Akhir-akhir ini, ada fenomena yang rasanya semakin mudah dijumpai, yaitu pesantren mulai banyak mendirikan perguruan tinggi. Dan menurut saya, itu kabar baik. Artinya, pesantren sedang berusaha menjaga relevansinya dengan perkembangan zaman. Bukan dengan meninggalkan identitasnya, melainkan dengan memperluas medan khidmahnya.
Harapannya tentu jelas. Dengan adanya kampus di lingkungan pesantren, akses pendidikan tinggi bagi santri menjadi semakin dekat dan lebih mudah dijangkau. Kapasitas keilmuan pesantren di bidang agama pun memperoleh legitimasi formal negara, misalnya melalui model pendidikan tinggi yang sudah mapan, maupun melalui jalur pendidikan tinggi khas pesantren seperti Ma’had Aly.
Indonesia saat ini memiliki lebih dari 42 ribu pesantren aktif yang tersebar di berbagai daerah. Jumlah ini menjadikan pesantren sebagai salah satu ekosistem pendidikan terbesar di negeri ini. Pada level pendidikan tinggi pesantren, perkembangan juga terlihat cukup signifikan. Kementerian Agama mencatat bahwa hingga 2025 sudah terdapat sekitar 91 Ma’had Aly berizin resmi di Indonesia. Jadi, pesantren sesungguhnya tidak sedang diam, ia sedang bergerak.
Pesantren memang sejak lama sangat kental dengan tradisi pembelajaran keislaman seperti fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, balaghah, dan berbagai disiplin ilmu alat lainnya, maka wajar bila perguruan tinggi yang dibuka adalah model Ma’had Aly, atau kalaupun PT yang mainstream, program studi yang dibuka banyak berkaitan dengan studi Islam. Itu keputusan yang tepat dan sangat masuk akal.
Namun, beberapa tahun belakangan muncul perkembangan yang menurut saya jauh lebih menarik, yaitu mulai bermunculannya pesantren yang berani membuka perguruan tinggi dengan program studi umum, sains, kesehatan, pertanian, teknologi, ekonomi, bahkan bidang-bidang profesional lainnya. Bagi saya, ini angin segar. Karena sejatinya, pesantren tidak pernah hanya menjadi tempat belajar agama semata. Dalam sejarah Indonesia, pesantren juga merupakan ruang perjuangan. Ia ikut membentuk kesadaran kebangsaan, melahirkan pejuang, menggerakkan masyarakat, menjaga republik pada masa-masa genting, bahkan ikut mengawal lahirnya fondasi bangsa ini.
Kalau dulu pesantren ikut berjuang untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini mungkin salah satu bentuk perjuangan berikutnya adalah mengisi kemerdekaan itu sendiri. Dan salah satu sektor yang masih perlu diisi serius adalah pembangunan sumber daya manusia bidang sains, kesehatan, teknologi, ekonomi, hukum, dan inovasi.
Indonesia saat ini masih punya pekerjaan rumah besar dalam pembangunan SDM berbasis sains dan teknologi. Kita sering berbicara tentang bonus demografi, hilirisasi industri, transformasi digital, ekonomi hijau, kesehatan nasional, kemandirian pangan, bahkan kecerdasan buatan. Tapi semua itu pada akhirnya membutuhkan satu hal yang sama, yaitu manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis. Kita butuh lebih banyak saintis, tenaga kesehatan, engineer, peneliti, bahkan inovator. Karena negara maju tidak dibangun hanya dengan slogan dan pidato berapi-api. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang menguasai dan menghargai ilmu yang dibentuk melalui arah kebijakan yang mengarusutamakan spending pada riset, akademik dan sumber daya manusia.
Di titik inilah saya merasa pesantren sebenarnya punya peluang yang unik, sekaligus tantangan yang tidak mudah. Bayangkan profil lulusan yang lahir dari rahim pesantren. Ia paham agama, akhlaknya ditempa, terbiasa hidup sederhana, membumi, tetapi juga menguasai farmasi, pertanian, teknologi pangan, kecerdasan buatan, kesehatan masyarakat, atau bioteknologi. Bayangkan transformasi apa yang bisa dilakukan sosok yang “MASAGI” demikian.
Terdengar terlalu idealis? Memang iya. Tapi bukankah banyak perubahan besar memang sering diawali dari sesuatu yang pada awalnya terdengar terlalu ideal? KH. Mustofa Aqiel Siroj pernah menyampaikan dalam sebuah kesempatan di STIKes KHAS Kempek tentang mandat manusia dalam QS. Hud ayat 61:
”… huwa an sya-akum minal ardhi wastakmarakum fiiha…” ”…Dia menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya…”
Ayat ini sangat meaningful. Karena “memakmurkan bumi” jelas bukan pekerjaan satu disiplin ilmu saja. Untuk menjalankan mandat tersebut, manusia memerlukan ilmu kesehatan, ekonomi, teknologi, pertanian, lingkungan, hukum, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya, bahkan kolaborasi lintas bidang.
Menyembuhkan penyakit adalah bagian dari memakmurkan bumi, mengembangkan teknologi pangan adalah bagian dari memakmurkan bumi. Pun dengan membangun sistem ekonomi yang adil hingga mengelola lingkungan secara berkelanjutan tentu saja bagian dari memakmurkan bumi.
Sudang barang tentu, niat baik saja tidak cukup bagi pesantren. Membuka program studi sains bukan perkara sederhana. Ada biaya pengadaan dan maintenance laboratorium yang melangit, instrumen praktikum mahal, standar akreditasi ketat, dan kebutuhan SDM dosen yang niche nya sempit. Belum lagi tuntutan mutu yang semakin tinggi agar lulusan mampu bersaing. Jika membuka prodi ilmu sosial keagamaan ibarat membeli motor, maka membuka prodi kesehatan atau sains tertentu ibarat kita membeli motor beserta dealer seisinya.
Tetapi terus terang, saya kok tidak terlalu khawatir soal kreativitas pesantren dalam urusan survive. Sejarah pesantren terlalu panjang untuk diragukan soal itu. Berapa banyak pesantren berdiri dari modal yang secara kalkulasi Excel sebenarnya tampak mustahil? Berapa banyak pesantren berkembang dari wakaf kecil, gotong royong masyarakat, jaringan alumni, dan pertolongan yang sering kali datang min haitsu la yahtasib?
Pesantren, yang dalam bahasa Gusdur adalah sub-kultur, punya modal sosial yang luar biasa. Maka saya kira, tantangan terbesarnya mungkin bukan pertama-tama soal dana. Tetapi soal keyakinan epistemologis insan pesantren. Apakah kita sungguh percaya bahwa belajar biologi, farmasi, teknik lingkungan, data science, kesehatan masyarakat, pertanian, atau kecerdasan buatan juga merupakan bagian dari perjuangan keilmuan Islam? Apakah kita sungguh percaya bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum?
Disamping paradigma ilmu yang perlu direfleksikan, ada juga paradigma terkait dengan mutu. Dalam banyak hal, kesederhanaan & prihatinity adalah kekuatan pesantren. Tetapi belajar sains tidak bisa sepenuhnya dijalankan dengan prinsip prihatin, peralatan seadanya, dan narasi “insyaAllah nanti sambil jalan.” Fiqih mungkin bisa dipelajari di serambi masjid beralas tikar, tetapi farmasi, bioteknologi, keperawatan, kimia, atau teknologi pangan membutuhkan laboratorium, instrumen, skill lab, standar keselamatan, dan dosen yang benar-benar kompeten. Ini bukan soal qonaah dan tawakal, tetapi karena kompetensi teknis memang menuntut fasilitas teknis.
Maka jika pesantren ingin membuka prodi sains, ia tidak bisa masuk hanya dengan semangat menggebu-gebu, tetapi harus selesai dalam paradigma keilmuan dan kesungguhan dalam peningkatan mutu. Mahasiswa tidak sekedar mengharap barokah; mereka menitipkan masa depan kompetensinya. Tawakkal tetap penting, tetapi dalam pendidikan sains, tawakkal harus hadir bersama mikroskop yang berfungsi, instrumen yang terkalibrasi, laboratorium yang layak, kurikulum yang kuat, dan budaya akademik yang suportif. Tidak bisa setengah hati.
Kalau dua paradigma itu sudah clear, saya optimis para kiai, komunitas pesantren, alumni, dan masyarakat akan menemukan seribu satu strategi untuk memenuhi tuntutan mutu perguruan tinggi sains. Pesantren terlalu berpengalaman dalam mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Tapi, jika belum clear, mungkin niatnya lebih baik ditunda. Atau persiapkan saja santri untuk masuk ke PTN/PTS favorit di dalam/luar negeri. Karena kompetensi adalah segalanya. Inkompetensi membunuh lebih banyak orang daripada kejahatan itu sendiri. Jangan sampai pendidikan sains di pesantren menghasilkan lulusan yang inkompeten.
Saya membayangkan satu profil lulusan pesantren masa depan. Ia fasih membaca Taqrib, tetapi juga mampu membaca artikel Nature atau Elsevier. Ia hafal Imrithi, tetapi juga paham statistik, laboratorium, atau analisis data. Ia mengerti hukum air mutlak, sekaligus mampu mengembangkan teknologi pengolahan air bersih untuk masyarakat. Ia memahami maqashid syariah, tetapi juga mampu merancang solusi kesehatan publik atau inovasi pangan halal.
Bukankah profil seperti ini layak diperjuangkan? Tidak sederhana memang. Tetapi bukankah pesantren sejak dulu memang tidak pernah memilih jalan yang sederhana? Dan siapa tahu, justru dari pesantren lahir model SDM Indonesia yang selama ini kita cari-cari, yaitu manusia yang kuat spiritualitasnya, luas wawasan keagamaannya, tetapi juga tangguh dalam sains, teknologi, dan pengabdian sosial.
Sebagai orang dengan latar belakang akademik ilmu alam, dalam perjalanan saya mempelajarinya, tentu saja banyak fenomena alam yang patut dikagumi. Di dalam diri kita saja, bagaimana setiap harinya jantung kita berdetak rata-rata sebanyak puluhan ribu kali perhari tanpa protes, kita dapat menarik oksigen dari alam tanpa rasa sesak, aktivitas tubuh di level molekuler yang begitu sangat rapi dan terprogram. Darah kita mampu “mengenali” mana bagian tubuh yang luka lalu membentuk bekuan hanya pada lokasi tersebut tanpa menutup seluruh aliran pembuluh, sel-sel tubuh mampu menggandakan DNA dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil setiap kali membelah, bahkan di dalam setiap sel terdapat mekanisme perbaikan ketika terjadi kerusakan genetik. Sistem imun dapat membedakan mana bagian tubuh sendiri dan mana benda asing, dan ketika bakteri masuk, tubuh dapat “mengingatnya” sehingga serangan berikutnya menjadi lebih ringan. Di tingkat kosmik, bumi berputar dengan kecepatan konstan tanpa kita rasakan, berada pada jarak yang sangat presisi dari matahari sehingga air tetap dalam bentuk cair, dan atmosfer menjaga suhu serta melindungi kita dari radiasi berbahaya. Semua berlangsung tanpa kita sadari, tanpa kita kendalikan, namun bekerja seolah-olah ada sistem pengaturan yang sangat teliti..
Uniknya, sains yang hari ini kita nikmati dalam perkembangannya kemudian sering dipahami dalam kerangka yang mengesampingkan entitas ketuhanan. Seolah alam ini adalah objek yang berjalan alamiah saja secara otonom, cukup dijelaskan melalui hukum-hukum fisika dan kimia yang terukur. Realitas dipersempit menjadi sesuatu yang dapat diamati dan diverifikasi oleh panca indera. Sedangkan Islam mengajarkan ummatnya bahwa alam semesta adalah tajalli atau manifestasi dari Tuhan, tanda-tanda kebesaran-Nya yang mengarah pada kesadaran transendental. Rasanya sulit menganggap alam semesta yang sedemikian teratur ini tidak memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri. Keteraturan hukum alam memang dapat dijelaskan, tetapi pertanyaan tentang makna dan sumber keteraturan itu tetap terbuka.
Pada ngaji Hikam 2 gusmus lalu, saya dipertemukan dengan Hikmah ke-14, di mana Syeikh Ibnu Athaillah mengatakan:
“Alam semuanya adalah kegelapan, dan yang meneranginya ialah kewujudan Allah s.w.t. pada alam itu sendiri. Maka barangsiapa yang melihat alam sedangkan ia tidak melihat Allah dalamnya atau di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka sungguhnya ia telah melumpuhkan wujud dari cahaya-cahaya, dan terhalang oleh awan-awan dari cahaya makrifat.”
Syeikh Ibnu Athaillah dengan tegas mengingatkan bahwa siapa pun yang melihat alam ini tanpa menangkap makna ilahiah di baliknya, sesungguhnya sedang terhijab dari cahaya makrifat. Alam bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan sesuatu yang menjadi terang ketika disadari sebagai pertanda. Untuk bisa merasakan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya, perlu refleksi mendalam yang mendudukkan hati dan pikiran secara tepat. Ini selaras dengan konsep Ulul Albab, di mana seorang ulul albab adalah pribadi yang mampu menyelaraskan aktivitas dzikir dan fikir yang nantinya melahirkan kesadaran teologis bahwa tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia.
Dengan demikian, sejatinya melalui sains seseorang juga dapat mendekati level ma’rifat dan mengenal Allah secara lebih dalam. Bukan karena sains membuktikan keberadaan-Nya, tetapi karena kemampuan tafakkur dan refleksi yang diasah oleh sains membuat seseorang semakin sadar akan keteraturan, keterbatasan, dan ketergantungan segala sesuatu. Ketika seseorang menyelami realitas hingga level mikroskopis, molekuler, bahkan atomik, dan tetap menemukan hukum yang konsisten serta keteraturan yang tidak berdiri sendiri, di situlah hati yang jernih dapat tersentuh oleh kesadaran bahwa alam semesta ini bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan belaka.
Min ‘alāmāti al-i‘timād ‘ala al-‘amal nuqṣān al-rajā’ ‘inda wujūd al-zalal
“Salah satu tanda seseorang bergantung pada amalnya sendiri adalah berkurangnya harapan kepada Allah saat terpeleset ke dalam dosa.”
Kita langsung disuguhi dengan kalam hikmah yang menohok. Bahwa seorang sufi tidak boleh memiliki pikiran transaksional dengan Allah. Misal saya yakin akan dimasukkan surga oleh Allah karena saya rajin beribadah, rajin puasa senin-kamis bahkan daud, shalat sunnah semua dilaksanakan, haji berkali-kali, dan lainnya. Juga, misal ia pasrah akan dimasukkan ke neraka karena telah melakukan banyak dosa, sehingga ia tidak mau memperbaiki diri. Sudah terlanjur kotor, anggapnya.
Padahal, kita tidak boleh beranggapan demikian. Seharusnya, seorang sufi beribadah kepada Allah bukan karena-karena. Bukan ingin surga atau takut neraka, tapi karena memang itu adalah tugas kita sebagai hamba untuk beribadah. Mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, menjauhi apa yang dilarang-Nya. Urusan surga dan neraka itu terserah Allah. Kita harus percaya kasih sayang dan karunia-Nya.
Jangan sombong saat merasa banyak amal baik. Jangan putus asa saat berbuat dosa. Maka menurut Gusmus, posisi sikap paling ideal kita terhadap Allah berada diantara roja (harapan) dan khauf (rasa takut), atau dalam Bahasa Indonesia yang paling pas adalah harap-harap cemas. Ini posisi moderat.
Jangan sampai hanya roja. Jika hanya roja, misal karena kita yakin Allah maha pengasih, kita seenaknya melakukan dosa-dosa besar, karena toh nantinya juga diampuni. Kan Allah maha penyayang. Atau, hanya khauf, karena takut akan amarah-Nya, kita jadi sangat saklek dalam menjalani kehidupan, menangis sepanjang hari hingga abai dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejujurnya, saya seringkali masih bersikap transaksional. Seperti halnya puasa ramadan ini, saya berpuasa terkadang hanya takut dosa dan neraka saja kalau tidak berpuasa, bukan “murni”karena niat beribadah sebagai manifestasi penghambaan saya kepada Allah. Semoga dengan Mutiara hikmah pertama ini menjadi pengingat bagi saya dan kita semua untuk melakukan rekonstruksi niat kita dalam melakukan berbagai macam ibadah. Dan juga saat kita berbuat dosa, yakinlah bahwa kita tidak boleh putus harapan dari Allah Subhanahu wataala.
Sejak bertahun-tahun yang lalu,bahkan sejak masih di pondok pesantren, saya sangat tertarik mengaji kitab Hikamnya Syeikh Ibnu Athoillah Assakandari. Tapi kalo pas masih di pondok, tentu saja masih merasa tidak pantas karena konon hikam adalah kitab yang belum cocok untuk anak semuda saya kala itu. Disamping itu karena juga memang belum sempat aja saya mengikutinya.
Hiruk pikuk dunia saat ini membuat saya merasa perlu menyirami diri ini dengan mutiara hikmah yang menenangkan jiwa. Agar saya bisa lebih matang dan dewasa menghadapi persoalan hidup, dan agar saya tak sombong, pongah dan congkak dalam kehidupan sehari-hari. Maka sejak beberapa bulan yang lalu, di perjalanan saat berangkat kerja, disamping podcast popular dan terkadang kuliah topik kimia yang tersedia di youtube, saya kerap kali mencari dan mendengarkan pengajian-pengajian yang memuat pesan hikmah, termasuk pengajian kitab Hikam. Pengajian ya, bukan ceramah.
Dan, era digital menjadi privilege yang menyenangkan. Ditengah pencarian pengajian yang cocok, kemarin algoritma youtube saya menampakkan Pengajian Hikam yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri alias Gusmus. “Cocok ini.”, batin saya. Masih ngaji kedua, jadi saya belum ketinggalan. Meskipun sekarang juga masih muda, hehe, akhirnya saya mantapkan hati untuk mengikuti pengajian beliau melalui kanal youtube “GusMus Channel”.
Setelah menyelesaikan episode 1 ngaji hikam Bersama Gus Mus. Saya kok merasa eman aja gitu catatannya berakhir di goodnotes saja. Saya merasa perlu mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan di blog saya. Disamping mengamini sebuah hadits, bahwa ilmu itu layaknya hewan buruan, maka ikatlah ia dengan cara menuliskannya biar gak kabur, saya juga ingin menyertakan refleksi pribadi saya, atau paling tidak POV saya terhadap setiap ungkapan-ungkapan aforis Syekh Ibnu Athoillah. Ke depan, untuk setiap hari di bulan ramadan, saya akan menuliskan 1 hikmah dari beliau beserta interpretasinya, kemudian saya akan memberikan perspektif sesuai POV saya, misal dari sisi seorang anak, ayah, suami, dosen, makhluk biasa, santri, dll. Tentu saja tidak akan selesai semua hikmah di bulan ramadan ini. Karena total semuanya ada 264 hikmah, maka dari beberapa hikmah yang disampaikan pada setiap episode ngaji hikam gusmus, saya akan mengambil 1 hikmah saja yang akan saya coba refleksikan dalam tulisan.
Oh iya, kenapa tidak dalam video pendek atau reels? Saya masih punya banyak PR untuk video. Mungkin kedepan akan saya lakukan. Saat ini saya masih merasa belum pede aja, dari mulai skill editing video yang masih newbie, kurang pede saat take video, hingga pada level kapasitas keilmuan. Jadi sepertinya, tulisan adalah pilihan yang cukup aman untuk saat ini ya, hehe.
Semoga bisa konsisten ya, mari kita mulai di tulisan selanjutnya.
Beberapa waktu lalu, program Xpose Uncensored di Trans7 menayangkan liputan yang menggambarkan pesantren sebagai ruang penuh praktik feodal dan pengkultusan Kyai. Tayangan itu menyorot santri yang menunduk, mencium tangan, bahkan memberi uang kepada kyai, seolah-olah semua itu bentuk eksploitasi dan perbudakan spiritual.
Framing semacam ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merusak citra pesantren sebagai lembaga yang sejak berabad-abad menjadi penjaga akhlak dan ilmu di Nusantara. Namun untuk memahami mengapa framing semacam itu bisa muncul, sepertinya kita perlu membaca konteks sosial secara lebih mendalam. Karena sebuah peristiwa, tentu saja tidak muncul dari ruang hampa.
Dari Tragedi Menuju Stigma
Dalam pikiran saya, sangat sulit untuk melepaskan framing negatif Trans7 ini dari tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo yang menelan banyak korban jiwa tersebut. Dalam suasana duka itu, KH. Abdussalam Mujib menyampaikan bahwa peristiwa tersebut merupakan musibah dan takdir. Saya paham bahwa kalimat ini di dunia pesantren dipahami sebagai bentuk ketabahan dan upaya menenangkan batin, namun di mata publik modern ia dianggap sebagai penolakan terhadap tanggung jawab.
Terjadilah benturan dua bahasa, bahasa spiritual yang menenangkan jiwa dan bahasa modern yang menuntut audit serta akuntabilitas. Keduanya sama-sama punya tempat. KH. Mujib berbicara dalam kapasitas moral dan psikologis, sementara masyarakat menuntut penegakan hukum. Masalahnya muncul ketika tafsir spiritual dipotong dan dipelintir untuk memperkuat kesan bahwa pesantren itu anti kritik, tertutup, dan tidak rasional.
Dari duka ini, muncullah penggiringan opini terus menerus yang mengarah pada fitnah bahwa pesantren adalah adalah sarang feodal, sarang pengkultusan, dan tempat tumbuhnya kekuasaan absolut para kyai. Saya menduga, ada pula pihak-pihak yang sejak awal memang tidak menyukai dunia pesantren, lalu memanfaatkan suasana duka untuk memperkeruh persepsi publik. Dunia ini, bagaimanapun, tidak pernah benar-benar bebas nilai, bukan?
Adab Bukan Feodalisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, feodalisme adalah sistem sosial yang menempatkan kekuasaan di tangan segelintir orang dan mengagungkan jabatan di atas prestasi. Tapi hierarki di pesantren sama sekali tidak lahir dari kekuasaan. Ia tumbuh tradisi yang mengagungkan adab dan ilmu. Menempatkan ilmu sebagai cahaya, setinggi-tingginya, seterang-terangnya, semulia-mulianya.
Mari kita jernih memahami, dalam sistem feodal, status dijaga agar yang di atas tetap di atas, bahkan cenderung menghalalkan segala cara agar tetap diatas. Sedangkan dalam sistem pesantren, penghormatan justru mendidik agar santri layak naik derajat. Menjadi penerus kyai dalam menjaga cahaya ilmu di tengah dunia yang kehilangan arah dan keteduhan. Saya dan para santri menghormati kiai bukan karena keturunan, tetapi karena keluasan ilmu yang lahir dari ketekunan menuntut, keikhlasan mengajar, dan kesungguhan menjaga cahaya ilmu agar tetap hidup.
“Ana ‘abdu man ‘allamani harfan wahidan.”
Aku adalah hamba bagi siapa pun yang telah mengajarkan kepadaku satu huruf.
Ini adalah ungkapan populer Sayyidina Ali Kw, sebagaimana dikutip dalam kitab Ta’lim Muta’alim, yang menjadi dasar keta’dziman para santri di pesantren. Dalam kitab itu pula dijelaskan bahwa menghormati ilmu berarti juga harus menghormati ahlinya. Maka, santri menghormati gurunya bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ilmu tidak bisa tumbuh di hati yang penuh kesombongan. Ketika santri menunduk dihadapan kyai, sejatinya yang ditundukkan bukan tubuhnya, melainkan egonya.
Sekali lagi, feodalisme bertujuan melanggengkan legitimasi. Penguasa ingin kekuasaan tetap berada di tangannya. Pesantren justru sebaliknya, ia hidup dari semangat regenerasi. Kyai sejati selalu berdoa agar santrinya menjadi penerus yang lebih baik, lebih luas ilmunya, dan lebih dalam pengabdiannya.
Dalam tradisi pesantren, hidup nilai tawassuth(moderat) dan tawazun (seimbang) yang menjaga harmoni antara penghormatan dan rasionalitas. Kiai dihormati, tetapi bukan berarti kebal dari musyawarah. Santri tunduk dengan adab, namun sekaligus dididik untuk berpikir kritis dan argumentatif. Maka, bukankah sebuah ironi jika pesantren dituduh tidak progresif, sementara banyak intelektual muslim yang tajam dalam berpikir justru lahir dari rahim pesantren?
Kritik Boleh, Framing Tidak
Memang ada individu yang menyalahgunakan status “gus” atau posisi “dzurriyah kyai” untuk bertindak semena-mena. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi penyimpangan individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menstigma seluruh sistem. Pesantren bukan ruang sempurna, kekurangannya pun bisa dilihat dengan jujur, dan saya sendiri memiliki sejumlah kritik terhadapnya. Tetapi menggiring opini hingga menjelma fitnah adalah tindakan yang kejam dan tidak beradab.
Masyarakat boleh dan bahkan perlu mengkritik pesantren terutama dalam hal tata kelola, transparansi, dan keselamatan fisik santri. Namun kritik yang sehat berbeda jauh dengan framing yang tendensius. Kritik lahir dari cinta terhadap kebenaran, sedangkan framing lahir dari keinginan menjatuhkan martabat.
Pesantren tidak anti kritik! Yang saya dan semua santri tolak adalah penghinaan terhadap marwah keilmuan. Apalagi ketika kritik itu diarahkan bukan kepada pelaku yang salah, tapi kepada sosok-sosok yang justru menjadi teladan keikhlasan seperti KH. Anwar Manshur dari Lirboyo seorang alim yang hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Penutup: Sang Penuntun Cahaya
Aswaja mengajarkan kita i’tidal (tegak lurus) dalam menilai sesuatu dan tasamuh (toleran) terhadap perbedaan. Dalam semangat itu, kita boleh berkaca dari tragedi dan kritik yang datang, tapi jangan sampai kehilangan cahaya yang menerangi jalan kita.
Feodalisme hidup dari rasa takut kehilangan kuasa. Pesantren hidup dari cinta untuk mewariskan ilmu. Feodalisme membangun menara agar rakyat tak bisa naik, sedangkan pesantren membangun tangga agar santri bisa naik dengan adab dan etika yang menyertai setiap langkah menuju ilmu.
Maka ketika ada yang menuduh pesantren sebagai sarang feodalisme hanya karena santrinya menunduk di hadapan kyai, mungkin ia belum mengerti bahwa di pesantren, menunduk bukan tanda ketundukan absolut, tetapi tanda hormat kepada penuntun cahaya ilmu dan kebijaksanaan.
Hai, Saya Fawwaz Muhammad Fauzi, suatu produk hasil persilangan genetik Garut-Majalengka. Menjadi Dosen Kimia adalah profesi utama saya saat ini. Selain itu, ya membahagiakan istri, anak dan orang tua. Melalui blog ini, saya ingin menuliskan kisah-kisah keseharian saya yang pasti receh. Mungkin sedikit esai-esai yang sok serius tapi gak mutu. Jadi, tolong jangan berharap ada naskah akademik atau tulisan ilmiah disini ya, hehe.
Kalau ada yang mau kontak, silahkan email ke [email protected]. Udah itu aja.