haulaka yadhakuna sururo. Fajhad linafsika an takuna idza bakau, fi yaumi mautika dlohikan masruro.”, artinya Wahai anak adam, ibumu melahirkanmu dimana kamu dalam kondisi menangis, sedangkan orang-orang disekitarmu berbahagia menyambutmu. Maka berupayalah agar kelak ketika kamu meninggalkan dunia, dirimu tersenyum, sedangkan orang-orang disekitarmu menangisi kepergianmu, sebagai orang yang sangat bernilai dimata mereka.

Bagi saya, dan mungkin bagi kita semua, saya kira penting bagi kita selaku orang tua, mewariskan sesuatu kepada generasi kita selanjutnya. Warisan ini bukan hanya yang bernilai materil, tapi juga warisan yang bernilai moril, yakni sebuah keyakinan, sebuah tekad, sebuah uswah, sebuah nilai perjuangan, yang dapat dicontoh dan diteruskan oleh generasi mendatang, yang jika dalam Naruto disebut sebagai “Tekad Api”, atau dalam One Piece disebut “Will of D”. Yah, semoga saja menginjak usia 30 ini, tentang bagaimana saya berperan dalam hidup bisa lebih bermakna, dan setiap umur yang terus berkurang ini dihiasi dengan gerak langkah kebermanfaatan yang akan dinilai sebagai warisan perjuangan yang pantas dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Amin.