Sejarah Pasang Surut Hubungan PMII dan HMI

Membicarakan hubungan PMII dengan HMI dalam sejarah gerakan kemahasiswaan di Indonesia perlu kehati-hatian, sebab sampai saat ini masih banyak kita dapatkan penulisan sejarah gerakan kemahasiswaan di Indonesia yang ditulis secara subyektif tanpa dilengkapi data-data yang ada. Keadaan yang demikian ini pada akhirnya akan merugikan perjuangan pemuda dan mahasiswa Islam secara keseluruhan, bahkan perjuangan ummat Islam itu sendiri. Kita berharap dengan mengungkap fakta secara jujur dan obyektif, persoalan yang dulu, bahkan kini masih dianggap salah dan menodai perjuangan ummat Islam sedikit demi sedikit akan kita hapuskan, dan tulisan ini jauh dari niat dan sikap apologis terhadap perjuangan dan langkah yang pernah dilakukan oleh PMII.Seperti kita ketahui bahwa kelahiran PMII dianggap tidak lain sebagai tindakan memecah belah persatuan ummat Islam dari sekelompok mahasiswa yang haus akan kedudukan. Selain itu tuduhan yang cukup menyakitkan adalah bahwa kelahiran PMII dianggap sebagai pengkhianatan terhadap ikrar ummat Islam yang dikenal dengan “Perjanjian Seni Sono”, yang salah satu isinya adalah “Pengakuan terhadap HMI sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia”. Selengkapnya penulis akan mengutip secara utuh isi dari perjanjian tersebut, yang dikutip dari buku Sejarah Perjuangan HMI (1947 – 1975) Tulisan Drs. Agus Salim Sitompul :

Untuk meningkatkan persatuan ummat Islam itu, yang menyangkut semua lapangan perjuangan di Gedung Seni Sono (sebelah selatan Gedung Agung) Yogjakarta dari tanggal 20 – 25 Desember 1949, dilangsungkan kongres Muslimin II setelah Indonesia Merdeka. Sebanyak 129 organisasi dari berbagai jenis dan tingkatan, dari segenap penjuru tanah air, sama-sama bersepakat mengambil keputusan antara lain :
  1. Mendirikan badan penghubung, mengkoordinir kerjasama antar organisasi Islam, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan dengan nama Badan Kongres Muslimin Indonesia (BKMI) dibawah pimpinan satu sekretariat.
  2. Menyatukan organisasi pelajar Islam, bernama Pelajar Islam Indonesia (PII)
  3. Menyatukan organisasi guru Islam dengan nama Persatuan Guru Islam Indonesia (PGI)
  4. Menggabungkan organisasi-organisasi pemuda dalam satu badan yang bernama Dewan Pemuda Islam Indonesia
  5. Hanya satu organisasi mahasiswa Islam Indonesia, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bercabang di tiap-tiap kota yang ada sekolah tinggi [1])
Dengan membaca poin terakhir dar isi perjanjian Seni Sono itu, kalangan luar PMII dengan mudahnya menuduh bahwa kelahiran PMII tidak lain dari upaya memecah belah ummat Islam dan usaha dari sekelompok mahasiswa yang menginginkan kedudukan. Pernyataan pertama dapat kita buktikan dengan mengutip tulisan Drs. Agus Salam Sitompul dalam buku Sejarah Perjuangan HMI (1947 – 1975) sebagai berikut :
…….”Walaupun perjanjian Seni Sono tahun 1949 diputuskan oleh wakil-wakil ummat Islam berbagai organisasi, tetapi ternyata perjanjian dan keputusan itu sudah dilanggar, tidak dipenuhi, bahkan tidak dipatuhi dan sudah dilupakan sama sekali terbukti dengan berdirinya organisasi-organisasi Islam sejenis,………….
          Dibidang organisasi mahasiswa (HMI), kini organisasi mahasiswa Islam ada 6 yaitu:
  1. Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMI) – PSII berdiri pada  2 April 1956,
  2. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berdiri pada 17 April 1960,
  3. Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah (IMM) berdiri pada 4 April 1964,
  4. Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) berdiri pada 20 Januari 1964,
  5. Himpunan Mahasiswa Al-Jamiatul Wasliyah (HIMMAH) berdiri pada 8 Mei 1961. [2])
Kalau kita telusuri sejarah perjuangan ummat Islam di Indonesia, seperti kita ketahui bahwa sebelum adanya perjanjian Seni Sono sudah ada perjanjian serupa, yang isinya tidak jauh berbeda, yakni kecenderungan ummat Islam akan wadah-wadah tunggal sebagai pengejawantahan dari semangat ukhuwah Islamiyah. Perjanjian tersebut dikenal dengan IKRAR 7 NOPEMBER 1945, dimana hanya mengakui Masyumi sebagai wadah satu-satunya partai politik Islam. Namun karena akhirnya lahir beberapa partai Islam selain Masyumi, seperti PSII, PERTI, dan akhirnya NU, maka sering dilontarkan pernyataan-pernyataan bahwa ummat Islam Indonesia memang tidak bisa bersatu, baik itu dikalangan orang tuanya, lebih-lebih dikalangan pemudanya.
Bagaimanapun juga kelahiran PMII tidak bisa lepas dari eksistensi NU sebagai partai politik, tidak juga dapat dinafikan dengan keberadaan organisasi mahasiswa yang terdahulu yaitu HMI. Apalagi tokoh-tokoh HMI seringkali menyinggung masalah perjanjian seni sono yang salah satunya isinya adalah pengakuan HMI sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa, namun ternyata dikemudian hari bermunculan organisasi mahasiswa yang lain. Itulah persoalannya.
Bagi kita jelas bahwa kelahiran PMII punya missi tertentu dan itu dapat kita lihat dari peran PMII dulu dan kini, dan peran itulah yang membedakan PMII dengan HMI secara tegas, baik dilihat dari motivasi lahirnya PMII itu sendiri maupun aktivitas yang senantiasa menjadi ciri dari organisasi ini.
Ada beberapa faktor yang mendorong terbentuknya PMII, yaitu antara lain:
  1. Ikut berpartisipasi membentuk manusia yang memiliki kemampuan intelektual yang disertai dengan kemampuan agamis.
  2. Berusaha secara preventif, memperhatikan kelestarian Islam Ahlussunnah Wal-Jama’ah.
  3. Meneruskan perjuangan para Syuhada dengan melakukan regenerasi kepemimpinan.
Dari motivasi itulah kita dapat membedakan sosok dan misi yang dibawa oleh PMII dan HMI. Perbedaan tersebut dapat kita baca pada poin yang kedua, yaitu “Berusaha secara preventif memperhatikan kelestarian Islam Aswaja” di Indonesia. [3]) Harus diakui bahwa sampai saat ini belum ada organisasi mahasiswa selain PMII yang secara tegas menyatakan bahwa organisasi itu bertujuan mempertahankan dan menyebar luaskan faham Islam Ahlussunnah Wal-Jama’ah (Aswaja), motivasi inilah yang paling kuat mendorong dilahirkannya PMII.
Perjanjian seni sono secara gamblang menyatakan bahwa peserta kongres ummat Islam yang diwakili 129 organisasi Islam itu berikrar mengakui hanya HMI satu-satunya organisasi mahasiswa Islam. Tetapi sejarah mencatat bahwa kelak dikemudian hari ternyata lahir tidak kurang dari 5 organisasi Islam selain HMI. Apakah kelahiran 5 organisasi Islam itu berarti mengingkari isi perjanjian seni sono tersebut.
Dalam kurun waktu antara tahun 1950 – 1959 berlaku zaman demokrasi liberal dimana tumbuh dengan suburnya organisasi-organisasi politik (baca = sayap partai politik). Salah satu upaya agar partai politik itu dapat berkembang dengan baik adalah dengan merekrut anggota-anggotanya dari seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal ini tak terkecuali masyarakat dari kalangan mahasiswa. Dapat kita maklumi bahwa semua partai politik akan menganggap mahasiswa sebagai sumber daya potensial untuk memperkuat jajarannya, hal ini seperti yang  dikatakan oleh Onghokham :
…….Tahun pemilihan umum 1955 dimana terjadi perluasan organisasi mahasiswa partai, seperti HMI (disini Onghokham mengkategorikan HMI sebagai organisasi partai), GMNI, CGMI, dan lain-lain. Pelembagaan dalam partai-partai sebagai aktivitas disekitar pemilihan umum, dari gerakan pemuda zaman itu adalah sangat penting dalam memberikan arah dan tujuan ormas-ormas mahasiswa. [4]) Disinilah arti penting organisasi mahasiswa bagi kemajuan organisasi politik. Itulah yang mendorong partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1956 mendirikan SEMI (serikat mahasiswa Muslimin Indonesia)…..
Kelahiran PMII mempunyai motivasi tidak jauh berbeda dengan organisasi mahasiswa Islam lainnya, yakni merupakan kebutuhan dari mahasiswa Nahdliyin untuk menyalurkan aspirasinya secara lebih leluasa, seperti yang dikatakan oleh sahabat Chotibul Umam :
“Jelas bahwa PMII itu dilahirkan atas dasar tuntutan sejarah perkembangan perkembangan pelajar dan mahasiswa NU. Berdirinya PMII semata-mata karena waktunya  sudah tiba dan kepentingannya sudah sangat mendesak untuk mengurusi mahasiswa nahdliyin khusunya secara tersendiri telah datang untuk  para mahasiswa nahdliyin buat berdiri di atas kaki sendiri, membangun suatu gerakan mahasiswa yang lebih dapat dipercaya untuk menjadi alat revolusi. [5])
Itulah motivasi dan latar belakang kelahiran PMII, dan bagaimana hubungannya dengan isi Perjanjian Seni Sono ?. untuk menjawab pertanyaan ini akan penulis kutip pendapat Mahbub Junaidi :
“Perjanjian seni sono itu memang ada tetapi perlu kita ketahui bahwa maksud dari pengakuan HMI sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa Islam, adalah manakala HMI mampu menampung seluruh potensi dan aspirasi mahasiswa Islam yang tergabung di dalamnya. Kenyataannya kelompok mahasiswa Islam Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak tersalurkan aspirasinya dalam HMI.”
“Walaupun kongres ummat Islam itu menyatakan dihadiri 129 organisasi Islam tetapi secara faktual kelompok-kelompok mahasiswa Islam Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak terwakili dalam 129 organisasi ummat Islam itu. Sehingga kita sebenarnya secara moral tidak punya ikatan apapun dengan isi perjanjian seni sono itu. [6])”
Lebih lanjut Mahbub Junaidi mengatakan, dalam Pidato Hari Lahir PMII yang ke 5 :
Macam-macam intimidasi dan pernyataan yang dilemparkan ke muka kita pada saat pergerakan kita ini lahir. Misalnya apa sih perlunya dan maksudnya PMII dilahirkan ?, apakah itu bukan pekerjaan sparatis ?, Apakah itu bukan pekerjaan memecah belah persatuan mahasiswa Islam ?, Apakah itu bukan pekerjaan orang yang dibakar emosi ?, tetapi tidak realistik sama sekali. Buat apa sih mahasiswa itu ikut-ikutan berdiri dibawah bendera partai politik ?, Bukankah mahasiswa Islam itu sebaiknya non partai, bahkan non politik, supaya lebih mantap dia punya kebaktian, supaya lebih obyektif cara memandang persoalan, supaya lebih terjamin mutu ilmunya, bukankah mahasiswa itu cerdik dan bijaksana, ilmu banyak dan akalpun banyak, karena itu sebaiknya menjadi milik ummat Islam saja, dan tidak perlu menjadi milik partai politik, begitulah macam-macam pertanyaan yang timbul disaat PMII lahir, lima tahun yang lalu. [7])”
Itulah reaksi yang timbul ketika PMII lahir seperti apa yang dipaparkan oleh sahabat H. Mahbub Junaidi dalam pidato Panca Warsa PMII. Tentu saja reaksi yang paling keras datang dari HMI. Seperti kita ketahui, basis-basis HMI di perguruan tinggi umum dilumpuhkan oleh CGMI dengan cara mengeliminasi pengaruh HMI pada lembag-lembaga kemahasiswaan, dalam keadaan seperti itu harapan HMI lebih banyak bertumpu pada perguruan tinggi agama atau IAIN, tetapi disinipun HMI justru mendapat saingan keras dari PMII.
Agus Salim Sitompul pernah mengatakan dalam bukunya :
“Karena dominannya HMI di perguruan tinggi sebagai basis kekuatannya, maka HMI harus ditendang dari kegiatan kemahasiswaan dengan jalan menyingkirkan anggota-anggota HMI dari dewan-dewan mahasiswa, Senat mahasiswa, penitia pemilihan, panitia masa perbakti, dengan cara-cara demikian HMI semakin lama semakin kerdil lantas mati dengan sendirinya”………………
“Dihampir semua universitas/pergutuan tinggi negeri/swasta kecuali perguruan tinggi Islam dan IAIN, Anggota HMI dikeluarkan dari Dema/Sema, Panitia masa Perkenalan, serta kegiatan lain yang menyangkut posisi, kecuali kepanitiaan PHBI (panitia hari besar Islam). [8])”
Dalam posisi yang sulit itu jelas HMI sangat mengharapkan tetap bertahannya basis mereka di perguruan tinggi agama/IAIN, Misalnya di UII Yogjakarta dan Universitas Muhammdiyah Jakarta, tetapi kenyataannya kini ada organisasi mahasiswa Islam lain lahir dan organisasi itu begitu cepat berkembang, terutama di IAIN. Hal itu wajar mengingat kultur sebagian besar mahasiswa IAIN berlatar belakang keluarga NU, seperti yang dikatakan oleh Burhan D Magenda.
“Bahwa dari golongan Islam hampir tidak terwakilidalam perguruan tunggi di zaman kolonial, dan hanya sedikit jumlahnya pada zaman demokrasi parlementer. Pada tahun 1960-an kesempatan terbuka lebar bagi mereka yang berorientasi kebudayaan dekat dengan NU banyak yang masuk ke IAIN”. [9])
Dari gambaran di atas jelas bahwa dalam perkembangannya PMII mengalami kemajuan yang luar biasa. Dalam usianya yang baru lima tahun PMII telah memiliki 47 cabang. [10]) Akibatnya ketegangan-ketengangan mulai timbul, terutama di kampus-kampus perguruan tinggi agama/IAIN. Untuk menghindari atau setidaknya mengurangi ketengangan-ketenganggan itu, maka PP PMII yang dipimpin oleh sahabat Mahbub Junaidi datang ke Kantor PB HMI untuk membicarakan persoalan kedua organisasi tersebut. Peristiwa itu pada tanggal 4 Juli 1961. Tapi nampaknya usaha dan uluran tangan PMII itu kurang membawa hasil. Terbukti dengan semakin kerasnya persaingan yang terjadi antara kedua organisasi ini. Ada satu fakta sejarah yang tentu saja pemaparan fakta ini bukan berarti membuka luka lama, tetapi sekedar menegaskan sejarah, apapun bentuk dari lembaran sejarah itu kita harus dapat menarik pejalaran daripadanya.
Ketegangan terjadi antara PMII dengan HMI di Kota Pelajar Yogjakarta, Peristiwanya dimulai tatkala dilangsungkan pidato laporan tahunan Rektor IAIN Sunan Kalijogo Yogjakarta Prof. Sunaryo, SH pada tanggal 10 Oktober 1963. Sidang senat itu akhirnya gagal, sebab ditengah pembacaan laporan itu tiba-tiba seorang pengurus dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijogo tampil kedepan merebut microphon dan membacakan pernyataan yang antara lain mengecam tindakan menteri agama, yaitu KH. Syaifuddin Zuhri yang dituduh melakukan proyek NU-nisasi didalam tubuh Departemen Agama. Bahkan dalam keributan itu seorang anggota PMII di pukul, sehingga hal ini mengakibatkan munculnya protes dari pengurus cabang PMII Yogjakarta.
Disamping pernyataan-pernyataan dari PC PMII Yogjakarta, juga para anggota dewan mahasiswa mengeluarkan pernyataan dengan nada yang sama dengan PC PMII Yogjakarta. Mereka Djawahir Syamsuri, A. Hidjazi AS, A. Nizar Hasyim, Imam Sukardi dan Asnawi Latif, BA.
PERNYATAAN PC PMII YOGJAKARTA
Bismillahirrahmanirrahiem
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
Berhubung dengan terjadinya peristiwa 10 Oktober 1963 di IAIN Yogjakarta maka pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Yogjakarta memandang sangat perlu membuat pernyataan yang berbunyi sebagai berikut :
MENGINGAT        :
  1. Membaca pernyataan dari dewan mahasiswa  IAIN Yogjakarta tanggal 10 Oktober 1963
  2. Pentingnya   keutuhan   mahasiswa      dalam  situasi menghadapi konfrontasi terhadap Malaysia
  3. Terjadinya pemukulan terhadap salah seorang mahasiswa IAIN anggota PMII.
  4. Tindakan-tindakan yang dipelopori oleh dewan mahasiswa IAIN bertentangan dengan Manipol-Usdek, Panca Dharma Bhkati Mahasiswa
  5. Tindakan-tindakan itu mencemarkan nama baik IAIN khususnya pemerintah daerah Yogjakarta dan negara Indonesia pada umumnya.
MENYATAKAN :
  1. Mengutuk  keras  perbuatan  yang  terjadi di IAIN yang bertentangan dengan manipol yang berbunyi “modal pokok bagi tiap-tiap   revolusi nasional menentang imprealisme dan kolonislisme ialah konsentrasi kekuatan nasional dan bukan perpecahan kekuatan nasional (hal 13).
  2. Tindakan itu adalah a-manipol, anti persatuan nasional dan kontra revolusioner yang membahayakan negara.
  3. Bahwa IAIN bukan miliki satu golongan.
MEMUTUSKAN :
  1. Menuntut dibubarkannya dewan mahasiswa IAIN periode 1963 – 1965
  2. Menuntut agar yang berwajib mengambil tindakan tegas terhadap peristiwa pemukulan anggota PMII di IAIN
  3. Menuntut agar diambil tindakan tegas terhadap golongan/ oknum-oknum yang mendalangi peristiwa tersebut
  4. Mendukung sepenuhnya Rektor IAIN dan Menteri agama.
Demikian harap dimakluni
Yogjakarta 10 Oktober 1963
Pimpinan Cabang
Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia
Yogjakarta
H. Ahmadi Anwar, BA
Ketua
Nurshohib Hudan
Sekertaris II
Lampiran:
Sengaja isi pernyataan dari pengurus PMII cabang Yogjakarta ini dimuat secara lengkap agar pembaca dapat melihat dan mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
Pada tanggal 17 Oktober 1963 antar pukul 10.00 – 11.00 telah terjadi demonstrasi oleh sejumlah mahasiswa IAIN Ciputat Jakarta, berjumlah sekitar 500 orang mahasiswa. Para demonstran itu menamakan dirinya komite mayoritas mahasiswa IAIN. Mereka menemui Rektor IAIN Prof. Drs Sunardjo – rektor bersedia menemui mahasiswa dengan didampingi Dekan-dekan Fakultas. Para mahasiswa membawa poster-poster yang bertuliskan:
“IAIN adalah asset nasional, bukan milik golongan/partai, NU-nisasi di Departemen agama = kontra revolusi. [11])
Sumber data ini berasal dari Drs. Ridwan Saidi (Mantan Ketua Umum PB HMI). Selanjutnya akan dipaparkan tanggapan dari KH. Syaifuddin Zuhri, dalam menanggapi peristiwa 17 Oktober 1963 di IAIN Ciputat itu sebagai berikut :
Aksi pengganyangan terhadap NU dilancarkan juga di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat, sekelompok mahasiswa membuat coretan-coretan pada dinding IAIN dan menyebarkan pamflet “Ganyang NU, Ganyang Idham Khalid, Ganyang Syaifuddin Zuhri”, sangat terasa pada saat potensi ummat Islam walau sekecil apapun sedang digalang untuk persatuan dan solidaritas menghadapi usaha Nasakomisasi hampir di semua kegiatan Nasional. Pada saat itu sekelompok mahasiswa IAIN melancarkan kampanye anti NU. Sangat disayangkan sekali, bahwa sebagian besar dari mereka anggota HMI. Dan jika mahasiswa IAIN dari kelompok PMII bangkit membela NU, hal itu bisa dimengerti.
Dalam situasi menghadapi Nasakomisasi dan pentingnya arti persatuan ummat Islam, tiba-tiba sekelompok mahasiswa IAIN melakukan kampanye anti NU dan mengganyang Syaifuddin Zuhri dan Idham Khalid yang keduanya berkedudukan sebagai Menteri. Demontrasi itu dilakukan di dalam Kampus IAIN, sebuah komplek perguruan tinggi Islam miliki Negara. Dengan pertimbangan itulah, maka alat-alat negara menindak beberapa mahasiswa dan dosen IAIN yang dituduh mendalangi. Namun kepada Kapolri Jenderal Polisi Sukarno Saya (maksudnya KH. Syaifuddin Zuhri) yang waktu itu menjabat sebagai Menteri agama, meminta agar mereka dibebaskan. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak kita yang dididik dalam lingkungan lembaga yang dikelola oleh menteri agama. Brigjen A. Manan, pembantu utama Menteri agama dan HA. Timur Jailani, MA kepala Biro Perguruan Tinggi departemen agama dapat berbicara banyak tentang ini. Saya minta kepada mereka berdua, agar hukuman skorsing kepada mereka yang terlibat supaya segera diakhiri, agar mereka bisa aktif kembali (kuliah maupun mengajar) sebagaimana biasanya. [12])
Peristiwa di IAIN Ciputat itu tidak ada penyelesaian yang berarti, bahkan menambah panasnya suasana, terbukti dengan pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh PP PMII dalam kongres II di Yogjakarta mengenai peristiwa tersebut.
“Perlu segera diambil kebijaksanaan baru berupa tindakan-tindakan yang konkrit dan mengurangi kompromi-kompromi serta toleransi yang keterlaluan demi keselamatan IAIN dan revolusi nasional ……………………………………………..
Mendesak kepada pemerintah agar lebih tegas lagi bertindak terhadap anasir-anasir kontra revolusioner yang hendak melumpuhkan IAIN dan menjauhkan diri dari kompromi dan toleransi yang berlarut-larut. [13])
Dari dua peristiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketegangan antara PMII dan HMI adalah merupakan suatu upaya mempertahankan eksistensi PMII di Perguruan tinggi yang kelak akan menjadi basisnya (baca = IAIN). Tetapi bagi HMI, ketegangan-ketegangan itu memang disengaja supaya dapat mempertahankan dominasinya, karena itu merupakan benteng terakhir bagi basis kekuatannya, sebab seperti kita ketahui, sejak permulaan tahun 1960 sampai dengan kelahiran Orde Baru basis kekuatan HMI terpukul habis di perguruan tinggi umum, dan kita dapat memaklumi bila sudah menyangkut soal hidup – matinya organisasi maka siapapun aktivis organisasi itu akan mempertahankan organisasi itu walau dengan cara-cara yang irasional sekalipun. Itulah ironisnya, jika fanatisme golongan lebih tinggi nilainya daripada fanatisme terhadap bangsa yang kita cintai ini.
Catatan menarik lainnya seperti yang dikatakan oleh sahabat Zamroni (yang kala itu menjabat sebagai ketua persedium KAMI pusat), sehubungan dengan HMI :
“…….Sementara di daerah lain, para pemimpin PMII, misalnya di Sumatera Utara, Ujungpandang dan Yogjakarta seperti Saiful Mujab – kala itu jadi tukang pidato membakar massa. HMI sendiri selalu sembunyi. 
Masih gencar-gencarnya KAMI melakukan demonstrasi, tiba-tiba HMI menghadap Bung Karno. Bahkan HMI sampai memberi Peci mahasiswa kepada Bung Karno. Mungkin bermaksud mendekat “cari muka” supaya tidak dimusuhi. Ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap komitmen kita sebagai mahasiswa dan pemuda Indonesia yang tergabung dalam KAMI, yang saat itu sedang giat-giatnya berjuang untuk menumbangkan rezim Orde Lama dan membela amanat penderitaan rakyat.
Begitu pagi-pagi saya bangun tidur, seperti biasanya baca koran. Dalam koran itu diantaranya memuat tentang HMI. “HMI menyerahkan atau meberikan Peci kepada Bung Karno”. Spontan saya marah besar. “Apa-apaan ini. Kita habis melakukan demonstrasi ke Bogor, kok malah HMI begitu”. Kemarahan itu saya tunjukkan kepada Mar’ie Muhammad (Mantan Menteri Keuangan Kabinet VII Orde Baru) dan Sulastomo (Kini Ketua Umum Persaudaraan Haji Indonesia) yang kala itu menjadi wakil HMI di KAMI. Lalu kedua orang ini menjawab: “Tidak tahu, karena tidak ikut ke Istana Bogor. Tapi yang jelas, PB HMI menghadap Bung karno ke Bogor”. Alhasil, membuat saya marah besar. [14])
Masalah hubungan PMII dengan HMI diawal tahun 60-an, memang penuh dengan gejolak perselisihan, tetapi nampaknya ada saat-saat tertentu justru PMII ikut membela mati-matian terhadap eksistensi HMI pada saat kritis. Ada catatan-catatan yang mengungkapkan bahwa pada saat tertentu dapat bekerjasama dengan baik.
Kita ketahui bahwa kondisi ummat Islam pada masa Orde Lama, terutama bagi mereka yang mendapat kontra predikat revolusioner, nasibnya benar-benar berada diujung tanduk. Untuk merapatkan barisan dikalangan organisasi mahasiswa dan pelajar Islam, sebagai implementasi dari semangat ukhuwah Islamiyah, maka pada tanggal 19 – 26 Desember 1964 di Jakarta (atas prakarsa GP. Ansor yang didukung sepenuhnya oleh PMII) diadakan musyawarah generasi muda Islam untuk membentuk suatu wadah yang kelak dikemudian hari dikenal dengan nama GEMUIS. Didalam wadah inilah segenap potensi organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa Islam bergabung, (Menurut Drs. Ridwan Saidi pada waktu itu – tahun 1964 – di Indonesia ada sekitar 36 organisasi pemuda, pemudi, pelajar dan mahasiswa Islam tingkat pusat. Lihat buku : Pemuda Islam dalam dinamika politik Bangsa 1925 – 1984, tulisan Drs. Ridwan Saidi, halaman 46). Dengan wadah GEMUIS inilah generasi muda Islam berjuang “membela dan menyelamatkan HMI” dari gempuran CGMI. Dibawah ini kami kemukakan satu ilustrasi bahwa GEMUIS benar-benar membela HMI pada saat-saat yang kritis dan membutuhkan pertolongan :
“Persedium Majlis Nasional Generasi Muda Islam (GEMUIS) atas nama 25 organisasi anggota dengan 10 juta massa anggotanya dengan kawatnya yang ditandatangani oleh Drs. Lukman Harun selaku ketua persedium telah disampaikan kepada Presiden. Dengan menyampaikan rasa syukur atas kebijaksanaan Presiden mengenai HMI. Dan GEMUIS merasa berkewajiban mengamankan kebijaksanaan tersebut demi terpeliharanya kesatuan dan persatuan Nasional.[15])
Sementara berlangsung penganugrahan bintang Maha Putra di Istana Merdeka untuk DDN. Aidit, pada saat yang sama tidak jauh dari Istana, pada tanggal 13 September 1965 Generasi muda Islam (GEMUIS) Jakarta Raya dengan ribuan massa pemuda mengadakan demonstrasi tertib di Krotar dan PB Front Nasional. Maksudnya untuk menyatakan rasa solidaritas terhadap hidup HMI. Diantara sekian banyak spanduk dan Poster, ada satu diantaranya yang sangat mengharukan, yaitu yang dibawa rekan-rekan HMI sendiri yang berbunyi : Langkahi dulu mayatku sebelum ganyang HMI. [16])
Adapun isi pernyataan GEMUIS Jakarta Raya tersebut selengkapnya sebagai berikut :
Dengan tegas dan tandas menyatakan akan tetap membela HMI sampai titik darah penghabisan dari rongrongan kaum agama phobi. HMI merupakan alat perjuangan ummat Islam dan Bangsa Indonesia, serta memohon kepada Presiden agar HMI diberi kebebasan bergerak disegala bidang. [17])
Kita ketahui, bahwa HMI dituduh kontra revolusioner oleh pemerintahan Orde Lama, dan HMI diberi kesempatan waktu selama 6 bulan untuk memperbaiki dirinya. Pada saat itulah PB HMI datang kepada sahabat Mahbub Junaidi (yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum PP PMII). Secara singkat sahabat Mahbub menceritakan :
Suatu hari datang kepada saya dua tokoh HMI, yaitu Mar’ie Muhammad dan Dahlan Ranuwihardjo, kedatangan kedua tokoh HMI itu bertujuan agar saya dapat mengusahakan satu permohonan langsung kepada Presiden Soekarnoe supaya HMI tidak jadi dibubarkan. [18])
Apakah upaya permohonan yang dilakukan oleh sahabat Mahbub Junaidi itu berhasil atau tidak, lebih lanjut sahabat Mahbub pernah menulis sebagai berikut :
PERTEMUAN DI ISTANA BOGOR
Kami duduk di paviliun, di Bangku rotan, belum lagi sampai pada pokok pembicaraan hujan sudah turun, berikut angin. Karena ruang depan teramat sederhana, kami terpercikkan air, “mari kita pindah kedalam ! kata Bung Karno. “Beginilah nasib Presiden Indonesia, hujan saja mesti ngungsi”, kata Bung Karno. Mulailah kubicarakan perihal HMI, “apanya sih yang salah pada diri HMI itu. Saya orang pernah dari sana, jadi sedikit banyak tahu isi perutnya. HMI itu pada dasarnya “independen” tidak menjadi bawahan partai manapun, tidak juga Masyumi. Coba saja lihat anggota-anggotanya mulai dari tingkat atas sampai tingkat cabang, campur aduk seperti es teler. Perkara belakangan muncul organisasi mahasiswa lain yang juga berpredikat Islam, itu sama sekali tidak merubah warna asal. Coba saja lihat pada waktu pemilu 1955, tiap anggota HMI diberi diberi formulir mau ikut bantu parpol yang mana, ternyata disitu menghadapi saat-saat yang gawat menjelang pecahnya pemberontakan PRRI, langkah apa yang ditempuh Ketua Umum HMI Ismail Hasan Metarium cukup jelas. Banyak jalan menuju roma, seperti banyak jalan dari pada main bubar, dan sebagainya..
Karena seorang Presidenpun perlu makan, maka makan nasi pecellah kami dengan daging dan tempe goreng. Apakah pembicaraan itu punya arti bagi HMI, saya tidak tahu, mungkin ada, mungkin tidak sama sekali. Sekedar tambahan kecil sebelum lupa, baik juga saya catat disini, Menteri agama Syaefuddin Zuhri berdiri persis dibelakang layar pertemuan itu. [19])
Dengan nada merendah Mahbub Junaidi seperti tersebut di atas berkata : “Apakah pembicaraan itu punya arti bagi HMI saya tidak tahu, mungkin ada, mungkin tidak sama sekali”. Sekedar tambahan penulis kemukakan disini, jelas pembicaraan itu punya banyak arti bagi “Keselamatan HMI” , sebab buat apa PB HMI datang meminta tolong pada sahabat Mahbub Junaidi supaya ikut membantu “menyelamatkan HMI, jika beliau tidak dipandang sebagai tokoh yang dekat dengan Presiden ?. Sebagai ilustrasi betapa dekatnya hubungan sahabat Mahbub Junaidi dengan Bung Karno, ada satu pengalaman yang mengharukan antara Bung karno dengan Mahbub Junaidi :
Bagaimanapun hati sepi adalah hati sepi. Pikiran Bung Karno menerobos ke masa depan, tetapi sebagai orang yang puluhan tahun bersama-sama massa, kesendirian adalah suatu beban yang tak tertahankan, Singa Gurun berpisah dengan kelompoknya, bagaimana bisa bercengkrama dengan teman-teman ?, bagaimana bisa berseloroh ?, bagaiamana bisa memuntahkan isi hati yang coraknya senantiasa mondial itu. “Aku ingin ngobrol sambil makan siang dengan Kiyai-Kiyai NU”, dimana mereka itu sekarang, bagaimana caranya Kau bisa atur ? dengarkan baik-baik, cuma makan siang, tidak lebih tidak kurang !.
Di Rumah siapa ? tanyaku.
Siapa saja, Idham boleh, Jamaludin Malik boleh. Mana saja yang sudi mengundangku makan siang. Maka berputar-putarah saya menawarkan keinginan yang teramat sederhana itu……… H. Moh. Hasan, bekas Menteri pendapatan, pengeluaran dan penelitian, dan saat itu menjadi Menteri negara entah apa urusannya.
Baiklah, katanya, maka makan siangpun terjadi di Rumahnya di Jl. Senopati Kebayoran Baru. Hanya makan siang, sesudah itu bubar. Almarhum Kiyai Wahab dan Kiyai Bisri (juga sudah almarhum) pun ikut menemani. Jika tidak seluruhnya, sebagaian tentu ada juga rasa kesepian terobati. [20])
Dalam perjalanan sejarahnya “pertarungan” antara PMII dan HMI. ketika itu memang terasa semakin mengental, entah apa yang menjadi alasan bagi mereka, yang jelas Kafrawi Ridwan dkk di Yogjakarta mendemo Mentri Agama Prof. KH. Saifudin Zuhri. Padahal pada saat-saat yang bersamaan, disamping Sahabat Mahbub Junaidi, para tokoh PB NU sedang sibuk mondar-mandir menghadap Bung Karno agar HMI tidak dibubarkan. Ketua Umum PB NU KH. DR. Idham Chalid dan Mentri Agama Saifudin Zuhri, justru berusaha meyakinkan Bung Karno agar tidak membubarkan HMI. Langkah-langkah yang dilakukan oleh sahabat Mahbub Junaidi dan para Tokoh NU ini diketahui persis oleh sebagian pimpinan PB. HMI, tetapi bagi sebagian yang lain dianggap sebagai angin lalu, dan bahkan dianggap sesuatu yang mustahil dan tidak pernah ada.
Mahbub Junaidi mau melakukan pembelaan itu semata-mata karena ukhuwah islamiyah, dan merasa HMI adalah saudara seperjuangan sesama mahasiswa Islam. Ketika itu sahabat Mahbub Junaidi merupakan tokoh mahasiswa – satu-satunya – yang mempunyai akses langsung kepada Presiden Sukarno.[21]
Pengungkapan fakta ini bukan maksud Penulis ingin agar jasa-jasa PMII (kalaupun apa yang diperbuat PMII itu dianggap punya arti bagi HMI) untuk selalu dikenang dan berarti HMI punya hutang budi pada PMII. Kita hanya ingin agar hubungan yang tidak baik antara kedua organisasi itu dapat diakhiri sehingga tidak lagi terdengar berita-berita yang saling menjatuhkan juga saling memojokkan. Karena banyak sekali kasus-kasus yang menimpa warga PMII akibat diskriminasi pihak-pihak tertentu, seperti adanya ancaman Rektor salah satu perguruan tinggi Islam yang terbesar dan tertua di Yogjakarta, menggugat mahasiswanya lantaran sebagian dari mereka berhasil mendirikan Komisariat PMII yang ternyata berkembang dengan pesat. Atau kasus-kasus lain yang terjadi di berbagai perguruan tinggi, padahal rata-rata mereka memiliki prestasi studi yang dapat dibanggakan. Atau bahkan kasus tindakan diskriminasi dimana kader HMI menjadi salah satu korbannya.  Ironis sekali jika kasus-kasus itu sampai hari ini masih terjadi hanya lantaran rasa dendam kesumat yang tak kunjung berakhir,  pada akhirnya akan merugikan kedua belah pihak dan menghambat proses Pergerakan  Mahasiswa.
Sumber: Buku “PMII Dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan”, Fauzan Alfas dan TulisanKarebet
Sumber Referensi

[1]  Drs. Agus Salim Sitompul, Sejarah Perjuangan HMI (1947 – 1975), PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1976, Halaman 36
[2]  Ibid, Halaman 39
[3]  Fauzan Alfas, Ke-PMII-an, Materi ke-PMII-an pada Mapaba PMII Cabang Malang tahun 1989, Halaman 2
[4]  Onghokham, Angkatan Muda Dalam Sejarah dan Politik, Prisma No. 12 Desember 1977, halaman 21
[5]  Drs. Chotibul Umam,  Sewindu PMII, PC PMII Ciputat, Jakarta, 1967, Halaman 3
[6]  Wawancara dengan H. Mahbub Junaidi di Arena Muktamar NU ke 27 di Situbondo, Jawa Timur. Tanggal 8 – 12 Desember 1984
[7]  Mahbub Junaidi,  Pidato Panca Warsa PMII, Tanggal 17 April 1965
[8]  Agus Salim Sitompul,  Loc-Cit, Halaman 49
[9]  Burhan D Magenda,  Gerakan Mahasiswa dan Hubungannya dengan Politik: Suatu Tinjauan, Prisma No. 12 Desember 1977, Halaman 8
[10]  Mahbub Junaidi, Loc-Cit, Halaman 3
[11]  Drs. Ridwan Saidi, Antara Dongeng dan Sejarah, dalam PPP, NU dan MI, Gejolak Politik Islam, Integrita Press, Jakarta, 1984, Halaman 57
[12]) Suaefuddin Zuhri, Mengalihkan masalah NU-MI menjadi issu Orde  lama Orde Baru, Dalam PP, NU dan MI, Gejolak Politik Islam, Integrita Press, Jakarta, 1984, Halaman 42
[13]  Drs. Ridwan Saidi, Loc-Cit, Halaman 58
[14]  Drs. HM. Zamroni, PMII dan Proses Orde Baru, dalam Pemikiran PMII dalam berbagai Visi dan Persepsi, Effendy Choiri dan Choirul Anam, Aula, Surabaya, 1991, Halaman 95 – 96
[15]  Agus Salim Sitompul, Loc-Cit, Halamat 64
[16]  Agus Salim Sitompul, Loc-Cit, Halaman 64
[17]  Ibid, Halaman …
[18]  Wawancara dengan Sahabat Mahbub Junaidi, di arena Muktamar NU ke 27 di Situbondo Jawa Timur, 1o Desember 1984
[19]  H. Mahbub Junaidi, Fakta harus dijunjung tinggi seperti Mertua, catatan untuk seperempat abad Syaefuddin dan Bung Ridwan, dalam PP, NU dan MI, Gejolak Politik Islam , Integrita Press, Jakarta, 1984, Halaman 33
[20]  Mahbub Junaidi, Sukarnoisme, Suatu ujian sejarah dalam 80 Tahun bung karno, Sinar Harapan, Jakarta, 1982, Halaman 258
[21] )  HA. Baidhowi Adnan, M. Zamroni: Pejuang Yang Konsisten, dalam    Pendahuluan Kilas Balik Perjuangan Zamroni, Penerbit PB. PMII, 2005, Halaman 4.

Benang Merah Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Atlantis Dan Negeri Saba’

Waah, saya jadi tertarik lagi untuk posting ini buat sahabat-sahabat semua. Karena artikel ini merupakan sebuah penemuan yang mengaitkan tentang peradaban atlantis yang banyak dibicarakan orang dengan sejarah Kerajaan Nabi Sulaiman, Alaihissalam seperti yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

Huft,,, langsung aja deh, masih dari blog yang sama. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Apabila semua ini benar, berarti bangsa indonesia merupakan bangsa pewaris peradaban yang mulia. Kita sebagai Insan Islam Indonesia juga patut berbangga, dan pastinya harus mampu untuk mempertanggugjawabkan identitasnya sebagai pewaris peradaban Kerajaan Nabiyulloh ini. Cekodot…!!!

Bismillahirrohmanirrohim,,,,,
__________________________________________
Benang Merah Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Atlantis Dan Negeri Saba’

Posted by Ahmad Yanuana Samantho on September 5, 2012 in Atlantis Sunda Land

Ini Hipotesis dari KH Fahmi Basya dan para Muridnya, mengenai kebenarannya tentu masih harus diteliti lebih lanjut secara komprehensif dan detail. (Red. Ahmad Yanuana Samantho)

Kajian Sejarah: Menarik Benang Merah Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Atlantis Dan Negeri Saba’

Indonesia selain dikenal sebagai pewaris Peradaban Benua Atlantis yang hilang, dikenal juga sebagai Pusat Peradaban Negeri Saba’

Ada pembahasan yang cukup menarik dan sekaligus sangat menggelitik pikiranku, yaitu seperti yang pernah saya baca mengenai sebuah kajian tentang “INDONESIA NEGERI SABA” yang disampaikan oleh KH. Fahmi Basya, Beliau menggambarkan begitu detil sekali berawal dari pembahasaan Al-Qur’an Surat Saba’ ayat 18 sebagai berikut:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ

“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah padanya beberapa malam dan siang dengan aman.”
[QS. Saba’/34: 18]

Ya sebelum membahas Negeri Saba’, silahkan baca terlebih dahulu: Fakta Ilmiah: Benua Atlantis Yang Hilang Itu Ternyata Indonesia, karena nanti kita akan menemukan benang merahnya.!

Indonesia Negeri Saba’
Ternyata berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, bahwa sebenarnya “CANDI BOROBUDUR” adalah bangunan yang dibangun oleh “TENTARA NABI SULAIMAN” termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Alqur’an sebagai “ARSY RATU SABA”, sejatinya PRINCES OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung-patung di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting. Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku Jawa yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting ( perhatikan patung Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).

Hasil riset tersebut juga menyimpulkan bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran-ajaran LUKMANUL HAKIM sebagaimana tertera dalam Alqur’an. Perlu diketahui bahwa satu-satunya nabi yang termaktub dalam Alqur’an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi Sulaiman As dan negeri yang beliau wariskan ternyata secara kebetulan diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU yaitu Sukarno, Suharto, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta meninggalkan negeri bernama SLEMAN di Yogyakarta – Jawa Tengah. Nabi Sulaiman As mewarisi kerajaan dari Nabi Daud As yang dikatakan didalam Alqur’an dijadikan Khalifah di Bumi ( menjadi Penguasa Dunia dengan Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah “SYAILENDRA” , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata saila dan indra, saila = gunung dan indra = raja.

Jadi sebenarnya Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri 12 suku, tapi mereka menamakan diri suku ke 13 yaitu Suku Khazar (yang asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami diaspora dengan penduduk lokal, posisi suku Khazar ini mayoritas di seluruh dunia. Sedang Yahudi asli Telah menghilang yang dikenal sebagai suku-suku yang hilang “The Lost Tribes” yang mana mereka pergi ke timur dan banyak yang menuju ke “THE PROMISED LAND” yaitu Indonesia.

Dan kalau kita merunut lagi kembali seperti apa yang telah disampaikan oleh KH. Fahmi Basya tentang Candi Borobudur, maka akan semakin tampak jelas bahwa ketika beliau menjelaskan tentang Negeri Saba’ disitu dikatakan bahwa sebuah pemerintahan yang sangat kuat karena dipimpin oleh Nabi Sulaiman As dan Ratu Balqis dari hasil riset dengan di dukung oleh data-data yang ada, maka terbukti bahwa NEGERI SABA’ itu adalah INDONESIA dengan pusat pemerintahan di Jawa dan ARSY SABA’ yang dipindahkan atas perintah Nabi Sulaiman As adalah Candi Borobudur yang dipindahkan dari Istana Ratu BOKO, dan NEGERI SABA’ inilah yang kemudian dikatakan oleh KH Fahmi Basya ada kemiripan antara Cerita dengan BENUA ATLANTIS yang hilang itu. Dan sungguh luar biasa kalau fakta itu benar, berarti Negeri ini telah mewarisi peradaban besar bangsa-bangsa.

Kembali ke pembahasan tentang NEGERI SABA’ ada 15 (lima belas) point penting yang menjadi bukti berdasarkan Al-Qur’an bahwa SABA’ itu ada di pulau Jawa (Indonesia) dan bukan di YAMAN!

1. Di buku-buku Ilmu Sejarah kita disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan pada abad ke-7 Masehi, tetapi menurut Teori paruh waktu , bahwa penelitian terhadap batu candi tersebut tidak bisa dihitung umurnya dengan Isotop C (Carbon). Sehingga bisa ditarik Hipotesa, bahwa Candi Borobudur tidak dibuat pada abad ke-7 Masehi.

Candi Borobudur

2. Adanya phenomena angka 19 di Candi Borobudur. Adapun mengenai phenomena angka 19 itu terdapat di dalam Alqur’an berasal dari kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim yang terdiri dari 19 huruf. Kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim ini yang memperkenalkannya kepada kita adalah nabi Sulaiman As. ketika beliau berkirim surat kepada Ratu Saba’

Kop Surat dari Surat nabi Sulaiman As itu adalah kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim .

Isi suratnya adalah: ” Alla ta’luu ‘alaiyya, wa’tuunni muslimiin ” ( Jangan menyombong kepadaku dan datanglah kepadaku dengan berserah diri ). Dan perlu diketahui surat itu sampai sekarang masih ada yaitu di Musium Nasional berupa lempengan emas bertuliskan Bismillah, surat itu awalnya ditemukan dikolam dekat Candi borobudur.

Lempengan emas bertuliskan kalimat ‘Bismillah”

Jadi, dapat dikatakan bahwa phenomena 19 itu sudah diketahui oleh Nabi Sulaiman As. Oleh sebab itu di Candi borobudur ada phenomena 19.

Phenomena angka 19

3. Adanya phenomena posisi tiga buah candi terletak segaris lurus, yaitu: Candi Borobudur, Pawon dan Mendut.

Karena yang membuat Candi Borobudur itu bukan manusia saja, tetapi juga Jin, maka segaris lurusnya tiga candi, yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut, bukanlah hal kebetulan. karena Jin bisa melihatnya dari atas.

Untuk apa mereka membuat ketiga candi itu segaris lurus?

Untuk membuat gambar Gerhana. Dengan demikian mereka memberitakan bahwa Borobudur itu gambar Matahari, Pawon itu gambar Bulan dan Mendut adalah gambar Bumi. Itu sebab Mendut mewakili Manusia. Disana ada sebuah patung Manusia sebagai wakil penduduk bumi adalah manusia.

Mengapa Borobudur itu gambar Matahari.? Karena Ya..si Ratu Saba’ itu dulunya kan penyembah Matahari, jadi ‘Arsy dia itu ada nuansa mataharinya.

4. Diceritakan pula di dalam Al-qur’an istananya berbentuk piring-piring dan patung-patung, sementara itu candi borobudur berbentuk piring dan banyak patung-patungnya, disinyalir patung Nabi Sulaiman As.

5. Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman As. dan Indonesia adalah negeri SABA yg diceritakan Al-qur’an dalam surat As-Saba (34). karenanya ada nama daerah Sleman di DI. Yogyakarta – Jawa Tengah yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Peta Sleman DI Yogyakarta

6. Sementara itu masih di kota Jogjakarta, tepatnya di daerah Prambanan ada candi ratu Boko yang di ambil dari nama Ratu Bulqo/Bilkis.

Candi ratu Boko

Kolam Pemandian di Candi ratu Boko

7. Di dalam Qur’an Surat As-Saba tanda-tanda daerahnya ada buah pahit, sementara disekitar candi borobudur ada buah: Mojo Pahit. bahkan sebuah kerajaan besar yang pernah jaya di pulau jawa dulu rela menamakan kerajaannya dengan nama Kerajaan Majapahit.

Peta Kesultanan Islam Majapahit

8. Lalu diceritakan di dalam Al-qur’an lagi: bahwa daerah Saba’ dikelilingi dua hutan, sementara itu Borobudur disana ada daerah Wanagiri dan WanaSABA, dimana dalam kamus bahasa jawa kawi; wana = hutan, saba = pertemuan.

9. Dimana seperti dalam Alqur’an Nabi Sulaiman menggunakan dua lembar kain dan kain yang luar adalah sutra seperti patung di candi yang terdapat lipatan sutra.

10. Diceritakan lagi di Nabi Sulaiman sering beristirahat dan berlibur di pantai sebelah timur negeri Saba, sementara di sebelah timur Indonesia deket papua ada pulau Solomon, yang di ambil dari nama Nabi Sulaiman As.

11. Relief-relief di candi mengambarkan cerita tentang Nabi Sulaiman diantaranya gambar burung yang mengantar surat kepada ratu Bilkis.

Sedangkan relief yang bergambar burung berkepala manusia, memberikan penjelasan bahwa burung hud-hud tersebut bisa berbicara dengan Nabi Sulaiman.

12. Di dalam Al-Qur’an surat As-Saba’ diceritakan negeri SABA telah di azab Allah karena penduduknya kufur dan tidak beriman, yaitu berupa dengan mengirim banjir besar yang menghancurkan negeri Saba’ menjadi berkeping-keping. Karenanya hanya Indonesia-lah satu-satunya negara di Dunia yang mempunyai 17.000 pulau lebih.

13. Indonesia adalah negeri SABA yang hilang, yang oleh Plato dan para ilmuwan barat diistilahkan benua Atlantis yang hilang.

14. Diantara Ribuan jumlah para Nabi, hanya Nabi Sulaiman As yang mempunyai nama Jawa yang berawalan “SU”, sebagaimana Suparmin, Suharto, Sukarno, Supratman, Sulistyono dll.

Nama jawa (Misal: SUlistiyono)

15. Adanya angin muson di Indonesia semakin menguatkan bukti bahwa Indonesia adalah negeri Saba’.

Dan masih banyak lagi fakta-faktanya yang lain.!

Nah kalau hasil penelitian ini benar adanya, bahwa yanag dimaksud dengan Negeri Saba’ adalah Indonesia hasil peninggalan Nabi Sulaiman As dan Ratu Bulqis. Sungguh luar biasa bangsa ini, kita telah mewarisi peradaban yang mulia tersebut. Wallahu ‘alam bissawaab.

sumber:
http://ssq-dla.com
http://id.wikipedia.org
http://rudycoolarema.blogspot.com
http://indonesianspaceresearch.blogspot.com

Fakta Ilmiah : Benua Atlantis Yang Hilang Itu Ternyata Indonesia

Berawal dari ngopi2 bersama sahabat-sahabat, tanpa disadari perbincangan mengarah ke pembicaraan tentang peradaban Atlantis yang konon adalah di Indonesia. Saya jadi penasaran untuk mencari tahu tentang berita tersebut. Akhirnya, selesai Ngopi, saya langsung buka laptop untuk memuaskan gairah keingintahuan saya akan topik yang menarik ini. Setelah browsing beberapa menit. Mbah google membuat saya bertamu di blog yang berkaitan dengan topik tersebut. Blog Ahmad Yanuana Samantho, S.IP, MA -lah yang menyuguhkan hidangan berita ini. Isinya membuat saya bercumbu dengan laptop hingga berjam-jam dalam satu blog yang sama. Keren dan Inspiratif.

Ting…!!! Akhirnya terlintas difikiran saya untuk memposting kembali berita dari blog tersebut dengan harapan sahabat bisa membaca dan mengambil sebuah benang merah dari tulisan ini. Meskipun artikel copas, yang penting bermanfaat dan tetap mengatasnamakan penulis beserta blog-nya sebagai penghormatan untuk author aslinya. Oke langsung saja ! Semoga bermanfaat  bagi kita semua… Cekidot…!!!

____________________________
Fakta Ilmiah : Benua Atlantis Yang Hilang Itu Ternyata Indonesia

Oleh : Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Gambaran tentang Benua Atlantis sepenuhnya bersumber dari Catatan Plato (427 – 347 SM) dalam dua karyanya, yaitu Timaeus dan Critias. dalam bukunya yang diberi judul Timaeus, Plato bercerita sangat menarik tentang Atlantis, Berikut ini kutipannya:

“ Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.”

Terjemahan Latin Timaeus, dibuat pada abad pertengahan.

Plato menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Prof. Arysio Nunes dos Santos, seorang atlantolog, geolog, dan fisikawan nuklir asal Brazil, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia mempublikasikan hasil penelitiannya dalam sebuah buku : Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru / Sumeru / Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower) , Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Peta Atlantis menurut Arysio Nunes dos Santos dalam bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Found terletak di Indonesia.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk / posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni :

pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.

Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***

* Penulis adalah Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis

Silakan lihat video Wawancara Ekslusif bersama Prof. Arysio Santos tentang Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization Via YouTobe.com

sumber:

http://www.atlan.org/articles/checklist/, diakses pada Agustus 2005
http://www.atlan.org/articles/egyptian_temple1/
http://www.atlan.org/articles/old_world.html
http://www.akhirzaman.info, diakses pada 08/06/2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Atlantis, diakses pada 08/06/2012
http://www.anneahira.com/sejarah-benua-atlantis-8753.htm,diakses pada 08/06/2012

Biografi : Al-Razi (Rhazes)

Al-Razi adalah tokoh muslim yang tidak suka menghabiskan waktu hanya berdiam diri tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat yang menambah ilmunya. Dalam usianya yang relatif remaja, al-Razi sudah tekun menuntut ilmu dari sejumlah ilmuwan. Karena pemikirannya, al-Razi menjadi tempat menimba ilmu serta menjadi rujukan banyak kalangan. Di barat dikenal dengan sebutan Rhazes. Lahir di Ray, Iran tahun 865 M. Nama populernya adalah Abu Bakar al-Razi. Dibidang pengobatan, al-Razi pernah berguru kepada Humayun bin Ishaq di Baghdad kemudian menerapkan apa yang diperolehnya itu dengan melakukan pengobatan terhadap pasien yang menderita penyakit. Dalam beberapa waktu kemudian, kareana dianggap berkompeten di bidang medis, al-Razi di angkat menjadi direktur di sebuah rumah sakit megah yang berada di wilayah Ray dan Baghdad.

 Di bidang ini ada sebuah karya al-Razi yang sangat berharga yang berjudul al-Hawi. Buku ini merupakan
dilakukannya guna mendapatkan penawar (obatnya). Diantaranya adalah mengenai penyakit cacar dan campak yang banyak membawa korban kala itu. Penyakit campak menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan. Pendapatnya disampaikan dalam bukunya yang berjudul al-Judari wa al-Hasbah. Dalam buku tersebut, al-Razi memberikan komentarnya soal fenomena penyakit cacar termasuk gejala-gejala yang dialami oleh penderita. Rangkuman dari ilmu kedokteran Arab, Yunani bahkan Syiria. Demikian bermutunya, buku tersebut diselesaikan dalam rentang waktu yang amat lama, sekitar lima belas tahun, terdiri dari 20 jilid. Dalam karya terjemahan yang bernama Continens telah berkali-kali dicetak ulang sejak tahun 1486. Karena kepopulerannya ini bahkan al-Razi dijuluki sebagai ilmuawan kedokteran setelah Ibnu Sina.

Penelitiannya yang mutakhir tentang berbagai penyakit adalah suatu hal di antara banyak hal yang
Di tengah-tengah kesibukannya dalam mendalami berbagai ilmu pengetahuan al-Razi juga mengisi waktunya dengan mempelajari musik termasuk musik instrumen atau alat-alat music. Ketakjubannya terhadap musik kemudian dibukukannya dalam karyanya yang berjudul Fi Jamal al-Musiqi (Keindahan Seni Musik). Pada tahun 925 al-Razi wafat kemudian di daerah kelahirannya di Ray, Iran. Sejatinya, generasi Islam sekarang hendaknya memiliki kemampuan dalam mencontoh semangat belajar al-Razi.

Biografi : Pramoedya Ananta Toer.


Pramoedya Ananta Toer, anak sulung bapak Mastoer dan Ibu Oemi Saidah. Ayahnya yang lahir pada 5 Januari 1896  berasal dari kalangan yang dekat dengan agama Islam, seperti misalnya jelas dari nama orang tuanya, Imam Badjoeri dan Sabariyah. Ayah Mastoer menjadi naib di sebuah desa di Kediri: mula-mula di Plosoklaten, Pare, kemudian di Ngadiluwih. 

Sedangkan ibunya adalah anak penghulu Rembang yang lahir pada tahun 1907   dari selirnya, setelah melahirkan anak, selirnya itu diceraikan dan diusir dari kediaman penghulu. Anak selir itu bernama, Oemi Saidah, diasuh dalam keluarga Haji Ibrahim dan Hazizah. Saidah lulus HIS pada 1922, namun tidak mendapat izin melanjutkan studi ke Van Deventersscholl (sekolah kerajinan untuk gadis) di Semarang seperti yang diharapkannya, sebab sudah bertunangan dengan guru Toer yang tidak bersedia menunda perkawinan pak Toer yang umurnya baru 15 tahun.

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, jawa tengah 6 Februari 1925 . Pram begitu mencintai ibunya, menurut Pram ibunya dianggap sebagai “wanita satu-satunya di dunia ini yang kucintai dengan tulus, dikemudian hari menjadi ukuran Pram dalam menilai setiap wanita’ dan yang tidak kalah penting Pram juga mencintai neneknya, ibu kandung ibunya. Maka tidak heran jika banyak sekali dalam novel-novel Pram menampilkan tokoh perempuan.

Walaupun ayahnya menolak untuk menyekolahkan Pram, tetapi Pram masih sempat belajar kejuruan radio di Surabaya, berkat usaha ibunya yang mulai berdagang padi dan lain-lain. Namun pada hari ujian akhir terdengar kabar yang mengejutkan, pesawat terbang jepang menyerang pelabuhan Pearl Harbour, dengan demikian Perang Dunia II juga mulai berkobar di daerah Asia Timur dan Lautan Pasifik .

Pada 2 Maret 1942 tentara Jepang yang mendarat di pantai utara Jawa telah mencapai Blora. Tentara Belanda melarikan diri tanpa perlawanan. Pada awalnya tentara Jepang disambut dengan meriah oleh penduduk setempat. Karena pemerintahan Belanda tiba-tiba menghilang, terjadi semacam anarki, took-toko Cina dirampas dan serdadu  Jepang ikut mencuri barang-barang penduduk, dan melampiaskan hawa nafsunya. Namun dalam waktu beberapa hari tentara Jepang mengembalikan ketertiban umum dengan keras .

Pada awal penjajahan Jepang, Pak Toer dan keluarganya ditimpa musibah Ibu Oemi Saidah yang lama mengidap penyakit TBC sejak beberapa bulan semakin parah dan meninggal pada 3 Juni 1942.Satu hari kemudian disusul oleh anak bungsunya, Soesanti, yang baru berumur tujuh bulan. Pada saat peristiwa tersebut Pram tidak berada di Blora. Kematian ibunya bagi Pram merupakan kehilangan yang paling menyedihkan .

Pengalaman dengan orang disekitarnya pada waktu ibunya meninggal dan hal-hal yang terjadi sesudahnya menjadikan Pram kehilangan kepercayaan pada sesama manusia, dan Pram merasa tidak betah lagi di Blora. Pada saat ziarah ke kuburan ibunya, Pram pamit kepada almarhumah ibunya dan Pram berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik.

B. Setapak Sejarah Menuju Realisme Sosialis – Biografi Pramoedya Ananta Toer

Atas nasehat ayahnya, bersama adiknya, Pram berangkat ke Jakarta. Pram tinggal bersama pamannya. Pamannya juga yang mendaftarkan Pram ke sekolah taman Siswa, khusus Taman Dewasa (SLP) yang diakui oleh pemerintah Jepang. Pram cepat menyesuaikan bahasa Indonesianya, yang pada awalnya kejawa-jawaan, dengan logat Melayu .

Berkat ijazah mengetiknya, Pram diterima di kantor berita Jepang Domei sebagai juru ketik. Di tempat kerja pandangan Pram semakin luas. Pram sempat membaca berbagai macam informasi yang masuk redaksi. Keuntungan terbesar Pram adalah kesempatan memanfaat buku rujukan yang ada di ruang redaksi. Ensiklopedia belanda yang terkenal dengan nama Winkler Prins membuka matanya terhadap dunia ilmu pengetahuan .

Namun, hasil yang Pram Ananta Toer peroleh tidak memuaskannya. Karena tidak mempunyai ijazah sekolah menengah, Pram tidak dapat kenaikan pangkat. Pekerjaan di kantor semakin membosankan dan Pram mulai sadar bahwa pekerjaan baru sebagai stenograf sebab  Pram merasa menempuh karier sebagai hamba, bukan sebagai manusia bebas. Apalagi saat Pram diminta untuk mengerjakan sebagai stenograf buku baru Mohammad Yamin, mengenai Gajah Mada, Pram semakin memberontak karena merasa diperlakukan sebagai kuli. Sehingga Pram beberapa kali minta berhenti, namun tidak pernah dikabulkan. Pram lalu meninggalkan tugas tanpa seizin Jepang, dan hal tersebut dianggap sebagai dosa yang hanya bisa ditebus dengan jiwa, Pram kemudian melarikan diri lewat Blora , kemudian di Kediri tepatnya di desa Ngadiluwih.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tetapi hal tesebut tidak serta merta diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia. Pram kemudian pergi ke Ngadiluwih, di sana Pram mendengar kabar tentang kemerdekaan Indonesia. Lewat Kediri dan Surabaya Pram pulang ke Blora; di sana Pram menyaksikan pertunjukan drama tentang penjajahan Jepang yang berakhir dengan proklamasi 17 Agustus. Namun, Pram tidak lama tinggal di Blora, tergesa-tergesa Pram berangkat ke Jakarta, di mana Pram menyaksikan Jakarta dalam keadaan kacau; tentara Jepang praktis masih berkuasa; tentara Sekutu mulai tiba di Indonesia untuk mempertahankan ketertiban umum dan melucuti senjata tentara Jepang. Tetapi pemuda Indonesia yang curiga dan tidak sabar lagi mulai ‘bersiap’ untuk mempertahankan tata tertib dalam kampung masing-masing .

Pram juga ikut menggambungkan diri dengan pertahanan kampung. Ikut menyerbu tangsi marine Jepang, sampai akhirnya terkepung oleh tentara Australia. Pada Oktober 1945, Pram menggambungkan diri dengan BKR (Badan keamanan Rakjat) dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Banteng Taruna yang kemudian menjadi inti divisi Siliwangi, sebagai prajurit II. Dalam waktu cepat meningkat jadi sersan mayor .

Pada 1 januari 1947 Pram berhenti dengan resmi dari tentara. Pram pada masih tinggal di Cikampek, menuggu gaji yang sudah 7 bulan tidak dibayar. Tetapi gaji tersebut tidak pernah dibayarkan. Dengan tanpa uang Pram menuju ke Jakarta dalam keadaan kelaparan, dan naik kereta api tanpa membeli karcis. Pada bulan yang sama .

Pada waktu upacara di Lapangan Merdeka, Pram hadiri bersama tunangannya seorang gadis yang Pram lihat pada tahun 1946 di Cikampek.  Pram melamar gadis tersebut ketika masih berada di dalam penjara, meskipun dengan ‘bersyarat’, namun lamaran itu diterima. Setelah pembebasannya, Pram mengunjungi rumah gadis tersebut kemudian tinggal di sana. Pernikahan  dilangsungkan karena Pram merasa sanggup membina masa depan, sebab namanya mulai terkenal, cerita pendeknya makin laris, lagi pula Pram juga memenangkan hadiah pertama pada novel Perburuan, yang besarnya seribu rupiah, dalam sayembara Balai Pustaka. Perkawinannya dilangsungkan pada 13 Januari 1950. Namun akhirnya mereka bercerai, setelah sekian lama membina rumah tangga .

Pada pekan buku Gunung Agung, September 1954, Pram berkenalan dengan Maimunah, anak H.A. Thamrin, saudara kandung nasionalis terkenal Mohammad Husni Thamrin. Dengan cepat Pram berhubungan akrab. Kemudian Pram menikah dengan Maimunah, wanita yang membawa kebahagiaan dan harapan baru dalam hidup Pram. Maimunah ternyata berani menempuh hidup yang sangat bergejolak dengan Pram, Maimunah tabah membela dan memperjuangkan suami dan keluarganya, juga dalam kemalangan dan kesusahan yang paling berat yang menimpa Pram, dan sampai sekarang ibu Maimunah setia mendampingi Pram .

Pengalaman pertama dari segi perkembangan kepengarannya dihayati oleh Pram sebagai sesuatu yang penting dan juga positif. Pada masa suram tersebut ada undangan dari Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, untuk memberi ceramah pada Simposium untu HUT ke-5, yang diadakan pada 5 Desember 1954. Undangan itu disampaikan kepada Pram oleh ketua senat Bagi Pram sebagai orang tidak mengenyam pendidikan, tugas itu merupakan ujian berat, namun Pram mendapat bantuan moril karena ibu Maimunah pada kesempatan itu mendampinginya. Tampilnya cukup berhasil dan memperkuat rasa percaya diri Pram .

Kehidupan Pram dengan pernikahan yang kedua ini membaik. Setelah bulan mereka mendapat rumah yang lumayan, anak pertama hasil pernikahan keduapun lahir, disusul dengan anak yang kedua, dan yang penting juga kontak social, terutama dengan dunia kepengarangan makin berkembang. Orang yang paling sering mengunjunginya ialah A.S. Dharta, penulis marxis, yang aktif dalam Lekra sejak didirikan (1950). Pram mulai membuka mata bagi pentingnya politik, juga dalam dunia seni.

Peristiwa yang amat menentukan bagi Pram berlangsung pada Juli 1956. Pram mendapat kunjungan wakil kedutaan Cina yang membawa undangan menghadiri peringatan hari wafat kedua puluh Lu Hsun, pengarang revolusi Cina yang terkenal. Dengan persetujuan dr. Prijono, menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu, Pram menerima baik undangan itu. Perjalanan di Cina pada Oktober 1956 menimbulkan kesadaran baru bagi jiwanya .

Karena perjalanan tersebut orang mulai menuduhnya memihak komunis, bahkan telah menjadi komunis. Semangat baru yang diperoleh berkat pengalaman di Cina mendorongnya menjadi aktif di Indonesia, ketika berita mengenai konsepsi Presiden Soekarno tentang demokrasi terpimpin mulai tersiar, Pram menulis karangan yang mendukung politik presiden, dalam Bintang Merah 24 Febuari 1957, yaitu organ resmi PKI. Kemudian bersama Henk Ngantung dan Kotot Sukardi, Pram mengorganisasikan kelompok seniman, lalu pada Maret 1957, mereka bertiga memimpin delegasi besar menghadap presiden, menyatakan dukungan bagi konsepsi tersebut .

Sejak itu, Pram mulai terkenal aktif di bidang politik. Pram diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Golongan Fungsional Kementrian Petera (Pengarahan Tenaga Rakyat). Dalam kapasitas itu Pram melakukan peninjauan kerja bakti di Banten; kerja bakti itu bertujuan ‘memperbaiki jalan yang melintang dari utara sampai selatan Karesidenan Banten, sepanjang 65 km’.

Sebelumnya, Pram sudah aktif di bidang lain; Pram ikut mendirikan Panitia Nasional untuk konfrensi pengarang asia afrika, dengan sokongan sebagai instansi pemerintah. Pada 7 September 1958, delegasi yang dipimpin oleh Pram berangkat ke Tasjkent, tempat konfrensi diadakan; nampaknya Pram memainkan peran yang cukup penting dalam penyusunan resolusi dan rencana kerjanya. Seusai konfrensi itu, Pram mengunjungi berbagai tempat di Uni Sovyet dan Cina, kemudian pulang lewat ibu kota Myanmar, Rangoon, di mana Pram bentrok dengan staf Kedutaan R.I. yang menurut Pram tidak bersedia membantu dan melayaninya dengan baik.

Sekembalinya di Indonesia Pram untuk pertama kalinya dilibatkan secara resmi dalam Lekra: dalam kongres nasional Lekra yang di adakan di Solo antara 22 dan 28 Januari 1959, Pram terpilih sebagai anggota pimpinan pleno. Sejak itu namanya tidak lepas lagi dari organisasi kebudayaan yang berada di bawah naungan PKI.  Hal itu terutama tampak dalam pembentukan Fron Nasional di mana PKI dengan resmi diikutsertakan dan dalam tekanan makin kuat pada konsep Nasakom. Kongres Solo membawa juga pergeseran fundamental dalam garis policy Lekra. Pada kongres itu pimpinan PKI, Nyoto, dalam cermahnya dengan judul ‘Revolusi adalah Kembang Api’ mengemukakan bahwa politik harus menjadi pedoman di segala bidang kehidupan, termasuk kebudayaan. Pada tahun berikutnya, Lekra mengambil alih semboyan ‘Politik adalah Panglima’. Nyoto sebagai dasar keyakinan budayanya, dan Pram menjadi penyambung lidah ideologi kebudayaan, antara lain lewat kegiatannya sebagai redaktur Lentera, lampiran kebudayaan harian Bintang Timur .

Tetapi sebelum sempat memainkan peran terkemuka di bidang kebudayaan, khususnya lesusastraan revolusioner, Pram masih harus mengalami penderitaan yang pernah Pram sebut sebagai siksaan terberat dalam hidupnya, yaitu penahanan dalam penjara selama sembilan bulan disebabkan oleh terbitnya bukunya Hoa Kiau di Indonesia. Buku yang keluar pada Maret 1960 itu merupakan suntingan kembali sembilan surat terbuka yang di terbitkan Pram dalam Berita Minggu pada masa November 1959-an Februari 1960. surat-surat itu ditulis’ sejak terjadinya gegeran Hoakiau di Indonesia .

Sejak 1956, makin banyak terdengar suara anti Cina di Indonesia; latar belakang sikap itu bermacam-macam: ada anasir rasialis yang secara laten selalu hadir, ada aspek ekonomi, sebab orang Cina makin menguasai kehidupan ekonomi. Khususnya setelah orang Belanda diusir dari Indonesia, berkaitan dengan itu ada juga perasaan agama, khususnya di kalangan pedagang muslim yang merasa terancam oleh persaingan Cina. Menteri Perdagangan Indonesia pada 14 Mei 1959 mengumumkan keputusan bahwa izin berdagang

bagi pedagang kecil asing yang bekerja di luar kota-kota besar mulai 31 Desember 1959 tidak akan diperpanjang lagi. Keputusan tersebut menimbulkan situasi yang cukup tegang; di Indonesia sendiri terjadi bentrokan antara kaum kiri, khususnya PKI yang membela Cina dengan partai Islam dan golongan lain yang disokong tentara. Pimpinan angkatan darat dalam situasi ini ini melihat kemungkinan memecahkan kekuasaan ekonomi orang Cina, PKI dapat dihantam. Presiden Soekarno menghadapi situasi bagai buah simalakama: memusuhi RRC dan mengecewakan komunis dalam negeri yang begitu loyal mendukung politik Manipol-nya, atau menghapuskan keputusan Menteri perdagangan yang berarti konflik dengan tentara dan masyarakat Islam. Soekarno tidak dapat tidak memilih alternative pertama, pada tanggal 16 November dikeluarkan peraturan presiden no. 10 yang mewajibkan semua pedagang dan usahawan kecil Cina di daerah pedesaan menutup usahanya per 1 Januari 1960. Lagi pula di Pulau Jawa Barat tentara cukup keras memaksa implementasi peraturan itu: orang Cina tidak hanya dipaksa menutup tokonya, melainkan juga dilarang tinggal di daerah itu dan bahkan dengan terpaksa mulai di boyong ke kota-kota .

Pram dalam Hoa Kiau di Indonesia memihak orang Cina tanpa syarat. Namun, bukunya bukan pertama-tama polemik politik. Pram menganggap cukup mengambil pendirian demi tujuan atau ideology politik; Pram mendalami sejarah masalah orang Cina di Indonesia dengan memanfaatkan banyak sumber ilmiah dan lain-lain. Dengan panjang lebar Pram menguraikan aspek-aspek positif kehadiran mereka di Indonesia sejak berabad-abad dan sumbangan sangat berarti diberikannya pada ekonomi dan kehidupan social dan budaya. Pram tidak lupa menekankan peran banyak orang Cina sebagai kawan rakyat Indonesia dalam perlawanan menentang penjajah asing. Pram mengakui bahwa ada juga aspek negatif; di antara orang Cina dulu dan sekarang di Indonesia. Memang ada orang Cina dengan mentalitas kolonial dan imprealis, tetapi ‘kejahatan ada pada setiap bangsa, menurut pertimbangan kesejarahan Pram, aspek positif kehadiran Cina di Indonesia jauh melebihi aspek negatifnya. Yang paling penting: peraturan dan tindakan pemerintah membahayakan persahabatan rakyat Indonesia dengan rakyat Cina.

Dalam uraiannya Pram menyatakan aspek kepartaian atau politik praktis tidak menonjol. Alasan terpenting Pram dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, demi perikemanusiaan, kedua, demi keadilan orang Cina yang sudah lama berada di Indonesia berhak tetap tinggal dan bekerja di daerah pedesaan. Ketiga, sumbangan ekonomi sangat positif yang diberikan orang Cina sebagai perantara dengan menyediakan modal dan kemahiran yang esensial di tingkat pedesaan.  Terutama, kesolideran yang mutlak perlu antara rakyat Indonesia dan Cina dalam perjuangan melawan imprealisme dan kolonialisme.

Yang pasti ikut menentukan pendirian pro-Cina Pram dan mendorongnya membela orang Cina ialah simpati dan kekaguman Pram terhadap rakyat cina yang dirasakan Pram sejak kunjungannya di Peking pada 1956 dan yang diperkuat lagi pada kunjungan kedua, pada Oktober 1958.  Pram kemudian bersama kawannya dari Cina, menerjemahkan buku Salah Asuhan, dan penerbitan buku tersebut mengakibatkan karya Pram dilarang, pada April 1960. Pram sendiri ketika itu masih sempat ke luar negeri, namun sekembalinya Pram dari luar negeri, Pram segera dipanggil oleh Peperti (Penguasa perang tertinggi), diinterogasi oleh Kolonel Sudharmono (yang kemudian menjadi wakil presiden). Pram kemudian disekap selama dua bulan di rumah tahanan militer di Jakarta, pemeriksaan berikutnya Pram dituduh menjual Negara pada RRT. Setelah pemeriksaan oleh Sudharmono, Pram dipindahkan ke penjara Cipinang. Pram ditempatkan dalam sel yang tidak manusiawi, di tengah-tengah orang yang melakukan tindakan kejahatan dan orang gila, sehingga Pram praktis hidup terisolasi dari sesama manusia. Sewaktu di Cipinang baru datang surat panahanan dari jenderal Nasution; keluarga Pram tidak pernah diberitahu. Namun, isterinya yang mengandung tua akhirnya berhasil menemukannya, dan setelah isterinya melahirkan,  isterinya memberitahu penahanan Pram pada masyarakat. Tetapi selama di penjara Pram tidak menerima tanda simpati dari siapapun juga .

Setelah dibebaskan dari penjara Cipinang Pram cepat mengambil alih kedudukan terkemuka di panggung sastra Indonesia. Mulai 16 Maret 1962 Pramoedya  Ananta toer bersama S. Rukiah menjadi redaktur rubrik kebudayaan Bintang timur  yang berjudul Lentera. Rubrik yang pada awalnya hanya setengah halaman itu kemudian diperluas menjadi satu halaman, bagian terbesar pada edisi hari Minggu terbit disunting oleh Pram. Lentera menjadi media utama tulisan Pram yang pada periode 1962-1965 menjadi media Pram untuk mengemukakan ide-idenya tentang pengajaran sastra Indonesia yang menurut pendapat Pram harus dirubah total.

Minatnya untuk pengajaran sastra juga dibangkitkan sejak 1962 Pram memberi kuliah sastra Indonesia pada fakultas sastra Universitas Res Publica. Tentang masalah bahasa Indonesia, Pram menulis esai panjang yang berjudul ‘Bahasa Indonesia sebagai bahasa revolusi Indonesia’ yang terdiri atas atas II bagian dalam Lentera antara Sepetember 1963 dan April 1964. Rangkaian karangan panjang lain berjudul ‘Bagaimana kisah dikibarkannya humanisme universal’, yang terutama meneliti asal usul sastra angkatan 45 .

Pram juga menulis tentang sejarah awal gerakan nasional Indonesia. Salah satu tokoh sejarah gerakan nasional yang diambil oleh Pram adalah Raden Mas Tirto Adhisoerjo  sebagai pelopor jurnalistik Indonesia. Tulisan Pram selama kurang dari empat tahun sangat menakjubkan atas daya kerja dan cipta, demikian pula motivasinya dan energi autodidaknya. Terutama bahwa kebanyakan tulisannya berdasarkan pada penelitian data yang sukar didapat. Hal ini disebabkan karena Pram pernah menjadi dosen Universitas res Publica, dan aktivitasnya pada Akademi Bahasa & Sastra Multatuli yang ikut didirikan Pram pada 1963 .

Selama periode itu, tulisan Pram makin polemis dan provokatif dari segi gaya dan isinya. Perjalanan pertama ke Peking membawa perubahan mendalam dalam gaya dan pikiran Pram. Manifestasi pertama Pram di tulisannya yang berjudul ‘Ke arah sastra revolusioner’ yang terbit sesudah Pram kembali dari Peking. Di dalam tulisannya dikatakan bahwa perlu ada perintisan jalan baru ke arah sastra ‘revolusioner’. Konsekuensinya revolusi ‘adalah pembasmian tanpa batas.’ Sekarang harus ada front antara tenaga-tenaga revolusioner dan yang anti pada tenaga revolusioner, sehingga perjuangan makin sengit .

Ide bahwa waktunya telah datang untuk konfrontasi total menjadi makin jelas dalam karya kritis Pram yang kemudian; ide itu pasti diperkuat lagi oleh pengalaman Pram selama dalam penjara pada 1960. Kompromi sudah tidak mugkin lagi, sekarang sudak waktunya memukul dan menyerang terus menerus. Ide-ide dan tulisan Pram semakin dipengaruhi dengan ideology Lekra dan garis besar PKI. Walaupun disangsikan sejauh mana Pram dilihami oleh ajaran komunisme yang resmi. Karya Marx tidak pernah dibaca Pram, dengan pimpinan PKI Pram jarang bertemu, kalaupun bertemu Pram bentrok dengan mereka tentang masalah politik. Soekarno pun tidak begitu simpati dengan Pram.

Sebenarnya hanya ada satu risalah panjang yang membicarkan masalah ideology dalam satra secara eksplisit dan teori, yaitu prasaran yang disajikan di depan Seminar Sastra, Universitas Indonesia, 26 Januari 1963. Tetapi dalam karya yang sangat panjang ini pun ideology dan teori terbatas pada ringkasan beberapa ide Maxim Gorki, yang sejak lama menjadi idola dan pelopor besar bagi Pram. Tulisan utama Pram adalah: realisme sosialis berdasarkan humanisme sosialis atau humanisme proletaar, yang bertentangan dengan yang di Indonesia disebut humanisme universal, yang sebenarnya humanisme borjuis. Yang terakhir dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mentralkan aspirasi patriotic dan melancungkan cita-cita revolusi. Realisme borjuasi itu akhirnya memanfaatkan realitas untuk memenekan idealisme, yang menjauhkan seniman muda dari realitas social, dan membawa mereka ke pesimisme dan negativisme. Sebaliknya realisme sosialis adalah optimis dan menentang dengan militan kapitalisme dan imprealisme serta memperjuangkan rakyat. Dan memberantas penderitaan dan penindasaan.

Berdasarkan teori tersebut kemudian Pramoedya Ananta Toer memberi survai sejarah sastra Indonesia, yang sangat bertentangan dengan sejarah yang ‘mapan’ pada masa ini. Kriteria utama sejarah sastra baginya ialah sejauh mana karya-karya sastra membayangkan penderitaan rakyat dan perjuangan menentang penindasan.

Manikebu diumumkan pada September 1963 dalam majalah Sastra sebagai manifesto sekelompok budayawan, yang bertentangan dengan pemahaman Lekra. Konfrontasi itu di perhebat lagi sekitar Konfrensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI), yang diselenggarakan di Jakarta pada awal maret 1964 dan yang didukung oleh berbagai badan dan organisasi non-komunis dengan bantuan angkatan darat. Setiap minggu Lentera melancarkan serangan seru tidak hanya pada ideology kontrarevolusioner para ‘manikebuis’, melainkan sering juga pada aspek kehidupan pribadi mereka. Karena PKI dan Lekra juga makin berkuasa dalam politik, usaha penentang Manikebu ternyata efektif. Presiden Soekarno secara resmi melarang Manikebu pada 8 Mei 1964, izin terbit majalah Sastra sebagai corong Manikebu dicabut.

Dalam pertentangan ideologi yang semakin tajam itu Pram memainkan peran dominan. Dengan penanya sebagai senjata yang ampuh dengan suaranya yang lantang, Pram terus menerus giat ‘membabat’ dan ‘menghantam’ musuh yang tidak kunjung menyerah.

Pada 9 Mei 1965, Pram menulis karangan dalam Lentera dengan judul ‘Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total’. Sejarah memang ada ironinya. Judul tersebut ternyata dalam arti yang terbalik dengan yang dimaksudkan oleh Pram. Pada 30 September 1965, Gestapu sesungguhnya membawa pembabatan total terhadap PKI, Lekra dan penganut-penganutnya, bukan hanya pembabatan vocal, melainkan juga pembabatan fisik. Peristiwa itu juga dengan sendirinya membawa kehancuran bagi Pram.

Pram mulai bekerja pada ‘The Voice Of Free Indonesia’ sebagai redaktur bagi penerbitan Indonesia; beberapa bulan kemudian Pram mendapat tugas memimpin bagian tersebut, sebab pemimpin umum redaksi  koran The Voice Of Free Indonesia tersebut ditangkap oleh NICA karena terlibat dalam gerakan bawah tanah.

Pada saat itu Pram juga berkenalan dengan H.B. Jasin, redaktur majalah Pantja Raja, yang menerbitkan dua cerpen Pram, masing-masing berjudul Kemana?dan Si Pandir. Tetapi kebebasan tidak berlangsung lama. Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda mulai melakukan agresi militer pertama. Pram mendapat order dari atasannya untuk mencetak dan menyebarkan pamphlet-pamflet dan majalah perlawanan. Tetapi dua hari kemudian Pram tertangkap oleh marinir Belanda.

Pramoedya semasa Muda

Ini pertama kali Pram berkenalan dengan kehidupan penjara, pengalamannya bermacam-macam. Karena Pram menolak kerja paksa, Pram dijatuhi siksaan yang sangat kejam, dan adakalanya rejim penjara amat bengis. Tetapi ada juga segi positifnya, antara lain Pram bisa berkenalan dengan Profesor Mr. G.J. Resink, guru besar hukum tata negara pada fakultas hukum yang menjadi bagian Universitas Indonesia. Di samping ahli hukum, Resink juga sejarawan yang terkemuka serta penyair dan esais dalam bahasa Belanda. Perkenalan yang membuahkan persahabatan seumur hidup: jilid pertama Tetralogi, Bumi Manusia, dipersembahkan kepada ‘Han’, yaitu Resink.

Selama dalam penjara, Pram tidak hanya sempat menulis dan belajar bahasa Inggris, Pram belajar juga ekonomi, sosiologi, sejarah filsafat, dan kursus kepustakaan dan perhitungan dagang. Namun, meski kreativitas Pram berkembang terus selama dalam penjara, sudah tentu dua setengah tahun sebagai tahanan itu bukan merupakan masa berbahagia dalam riwayat hidupnya.

Akhirnya Desember 1949, Pram dibebaskan bersama kelompok tahanan yang terakhir. Namun, pengalaman awal yang sangat menggembirakan. Peristiwa yang amat emosional dan membanggakan, yang dihadirinya sendiri, adalah penurunan triwarna Belanda dan penaikan dwiwarna Indonesia di depan Istana merdeka.

Nampaknya dengan demikian secara tragis berakhir masa jaya Pram sebagai tokoh terkemuka di dunia kesastraan Indonesia. Pada awalnya Pram diringkus di penjara Salemba, lalu disekap dalam penjara di Tangerang, selama empat bulan Pram dikembalikan lagi ke Salemba, sampai Juli 1969. Pada bulan itu Pram dipindahkan ke penjara Karangtengah di Nusa Kambangan, tempat penjahat berat dipenjarakan sejak zaman colonial. Di Nusa Kambangan Pram hanya sebentar, atau bisa dikatakan hanya transit. Pada tanggal 16 Agustus Pram bersama ribuan sesama tapol (tahanan politik) diboyong ke Pulau Buru.

Di Buru Pram terpaksa tinggal lebih dari sepuluh tahun. Kehidupan yang pahit dan pengalaman sebagai tapol, terpisah dari keluarga dan terasing dari dunia sastra Indonesia, Pram ceritakan dalam Nyanyian Sunyi Seorang Bisu. Saat terpenting selama sepuluh tahun ketika Pram pada akhirnya bisa menerima mesin tulis dan mendapat izin untuk menulis (1973) , tulisannya saat itu tidak  mempunyai arti besar bagi pengarang sendiri, melainkan juga sastra Indonesia dan dunia, sebab selama tahun-tahun berikutnya Pram sempat menyelesaikan naskah empat jilid Karya Buru, Arus Balik, dan beberapa karya lain. Hal itu dimungkinkan oleh solidaritas rekan-rekan Pram yang membebaskan Pram dari tugas kerja lain, sehingga Pram dapat membaktikan diri sepenuhnya pada tulisannya.

Baru pada akhir 1979  Pram dilepaskan, Pram berangkat dengan rombongan terakhir. Sejarah terulang lagi, sebab tiga puluh tahun sebelumnya Pram juga termasuk kelompok tahanan terakhir yang dibebaskan dari penjara Belanda. Akhirnya Pram dibebaskan di Semarang dan Pram diizinkan pulang keluarganya di Jakarta yang sejak 14 tahun.

Sejak itu Pram ‘bebas’ dari penjara, tetapi kebebasan yang Pram dapatkan, hanya kebebasan semu. Ruang geraknya sebagai warga Indonesia sangat terbatas. Seperti kebebasan berbicara, menulis juga terus menerus di brendel. Jadi selama 16 tahun terakhir ini Pram praktis tahanan kota. Hidup sosialnya sebagai anggota masyarakat Indonesia tidak dapat dilangsungkan lagi, apalagi dikembangkan, Pram tidak dapat aktif ikut di dunia sastra.

Namun, tidak berarti riwayat hidup Pram telah berakhir. Secara paradoksal dapat dikatakan bahwa kehadiran Pram di Indonesia masih tetap terasa, bahkan ada kalanya menonjol. Dalam tahun berikutnya dunia sastra kaget denga terbitnya dua buku, Bumi Manusia dan Anak semua Bangsa, buah tangan dari pulau Buru. Roman sejarah tersebut langsung meraih sukses besar, dalam waktu singkat sejumlah cetakan ulang diperlukan, kritik menanggapi buku itu cukup antusias, walaupun ada juga yang keras menolaknya. Di luar negeri Pram yang sebagai tapol menjadi lambang demi hak asasi manusia sekarang menjadi terkenal juga sebagai satrawan berkaliber internasional. Bukunya  juga terbit dalam bahasa Malaysia, demikian pula dalam bahasa asing, pertama-pertama Nederland, kemudian bahasa Inggris, dan entah berapa bahasa dunia lain. Namun, di Indonesia pada Mei 1981 kedua buku itu di larang peredarannya oleh Jaksa Agung, dan nasib yang sama menimpa dua jilid berikut dari tetralogi Karya Buru, masing-masing berjudul Jejak langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988). 

Peran publik dalam kehidupan sastra ternyata tidak mungkin bagi Pram, ketika pada 1981 Pram memberikan ceramah di fakultas sastra UI atas undangan Senat Mahasiswa, tentang ‘Sikap dan peranan kaum intelektual di Dunia Ketiga, khususnya di Indonesia’. Pram diusir dengan tertulis oleh Dekan. Diinterogasi oleh Satgas Intel selama seminggu, anggota Senat yang dianggap bertanggung jawab dipecat dan dipenjarakan. Namun, Pram makin mendapat pengakuan dan penghargaan internasional. Karya Buru diterjemahkan ke dalam bahasa asing, Barat maupun Timur. Pram diangkat sebagai anggota kehormatan Pusat PEN di berbagai negeri, Australia, Swedia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan pada 1988 Pram menerima ‘Freedom to Write Award’ dari organisasi PEN di Amerika Serikat. Pram juga di calonkan untuk Hadiah Nobel Sastra.

Masih ada beberapa buah tangan Pram lain yang terbit, kebanyakan riset histories yang dilakukan sebelum 1965: antologi ‘sastra pra-Indonesia’, dengan judul Tempo Doeloe (1982): biografi Tirtho Adhi Soerjo Sang Pemula dengan antologi tulisan pelopor jurnalistik Indonesia (1985), yang juga sejarawan internasional diakui sebagai sumbangan penting pada penulisan sejarah  masa awal gerakan Indonesia.

Dalam dasawarsa ini pun masih terbit dua buku yang meriwayatkan pengalaman dan observasi Pram selama di Buru pertama-tama diterbitkan dalam terjemahan Belanda,  jilid pertama kemudian terbit dalam bahasa Indonesia Nyanyian Sunyi Seorang Bisu pada kesempatan hari ulang tahun Pramoedya Ananta Toer yang ke-70 pada 6 Februari 1995, tetapi segera dilarang. Buku ini merupakan semacam kolase, sebagian bersifat factual mengenai nasib Pram sendiri dan sesama tahanan di Buru, sebagian lagi perenungan dan observasi yang bermacam-macam. Bagian kedua, yang versi aslinya belum diterbitkan, mengenai sejumlah surat Pram ditujukan buat anak-anaknya, tetapi tidak pernah dikirimkan.

Sekali lagi Pram menjadi pusat hebohnya sastra besar di Indonesia yang terjadi pada tahun 1995, ketika Pram dianugerahi ‘ Roman Magsaysay Award for Jurnalism, Literature, and Creative Communication Arts’ di Manila. Pengurus yang bersangkutan memberikan kehormatan yang disertai hadiah UU$ 50.000, kepada Pram berdasarkan jasanya sebagai pengarang.

Penganugerahan hadiah Magsaysay menimbulkan prahara protes di Indonesia di antara sejumlah sastrawan dan budayawan, di antaranya Rendra, H.B. Jasin dan lain-lain. Menunjukkan pernyataan bersama kepada yayasan Hadiah Ramon Magsaysay sebagai protes terhadap keputusan yayasan dan mendesak membatalkan putusan itu.

Di anggap sangat ironis bahwa hadiah yang memakai nama, Magsaysay, yang seumur hidup memperjuangkan demokrasi dan hak asai manusia, sekarang diberikan kepada penulis yang selama periode ikut memimpin Lekra terbukti anti demokratis dan ikut menindas hak. Ketika ternyata pengurus yayasan tidak menerima protes tersebut.

Di Indonesia terjadi dua front, satu pro dan satu kontra Pram. Tiga budayawan terkemuka yang tidak mau menandatangi pernyataan itu, misalnya Ajip Rosidi, Goenawan Mohamad, dan Arief Budiman, kedua yang terakhir dulu juga penandatangan Manikebu, yang menjadi terror dan penindasan oleh Lekra. 

Bagi Goenawan alasan penting untuk tidak menandatangi pernyataan protes adalah Pram masih belum bebas, belum dipulihkan hak-hak sipilnya, masih ada pelarangan terhadap bukunya, pelarangan bepergian ke luar negeri dan lain-lain.

Heboh sastra terbaru ini membuktikan, kontroversi lama tetap ada, Pram tetap keras kepala menolak bertobat dan minta maaf atas kelakuannya sebagai pemuka Lekra. Pram tetap penuh amarah terhadap kelakuan yang telah Pram derita selama 20 tahun lebih. Lawannya tidak kurang mendalam rasa dendamnya atas teror pihak Lekra yang mereka derita, dengan Pram sebagai pemukanya yang paling vocal. Dan di tengah-tengah ada pihak ketiga, dengan Goenawan Mohammad sebagai wakil terkemuka, yang berseru kepada kedua kubu agar mereka menepikan rasa curiga.

Demikianlah Pram tetap berada dalam situasi paradoksal. Pada  satu pihak Pram terpaksa hidup sebagai paria yang sudah tiga puluh tahun lebih kehilangan hak asasinya sebagai manusia dan warga Negara Indonesia, tanpa pernah diadili dalam proses hukum yang pantas, dan dipaksa bungkam, tanpa diberi kesempatan membela diri di muka umum. Pada pihak lain Pram tetap hadir, di Indonesia maupun dunia Internasional, sebagai tokoh raksasa, yang tingkah lakunya di masa lampau kontroversial, tetapi yang keunggulannya sebagai sastrawan diakui oleh seluruh dunia.

C.   Sepenggal Cerita Lahirnya Novel Tetralogi  – Biografi Pramoedya Ananta Toer

Pada akhir tahun 1980 , Pram melahirkan karya awal dari rangkaian novel Tetralogi. Yaitu novel Bumi Manusia, yang pada saat itu Pram baru satu tahun keluar dari penjara di pulau buru. Sebenarnya ide menulis novel Tetralogi, sudah ada pada awal tahun 1960 , tetapi baru diedarkan di masyarakat pada tahun 1980.

Kenapa novel tersebut perlu dibuat, karena Pram melihat pengajaran sekolah semata tidak cukup untuk membudayakan kecintaan bangsa pada sejarah pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Dan Pram juga beranggapan semua ucapan tentang patriotisme, kecintaan pada tanah air dan bangsa, baik itu melalui pembicaraan, pidato, nyanyian atau pun deklamasi ini tinggal slogan tanpa isi, tidak edukatif, dan juga tidak jujur.

Untuk menyelamatkan novel Tetralogi, karena Pram menulis novel tersebut ketika masih di dalam penjara. Pram dibantu oleh sahabatnya yang bernama Prof. Mr. G.J. Resink, biasa di panggil Pram dengan “ Han”.  Karena Resink, yang juga menyelamatkan naskah Perburuan dan Keluarga gerilja. Resink, menyelundupkan naskah novel itu keluar penjara, demikian pula yang terjadi pada novel Tetralogi.

Dalam pembukaan buku Bumi Manusia, Pram melegendakan nama sahabatnya tersebut. “Han, memang bukan sesuatu yang baru. Jalan setapak ini memang sudah sering ditempuh, hanya yang sekarang perjalanan pematokan.” Terasa sekali bahwa Pram merasa sangat berhutang budi, pada sahabatnya tersebut.

Novel Tetralogi tersebut terdiri dari empat jilid, jilid yang pertama berjudul Bumi Manusia, Anak semua bangsa, Jejak langkah, kemudian Rumah Kaca. Setiap jilid tersebut saling berkait satu sama lain. Empat novel tersebut, kira-kira berkisar sejumlah 1600 halaman. Makanya diperlukan pemisahan-pemisahan, sehingga pembaca tidak akan jenuh.

Tokoh protagonis dalam novel tersebut bernama Minke, namun sebenarnya tokoh Minke tersebut adalah perwujudan dari Tirto Adhi Suryo, nasionalis angkatan pertama, yang sampai waktu itu kurang mendapat perhatian dalam penulisan sejarah nasional , Tirtoadhisoerjo telah jadi wartawan pada usia 21 tahun, dan dia adalah wartawan pertama kali di Indonesia.

Minke, adalah anak priyayi tinggi. Pada masa riwayat ini berlangsung menjadi aggota keluarga semacam itu memberi hak istimewa kepada orang di tanah jajahan, asal ia bersedia menyesuaikan diri dengan tuntutan rangkap system: pertama, bersikap sesuai dengan hukum-hukum kebudyaan priyayi dan kedua, tunduk pada kemauan penguasa kolonial yang memanfaatkan golongan priyayi Jawa untuk mempertahankan kekuasaan dan kewibawaannya dengan kekuatan fisik yang  minimal. Atas dasar tersebut anak priyayi di perbolehkan masuk sekolak terbaik yang dimiliki kolonial.

Proses belajar Minke berlangsung cukup lama, berliku dan berbelit-belit. Minke sekolah ditengah-tengah orang Belanda, yang selalu bersikap rasialis. Namun dari sekolah tersebut Minke mempelajari ilmu pengetahuan Eropa, dan Minke terkagum-kagum. Tapi pada akhirnya Minke kecewa terhadap ilmu pengetahuan tersebut, terutama pada sistem hukum kolonial yang secara tragis merenggut istrinya. Pada waktu tersebut, Minke juga bertemu dengan guru bahasa Belanda yang termasuk aliran etis . Dari sana minke sadar bahwa ada jurang tersebut bersifat rasial.

Semenjak awal Minke sendiri sudah mempertanyakan nasibnya sebagai golongan pribumi yang selalu dilecehkan. Sebagai contoh, antara kelahiran Minke dengan Sri ratu Wilhelmina mempunyai tanggal, bulan, serta tahun kelahiran yang sama, 31 Agustus 1880. perbedaannya hanyalah pada jam dan kelamin saja. Kalau berdasarkan perhitungan astrologi (perbintangan), jelas keduanya mempunyai nasib yang sama.

Tetapi apa yang terjadi yang satu menjadi ratu sementara yang lain menjadi kawulanya. Dengan realitas social semacam ini, Minke pun sependapat dengan apa yang di katakan gurunya, Juffrouw Magda Peters yang merujuk pendapat Thomas Aquinas, bahwa astrologi tidak lebih sebagai lelucon belaka.

Kesadaran  sistem yang timpang bukan saja menimpa pada dirinya, tapi juga pada semua rakyat Indonesia. Apalagi bagi mereka yang secara status sosial tidak memiliki kedudukan, seperti petani. Hal tersebut sangat jelas diceritakan pada novel Anak Semua Bangsa, ketika suatu saat Minke bertemu dengan seorang petani bernama Trunodongso. Yang dipaksa menanam tebu pada tanah milkinya sendiri, dan ketika petani tersebut menolak maka keluarganya diusir dari tanahnya sendiri.

Sementara itu dalam jilid kedua novel terakhir, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Novel tersebut, bercerita tentang lahirnya SDI (Sarikat Dagang Islam), SDI adalah cikal bakal lahirnya SI (Sarekat Islam) di Indonesia. Kelahiran SDI disebabkan pedagang batik yang ada di Sala dan Yogya, untuk menangani perkelahian jalanan yang sering meledak antara kaum Tionghoa dan Jawa.

SI adalah alat untuk melihat kabangkitan Bumiputera awal abad XX. Gerakan SI bertujuan untuk melawan sisten perdagangan kolonial Belanda. serpihan-serpihan keterasingan budaya perlawanan yang bebas masuk ke Hindia Belanda. SI inilah yang pertama kali melancarkan pemboikotan melalui metode kekerasan. Kiat gerakan ini telah membuatnya popular dan mendapat dukungan meluas bahkan hingga di luar kota Surakarta. Kekuatan pengaruh SI ini makin mengagumkan ketika terbit surat kabar yang bernama Oetoesan Hindia, sebagaimana Indische Party punya De Express. ISDV itu, berawal dari klub debat sosialis belanda yang didirikan oleh Henk Sneevlit tahun 1915, berorientasi pada peningkatan kualitas bumiputera dan pengoorganisiran kekuatan rakyat untuk melawan pres yang ada di Hindia Belanda.

Meski pada akhir cerita tokoh Minke tersebut akhirnya kalah, dan harus dipenjara oleh pemerintah yang berkuasa.

Gambaran pada novel Bumi Manusia, novel pertama dari tetralogi.  Di dalam novel tersebut Pram mencoba memotret kekaguman orang-orang jawa yang sangat terpesona pada kemajuan ilmu pengetahuan yang baru dilihatnya. Meski tidak semua orang Jawa kagum akan kemajuan ilmu pengetahuan tersebut, karena kemajuan tersebut tidak bisa dinikmati oleh semua orang Jawa. Karena yang bisa menikmati fasilitas tersebut adalah para priyayi, sebab untuk menikmati hal tersebut harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Dalam novel ini Minke juga bertemu dengan seorang Nyai yang bernama Ontosoroh, Nyai tersebut sangat kaya dan cerdas. Sehingga Nyai tersebut mampu mengasai tuannya, Nyai itu juga yang memberikan pengajran tentang revolusi Perancis yang membuka mata Minke melihat system feodal.

Namun dalam novel tersebut bukan hanya sebentuk kekaguman saja, tapi juga perjuangan untuk menentang ketidakadilan yang diciptakan sistem kolonialisme. Tetapi, ia pun tidak muncul sama sekali sebagai pemenang yang berhasil menumbangkan ketidak adilan dalam system ini, melainkan justru harus menghadapi kenyataan pahit: kalah dengan ditandai direbutnya Annelis dari sisinya. Novel ini ditutup dengan nada yang sangat pahit: “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Justru dari akhir cerita yang seperti ini, pembaca dibuat menyadari adanya ketidak adilan dalam system kolonialisme .

Dalam novel jilid kedua dengan judul Anak Semua Bangsa, Minke bertemu dengan seorang Cina. Mereka sepasang kekasih, yang ternyata mereka berdua adalah pelarian dari negaranya karena berusaha melawan kaisar. Kedua orang Cina tersebut beraliran sosialis, untuk pertama kali Minke belajar tentang sosialisme. Hal tersebut juga didukung oleh Nyai Ontosoroh, justru Nyai Ontosoroh juga menyuruh Minke untuk menulis kepada media Belanda. Hingga pada akhir cerita jilid kedua ini, Minke diminta untuk mendirikan media sendiri yang berbahasa melayu. Sebab bahasa tersebut dapat di baca oleh setiap orang pribumi, sehingga lebih merakyat. Maka lahirlah media yang bernama Medan.

Dalam jilid ketiga yang berjudul  Jejak Langkah, Minke mulai aktif menulis. Novel ini juga menggambarkan lahirnya organisasi-organisasi besar, yang mempengaruhi perjalanan perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Seperti Boedi Oetomo, Serikat Dagang Indonesia, Serikat Islam dan masih banyak lagi. Hingga perjuangan-perjuangan organisasi-organisasi tersebut dan latar belakang lahirnya organisasi.

Hingga pada jilid keempat yang berjudul Rumah Kaca, di sini Minke mulai sadar bahwa alat perjuangan yang paling ampuh adalah jurnalistik, tetapi pada saat bersamaan gerak Minke mulai diawasi oleh Belanda begitu juga dengan organisasi-organisasi yang ada. Jadi Pram menggambarkan orang Indonesia pada saat itu seperti dalam kotak kaca, yang tiap gerak-geriknya diawasi oleh Belanda.

D.   Penghargaan Yang Diterima Pramoedya Ananta Toer
1.    1988: Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat.
2.    1989: Anugerah dari The Fund for Freee Expression, New York, Amerika Serikat.
3.    1995: Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of the Indonesian people”, dari The Wertheim Foundation, Leiden, Belanda.
4.    1995: Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognition of his illuminating with brilliant stories the hystorical awakening, and modern experience of the Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina.
5.    1996: Partai Rakyat Demokratik Award, “hormat bagi Pejuang dan Demokrat Sejati” dari Partai Rakyat Demokratik.
6.    1996: UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence”, dari UNESCE, Paris, Prancis.
7.    1999: Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contribution, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom”, dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat.
8.    1999: Chanceller’s Distinguished Honor Award, “for his out standing literary archievements and for his contributions to etnic tolerance and global understanding”, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
9.    1999: Chevalier de I’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique Francaise, Paris, Prancis.
10.    2000: New York Foundation for the Art Award, New York, Amerika Serikat.
11.    2000: Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang.

sumber :
Ananta Toer, Pramoedya, Bumi Manausia, Cet 9 Yogyakarta: Hasta Mitra, 2002.
Ananta Toer, Pramoedya, Anak Semua Bangsa, Cet 6 Yogyakarta: Hasta Mitra, 2002.
Ananta Toer, Pramoedya, Jejak Langkah, Cet 4 Yogyakarta: Hasta Mitra, 2002.
Ananta Toer, Pramoedya, Rumah Kaca, Cet 4 Yogyakarta: Hasta Mitar, 2002.
Rangkuti, Bahrum. Pramoedya dan Karya Seninya, Jakarta: Gunung Agung, 1963.

Profil : Prof. Dr. Said Aqil Siradj

Nama Lengkap : Said Aqil SiradjAlias : No Alias
Agama : Islam
Tempat Lahir : Cirebon
Tanggal Lahir : Jumat, 3 Juli 1953
Zodiac : Cancer
Hobby : Membaca, Ibadah, Silaturrahmi
Warga Negara : Indonesia

Istri : Nur Hayati Abdul Qodir
Anak : Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil

BIOGRAFI
Prof Dr KH Said Aqil Sirodj,Sosok laki laki religius ini biasa dipanggil dengan panggilan Siradj, kelahiran Cirebon 03 Juli 1953 dengan latar belakang Agama yang kuat,dan selalu ingin memperjuangkan Islam di berbagai aspek. Siradj juga mempunyai latar belakang akademis yang luas dalam ilmu Islam.
Alumni S3 University of Umm Al-qura dengan jurusan Aqidah / Filsafat islam ini lulus pada tahun 1994 yang sebelumnya mengambil S2 di Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987 dan S1 di Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982.Dengan latar belakang ilmu pendidikan Agama yang kuat dijadikan modal Siradj dalam dakwah dan memperjuangkan Islam di era baru ini.

Nahdlatul Ulama ( NU ) adalah Organisasi Muslim besar Indonesia yang paling berpengaruh di dunia Islam dan saat ini di Pimpin oleh Said Aqil Siradj. Terpilihnya Siradj dalam memimpin organisasi Nahdlatul Ulama merupakan buah dari usaha Siradj dan pendukungnya dalam pemilihan Partai besar tersebut. Dalam pemilihan tersebut, Siradj mengalahkan Slamet Effendi Yusuf.294 Suara yang dikumpulkan Siradj,sedangkan Slamet Effendi Yusuf  hanya mendapatkan 201 suara. Berlanjut ke putaran dua akhirnya Siradj sebagai pemenang dengan suara terunggul sebanyak 178 Suara yang tentunya sudah memenuhi tata tertib Mukhtamar yang mengharuskan seorang calon mengumpulkan poin 99 Suara.
  
Nahdlatul Ulama merupakan organisasi dengan basis keanggotaan yang kebanyakan dari pedesaan dan ciri khas tradisional ini yang membedakan Nahdlatul Ulama dengan organisasi lainnya.Point utama organisasi ini adalah penekanan pada pendidikan dan keterlibatan politik berlandaskan prinsip Islam yang mana sesuai dengan visi misi Siradj. Prof Dr KH Said Aqil Siradj menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 2010 – 2015.
  

PENDIDIKAN
  • S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
  • S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
  • S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994
KARIR
  • Tim ahli Bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
  • Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995 – 1997)
  • Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995 – sekarang)
  • Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997 – 1999)
  • MKDU Penasehat Fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998 – sekarang)
  • Wakil Ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
  • Komisi Member (1998 – 1999)
  • Dosen Luar Biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
  • MPR anggota fraksi yang mewakili NU (1999 – 2004)
  • Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001 – sekarang)
  • Dosen Pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003 – sekarang)
  • UNU Dosen Lulusan Universitas NU Solo (2003 – sekarang)
  • Ketua Umum Pengurus Nahdatul Ulama (PBNU) (2010 – 2015)