Tentang Kuliah di Jurusan Kimia dan Membuat Bom

Tentang Kuliah di Jurusan Kimia dan Membuat Bom

“Kang, kuliah dimana?”, tanya kang Sodikin.

“Di UNPAD kang”, jawabku

“Jurusan apa kang?”

“Kimia kang.”

“Wah, bisa bikin bom dong.”, ujarnya sembari tertawa.

Deg! Statemen akang Sodikin itu memang bikin jantung saya hampir meledak layaknya TNT. Ah, sebenernya gak segitunya juga sih. Cuma akhirnya saya pengen ngelus dada sendiri, yang sebetulnya ya tinggal di elus aja, asalkan bukan dada orang lain. Jatuhnya nanti kena UU PKS. Eh, kan belum jadi UU ya.

Sebetulnya cuma gak enak aja. Masa saya ngelus dada di depan kang Sodikin. Kan sungkan. Jadi ya udahlah. Saya ikut ketawa aja. Tapi pendek, Ha ha.

Jadi, kang Sodikin ini bukan nama asli. Ini nama samaran. Tapi bukan untuk melindungi identitas pelaku dari serangan buzzer juga ya. Tapi memang saya udah gak inget siapa aja kang Sodikin ini. Biar gak bingung, maksud SODIKIN ini berarti teman. Kalo menurut ilmu nahwu, sodikin ini bentuk jama’ mudzakkar salim, yang alamat rofa’nya pake wawu, sedangkan nashob dan jer-nya pake ya. Jadi artinya teman-teman. Gitu. Bait alfiyahnya

وارفع بواو وبيا اجرر وانصب # سالم جمع عامر ومذنب

Maksud saya, SODIKIN ini menunjukkan banyaknya teman saya yang nanya pertanyaan sejenis dengan pernyataan stigma sejenis juga. Dialog itu bukan hanya terjadi sekali dua kali, tapi berkali-kali, mungkin sepanjang hidup saya, ada lah sepuluh kali lebih.

Sebetulnya pernyataan kang Sodikin ini gak masalah-masalah amat sih. Cuma agak gemes aja gitu. Sejak saya berkuliah S1 di UIN Malang sampe selesai S2 di UNPAD bulan Juli lalu, saya belum pernah dapet mata kuliah kimia tentang per-BOM-an. Kalo perlu saya jelaskan maudlu’-nya nih, pas saya kuliah dulu, Matakuliah di kimia itu terbagi ke dalam 5 sub bidang ilmu, ada kimia organik, kimia anorganik, kimia analitik, kimia fisik, dan biokimia. Dari 5 sub bidang itu juga terus terbagi lagi menjadi sub sub turunannya. Semisal bidang kimia organik yang di Indonesia populer dibagi kembali menjadi 2, yaitu Kimia Organik Bahan Alam (KOBA) dan Kimia Organik Sintesis. Ini juga gak cukup, dimasing-masing sub sub sub bidang itu, masing-masing dosen atau peneliti punya concern atau fokus riset dan keahlian tersendiri. Bisa dibilang, semakin tinggi kita bersekolah di jurusan kimia, ruang lingkup keilmuan kita mengerucut semakin sempit.

Saya kira, itu juga berlaku di berbagai disiplin keilmuan. Seperti contoh lain di dunia pesantren, meski saat di pesantren banyak disiplin keilmuan yang dipelajari dari mulai nahwu, shorof, balaghoh, fiqih, tauhid, tafsir, dan lain-lain. Semakin lama, semakin si santri itu akan berkonsentrasi pada satu atau dua bidang ilmu saja. Hal ini terjadi karena saking luasnya keilmuan yang ada. Bahkan ada satu adagium populer. “Andaikan ilmu Allah itu seluas 7 samudera. Maka ilmu yang dikuasai manusia mungkin hanya satu tetes saja,” atau mungkin saja hanya sebanding dengan 1 molekul H2O saja, atau bahkan 1 atom H nya saja, Wallahu a’lam. Maka ada kata-kata orang bijak begini, “Orang berilmu itu ada 3 tahapan. Yang pertama ia akan sombong, tahap kedua ia akan tawadhu‘. Dan ditahapan selanjutnya, ia akan merasa tidak ada apa-apanya.”.

Kembali ke urusan bom dan kimia tadi. Meskipun saya lulusan S2 kimia, saya sama sekali gak bisa ngerakit bom. Boro-boro bisa bikin bom, jenis-jenis bom aja saya gak tau. Mentok-mentok saya taunya ya bom TNT alias trinitrotoluena. Itupun bukan dari proses belajar saya dibidang ilmu kimia, tapi dari game Crash Team Racing (CTR) PS1 yang sering saya mainkan saat masih SD dulu. Atau jangan-jangan, sebetulnya dosen-dosen saya pernah juga menjelaskan tentang bom-bom kimia, tapi kebetulan saya pas bolos kuliah atau pas tidur di kelas. Oh iya, saya ingat, prinsip kerja bom atom pernah dijelaskan di kelas, saya lupa matakuliah apa, yang pasti bom nuklir adalah hasil reaksi inti atom, baik berupa reaksi fisi maupun reaksi fusi. Seperti bom uranium bernama Little Boy yang diledakkan di Hiroshima, dan bom plutonium (Fat Man) di Nagasaki yang keduanya punya daya ledak luar biasa.

Ya, sebeginilah dhoif-nya saya sebagai lulusan S2 Kimia. Masalah bom kimia saja saya kurang wawasan alias mainnya kurang jauh. Maka saya ucapkan terimakasih kepada Kang Sodikin yang sudah bertanya demikian. Memang sedetik setelah ia berseloroh bahwa yang kuliah kimia bisa ngerakit bom, saya kesal, karena ia hanya memahami kimia sebagai ilmu untuk membuat bom. Tapi detik selanjutnya, saya sadar, dibalik pertanyaan itu, ada instruksi tersirat kepada saya untuk terus belajar dan mengupgrade keilmuan saya di bidang kimia. Tak lain semerta-merta biar saya gak malu-maluin. Masa si Fawwaz yang katanya bergelar M.Si ini urusan bom aja gak ngerti. Ya meski gak bisa merakit sendiri, minimal pahamlah keilmuannya. Jadi, yang katanya bergelar Magister Kimia ini gak malu-maluin.

Dan teruntuk kang Sodikin, saya mau sedikit jelasin kang, kimia ini jangan dikonotasikan pada keilmuan bom-boman. Dikira kimiawan ini karakter bomberman di game nintendo lawas. Seingat saya pas kuliah kimia dasar 1 dulu, dijelaskan bahwa ilmu kimia adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang materi, baik dari segi sifatnya, susunan dan strukturnya, beserta perubahan yang menyertainya. Materi yang dimaksud disini bukan duit atau kekayaan fisik, namun didefinisikan sebagai segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Gampangnya, segala yang ada disekeliling kita ini bisa dibilang adalah objek kimia, bahkan tubuh kita sendiri adalah kimia. Lebih gampangnya lagi, kurang lebih 60-70% tubuh manusia ini tersusun dari air, air ini rumus molekulnya H2O, terdiri dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen. Belum lagi kimia-kimia lainnya seperti makromolekul penting macam karbohidrat, protein, lipid dan asam nukleat. Deal ya kang?

Cara Berwudhu yang Peka Sosial

Cara Berwudhu yang Peka Sosial

Seperti keluarga middle-class muslim negara ber-flower pada umumnya. Hari sabtu sesekali kami isi dengan nge-Mall ke Cirebon. Terlebih, aturan PPKM sekarang semakin longgar. Anak-anak sudah diperbolehkan masuk Mall, saya dan istri juga sudah mengikuti vaksinasi lengkap. Dengan ini, setidaknya tubuh kami akan lebih banyak memproduksi endorfin yang menyebabkan perasaan lebih tenang dan senang.

Entah sudah berapa lama kami gak nge-Mall, yang pasti, si sulung, Faqih loncat-loncat kegirangan, khususnya ketika saya ajak ke tempat bermain di Mall. Faqih yang sekarang sudah hampir menginjak usia 3 tahun, sudah lebih mahir bermain ‘sosorodotan‘ dan sejenisnya.

Jika waktu sholat tiba, kami biasanya menggunakan fasilitas musholla yang terdapat di pusat perbelanjaan itu. Karena Faqih sedang bermain di lantai 3 bersama kakek neneknya dan Fathia lagi disuapi bundanya, pergilah saya sendiri ke mushola, sholatnya bergantian, saya kebagian duluan. Seperti biasanya, sholat maghrib di mushola mall tepat di malam minggu seringkali padat. Saya antri berwudhu hingga tibalah giliran saya. Saya buka kran, lalu saya tempelkan kedua tangan saya dan menengadahkannya untuk nampani air dari pancuran kran. Tiba-tiba,

“Ceplak, ceplak, ceplak.”,

cipratan air dari orang yg berwudhu di sebelah saya. Ternyata ia sedang membasuh mukanya. Seketika saya buang air yang sudah saya tampani dengan tangan. Spontan saya mengernyitkan dahi dan menggerutu. Saya heran, kenapa ngebasuh muka aja kok sampe kayak ngepretin muka sendiri. Kan bisa lebih selow gitu ya. Atau sekalian minta dikepretin ustadz ujang bustomi sekalian, pak pak pak! Sokbeker! Sebetulnya bukan masalah musta’malnya air itu, karena saya juga belum tau apakah ikatan hidrogen pada air itu melemah atau menguat jika dibandingkan dengan air thohir muthohir. Eh, maksudnya, saya ngerasa gelay aja sama cara wudhunya, Kadita aja kalo ulti cipratannya gak segitunya. Ah, sudahlah.

Saya berhenti sejenak menunggu ia selesai basuh muka. Mungkin saja untuk membasuh tangan dan rukun lainnya gak akan sampe sebegitunya. Eh, ternyata pas ia basuh rambut,

“Plok plok plok”,

Haduh, ini bapak-bapak, basuh rambut sampe dahinya dipukul-pukulnya sendiri. Mbok ya sekalian pakek palu Terizla atau Lolita gitu loh. Saya yang baru sampai basuh tangan akhirnya masa bodo lah. Meneruskan lagi rukun demi rukun hingga selesai berwudhu. Kemudian mendirikan sholat.

Selesai sholat, saya berdiri kembali dan bergegas keluar dari musholla. Membaca wirid singkat saya sembari berjalan saja. Karena memang, kondisi musholla yang lumayan antri, agar jamaah lain bisa segera mendirikan sholat lagi, hematku. Saya tidak tau kondisi selepas itu, apakah semuanya melakukan hal yang sama dengan saya, bergegas keluar dari musholla, atau malah duduk berlama-lama dan berdzikir. Tapi saya beberapa kali menemukan, dimana ada beberapa orang yang masa bodo dengan orang yang mengantri tempat sholat setelahnya.

Kejadian itu memang sepele. Gak perlu dibesar-besarkan. Tapi dari hal sepele itulah kita bisa melihat gambaran sejauh mana kepekaan seseorang terhadap kondisi sosialnya, ini gambaran kecil. Contoh lain, di gang menuju rumah saya yang hanya cukup satu mobil itu, seringkali ada orang yang bertamu. Kadang-kadang, mereka yang bertamu ini berkendara dengan mobil dan diparkir sembarangan. Dan rumah yang ia sambangi cukup jauh dari tempat ia parkir, agak masuk-masuk gang lagi lah. Urusan parkir ini kadang memang pelik. Ketika ada saudara atau tetangga yang mau keluar dengan mobil. Aksesnya terhalang oleh mobil tamu yang parkir sembarangan itu. Dan kadang-kadang, gak ada yang tau kemana si empunya mobil itu bertamu. Akhirnya, banyaklah orang yang menggerutu terkait si tamu itu,

“Kalo bertamu harusnya tau etika dong, parkir gak boleh sembarangan. Gimana kalo ada mobil lain yang mau lewat? Disuruh loncat?”, ungkap salah seorang tetangga yang kesal.

Seringnya kejadian itu berulang, bapak saya beberapa kali menasihati, “Kalo kamu bertamu, misal parkirin mobil itu ya harus pake otak, pikirin orang lain atau warga setempat, mengganggu orang lain apa engga. Kita harus punya kepekaan atau rasa peduli dengan sekitar kita.”. Ya, saya cukup mengilhami nasihat bapak terkait ini.

Dari kisah berwudhu yang barbar, parkir yang gak ngotak, atau kisah lain yang serupa, kita perlu belajar, bahwa melatih kepekaan sosial bisa dimulai dari hal-hal kecil, sehingga bisa jadi, kedepan, kita bisa punya kepekaan sosial pada hal-hal yang lebih besar. Laa dhoror, walaa dhiror, Tidak boleh memudhorotkan diri sendiri maupun orang lain. Mungkin, disinilah letak konsep yang disebut Gusmus sebagai “KESALEHAN SOSIAL”, memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial sekecil apapun itu. Sebisa mungkin, kita hindari perilaku kita yang mungkin akan mengganggu orang lain, meskipun kemungkinannya kecil. Karena itu juga bernilai ibadah. Tapi, saya tidak tau dengan tragedi ibu-ibu yang sen kanan belok kiri, apakah itu manifestasi ketidakpekaan? atau memang faktor genetik wanita yang hanya dapat di transkripsi oleh RNA polymerase saat wanita itu sudah sah bergelar ibu-ibu? Saya tidak tahu.

Bismillah, Nulis Lagi

Bismillah, Nulis Lagi

Yah, oke. Sudah lama saya absen dari dunia tulis menulis. Bahkan, bisa dibilang ini adalah cuti terpanjang. Padahal, sebelum cuti, saya gak konsisten sama sekali sih dengan tulis menulis. Haha. Tapi bukan itu poinnya, saya sudah mulai ngeblog sejak awal kuliah di tahun 2013. Tulisan pertama saya yang saya upload adalah tentang keajaiban air, tulisan pas zaman SMP dulu, mengulas tentang penemuan Dr. Masaru Emoto yang belakangan kontroversial tentang respon air terhadap reaksi manusia kepadanya. Selanjutnya ada cerpen saat SMA yang ditulis saat novel-novel macam ayat-ayat cinta sedang naik daun. Hingga tahun 2014, tulisan-tulisan di blog saya masih sekedar olahan dari tulisan orang lain bahkan kitab pembelajaran nahwu di pesantren saya dulu, atau hanya sekedar copy paste, yah, yang penting blog saya ada isinya, begitu pikir saya.

Barulah di akhir tahun 2014, saya mulai menulis sendiri, bukan hasil copy paste. Selain saya posting di blog, saya juga sempat beberapa kali posting di kompasiana. Itupun vakum lagi sampe akhir 2015, haha. Jadi gimana ya, keinginan menulis itu memang pasang surut. Selain karena malas, juga kadang kurang pede untuk saya posting di blog. Apa lagi kalo tulisannya harus pake data-data akurat, hah, apa itu. Anda jangan kira saya menulis semahir sahabat saya, Joko Priyono yang sudah melahirkan beberapa buku dan seringkali tulusannya dimuat di koran harian di Kota Solo, tempatnya bersemedi. Tulisan saya amburadul, ya jelek lah. Jadi saya gak pernah kirim tulisan saya kemanapun, saya cuma pernah satu kali kirim ke redaksi nu online, meskipun akhirnya dimuat juga sih. Kadang juga saya nulis karena sok keren-kerenan aja, makanya kualitas tulisan saya masih sangat rendah, saya akui itu. Kalo mau di ranking ala tier mobile legends, masih warrior, jauh dari mythic, haha.

Saya memang terkadang baca buku saat kuliah S1 dulu. Tapi untuk mengkonversinya jadi tulisan, kayaknya emang bacaan saya kurang banyak atau memang kurang berkualitas. Dan waktu yang ada lebih banyak dihabiskan dengan ngopi, mabar dan cekian, eh. Apalagi setelah menikah dan punya anak, buku-buku yang saya beli pasca menikah hanya dua yang berhasil dikhatamkan, keduanya tentang Gusdur. Yang satu, berjudul Menjerat Gusdur karya Bung Virdika, yang kedua adalah Biografi Gusdur dari Greg Barton, cuma itu. Selebihnya hanya jurnal-jurnal penelitian yang terkait dengan tesis saya, hehe. Bahkan, ada beberapa buku yang dibeli masih terbungkus rapi dengan plastiknya di rak, seperti ‘Enlightenment Now’ nya Steven Pinker dan Bukunya Slavoj Źiźek tentang Panik Pandemi COVID-19 Mengguncang Dunia, miris!

Meski seculun itu, saya tetap ngerasa eman dengan blog saya yang sudah menganggur terlalu lama sejak tahun 2017 itu. Tulisan-tulisan jelek itu mau tidak mau adalah manifestasi pemikiran saya dari waktu ke waktu, minimal menunjukkan kalo saya pernah nulis dan pernah mikir. Kalo kata Rene Dèscartes, Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, maka aku ada), dan menurut Pram, Menulis itu bekerja untuk keabadian, sepandai apapun orang, kalau tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Jadi, setidaknya jika saya mati nanti, anak dan cucu saya akan tau kalo ayah atau kakeknya pernah nulis meskipun tulisannya cupu. Itupun kalo domain dan hostingnya diperpanjang terus, haha.

Betul, sesuai judulnya, saya emang niat mau nulis lagi. Setidaknya setelah istri saya ngedumel kalo saya terlalu sering nonton netflix dan disney+ di waktu luang. Kenapa gak nulis aja kayak dulu? Begitu ujarnya. Oke oke, malam itu juga saya kumpulkan niat, saya beli hosting dan langsung migrasikan konten blog saya dari blogger ke wordpress. Migrasi ini didasari karena untuk mobilitas, karena sebenarnya, bukan kali ini aja saya niat untuk nulis lagi. Sebelum-sebelumnya juga pernah. Tapi karena tampilan aplikasi blogger di android kurang user-friendly dan minim fitur, kemalasan itu datang lagi. Kemudian saya coba unduh aplikasi wordpress di android dan sepertinya lebih menjanjikan. Akhirnya saya mantap pindah ke wordpress saja. Soalnya, keinginan menulis bisa datang kapan saja, jika dari hape blog bisa dikelola, semoga saja bisa lebih rajin untuk menulis. Misal saat jongkok di toilet, yang awalnya waktu jongkok dihabiskan dengan nonton netflix atau scrolling-scrolling gak jelas, semoga bisa dialihkan dengan menulis. Karena banyak orang bilang, waktu jongkok ada waktu dimana inspirasi datang tanpa diduga, bukan begitu?

Lalu apa yang mau saya tulis? Jangan kira saya mau nulis yang sok-sok an kritik sosial atau apapun yang terlalu serius seperti saat S1 dulu dengan idealisme yang berapi-api. Saya pikir, pasca menikah dan beranak pinak, akan banyak inspirasi menulis dari kehidupan keluarga, pekerjaan, bermasyarakat dan aktivitas ringan lainnya. Ya, cuma tulisan-tulisan sederhana. Gak akan sepanjang tulisan ini, mungkin hanya 2-3 paragraf tanpa data, hanya curhatan-curhatan kehidupan, atau inspirasi aneh saat di pasar, WC, atau tempat lain lah. Setelah ini, mungkin akan saya awali dengan merapihkan tampilan blog ini, kemudian memindahkan beberapa tulisan dari medsos saya ataupun yang tenggelam di google keep. Masalah SEO atau Adsense, saya bodo amat lah, yang penting nulis, itu urusan belakangan.

Alih-alih menulis di status FB atau feed instagram atau utas di twitter, saya lebih memilih di blog wordpress seperti ini. Itu tadi, saya pada dasarnya kurang pede kalo tulisan saya terlalu banyak yang baca, meskipun belum tentu juga tulisan saya di medsos dibaca orang, alias ter-scrolling begitu saja. Tapi ini tentang kondisi psikologis saya, pikir saya, medsos lebih terekspos, sedang di wordpress, segelintir orang yang tau saja. Sehingga, saya lebih bebas dalam memproduksi kata perkata tanpa takut dibaca orang, karena blog saya akan tertimbun oleh jutaan blog/website lain yang lebih oke dan keren, hehe. Aneh kan?

Oke, itu aja sih, semoga niat ini tidak lagi-lagi terkalahkan oleh kemalasan. Karena kalo gagal lagi, apalagi alasan saya, wkwkwk. Oh iya, blog saya yang dulu namanya santri-scientist.blogspot.com dengan platform blogger, sekarang sudah migrasi ke wordpress di fawwazmf.com. Bismillahirrohmanirrohim, nawaitu nulis lagi.

Wallahua’lam.

Pasar TGB, Cirebon, 24/09/2021 08.47

Kehadiran Putri Kecil Kami

Kehadiran Putri Kecil Kami

Alhamdulillah, atas karunianya, telah lahir anak kami yg kedua pada hari Ahad, 28 Februari 2021 pukul 19.25 WIB di RSIA Livasya, Majalengka dalam kondisi sehat (W = 2900 g, H = 49 cm) melalui persalinan normal. Seorang putri di keluarga kami adalah anugerah yang sangat tidak terkira. Bagaimana tidak. Saya ini dua bersaudara, Cowok dua-duanya. Ibu saya tak punya anak istri. Mungkin anda bisa bayangkan betapa bahagianya Ibu saya, memiliki cucu putri di keluarga ini. Dan, sayapun sangat berbahagia. Selain karena memang kehadirannya saja sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Saya juga bahagia karena bisa memenuhi rasa penasaran ibu saya memiliki peri mungil nan lucu diantara kami.

Seperti adagium popoler bahwa dalam sebuah nama, tersirat sebuah doa dan harapan. FATHIA (Fathiyyah) terinspirasi dari peristiwa Fathu Makkah Rasulullah SAW, Penaklukan dengan Pembebasan, Revolusi tanpa darah. Atau yang seperti pepatah Jawa bilang, Menang tanpo ngasorake. Semoga kelak engkau menjadi seorang pemenang yang bijaksana, nak. Amin.

KAMILA, diambil dari nama nenek dari jalur ibu. Nenek saya adalah seorang janda dengan 5 anak yg semuanya msih kecil sejak suaminya (alm kakek) meninggal dunia dan berjibaku melawan kerasnya dunia, menjadi sosok ibu sekaligus bapak untuk anak-anaknya. Sewaktu usiaku 1 tahun, kedua orangtuaku berangkat ke Tanah Suci selama beberapa tahun. Selama orang tua saya disana, beliaulah yg mengurus saya. Bagi saya, nenek adalah contoh sederhana dari sosok wanita yang kuat dan luar biasa. Alhamdulillah hingga saat ini beliau saat ini masih diberi umur panjang, dan beberapa bulan lalu telah sembuh dari COVID-19. Semoga nenek saya senantiasa diberi umur panjang dan kesehatan. Amin. Kamila juga berarti sempurna. Saya tak mengharapkanmu menjadi seorang yg sempurna, nak. Karena kesempurnaan bukanlah milik makhluk yang fana seperti kita ini. Namun saya berharap dalam hidupmu nanti, engkau menjadikan sang Insan Kamil, Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan utamamu. Shollu ‘alannabi Muhammad.

PUTRI, seperti yang disinggung di awal tulisan, berangkat dari fakta bahwa aku hanya 2 bersaudara laki-laki dan anakku yg pertama juga seorang jagoan, jelas engkau adalah seorang PUTRI yg kami semua dambakan hadir di lingkaran keluarga ini, sayang.

FAUZIYA, seperti kakakmu, MUHAMMAD FAQIH ZEWAIL ALFAUZI, kemenangan, kesuksesan, kejayaan, semoga engkau mengilhaminya dalam kehidupanmu di masa depan nanti

FATHIA KAMILA PUTRI FAUZIYA

Welcome to the World, My princess!

Panggilannya? Aku & istriku sepakat utk memanggilnya dg sebutan TETEH. Artinya, belum ada rencana untuk mengendurkan giat reproduksi. Kamu siap gak istriku sayang? Hehe.

Dan, makasih buat Nida, sepupu saya yang baik hati, berkenan menemani dan banyak membantu kami berdua selama di rumah sakit. Sampai-sampai dibuatkan video yang keren. semoga kebaikanmu dibalas lebih oleh Allah Subhanahu wata’ala, amiiin.

Halo teteh cantik, semoga hidupmu dipenuhi keberkahan, amiiiin ya mujibassailin.

اللهم اجعلها برا تقيا رشيدا وأنبتها فى الإسلام نباتا حسنا

1st Wedding Anniversary, Kebahagiaan yang Makin Lengkap

1st Wedding Anniversary, Kebahagiaan yang Makin Lengkap

Besok adalah tepat tgl 4 Maret, dimana tahun lalu, saya telah mengucap ikrar menjadi seorang suami dari seorang putri yang berasal dari kaki gunung Bromo, tepatnya Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Hari itu tentu merupakan momen yang unforgettable bagi kami. Bagaimana tidak, saat berangkat menuju rumah calon mertua saya saat itu, tujuannya hanya satu, yaitu khitbah/lamaran. Dasar sama-sama berkultur keluarga Islam tradisionalis alias NU kultural, tak hanya khitbah, akad nikah pun kami langsungkan setelah lamaranku diterima. KH. Mahfud, besan dari mertua saya adalah penginterupsi yg mengusulkan akad dadakan itu. Dengan diskusi singkat dipihak keluarga besar saya pada saat itu, akhirnya menyetujui untuk akad langsung. Semoga beliau selalu diberi kesehatan, bahagia dunia akhirat. Amin.

Dalam menjalani satu tahun pernikahan ini, alhamdulillah kami selalu diselimuti rasa bahagia, rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kami, terkhusus dengan kehadiran jagoan cilik kami, Muhammad Faqih Zewail Alfauzi, ia adalah sosok pelengkap kehidupan kami berdua. Saya, istri dan kedua orang tua saya memanggilnya dengan sebutan kakak. Sebutan agar dia segera punya adik, eh.

Terimakasih saya dan istri ucapkan buat mamah dan bapa yg udh bikin surprise kue Anniversary yg luar biasa. Makasih juga utk semua yg ikut memeriahkan dan ikut merencanakan surprise ini.

Akhirnya, kami mohon doa kepada semua pembaca, semoga hidup kami selalu dalam berkah dan ridho Allah SWT. Amin.