Sebagai orang dengan latar belakang akademik ilmu alam, dalam perjalanan saya mempelajarinya, tentu saja banyak fenomena alam yang patut dikagumi. Di dalam diri kita saja, bagaimana setiap harinya jantung kita berdetak rata-rata sebanyak puluhan ribu kali perhari tanpa protes, kita dapat menarik oksigen dari alam tanpa rasa sesak, aktivitas tubuh di level molekuler yang begitu sangat rapi dan terprogram. Darah kita mampu “mengenali” mana bagian tubuh yang luka lalu membentuk bekuan hanya pada lokasi tersebut tanpa menutup seluruh aliran pembuluh, sel-sel tubuh mampu menggandakan DNA dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil setiap kali membelah, bahkan di dalam setiap sel terdapat mekanisme perbaikan ketika terjadi kerusakan genetik. Sistem imun dapat membedakan mana bagian tubuh sendiri dan mana benda asing, dan ketika bakteri masuk, tubuh dapat “mengingatnya” sehingga serangan berikutnya menjadi lebih ringan. Di tingkat kosmik, bumi berputar dengan kecepatan konstan tanpa kita rasakan, berada pada jarak yang sangat presisi dari matahari sehingga air tetap dalam bentuk cair, dan atmosfer menjaga suhu serta melindungi kita dari radiasi berbahaya. Semua berlangsung tanpa kita sadari, tanpa kita kendalikan, namun bekerja seolah-olah ada sistem pengaturan yang sangat teliti..
Uniknya, sains yang hari ini kita nikmati dalam perkembangannya kemudian sering dipahami dalam kerangka yang mengesampingkan entitas ketuhanan. Seolah alam ini adalah objek yang berjalan alamiah saja secara otonom, cukup dijelaskan melalui hukum-hukum fisika dan kimia yang terukur. Realitas dipersempit menjadi sesuatu yang dapat diamati dan diverifikasi oleh panca indera. Sedangkan Islam mengajarkan ummatnya bahwa alam semesta adalah tajalli atau manifestasi dari Tuhan, tanda-tanda kebesaran-Nya yang mengarah pada kesadaran transendental. Rasanya sulit menganggap alam semesta yang sedemikian teratur ini tidak memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri. Keteraturan hukum alam memang dapat dijelaskan, tetapi pertanyaan tentang makna dan sumber keteraturan itu tetap terbuka.
Pada ngaji Hikam 2 gusmus lalu, saya dipertemukan dengan Hikmah ke-14, di mana Syeikh Ibnu Athaillah mengatakan:
“Alam semuanya adalah kegelapan, dan yang meneranginya ialah kewujudan Allah s.w.t. pada alam itu sendiri. Maka barangsiapa yang melihat alam sedangkan ia tidak melihat Allah dalamnya atau di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka sungguhnya ia telah melumpuhkan wujud dari cahaya-cahaya, dan terhalang oleh awan-awan dari cahaya makrifat.”
Syeikh Ibnu Athaillah dengan tegas mengingatkan bahwa siapa pun yang melihat alam ini tanpa menangkap makna ilahiah di baliknya, sesungguhnya sedang terhijab dari cahaya makrifat. Alam bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan sesuatu yang menjadi terang ketika disadari sebagai pertanda. Untuk bisa merasakan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya, perlu refleksi mendalam yang mendudukkan hati dan pikiran secara tepat. Ini selaras dengan konsep Ulul Albab, di mana seorang ulul albab adalah pribadi yang mampu menyelaraskan aktivitas dzikir dan fikir yang nantinya melahirkan kesadaran teologis bahwa tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia.
Dengan demikian, sejatinya melalui sains seseorang juga dapat mendekati level ma’rifat dan mengenal Allah secara lebih dalam. Bukan karena sains membuktikan keberadaan-Nya, tetapi karena kemampuan tafakkur dan refleksi yang diasah oleh sains membuat seseorang semakin sadar akan keteraturan, keterbatasan, dan ketergantungan segala sesuatu. Ketika seseorang menyelami realitas hingga level mikroskopis, molekuler, bahkan atomik, dan tetap menemukan hukum yang konsisten serta keteraturan yang tidak berdiri sendiri, di situlah hati yang jernih dapat tersentuh oleh kesadaran bahwa alam semesta ini bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan belaka.
Min ‘alāmāti al-i‘timād ‘ala al-‘amal nuqṣān al-rajā’ ‘inda wujūd al-zalal
“Salah satu tanda seseorang bergantung pada amalnya sendiri adalah berkurangnya harapan kepada Allah saat terpeleset ke dalam dosa.”
Kita langsung disuguhi dengan kalam hikmah yang menohok. Bahwa seorang sufi tidak boleh memiliki pikiran transaksional dengan Allah. Misal saya yakin akan dimasukkan surga oleh Allah karena saya rajin beribadah, rajin puasa senin-kamis bahkan daud, shalat sunnah semua dilaksanakan, haji berkali-kali, dan lainnya. Juga, misal ia pasrah akan dimasukkan ke neraka karena telah melakukan banyak dosa, sehingga ia tidak mau memperbaiki diri. Sudah terlanjur kotor, anggapnya.
Padahal, kita tidak boleh beranggapan demikian. Seharusnya, seorang sufi beribadah kepada Allah bukan karena-karena. Bukan ingin surga atau takut neraka, tapi karena memang itu adalah tugas kita sebagai hamba untuk beribadah. Mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, menjauhi apa yang dilarang-Nya. Urusan surga dan neraka itu terserah Allah. Kita harus percaya kasih sayang dan karunia-Nya.
Jangan sombong saat merasa banyak amal baik. Jangan putus asa saat berbuat dosa. Maka menurut Gusmus, posisi sikap paling ideal kita terhadap Allah berada diantara roja (harapan) dan khauf (rasa takut), atau dalam Bahasa Indonesia yang paling pas adalah harap-harap cemas. Ini posisi moderat.
Jangan sampai hanya roja. Jika hanya roja, misal karena kita yakin Allah maha pengasih, kita seenaknya melakukan dosa-dosa besar, karena toh nantinya juga diampuni. Kan Allah maha penyayang. Atau, hanya khauf, karena takut akan amarah-Nya, kita jadi sangat saklek dalam menjalani kehidupan, menangis sepanjang hari hingga abai dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejujurnya, saya seringkali masih bersikap transaksional. Seperti halnya puasa ramadan ini, saya berpuasa terkadang hanya takut dosa dan neraka saja kalau tidak berpuasa, bukan “murni”karena niat beribadah sebagai manifestasi penghambaan saya kepada Allah. Semoga dengan Mutiara hikmah pertama ini menjadi pengingat bagi saya dan kita semua untuk melakukan rekonstruksi niat kita dalam melakukan berbagai macam ibadah. Dan juga saat kita berbuat dosa, yakinlah bahwa kita tidak boleh putus harapan dari Allah Subhanahu wataala.
Sejak bertahun-tahun yang lalu,bahkan sejak masih di pondok pesantren, saya sangat tertarik mengaji kitab Hikamnya Syeikh Ibnu Athoillah Assakandari. Tapi kalo pas masih di pondok, tentu saja masih merasa tidak pantas karena konon hikam adalah kitab yang belum cocok untuk anak semuda saya kala itu. Disamping itu karena juga memang belum sempat aja saya mengikutinya.
Hiruk pikuk dunia saat ini membuat saya merasa perlu menyirami diri ini dengan mutiara hikmah yang menenangkan jiwa. Agar saya bisa lebih matang dan dewasa menghadapi persoalan hidup, dan agar saya tak sombong, pongah dan congkak dalam kehidupan sehari-hari. Maka sejak beberapa bulan yang lalu, di perjalanan saat berangkat kerja, disamping podcast popular dan terkadang kuliah topik kimia yang tersedia di youtube, saya kerap kali mencari dan mendengarkan pengajian-pengajian yang memuat pesan hikmah, termasuk pengajian kitab Hikam. Pengajian ya, bukan ceramah.
Dan, era digital menjadi privilege yang menyenangkan. Ditengah pencarian pengajian yang cocok, kemarin algoritma youtube saya menampakkan Pengajian Hikam yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri alias Gusmus. “Cocok ini.”, batin saya. Masih ngaji kedua, jadi saya belum ketinggalan. Meskipun sekarang juga masih muda, hehe, akhirnya saya mantapkan hati untuk mengikuti pengajian beliau melalui kanal youtube “GusMus Channel”.
Setelah menyelesaikan episode 1 ngaji hikam Bersama Gus Mus. Saya kok merasa eman aja gitu catatannya berakhir di goodnotes saja. Saya merasa perlu mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan di blog saya. Disamping mengamini sebuah hadits, bahwa ilmu itu layaknya hewan buruan, maka ikatlah ia dengan cara menuliskannya biar gak kabur, saya juga ingin menyertakan refleksi pribadi saya, atau paling tidak POV saya terhadap setiap ungkapan-ungkapan aforis Syekh Ibnu Athoillah. Ke depan, untuk setiap hari di bulan ramadan, saya akan menuliskan 1 hikmah dari beliau beserta interpretasinya, kemudian saya akan memberikan perspektif sesuai POV saya, misal dari sisi seorang anak, ayah, suami, dosen, makhluk biasa, santri, dll. Tentu saja tidak akan selesai semua hikmah di bulan ramadan ini. Karena total semuanya ada 264 hikmah, maka dari beberapa hikmah yang disampaikan pada setiap episode ngaji hikam gusmus, saya akan mengambil 1 hikmah saja yang akan saya coba refleksikan dalam tulisan.
Oh iya, kenapa tidak dalam video pendek atau reels? Saya masih punya banyak PR untuk video. Mungkin kedepan akan saya lakukan. Saat ini saya masih merasa belum pede aja, dari mulai skill editing video yang masih newbie, kurang pede saat take video, hingga pada level kapasitas keilmuan. Jadi sepertinya, tulisan adalah pilihan yang cukup aman untuk saat ini ya, hehe.
Semoga bisa konsisten ya, mari kita mulai di tulisan selanjutnya.
Beberapa waktu lalu, program Xpose Uncensored di Trans7 menayangkan liputan yang menggambarkan pesantren sebagai ruang penuh praktik feodal dan pengkultusan Kyai. Tayangan itu menyorot santri yang menunduk, mencium tangan, bahkan memberi uang kepada kyai, seolah-olah semua itu bentuk eksploitasi dan perbudakan spiritual.
Framing semacam ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merusak citra pesantren sebagai lembaga yang sejak berabad-abad menjadi penjaga akhlak dan ilmu di Nusantara. Namun untuk memahami mengapa framing semacam itu bisa muncul, sepertinya kita perlu membaca konteks sosial secara lebih mendalam. Karena sebuah peristiwa, tentu saja tidak muncul dari ruang hampa.
Dari Tragedi Menuju Stigma
Dalam pikiran saya, sangat sulit untuk melepaskan framing negatif Trans7 ini dari tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo yang menelan banyak korban jiwa tersebut. Dalam suasana duka itu, KH. Abdussalam Mujib menyampaikan bahwa peristiwa tersebut merupakan musibah dan takdir. Saya paham bahwa kalimat ini di dunia pesantren dipahami sebagai bentuk ketabahan dan upaya menenangkan batin, namun di mata publik modern ia dianggap sebagai penolakan terhadap tanggung jawab.
Terjadilah benturan dua bahasa, bahasa spiritual yang menenangkan jiwa dan bahasa modern yang menuntut audit serta akuntabilitas. Keduanya sama-sama punya tempat. KH. Mujib berbicara dalam kapasitas moral dan psikologis, sementara masyarakat menuntut penegakan hukum. Masalahnya muncul ketika tafsir spiritual dipotong dan dipelintir untuk memperkuat kesan bahwa pesantren itu anti kritik, tertutup, dan tidak rasional.
Dari duka ini, muncullah penggiringan opini terus menerus yang mengarah pada fitnah bahwa pesantren adalah adalah sarang feodal, sarang pengkultusan, dan tempat tumbuhnya kekuasaan absolut para kyai. Saya menduga, ada pula pihak-pihak yang sejak awal memang tidak menyukai dunia pesantren, lalu memanfaatkan suasana duka untuk memperkeruh persepsi publik. Dunia ini, bagaimanapun, tidak pernah benar-benar bebas nilai, bukan?
Adab Bukan Feodalisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, feodalisme adalah sistem sosial yang menempatkan kekuasaan di tangan segelintir orang dan mengagungkan jabatan di atas prestasi. Tapi hierarki di pesantren sama sekali tidak lahir dari kekuasaan. Ia tumbuh tradisi yang mengagungkan adab dan ilmu. Menempatkan ilmu sebagai cahaya, setinggi-tingginya, seterang-terangnya, semulia-mulianya.
Mari kita jernih memahami, dalam sistem feodal, status dijaga agar yang di atas tetap di atas, bahkan cenderung menghalalkan segala cara agar tetap diatas. Sedangkan dalam sistem pesantren, penghormatan justru mendidik agar santri layak naik derajat. Menjadi penerus kyai dalam menjaga cahaya ilmu di tengah dunia yang kehilangan arah dan keteduhan. Saya dan para santri menghormati kiai bukan karena keturunan, tetapi karena keluasan ilmu yang lahir dari ketekunan menuntut, keikhlasan mengajar, dan kesungguhan menjaga cahaya ilmu agar tetap hidup.
“Ana ‘abdu man ‘allamani harfan wahidan.”
Aku adalah hamba bagi siapa pun yang telah mengajarkan kepadaku satu huruf.
Ini adalah ungkapan populer Sayyidina Ali Kw, sebagaimana dikutip dalam kitab Ta’lim Muta’alim, yang menjadi dasar keta’dziman para santri di pesantren. Dalam kitab itu pula dijelaskan bahwa menghormati ilmu berarti juga harus menghormati ahlinya. Maka, santri menghormati gurunya bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ilmu tidak bisa tumbuh di hati yang penuh kesombongan. Ketika santri menunduk dihadapan kyai, sejatinya yang ditundukkan bukan tubuhnya, melainkan egonya.
Sekali lagi, feodalisme bertujuan melanggengkan legitimasi. Penguasa ingin kekuasaan tetap berada di tangannya. Pesantren justru sebaliknya, ia hidup dari semangat regenerasi. Kyai sejati selalu berdoa agar santrinya menjadi penerus yang lebih baik, lebih luas ilmunya, dan lebih dalam pengabdiannya.
Dalam tradisi pesantren, hidup nilai tawassuth(moderat) dan tawazun (seimbang) yang menjaga harmoni antara penghormatan dan rasionalitas. Kiai dihormati, tetapi bukan berarti kebal dari musyawarah. Santri tunduk dengan adab, namun sekaligus dididik untuk berpikir kritis dan argumentatif. Maka, bukankah sebuah ironi jika pesantren dituduh tidak progresif, sementara banyak intelektual muslim yang tajam dalam berpikir justru lahir dari rahim pesantren?
Kritik Boleh, Framing Tidak
Memang ada individu yang menyalahgunakan status “gus” atau posisi “dzurriyah kyai” untuk bertindak semena-mena. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi penyimpangan individu tidak bisa dijadikan dasar untuk menstigma seluruh sistem. Pesantren bukan ruang sempurna, kekurangannya pun bisa dilihat dengan jujur, dan saya sendiri memiliki sejumlah kritik terhadapnya. Tetapi menggiring opini hingga menjelma fitnah adalah tindakan yang kejam dan tidak beradab.
Masyarakat boleh dan bahkan perlu mengkritik pesantren terutama dalam hal tata kelola, transparansi, dan keselamatan fisik santri. Namun kritik yang sehat berbeda jauh dengan framing yang tendensius. Kritik lahir dari cinta terhadap kebenaran, sedangkan framing lahir dari keinginan menjatuhkan martabat.
Pesantren tidak anti kritik! Yang saya dan semua santri tolak adalah penghinaan terhadap marwah keilmuan. Apalagi ketika kritik itu diarahkan bukan kepada pelaku yang salah, tapi kepada sosok-sosok yang justru menjadi teladan keikhlasan seperti KH. Anwar Manshur dari Lirboyo seorang alim yang hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Penutup: Sang Penuntun Cahaya
Aswaja mengajarkan kita i’tidal (tegak lurus) dalam menilai sesuatu dan tasamuh (toleran) terhadap perbedaan. Dalam semangat itu, kita boleh berkaca dari tragedi dan kritik yang datang, tapi jangan sampai kehilangan cahaya yang menerangi jalan kita.
Feodalisme hidup dari rasa takut kehilangan kuasa. Pesantren hidup dari cinta untuk mewariskan ilmu. Feodalisme membangun menara agar rakyat tak bisa naik, sedangkan pesantren membangun tangga agar santri bisa naik dengan adab dan etika yang menyertai setiap langkah menuju ilmu.
Maka ketika ada yang menuduh pesantren sebagai sarang feodalisme hanya karena santrinya menunduk di hadapan kyai, mungkin ia belum mengerti bahwa di pesantren, menunduk bukan tanda ketundukan absolut, tetapi tanda hormat kepada penuntun cahaya ilmu dan kebijaksanaan.
Saya tercengang ketika melihat susunan acara masa orientasi santri baru yang tertulis bahwa saya harus mengisi materi “Menjadi Wirausahawan Muda”. Bagaimana tidak, saya hanyalah pedagang daring kecil yang terombang-ambil dengan persaingan yang semakin sengit. Disamping itu, 90% perdagangan itu telah dihandle oleh istri saya. Saat ini saya lebih dominan menyibukkan diri dengan menjadi dosen dan guru dengan segala beban administrasinya.
Praktis, saya memutar otak untuk mencoba mencari landasan-landasan pemikiran yang unik guna memberikan sudut pandang yang baik agar santri punya geliat mengembangkan jiwa enterpreneurshipnya. Minimal jangan seperti saya lah, hehehe.
Disamping dari beberapa pengajian yang saya ikuti, dalam pencarian, saya mendapatkan sudut pandang yang unik tentang bagaimana Islam memandang kekayaan materiil yang mungkin berbeda dari pandangan umum. Mari kita runut dari hulunya.
Tugas Manusia
Terdapat 2 tugas dari Allah swt bagi manusia di muka bumi ini, yaitu abdullah dan khalifatullah. Abdullah berlandaskan pada ayat “Wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun.”, sedangkan khalifatullah berlandaskan pada ayat, “Waidz qoola robbuka lil malaikati inni jailun fil ardli kholifah”, kholifah disini diartikan sebagai “penugasan Allah kepada manusia untuk memakmurkan bumi.”. Singkatnya, abdillah mewakili hablumminallah (dimensi peribadatan), khalifatullah mewakili habluminannas dan hablumminal alam (dimensi sosial-lingkungan).
Sebagai abdullah, ini sudah non-debatable, paling tidak laksanakan sebaik-baiknya 5 rukun islam, yakini sepenuh hati akan 6 rukun iman, maka kita sudah dianggap sebagai abdullah ya baik. Namun khalifatullah ada aspek yang cukup rumit dan dapat menjadi diskursus yang sangat menarik untuk dibahas.
Menjadi khalifatullah, memakmurkan bumi, bisa dibilang bagaimana kita sebagai manusia bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Selain itu juga bagaimana kita mengelola anugerah alam dengan sebaik-baiknya. Dari sini kita dapat mengambil benang merah bahwa menjadi khalifatullah berarti kita harus mengambil peran dalam kehidupan dimuka bumi ini. Kita masing-masing pribadi harus memiliki profesi sebagai pengejawantahan dari tugas manusia sebagai khalifatullah fil ardl.
Profesi dalam kehidupan manusia ini kita tahu bermacam-macam dan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Salah satu profesi yang masih eksis hari ini adalah menjadi seorang enterpreneur, pebisnis, pedagang, dan sejenisnya. Dalam islam, bisnis adalah sesuatu yang tergolong mu’amalah dan hukumnya boleh dengan kaidah-kaidah tertentu. Profesi berdagang jika sukses, maka kita akan memiliki jumlah kekayaan materiil atau uang yang berlimpah, sehingga kita akan dikenal sebagai konglomerat, OKB, atau bahkan istilah saat ini, Crazy Rich.
Disisi lain, dalam pembahasan dibanyak pesantren bahkan madrasah, seringkali kita diberi tahu untuk tidak perlu mengejar kekayaan materiil yang “sifatnya duniawi”, lebih baik kejarlah hal-hal yang “sifatnya akhirat.”. Pada prinsipnya, pernyataan seorang ustadz (misal) demikian itu tak dapat disalahkan. Namun terkadang, statemen itu malah dijadikan dalih dan tameng akan ketidakmampuan kita dalam mencapai kekayaan materiil. “Sudahlah, dalam hidup kita tidak perlu menjadi kaya, banyak uang, yang penting barokah, perbanyak ibadah, mati husnul khotimah, toh, harta gak dibawa mati!”, tegas seorang ustadz di Kampung.
Bagi saya, dari statemen ini kita dapat menggarisbawahi dua hal. Pertama adalah kita tidak perlu menjadi kaya. Kedua, harga tidak dibawa mati. Temuan saya akan mencoba memunculkan diskursus akan kedua hal tersebut, karena ternyata, Islam menganjurkan kita untuk menjadi orang kaya, dan Islam juga menyatakan bahwa harta itu dibawa mati!
Kita Harus Jadi Orang Kaya
Pertama, kita dianjurkan menjadi kaya secara finansial, paling tidak, seorang Muslim harus mandiri secara finansial. Kita dapat mencontoh Rasulullah soal kemandirian, sudah yatim sejak kecil, Rasulullah muda berjualan hingga ke syam (suriah), hingga akibat dari aktivitas niaganya, bertemu dengan Siti Khadijah yang kemudian menjadi istrinya. Mahal Rasulullah kepada Khadijah juga tidak main-main, 20 ekor unta betina dan 350 gram emas, yang jika dirupiahkan nominalnya setara 1,4 Miliar! Apakah mahar demikian bisa kita kategorikan sebagai mahar dari seorang mempelai miskin? Tentu tidak! Maka Rasulullah adalah juga seorang yang kaya dan mandiri secara finansial.
Ada satu ayat menyatakan, “waidza qudhiyati sholatu, fantasyiru fil ardl, wabtaghu min fadlillah”, artinya silahkan manusia bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki. Disamping itu, dengan kita memiliki harta yang melimpah, kita dapat bersedekah di jalan dakwah, berkontribusi dalam banyak hal untuk kebaikan agama, misal memberikan sumbangsih pengembangan pesantren, beasiswa pendidikan, santunan yatim dan dhuafa, dan lain-lain. Tanpa kekayaan, dapatkah kita melakukan itu semua? Sahabat Rasulullah saja, macam Utsman bin Affan, Abdurrohman bin auf dan yang lainnya adalah konglomerat, sultan, alias crazy rich, sehingga beliau-beliau ini dapat banyak membantu dakwah Rasulullah, khususnya yang terkait dengan sokongan finansial.
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menyatakan, nafsu ghodobiyah itu jangan dibuang, tapi harus dikelola hingga menjadi Himmah. Nafsu ghodobiyyah, jika di manage, diganti niatnya menjadi niat-niat kebaikan, motivasi-motivasi kebajikan, maka itu bisa menjadi Himmah atau Cita-cita. Himmah untuk kita menjadi Kaya, Himmah untuk menjadi Sukses. “SAYA HARUS KAYA, SAYA HARUS NOMOR 1, dll.”
Harta Ternyata Dibawa Mati
Kedua, harta itu ternyata dibawa mati! Dari mana saya simpulkan itu? Dari hadits “Idza matabnu adama, inqothoa amaluhum, illa tsalatah, shodaqotun jariyatun, wailmu ….. dst.”. Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim ini, jika seorang manusia mati, maka terputuslah semua amalnya. Ia sepenuhnya akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di dunia. Jika sering berlaku buruk, maka amal buruk dominan, siksa kubur menanti. Begitupun sebaliknya. Manusia tersebut tidak bisa lagi menambah amalnya untuk menutupi kekurangan-kekurangan amal baik di dunia agar dapat meringankan hukuman yang di terimanya.
Untungnya, kita adalah ummat kanjeng Nabi Muhammad SAW, dimana banyak diskresi yang diberikan, termasuk dalam perihal ini. Jika kita sudah tidak punya opsi memperbanyak amal. Kita harus pandai melakukan cheating, yaitu berinvestasi dengan portofolio keuntungan 100%. Bentuk investasinya ada 3, yakni shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat secara kontinyu, dan anak sholih yang senantiasa mendoakan.
Dari ketiga profil investasi tersebut, yang mungkin kinerjanya berada dalam kontrol kita adalah shodaqoh jariyah. Mengapa? Ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh itu lebih dominan berada di luar kontrol kita. Kita mengajarkan ilmu agar bermanfaat, belum tentu murid kita memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saya contohnya, tidak semua murid saya mengamalkan ilmu kimianya dalam kehidupan sehari-hari bukan? Yang mungkin manfaat adalah mengajarkan ilmu agama untuk ibadah praktis. Sayangnya tak semua orang punya waktu dan kapasitas mengajarkan ilmu agama.
Doa anak sholeh yang mendoakan. Yakinkah kita bahwa anak kita tak akan lupa untuk senantiasa mendoakan? Tentu harapan kita begitu. Tapi lagi-lagi, itu diluar kontrol kita. Kita boleh mendidik dan mengajarkan anak kita sebagai birrul walidain, tetapi lagi-lagi, itu bergantung kepada anak kita, di luar kontrol kita.
Maka, satu-satunya investasi amal dengan return yang dapat terprediksi dengan baik adalah shodaqoh jariyah, alias shodaqoh yang memberikan kemanfaatan berkelanjutan bahkan hingga kita telah meninggal dunia. Membantu pembangunan masjid, pengembangan lembaga pendidikan pesantren, mensupport kegiatan keagamaan adalah bentuk jariyah yang tepat selama anda memilih profil masjid, sekolah, pesantren dan organisasi keagamaan yang tepat. Ya tentu anda harus lihat, siapa pemimpinnya, siapa pelaku-pelakunya, siapa yang mendapat manfaatnya, dan bagaimana portofolionya, serta “return per year” nya.
Sepanjang dan sejauh saya memperhatikan, belum pernah saya temui masjid bangkrut. Dari 500 lembaga pendidikan, paling hanya 1-2 saja yang tak berlanjut, karena banyak sekali ustadz-ustadz kampung yang ikhlas mengajar tanpa meminta kontribusi dalam bentuk uang kepada orang tua muridnya. Organisasi keagamaan? Jika ia telah eksis hingga puluhan tahun bahkan satu abad macam NU dan Muhammadiyah, anda tak perlu ragu untuk jariyah melalui mereka. Maka, investasi jariyah demikian adalah pilihan tepat.
Sayangnya untuk bershodaqoh jariyah, kita harus menjadi seorang yang mapan secara finansial. Bagaimana anda bisa jariyah dengan nyaman jika untuk menyambung hidup saja anda kesulitan. Yang ada anda tervonis hadits “Kaadal faqru an yakuna kufron”, kefakiran mendekatkan diri kepada kekafiran. Entah faqir disini mau dianggap faqir harta maupun faqir hati. Saya sulit melepaskan keyakinan bahwa yang faqir harta akan lebih banyak yang faqir hati. Maka, menjadi kaya seperti pada poin pertama adalah salah satu prasyarat penting sebelum kita bisa shodaqoh jariyah.
Dengan manajemen nafsu ghodobiyah menjadi himmah, ambisi dan keinginan untuk meraih kemapanan finansial untuk mendukung aktivitas dakwah islam adalah hal yang dianjurkan. Maka silahkan anda-anda semua “fantasyiru fil ardl”, jangan termakan dawuh bahwa harta tidak penting. Karena jika kita orang yang kaya secara finansial, kita akan lebih leluasa untuk shodaqoh jariyah, untuk pesantren A 10 M, untuk masjid 20 M, untuk NU 10 M. Dimana shodaqoh jariyah pahalanya mengalir hingga kita mati. Dengan beginilah, dapat kita asumsikan bahwa harta yang kita investasikan sebagai shodaqoh jariyah, pahala jariyahnya akan dibawa mati, dan senantiasa menemani kita selama kemanfaatan dari jariyah itu masih terus berlanjut dari generasi ke generasi. Sebaliknya, harta yang anda investasikan dalam perbuatan-perbuatan buruk juga akan dimintai pertanggungjawaban. Pada intinya, semua harta akan dibawa mati, dipertanyakan oleh Sang Maha Kaya.
Maka, mari kita berlomba-lomba menjadi pribadi yang memiliki kekayaan finansial, tentu dengan motivasi dan tujuan yang baik, dengan sebuah himmah. Kita jangan terjebak dalam pengkotak-kotakan duniawi dan ukhrowi yang rigid. Bahwa harta adalah duniawi, sholat adalah ukhrowi. “Kam min amalin yatashowwaru bisuroti a’amaliddunya, fashoro min a’malil akhiroh bihusninniyyat, wakam Kam min amalin yatashowwaru bisuroti a’amalil akhiroh, fashoro min a’maliddunya bisu’inniyyat.”
Hai, Saya Fawwaz Muhammad Fauzi, suatu produk hasil persilangan genetik Garut-Majalengka. Menjadi Dosen Kimia adalah profesi utama saya saat ini. Selain itu, ya membahagiakan istri, anak dan orang tua. Melalui blog ini, saya ingin menuliskan kisah-kisah keseharian saya yang pasti receh. Mungkin sedikit esai-esai yang sok serius tapi gak mutu. Jadi, tolong jangan berharap ada naskah akademik atau tulisan ilmiah disini ya, hehe.
Kalau ada yang mau kontak, silahkan email ke [email protected]. Udah itu aja.