2024: Akhir Tahun yang Menentukan

2024: Akhir Tahun yang Menentukan

Saat ini, kita sudah sampai di pertengahan Desember.  Sebentar lagi, kita akan memasuki tahun yang baru. Seperti halnya manusia-manusia lainnya, saya pun memiliki beberapa resolusi yang telah dicapai di tahun 2024, dan resolusi yang ingin dicapai di tahun 2025. Tapi, itu semua gak ‘saklek’ ya, karena saya meyakini, manusia ini kewajibannya ya berencana dan berusaha, Allah lah yang menentukan.

Banyak hal dalam hidup yang kita rencanakan dengan baik, ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Sebaliknya, banyak juga hal yang tak kita rencanakan, tapi secara insidentil menjadi satu milestone dalam hidup. Begitulah hakikatnya, Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hidup kita daripada kita sendiri. Rencana-Nya pasti lebih indah. Itu yang saya yakini.

2024 ini cukup menarik, saya tak banyak memasang target yang ambisius. Cukup memasang target konsistensi atas capaian di 2023 dalam berbagai aspek hidup. Jalannya tentu saja berliku, ada kemunduran, ada kemajuan, saya sikapi dengan positif, saya yakin bahwa Allah sedang menuntun jalan hidup saya menuju rencana terbaik-Nya.

Satu hal yang menjadi milestone di luar rencana 2024 adalah keikutsertaan dalam suatu seleksi. Tak disangka dan tak dinyana, saya mampu melalui 1 tahapannya. Saat ini, satu tahap lagi menuju kelulusan yang diharapkan. Jujur saja, keikut sertaan saya bukanlah bagian dari rencana, saya mengikutinya dengan keputusan yang spontan saja. Saya yakin, mentalitas yang saya tunjukkan, kegigihan yang saya berikan, itu adalah skenario yang telah ditulis-Nya sehingga saya sampai pada tahap ini. Tentu saja berkat doa dan dukungan orang terdekat saya, keluarga.

Lalu, bagaimana jika tak berhasil memenangkannya? Saya tak masalah dengan hasil. Yang penting, saya sudah memberikan segala kemampuan yang saya punya, saya pastikan bahwa saya melakukannya dengan kegigihan dan usaha maksimal. Saya berusaha saja meyakini bahwa “hasil tidak akan mengkhianati proses”. Jika gagal, berarti mereka diluar sana punya usaha yang lebih dari saya sehingga lebih layak. Yang salah tentu saja jika kita berharap berhasil, tapi tak disertai usaha yang maksimal, hehehe. Saya percaya, berhasil atau tidaknya, ada skenario keren yang sedang dipersiapkan Allah untuk saya. Tugas kita hanya berusaha. Kata-kata yang mbulet sekali, wkwkwk.

Ya intinya begitu, akhir tahun 2024 ini adalah akhir tahun yang cukup menentukan dalam karir dan kehidupan saya. Saya tak berdoa untuk kelulusan atau kemenangan atas seleksi tersebut. Yang saya minta adalah berdoa diberikan takdir yang terbaik untuk kehidupan saya dan keluarga di masa depan. Kalaulah lulus adalah takdir terbaik, maka luluskanlah ya Allah, kalaulah tidak lulus adalah takdir terbaik, maka buatlah lulus menjadi takdir terbaik, hehe. Maafkan hamba-Mu yang suka guyon ini.

Inilah yang bisa saya sebut tawakkal dan berpasrah. Setelah berupaya keras disertai berdoa, hasilnya adalah domain Allah yang menentukan. Domain makhluk adalah gaspolll maksimal.

Ya Allah, berilah hamba takdir terbaik untuk kehidupan hamba di masa depan, amin ya robbal alamin.

Presentasi Kimia dengan Bahasa Arab

Presentasi Kimia dengan Bahasa Arab

Karena suatu alasan, saya harus mencari argumentasi dan bukti yang menguatkan bahwa saya punya kapasitas berbicara dalam bahasa arab. Tentu saja saya cukup memahami, meski tak seperti alumni gontor dan pesantren bahasa, presentasi adalah sesuatu yang dipersiapan, by design, sehingga dengan basic yang cukup. Kita bisa melakukannya.

Kebetulan saja saya adalah seorang santri yang dulu cukup concern mempelajari gramatika bahasa arab, nahwu, shorof dan (sedikit) balaghoh. Kekurangannya santri salaf, tentu saja dari aspek speaking, kalo aspek reading sudah paling jago mereka. Tapi lemah bukan berarti tidak bisa sama sekali, bisa dipersiapkan, bisa dilatih, bisa disetting.

Saat pembukaan pendaftaran seminar proposal skripsi saat S1 dulu, terdapat edaran bahwa presentasi dapat disampaikan menggunakan bahasa arab atau inggris atau indonesia. Melihat itu, saya mulai tertarik dan berpikir untuk melakukan presentasi menggunakan bahasa arab. Ada beberapa alasan mengapa saya memilih bahasa arab. Pertama, tentu saja men-challenge diri. Tantangannya tentu saja bagaimana mentranslate istilah-istilah kimia ke dalam bahasa arab. Google translate menjadi salah satu opsi, tapi tentu saja saya harus mengecek kembali istilah sebenarnya melalui riset kata per kata. Karena jangan sampai, misal saya translate “Lidah buaya” ke dalam bahasa inggris jadi “Crocodile tongue” atau “Lisanut Timsal”, wkwkwk.

Kedua, ingin berbeda dari yang lain. Terbukti di satu angkatan saya, hanya saya sendiri yang mempresentasikan proposal skripsi hingga sidang skripsi dengan bahasa arab, hehe. Sombong amat. Ketiga, agar tak banyak dikomen penguji terkait performa presentasi, wkwkwk. Tapi ini tak terlalu ampuh, karena dosen sudah punya naskah skripsi saya yang berbahasa indonesia, dan secara konteks, slide per slide mereka paham apa yang sedang saya jelaskan. Jadi pertanyaan-pertanyaan penguji tetap saja horor, hahaha.

Yes! Jadi itulah pengalaman saya mempresentasikan Kimia dalam bahasa arab. Ya, ternyata bisa-bisa saja. Karena pasti di timur tengah sana pun, bahasa pengantar pembelajaran ilmu kimia maupun ilmu alam, teknik hingga kesehatan dengan bahasa arab juga bukan?

POV Baru Memahami “Kun Aliman”

POV Baru Memahami “Kun Aliman”

Suatu ketika, saya mendengar ceramah ibu-ibu yang sedang membahas suatu hadits.

كن عالما أو متعلما أو مستمعا أو محبا ولاتكن خامسا فتهلك.

Artinya, jadilah orang yang berilmu (kyai, ilmuwan, seorang expert), atau menjadi pembelajar, atau menjadi pemerhati/analis, atau menjadi pencinta, tapi janganlah menjadi nomor 5 yang pasti celaka.

Penceramah menjelaskan maksud hadits ini kepada jamaahnya, “Ibu-ibu jamaah, kita itu diperintahkan untuk jadi orang alim. Kalo tidak bisa jadi orang alim (misal karena kesibukan rumah tangga), paling tidak jadilah orang yang mau belajar. Kalo masih tidak sempat, paling tidak jadilah orang yang mau memperhatikan. Pas ikut pengajian, jangan ngobrol sendiri-sendiri, dengarkan apa yang disampaikan dalam pengajian. Atau misal, dengan berbagai kesibukan, tidak bisa ikut pengajian, ya paling tidak didalam hatinya tertanam rasa cinta terhadap ilmu dan ahli ilmu. Jangan sampai jadi yang ke 5, karena Allah menyatakan bahwa yang nomor 5 adalah orang celaka.”.

Begitulah penggalan ceramah seorang pendakwah. Tentu saja itu adalah hal yang baik dan positif. Cukup relevan untuk disampaikan kepada jamaah ibu-ibu, meski terkesan permisif. Dan saya juga kurang tau persih, begitukah makna sebenarnya dari hadits tersebut. Setidaknya, tafsir ini mengakomodir suatu kaidah ma la yudroku kulluh, la yutroku kulluh. Sederhananya, kalau gak bisa kita capai yang paling ideal, ya jangan lantas akhirnya kamu tinggalkan seluruhnya. Kaidah yang cukup permisif di kalangan santri, tapi dalam satu kondisi, memang kita harus permisif dalam konteks tertentu saat kita tak bisa menancapkan idealisme kita sepenuhnya, hehe.

Saya punya point of view (POV) yang cukup berbeda dalam memaknai hadits ini, setidaknya jika ini disampaikan pada seseorang yang berstatus pelajar, atau bahkan bisa juga untuk kita semua secara universal. Karena, kita pun, selama masih punya semangat belajar, dalam bahasa kerennya adalah “Long-Life Learner”, patut rasanya untuk mempertimbangkan salah satu POV ini.

Bagi saya, alih alih memaknainya top-to-down, saya lebih suka memaknainya down-to-top. Maksudnya begini, anggaplah kita sebagai santri/siswa/mahasiswa ini berada pada kondisi level 5, yaitu calon orang celaka, si “halik”. Agar tak menjadi “halik”, kita harus berupaya naik ke level 4 menjadi orang yang mencintai ilmu, alias “muhibban.”. Misal kita adalah mahasiswa kimia, dan kita belum mencintai ilmu kimia, maka akan sulit bagi kita mempelajari ilmu kimia dengan baik dan menyenangkan. Apapun yang disampaikan dosen, secara tidak langsung akan tertolak.

Maka dari itu, agar kita lebih semangat belajar kimia, kita harus berupaya naik ke level 4, menjadi muhibban. Kita harus mencintai dulu ilmunya. Cara gimana? Kita harus berupaya mencari argumentasi, rasionalisasi dan alasan untuk mencintai suatu ilmu. Karena jikalau kita sudah cinta, maka apapun yang berkaitan dengan sesuatu yang kita cinta, atensi kita akan naik. Seperti halnya orang yang cinta terhadap pujaan hati, sekecil apapun tingkahnya akan menjadi atensi penuh kita. You know lah “the power of love”, wkwkwk. Apakah cinta bisa diargumentasikan? Saya adalah bagian dari orang yang percaya, bahwa dalam satu titik, cinta memerlukan logika, cinta butuh rasionalisasi, tak sepenuhnya 100% bergantung kepada naluri manusia saja.

Saat kita sudah mencapai level 4, menuju level berikutnya akan sangat mudah, yakali jadi stuck jadi muhibbin. Mencapai level 3 sebagai orang yang memperhatikan “kemungkinan besar” akan menjadi konsekuensi dari sikap mencintai. Apapun yang berkaitan dengan sesuatu yang kita cinta, perhatian kita akan lebih banyak kepada objek tersebut. Artinya jika kita sudah mencintai ilmu kimia, hal apapun yang berbau kimia disampaikan, kita tak rela untuk tidak memperhatikannya. Level 3 adalah “mustamian” alias orang yang memperhatikan & penuh atensi.

Orang yang penuh atensi, memperhatikan semua hal, menganalisis segalanya, otaknya akan dipenuhi berbagai macam pertanyaan, benaknya dipenuhi rasa penasaran, berbagai hal yang memerlukan jawaban, sehingga kita akan terpancing sendiri untuk mencapai level 2. Akhirnya, kita akan mempelajari bagian-bagian dalam ilmu tersebut. Kita masuk ke level 2, sang mutaallim, orang yang mencari ilmu.

Ketika kita konsisten dalam pencarian, kita kontinyu dalam mempelajari hal yang kita cintai dan menghabiskan atensi kita, lambat laun pengetahuan kita terhadap hal atau ilmu tersebut akan meningkat. Dan dalam satu kondisi, akan ada anggapan bahwa kita adalah seorang ahli, seorang yang punya kapasitas keilmuan dalam bidang tersebut, yang secara tidak langsung kita masuk ke level tertinggi, yaitu “aliman”, seorang yang alim, seorang yang berpengahuan luas, kyai, ilmuwan, ahli, dsj.

Pemaknaan down-to-top ini saya kira lebih relevan untuk disampaikan kepada pelajar ataupun santri agar bisa memahami titik tolak penting dalam meningkatkan semangat belajar. Ibarat energi aktivasi dalam reaksi kimia multitahap, memang, tahap dari level 5 ke level 4 adalah bagian yang cukup sulit, tetapi jika sudah mampu melewati tahap pertama itu, energi aktivasi untuk tahap reaksi selanjutnya tak sesulit tahap pertama.

Wallahu a’lam.

ChemInsight : Belajar inklusivitas dan Meritokrasi dari Reseptor Protein

ChemInsight : Belajar inklusivitas dan Meritokrasi dari Reseptor Protein

Hari demi hari berlalu, ternyata cukup lama blog ini tak memuat tulisan receh. Kalau boleh saya beralasan, kemandekan ini akibat sibuknya saya persiapan tes CPNS, hehe. Selepas tes SKD, barulah saya bisa sedikit bernafas lega. Meski nilai belum memenuhi target, setidaknya sudah saya lalui dengan usaha yang cukup keras. Tinggal menunggu pengumuman apakah lolos ke tahap SKB atau tidak.

Selepas masuk di kelas mengisi Mata Kuliah Kimia Medisinal di Semester VII tadi. Pikiran saya serasa melayang terus menerus. Saya merasa ada insight menarik yang perlu ditulis. Dalam materi yang saya sampaikan tadi sore, ada konsep yang cukup menarik pada kimed, yaitu tentang Isosterisme.

Isosterisme adalah konsep yang terus berkembang sejak diusulkan oleh Langmuir (1919), Hukum pergeseran hidrida Grimm (1925) hingga menjadi konsep Bioisosterisme yang dikenalkan Friedman (1951). Singkatnya, konsep ini menceritakan bahwa dalam pengembangan atau modifikasi struktur obat, bisa dilakukan penggantian gugus fungsi tertentu. Gugus fungsi yang menggantikan haruslah gugus yang isosterik, artinya gugus yang memiliki distribusi elektron dan karakter sterik yang relatif sama.

Sebagai contoh, misal dalam suatu molekul obat, ada gugus -NH2, maka kita bisa substitusi gugus -NH2 itu dengan gugus -OH. -NH2 dan -OH adalah pasangan isoster karena punya distribusi elektron yang sama, yakni 9. Ini harus diikuti agar modifikasi struktur yang dilakukan tidak terlalu mengubah sifat kimia dan fisika molekul obat yang (misal) pada awalnya sudah baik sebagai obat. Tetapi harapannya, ketika berinteraksi dengan reseptor untuk menimbulkan efek terapi terhadap tubuh kita, ia bisa memberikan efek yang lebih baik pasca modifikasi struktur.

Reseptor protein didalam tubuh kita ternyata memang cukup unik. Ia punya sifat yang inklusif. Ia tak mempermasalahkan adanya pergantian gugus selama sifat dan karakteristik gugusnya relatif sama. Tak masalah atomnya apa, yang penting sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Ia tak perlu nanya ke molekul, asal gugusnya darimana, atau punya orang dalam atau tidak, hehe. Barulah kemudian saat gugus itu berikatan dengan reseptor, ada kebolehjadian bahwa gugus itu bisa menjadi lebih baik dari yang digantikan atau sebaliknya.

Dari sini, kita perlu belajar nilai inklusivitas dari reseptor protein-protein di dalam tubuh kita dalam berbagai aspek kehidupan kita. Contohnya, dalam berbagai lini kehidupan kita, selayaknya kita memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang yang dianggap mampu. Tak masalah ia dari suku apa, kelompok apa, kelas masyarakat apa, yang penting sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan. Tak perlu kita membeda-bedakan asal usulnya, yang penting ia bisa berkontribusi. Saya jadi teringat kutipan dari Gus Dur, “Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.”.

Perilaku reseptor protein juga seolah menjunjung tinggi budaya meritokrasi. Dalam konteks ini, ia memilih molekul berdasarkan atas asas kemampuan, kompetensi dan fungsi paling efektif dalam kinerjanya, sehingga tercipta afinitas terbaik molekul-reseptor yang (misalkan) “meningkatkan aktivitas biologisnya”. Dalam keseharian kita, budaya meritokrasi pun harus dijunjung tinggi. Dalam isu kepemimpinan, ada kaidah populer dalam bahasa arab yang berbunyi “Tasharruful imam ala roiyah, manutun bil maslahah”, artinya keabsahan seorang pemimpin bergantung pada bagaimana ia mampu menciptakan sebanyak-banyaknya kemaslahatan.

Maka, dalam kita memilih pemimpin, selayaknya kita memilih seperti reseptor protein dengan pertimbangan bioisosterisme yang meritokratis. “Tidak penting ia anak siapa”, yang terpenting adalah pemimpin dipilih harus berdasarkan atas kompetensi, kapabilitas dan track record kinerjanya sehingga antara pemimpin dan kita selaku rakyatnya, tercipta “afinitas” terbaik, dan harapannya adalah “meningkatkan aktivitas pembangunan negara” yang sesuai dengan rel yang telah ditetapkan seperti yang dicita-citakan para founding fathers.

Wallahu alam.

Adaptif dengan Musik

Adaptif dengan Musik

Melihat satu postingan instagram gus Nadir yang berisi potongan video suasana Synchronize Fest dimana Hadad Alwi bersenandung melantunkan tembang “Rindu Muhammadku”, disitu terdapat sekelompok anak muda yang dengan semangatnya mengikuti alunan musik dan ikut melafalkan lirik yang berisi sholawat. Yang menarik adalah terdapat seorang wanita yang tak berhijab berurai air mata, menangis sendu, mungkin saking ia meresapi lirik demi lirik yang disampaikan.

Dari sini, saya tak akan membuat caption yang sama dengan gus Nadir tentunya. Saya justru ingin berbagi pengalaman pribadi betapa saya aneh terhadap diri sendiri. Disaat orang-orang terkadang punya preferensi genre musik yang disukai, bahkan musik yang ia benci. Beberapa orang pernah mengaku secara langsung bahwa ia tak menyukai dangdut koplo karena goyangan biduan yang seringkali tak senonoh. Saya malah tak bisa tak menyukai satu atau dua jenis musik. 

Tentu saja saya hanyalah penikmat musik, bukan vokalis, pengguna alat musik ataupun musisi. Saya hanya penikmat. Memang, ada masa-masa dimana saya merasa memiliki suara yang bagus, apalagi ketika flu, kebindengan membuat suara lebih merdu, wkwkwk. Saat itu, saya merasa suara saya sebelas duabelas dengan Pasha Ungu. Namun, setelah mendengar saran teman saya untuk merekam suara sendiri, kemudian didengarkan sendiri, ternyata suara yang saya bangga-banggakan saat flu itu fales banget, hahaha.

Ya, tapi memang begitulah. Saya menyukai semua jenis musik. Sejak SD dulu, diera-era ketika musik Indonesia didominasi Band macam Slank, Peterpan, Ungu, Naff, ST12, dan sejenisnya, saya menyukai semua lagunya. Bahkan terkadang, satu dua kali saya dengar terasa kurang bisa dinikmati, tiga empat lima ternyata enak juga. Apalagi saat kita coba menerka dan memperhatikan lirik demi lirik yang dilantunkan. Ada yang bikin mesem-mesem karena relate, ada juga yang bikin sedih karena dalam, adapula berlirik sedih, namun full joget menertawakan kesedihan macam koplo. Hahaha.

Bahkan, selama ini saat berkendara dengan orang tua, saya khatamkan itu tembang-tembang kenangan, macam lagu “Aku masih seperti yang dulu”-nya Dian Pieshesha, “Surat untuk Kekasih”-nya Tommy J. Pisa, “Jangan Ada Dusta Diantara Kita”- nya Broery Marantika & Dewi Yull, Koes Plus, dan lain-lain, banyak banget. Saya tak merasa itu tak kekinian dan aneh. Saya menikmatinya. Lagu-lagu Negeri tetangga macam lagu “Tayammum”-nya Iklim juga suka-suka aja. Lagu-lagu Barat, saya tak masalah selain lirik yang kurang saya pahami. Tapi beberapa lagu Barat ini sempat ada yang saya translate saking keingintahuan saya memahami artinya.

Hingga beberapa tahun belakangan inipun, saat ada yang menghujat lagu-lagu koplo, ada yang mengkritik lagu-lagu alumni Indonesia Idol, saya malah menikmati semuanya, dari Denny Caknan sampai Tiara Andini, bahkan ketika mereka berdua duet. Its awesome. K-Pop? Tanpa koreonya, banyak nada-nada lagunya yang menyenangkan kok. Lagu-lagu galau dan mellow macam Bernadya, atau penyanyi lain yang naik daun sekarang ini seperti Sal Priadi, Nadin Amizah, Fortwnty, Banda Neira, Fiersa Besari saya tak ada alasan untuk tak menyukainya. Nada-nadanya menyenangkan, liriknya mungkin ada yang relate, ada yang terlalu mellow, terlalu berlebihan, bagi saya, ya itulah karya seni, dimana dalam seni, orang bebas untuk mengekspresikan isi kepala.

Jadi, ini memang untuk saya pribadi. Ada banyak alasan untuk menyukai sebuah karya daripada untuk tak menyukainya. Andai liriknya tak paham pun, masih ada nada dan irama yang bisa kita sukai, saat nadanya tak begitu masuk ditelinga, ada lirik yang begitu indah untuk dinikmati. Seperti dalam sholawat, terkadang karena berbahasa arab, kita tak memahami artinya. Saat membaca maulid, mahallul qiyam, ia berisikan sejarah yang disampaikan dengan seni sastra yang indah. Mungkin, saat wanita muda dalam video yang diunggah Gus Nadir itu membaca dan memahami kata demi kata dalam beberapa kita maulid seperti barzanji, diba’i, simtudduror hingga burdah, saya cukup yakin air matanya akan mengucur lebih deras.

Ini adalah apa yang saya rasakan sebagai penikmat, bukan berarti mereka yang punya preferensi, menyukai yang ini, tak menyukai yang itu, adalah orang yang tak menghargai karya seni dan musik. Karena orang tentu punya hak untuk suka dan tidak suka dong. Apalagi mereka yang berprofesi sebagai musisi atau mahir dalam alat musik, pasti punya penilaian yang lebih baik dan objektif daripada saya kan? Toh, kritik pun diperlukan dalam sastra. Jadi, saya yang terlalu adaptif dengan musik dan hampir menyukai semuanya termasuk lagu India dan DJ OKE GAS-nya Prabowo ini apakah anomali? Ataukah ada juga yang sama dengan saya?