Pergulatan duniawi akhir-akhir ini sungguh unik. Berbagai peristiwa, masifnya informasi diproduksi yang pada awalnya diharapkan menjadi landasan kecermatan dalam decision making dan menarik konklusi, malah menjadi semacam rasa takut bagi seseorang mengambil keputusan. Tetapi untuk hal-hal yang berada di luar “kepentingan”-nya, narasi dan komentar bisa lebih sadis dari peristiwa yang diinformasikan.
Fenomena ini tampak jelas dari cara kita menanggapi tragedi yang baru-baru ini menimpa dunia pesantren. Minggu ini kita disuguhkan sebuah musibah yang menyayat hati: sebuah bangunan pesantren di Sidoarjo roboh pada hari pengecoran. Nahas, sekitar 100 santri yang sedang berjamaah di lantai dasar terjebak dan tertimbun reruntuhan. Saat saya menulis ini, puing-puing sedang diangkat karena sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Data mengenai korban dan kerusakan bisa dengan mudah ditemukan di berbagai media.
Sebagian netizen kemudian menghakimi pihak pesantren telah abai terhadap standar konstruksi bangunan. Para ahli pun menyatakan bahwa memang ada kegagalan struktur di sana. Pada titik ini, saya sepakat bahwa pesantren memang perlu memberi perhatian serius terhadap keamanan bangunan dan standar konstruksinya. Apakah ada yang harus dipidanakan? Saya bukan ahli hukum, jadi saya menyerahkannya pada pihak yang berwenang.
Sebagai seseorang yang sepertiga hidupnya dihabiskan di bilik pesantren, saya hanya ingin menyampaikan satu hal bahwa keikutsertaan santri dalam kegiatan seperti mengecor, mengaduk, atau kerja bakti bukan bentuk eksploitasi, melainkan wujud rasa khidmah kami sebagai santri. Di sana kami hanyalah “laden”, bukan “tukang”, apalagi “mandor” atau “arsitek” yang menentukan konstruksi bangunan.
Kami sama sekali tidak menganggap semua itu sebagai perbudakan atau ekploitasi tenaga kerja gratis. Mayoritas aktivitas kami tetap belajar dan mengaji. Ngecor hanya bagian kecil dari rutinitas; ngala batu cuma sepotong dari hari-hari panjang kami. Selebihnya, kami dididik untuk menjadi manusia yang percaya kepada Tuhan dan mencintai ilmu pengetahuan.
Maka ketika ada kerja bakti, gotong royong, atau santri membantu pembangunan, itu bukan eksploitasi, melainkan ekspresi kebersamaan dan rasa memiliki terhadap lembaga tempat mereka menuntut ilmu.
Perlu dipahami juga bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan kalkulator untung-rugi. Banyak netizen menilai pesantren dengan logika efisiensi, padahal pesantren salaf seperti “Alkhoziny” justru berjuang agar pendidikan bisa dijangkau semua kalangan. Biayanya sangat terjangkau, bahkan banyak wali santri yang tetap menunggak karena kesulitan ekonomi.
Jika ini terjadi di sekolah umum, mungkin saja mereka sudah diultimatum atau bahkan dikeluarkan. Tapi dunia pesantren berbeda, para Kiai sering kali tidak tega mengeluarkan santri yang kesulitan. Beliau justru memutar otak agar pesantren tetap berjalan dengan dana seadanya, menguras rekening pribadi, menjual aset, dll.
Maksud saya, mari kita menjaga sikap. Jangan tergesa menggeneralisir bahwa pendidikan pesantren adalah eksploitasi tenaga kerja, perbudakan, atau pembodohan berbungkus agama. Mari berpikir jernih. Jika memang ada kelalaian dalam konstruksi atau pengawasan, itu kritik yang baik. Bahwa banyak nyawa yang syahid di sana dan harus dipertanggungjawabkan, silakan diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak semua hal bisa dilihat dengan kacamata hitam-putih.
Di sisi lain, ini menjadi tamparan keras bagi dunia pesantren dan kita semua. Di pesantren saya dulu, diajarkan sebuah hadits Rasulullah SAW: “Idza wusidal amru ilaa ghairi ahlihi, fantadziris sa’ah.” — Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu. Maka, ketika kita hendak membangun bangunan, panggillah arsitek; saat sakit, pergilah ke dokter; saat merasa bodoh, belajarlah ke institusi pendidikan. Semua ada ahlinya.
Saya meyakini, banyak masalah di negeri ini bersumber dari kebiasaan menyerahkan urusan bukan kepada ahlinya. Dan seperti sabda Nabi, kehancuran akan datang bila hal itu terus terjadi. Wallahu a’lam.
Teruntuk para santri korban reruntuhan. Alfaatihah.
Saya adalah tukang udud sejak lama. Ya, saya memulainya sejak kelas 1 SMA waktu di pesantren. Sebagai seorang yang cukup sulit bergaul dan bersosialisasi, alasan klise saya merokok adalah agar mudah masuk ke circle pergaulan dan gak ketinggalan tongkrongan. Dan yang merokok juga bukan cuma satu dua orang, mungkin 50% teman di pesantren saya adalah perokok. Saya masih ingat sebat pertama Class Mild yang membuat saya terbatuk-batuk itu, hahaha. Kebiasaan itu kemudian ikut saya terus sampai sekarang, tanpa perlu diseret-seret, dia nempel sendiri.
Akan tetapi, saya gak mau sok munafik. Saya paham betul bahwa ada bahaya dalam setiap kepulan asap rokok. Bahkan saat ada perokok yang berdialektika dengan Bahasa filsafat untuk menjustifikasi rokok tidak berbahaya bagi tubuh, saya cuma bisa mesem tipis. Kalaupun saya justifikasi, itu Cuma buat haha hihi, bukan dari hati beneran. Saya gak sreg pakai jurus ngeles, wkwkwk. Saya sadar penuh, rokok itu toksik.
Saya ngerti karena saya belajar kimia. Saya ngerti banget zat apa aja yang masuk ke tubuh. Terlebih, saya ngajarin juga mahasiswa farmasi tentang senyawa karsinogenik, metabolisme nikotin, dan efek fisiologis asap rokok. Ironisnya, saya teredukasi oleh edukasi saya sendiri, hahaha. Setiap kali masuk kelas dan ngomongin bahaya bahan kimia, bagian otak saya yang lain bisik-bisik, “Bos, lo tuh ngomongin diri sendiri, macam khotib saat khutbah jum’at”, dan saya jawab bisikan itu, “Hehe, iya ya.”
Saya juga bukan perokok yang semena-mena. Saya tahu diri, gak bakal saya nyebat kalau ada anak kecil, gak bakal juga asal nyalain rokok di tempat umum tanpa cek situasi. Saya itu tipe yang sebelum nyebat, saya bakal celingak celinguk kanan kiri dulu, ada orang gak, ada ibu-ibu hamil atau bayi gak, ada satpol PP gak. Bukan takut ditegur sih, tapi lebih ke… ya sadar aja, gak semua orang mau jadi perokok pasif dan terpapar sisa bahaya kepulan asap rokok kan?
Beberapa bulan ini, saya lagi mencoba berhenti. Serius. Ini perjuangan yang lebih berat dibanding saat saya ngatur pola makan saat diet sejak 2 tahun lalu . Padahal dulu saya pikir diet itu udah tantangan hidup paling kompleks setelah skripsi dan tesis. Ternyata belum. Ternyata yang namanya nglepasin rokok itu lebih dari sekadar menahan keinginan. Ini soal menolak pelarian. Menolak kebiasaan yang selama ini jadi teman dalam lamunan sepi senja bapak-bapak anak tiga, atau malah jadi alasan biar bisa bengong lima menit di tengah tumpukan kerjaan di kantor atau di sela-sela ngajar.
Saya gak janji muluk-muluk, tapi saya sedang berproses. Semoga bulan-bulan ke depan, tulisan saya soal rokok udah saya tulis dari sudut pandang mantan perokok, bukan dari “dosen kimia tukang udud”. Terlebih, saya tak ingin anak saya mengikuti kebiasaan udud bapaknya ya. Apalagi dengan fakta bahwa prevalensi perokok di Indonesia mencapai 73,2 % dengan 7,4%-nya adalah remaja usia 10-18 tahun. Mohon doanya. Biar kimia yang saya ajarkan, kesehatan yang saya terlibat di dalamnya, dan gaya hidup yang saya Jalani bisa berjalan satu frekuensi. Amin.
Di dunia pesantren, sanad adalah hal yang penting, bahkan ada sebuah istilah populer bahwa “al isnadu minaddin, laulal isnad laqola man sya’a wa ma sya’a”, sanad adalah bagian dari agama itu sendiri, kalau tidak ada sanad, maka orang akan ngomong karepe dewe. Maka dalam tradisi pesantren, saat berpendapat dan berucap “menurut saya”, itu adalah semacam hal yang tabu. Karena sebagai ahli ilmu, berpendapat itu harus bersandar kepada keilmuan itu sendiri, jadi titik komprominya adalah “menurut pemahaman saya” dari kitab A, bla bla bla.
Sebagian orang berpendapat, pola semacam itu membatasi kebebasan berpikir. Bagi saya tidak. Karena dalam kita mensintesa pemikiran/pendapat, kita harus mendasarkannya pada referensi-referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ngawur. Berkata “menurut saya” mungkin sah-sah saja, asal ia melanjutkan “berdasarkan pada ….”. Inilah yang bagi saya, antara dunia pesantren dan dunia akademik modern punya titik temu yang sama. Ia sama-sama menghargai mata rantai keilmuan. Pesantren dengan sanad sedangkan akademik dengan sitasi, pesantren dengan hujjah ulama sedangkan akademik dengan argumentasi berlandaskan literatur, pesantren dengan kitab kuning, akademik dengan peer-reviewed journal.
Dalam belajar ilmu agama, sering kita dengar bahwa guru yang paling banyak mendapatkan pahala adalah guru yang mengajarkan alif ba ta hingga lancar surat al-Fatihah. Rasionalisasinya beragam, tapi satu hal yang pasti, huruf hijaiyyah, sepanjang ia belajar keislaman dari literatur kitab kuning, semuanya berdasar pada kemampuan dasar pengenalan alif ba ta. Aplikasi yang interdisipliner ini membuat “guru alif ba ta”-lah yang panen pahala di masa depan, kira-kira Kyai yang mengajari ia alfiyah beserta syarah-syarahnya itu pahalanya lebih kecil dari kyai kampung alif ba ta.
Begitupun saat saya mempelajari ilmu kimia, kesukaan saya pada ilmu kimia bermula saat sekolah di Madrasah Aliyah dengan guru yang menyenangkan saat itu. Pak Unang dan Ibu Susi namanya. Bu Susi mengajarkan SPU hingga deret homolog alkana dengan nadzam-nadzam ala lalaran yang familiar dengan santri. Pak Unang memberi banyak insight tentang kimia yang membuat saya pada akhirnya mantap memilih Kimia sebagai program studi prioritas saat berkuliah nanti.
Saat melanjutkan studi S-1 di Kimia UIN Malang, meski sempat terseok-seok di awal, dibawah bimbingan dosen disana, seperti Pak Tri, Bu Diana, Pak Naim, Pak Hanapi, Bu Rahma, Bu Elok, dll, alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan studi. Kira-kira, guru alif ba ta kimia saya adalah pak Unang dan Bu Susi saat MA dan para Dosen Kimia UIN Malang. Maka, saya akan tegas mengatakan bahwa Sanad Kimia saya berasal dari Kimia UIN Malang. Bu Susi dan Pak Unang mengajarkan saya bedanya ba, ta, tsa, jim, ha, kho berdasarkan titik-titik yang ada, Dosen Kimia UIN Malang mengajarkan saya alfatihahnya sehingga saya memutuskan untuk melanjutkan S2 di Kimia juga karena sudah kadung cinta dengan bidang ilmu ini.
Kemarin (5/6/2025) adalah titik dimana saya telah ditetapkan sebagai CPNS Dosen Tadris Kimia UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Tentu ada rasa bahagia atas semua proses yang telah saya jalani hingga saya pada akhirnya bisa tiba pada “Titik Awal” impian saya ini. Selain kepada orang tua, istri dan semua keluarga yang mendoakan, saya juga harus haturkan banyak terimakasih pada semua guru dan dosen kimia saya. Karena dari beliau-beliau lah sanad kimia saya dapatkan. Tentu saja saya ucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu Dosen S2 Kimia UNPAD, Prof Tri, Prof Tati, Bu Lela, Bu Desi, Bu Darwati, Prof Unang, Pak Ari dan semuanya. Dari beliaulah saya lebih lanjut bisa maknani/ngafsahi kimia lebih lanjut, khususnya maknani spektra 2D-NMR, hingga mensyarahi hasil running in silico hehehe, terimakasih!
Akhiron, semoga semua guru dan dosen saya di bidang Kimia dan bidang lainnya diberi kesehatan dan panjang umur, diberkahi dalam sepanjang hidupnya. Dan doakan saya semoga bisa menjadi seperti beliau-beliau yang dapat menelurkan murid-murid hebat, menjadikan ilmunya bermanfaat dan meluas di dunia akademik dan di masyarakat, amin ya robbal alamin.
Saya tercengang ketika melihat susunan acara masa orientasi santri baru yang tertulis bahwa saya harus mengisi materi “Menjadi Wirausahawan Muda”. Bagaimana tidak, saya hanyalah pedagang daring kecil yang terombang-ambil dengan persaingan yang semakin sengit. Disamping itu, 90% perdagangan itu telah dihandle oleh istri saya. Saat ini saya lebih dominan menyibukkan diri dengan menjadi dosen dan guru dengan segala beban administrasinya.
Praktis, saya memutar otak untuk mencoba mencari landasan-landasan pemikiran yang unik guna memberikan sudut pandang yang baik agar santri punya geliat mengembangkan jiwa enterpreneurshipnya. Minimal jangan seperti saya lah, hehehe.
Disamping dari beberapa pengajian yang saya ikuti, dalam pencarian, saya mendapatkan sudut pandang yang unik tentang bagaimana Islam memandang kekayaan materiil yang mungkin berbeda dari pandangan umum. Mari kita runut dari hulunya.
Tugas Manusia
Terdapat 2 tugas dari Allah swt bagi manusia di muka bumi ini, yaitu abdullah dan khalifatullah. Abdullah berlandaskan pada ayat “Wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun.”, sedangkan khalifatullah berlandaskan pada ayat, “Waidz qoola robbuka lil malaikati inni jailun fil ardli kholifah”, kholifah disini diartikan sebagai “penugasan Allah kepada manusia untuk memakmurkan bumi.”. Singkatnya, abdillah mewakili hablumminallah (dimensi peribadatan), khalifatullah mewakili habluminannas dan hablumminal alam (dimensi sosial-lingkungan).
Sebagai abdullah, ini sudah non-debatable, paling tidak laksanakan sebaik-baiknya 5 rukun islam, yakini sepenuh hati akan 6 rukun iman, maka kita sudah dianggap sebagai abdullah ya baik. Namun khalifatullah ada aspek yang cukup rumit dan dapat menjadi diskursus yang sangat menarik untuk dibahas.
Menjadi khalifatullah, memakmurkan bumi, bisa dibilang bagaimana kita sebagai manusia bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Selain itu juga bagaimana kita mengelola anugerah alam dengan sebaik-baiknya. Dari sini kita dapat mengambil benang merah bahwa menjadi khalifatullah berarti kita harus mengambil peran dalam kehidupan dimuka bumi ini. Kita masing-masing pribadi harus memiliki profesi sebagai pengejawantahan dari tugas manusia sebagai khalifatullah fil ardl.
Profesi dalam kehidupan manusia ini kita tahu bermacam-macam dan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Salah satu profesi yang masih eksis hari ini adalah menjadi seorang enterpreneur, pebisnis, pedagang, dan sejenisnya. Dalam islam, bisnis adalah sesuatu yang tergolong mu’amalah dan hukumnya boleh dengan kaidah-kaidah tertentu. Profesi berdagang jika sukses, maka kita akan memiliki jumlah kekayaan materiil atau uang yang berlimpah, sehingga kita akan dikenal sebagai konglomerat, OKB, atau bahkan istilah saat ini, Crazy Rich.
Disisi lain, dalam pembahasan dibanyak pesantren bahkan madrasah, seringkali kita diberi tahu untuk tidak perlu mengejar kekayaan materiil yang “sifatnya duniawi”, lebih baik kejarlah hal-hal yang “sifatnya akhirat.”. Pada prinsipnya, pernyataan seorang ustadz (misal) demikian itu tak dapat disalahkan. Namun terkadang, statemen itu malah dijadikan dalih dan tameng akan ketidakmampuan kita dalam mencapai kekayaan materiil. “Sudahlah, dalam hidup kita tidak perlu menjadi kaya, banyak uang, yang penting barokah, perbanyak ibadah, mati husnul khotimah, toh, harta gak dibawa mati!”, tegas seorang ustadz di Kampung.
Bagi saya, dari statemen ini kita dapat menggarisbawahi dua hal. Pertama adalah kita tidak perlu menjadi kaya. Kedua, harga tidak dibawa mati. Temuan saya akan mencoba memunculkan diskursus akan kedua hal tersebut, karena ternyata, Islam menganjurkan kita untuk menjadi orang kaya, dan Islam juga menyatakan bahwa harta itu dibawa mati!
Kita Harus Jadi Orang Kaya
Pertama, kita dianjurkan menjadi kaya secara finansial, paling tidak, seorang Muslim harus mandiri secara finansial. Kita dapat mencontoh Rasulullah soal kemandirian, sudah yatim sejak kecil, Rasulullah muda berjualan hingga ke syam (suriah), hingga akibat dari aktivitas niaganya, bertemu dengan Siti Khadijah yang kemudian menjadi istrinya. Mahal Rasulullah kepada Khadijah juga tidak main-main, 20 ekor unta betina dan 350 gram emas, yang jika dirupiahkan nominalnya setara 1,4 Miliar! Apakah mahar demikian bisa kita kategorikan sebagai mahar dari seorang mempelai miskin? Tentu tidak! Maka Rasulullah adalah juga seorang yang kaya dan mandiri secara finansial.
Ada satu ayat menyatakan, “waidza qudhiyati sholatu, fantasyiru fil ardl, wabtaghu min fadlillah”, artinya silahkan manusia bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki. Disamping itu, dengan kita memiliki harta yang melimpah, kita dapat bersedekah di jalan dakwah, berkontribusi dalam banyak hal untuk kebaikan agama, misal memberikan sumbangsih pengembangan pesantren, beasiswa pendidikan, santunan yatim dan dhuafa, dan lain-lain. Tanpa kekayaan, dapatkah kita melakukan itu semua? Sahabat Rasulullah saja, macam Utsman bin Affan, Abdurrohman bin auf dan yang lainnya adalah konglomerat, sultan, alias crazy rich, sehingga beliau-beliau ini dapat banyak membantu dakwah Rasulullah, khususnya yang terkait dengan sokongan finansial.
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menyatakan, nafsu ghodobiyah itu jangan dibuang, tapi harus dikelola hingga menjadi Himmah. Nafsu ghodobiyyah, jika di manage, diganti niatnya menjadi niat-niat kebaikan, motivasi-motivasi kebajikan, maka itu bisa menjadi Himmah atau Cita-cita. Himmah untuk kita menjadi Kaya, Himmah untuk menjadi Sukses. “SAYA HARUS KAYA, SAYA HARUS NOMOR 1, dll.”
Harta Ternyata Dibawa Mati
Kedua, harta itu ternyata dibawa mati! Dari mana saya simpulkan itu? Dari hadits “Idza matabnu adama, inqothoa amaluhum, illa tsalatah, shodaqotun jariyatun, wailmu ….. dst.”. Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim ini, jika seorang manusia mati, maka terputuslah semua amalnya. Ia sepenuhnya akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di dunia. Jika sering berlaku buruk, maka amal buruk dominan, siksa kubur menanti. Begitupun sebaliknya. Manusia tersebut tidak bisa lagi menambah amalnya untuk menutupi kekurangan-kekurangan amal baik di dunia agar dapat meringankan hukuman yang di terimanya.
Untungnya, kita adalah ummat kanjeng Nabi Muhammad SAW, dimana banyak diskresi yang diberikan, termasuk dalam perihal ini. Jika kita sudah tidak punya opsi memperbanyak amal. Kita harus pandai melakukan cheating, yaitu berinvestasi dengan portofolio keuntungan 100%. Bentuk investasinya ada 3, yakni shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat secara kontinyu, dan anak sholih yang senantiasa mendoakan.
Dari ketiga profil investasi tersebut, yang mungkin kinerjanya berada dalam kontrol kita adalah shodaqoh jariyah. Mengapa? Ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh itu lebih dominan berada di luar kontrol kita. Kita mengajarkan ilmu agar bermanfaat, belum tentu murid kita memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saya contohnya, tidak semua murid saya mengamalkan ilmu kimianya dalam kehidupan sehari-hari bukan? Yang mungkin manfaat adalah mengajarkan ilmu agama untuk ibadah praktis. Sayangnya tak semua orang punya waktu dan kapasitas mengajarkan ilmu agama.
Doa anak sholeh yang mendoakan. Yakinkah kita bahwa anak kita tak akan lupa untuk senantiasa mendoakan? Tentu harapan kita begitu. Tapi lagi-lagi, itu diluar kontrol kita. Kita boleh mendidik dan mengajarkan anak kita sebagai birrul walidain, tetapi lagi-lagi, itu bergantung kepada anak kita, di luar kontrol kita.
Maka, satu-satunya investasi amal dengan return yang dapat terprediksi dengan baik adalah shodaqoh jariyah, alias shodaqoh yang memberikan kemanfaatan berkelanjutan bahkan hingga kita telah meninggal dunia. Membantu pembangunan masjid, pengembangan lembaga pendidikan pesantren, mensupport kegiatan keagamaan adalah bentuk jariyah yang tepat selama anda memilih profil masjid, sekolah, pesantren dan organisasi keagamaan yang tepat. Ya tentu anda harus lihat, siapa pemimpinnya, siapa pelaku-pelakunya, siapa yang mendapat manfaatnya, dan bagaimana portofolionya, serta “return per year” nya.
Sepanjang dan sejauh saya memperhatikan, belum pernah saya temui masjid bangkrut. Dari 500 lembaga pendidikan, paling hanya 1-2 saja yang tak berlanjut, karena banyak sekali ustadz-ustadz kampung yang ikhlas mengajar tanpa meminta kontribusi dalam bentuk uang kepada orang tua muridnya. Organisasi keagamaan? Jika ia telah eksis hingga puluhan tahun bahkan satu abad macam NU dan Muhammadiyah, anda tak perlu ragu untuk jariyah melalui mereka. Maka, investasi jariyah demikian adalah pilihan tepat.
Sayangnya untuk bershodaqoh jariyah, kita harus menjadi seorang yang mapan secara finansial. Bagaimana anda bisa jariyah dengan nyaman jika untuk menyambung hidup saja anda kesulitan. Yang ada anda tervonis hadits “Kaadal faqru an yakuna kufron”, kefakiran mendekatkan diri kepada kekafiran. Entah faqir disini mau dianggap faqir harta maupun faqir hati. Saya sulit melepaskan keyakinan bahwa yang faqir harta akan lebih banyak yang faqir hati. Maka, menjadi kaya seperti pada poin pertama adalah salah satu prasyarat penting sebelum kita bisa shodaqoh jariyah.
Dengan manajemen nafsu ghodobiyah menjadi himmah, ambisi dan keinginan untuk meraih kemapanan finansial untuk mendukung aktivitas dakwah islam adalah hal yang dianjurkan. Maka silahkan anda-anda semua “fantasyiru fil ardl”, jangan termakan dawuh bahwa harta tidak penting. Karena jika kita orang yang kaya secara finansial, kita akan lebih leluasa untuk shodaqoh jariyah, untuk pesantren A 10 M, untuk masjid 20 M, untuk NU 10 M. Dimana shodaqoh jariyah pahalanya mengalir hingga kita mati. Dengan beginilah, dapat kita asumsikan bahwa harta yang kita investasikan sebagai shodaqoh jariyah, pahala jariyahnya akan dibawa mati, dan senantiasa menemani kita selama kemanfaatan dari jariyah itu masih terus berlanjut dari generasi ke generasi. Sebaliknya, harta yang anda investasikan dalam perbuatan-perbuatan buruk juga akan dimintai pertanggungjawaban. Pada intinya, semua harta akan dibawa mati, dipertanyakan oleh Sang Maha Kaya.
Maka, mari kita berlomba-lomba menjadi pribadi yang memiliki kekayaan finansial, tentu dengan motivasi dan tujuan yang baik, dengan sebuah himmah. Kita jangan terjebak dalam pengkotak-kotakan duniawi dan ukhrowi yang rigid. Bahwa harta adalah duniawi, sholat adalah ukhrowi. “Kam min amalin yatashowwaru bisuroti a’amaliddunya, fashoro min a’malil akhiroh bihusninniyyat, wakam Kam min amalin yatashowwaru bisuroti a’amalil akhiroh, fashoro min a’maliddunya bisu’inniyyat.”
Dalam tradisi keislaman di Indonesia, kata barokah sangatlah tidak asing di telinga. Seringkali itu diucapkan sebagai bagian dari doa-doa kebaikan untuk kita sendiri maupun orang lain. Bahkan, tak terhitung berapa toko-toko, warung-warung, perusahaan-perusahaan, dari berbagai segmen, berbagai level, menggunakan kata “barokah”, atau “berkah” sebagai identitasnya. Jika ada orang atau instansi yang mau melakukan sensus penduduk Indonesia yang menggunakan kata barokah untuk nama bisnisnya, saya jamin angkanya akan lebih dari 1 juta.
Tak terhitung pula berapa redaksi doa-doa sehari-hari yang dilantunkan mengandung kata barokah, bahkan doa mau makan pun ada kata barokahnya, doa minta rezeki, doa menyambut bulan ramadhan, doa saat khutbah Jumat, hingga doa untuk pernikahan. Semuanya berkah. Apalagi di kalangan santri, meminum kopi atau teh bekas kyai, mencium tangan kyai, orang tua guru, maupun ustad, dan mungkin akhir-akhir ini, berfoto dengan kyai dan tokoh besar, biasanya kita dimotivasi karena ingin mendapatkan barokahnya.
Namun, apa arti sesungguhnya dari kata barokah? Apakah sesuatu yang bersifat klenik? Dorongan spiritual? Hal Gaib? Aura positif? Atau mungkin laduni? Seperti yang seringkali disampaikan oleh para pendakwah, ketika kita sering berkumpul dengan orang-orang sholeh, orang-orang yang berilmu, maka nantinya kita akan mendapatkan barokahnya. Ketika kita mencium tangan kyai, lalu bibir kita akan fasih dalam berbicara dan presentasi? Atay ketika kita tempelkan kening kita pada tangan guru kita, maka pikiran kita menjadi terbuka menerima ilmu?
Ya, semua itu tak perlu dipertentangkan dengan rasionalitas. Kebanyakan dari keyakinan-keyakinan itu ada dalilnya, ada riwayatnya. Namun, jika kita ingin lebih mengenal kata “barokah” dengan lebih progresif dan “rasional”, maka tradisi intelektual islam juga telah memiliki penjelasannya. Siapa tau anda-anda yang membaca tulisan ini berprofil lebih rational oriented yang “kurang” percaya dengan penafsiran klenik dari kata barokah.
Imam Ghazali menafsirkan “Barokah” sebagai “زيادة الخير” yang berarti bertambahnya kebaikan. Adapula ulama lain yang menyebutkan bahwa البركة هي الزيادة والنماء في الخير yang berarti “Bertambah dan bertumbuhnya kebaikan”. Dari kedua definisi ini, saya kira cukup clear bahwa barokah harus punya implikasi atau dampak, yakni kebaikan yang bertambah, dan kebaikan yang terus bertumbuh dan seterusnya. Maka, semisal beberapa waktu lalu kita baru bertemu seorang ulama, mengharap berkahnya, kita cium tangannya, berfoto dengannya, tetapi setelah itu kita masih malas untuk belajar, malas untuk bekerja, malas untuk berbuat baik, maka sejatinya kita belum mendapatkan berkah dari pertemuan itu.
Sehingga, untuk mendapatkan semangat meraih barokah dari seorang tokoh/kyai, kita harus punya konstruksi dalam pikiran untuk menghadirkan motivasi meniru dan meneladani keberhasilan dan keilmuan kyai/tokoh tersebut. Pelajari profilnya, bagaimana upayanya hingga mendapatkan kedudukan seperti saat ini, lalu motivasi diri kita, lakukan kebaikan-kebaikan yang paling tidak sama dengan yang telah diteladankan. Tidak bisa anda dapatkan barokah hanya dari sekedar mengaji sembari ketiduran atau main hape, lalu anda kebagian nyeruput kopi kyai, lalu anda tidur/main hape lagi. Artinya, barokah bukanlah sesuatu yang mudah dicapai, barokah bukan barang murahan, dan barokah tidaklah “GRATIS”.
Meminjam istilah Ketua PW GP Ansor Jawa Barat, Kang Deni Ahmad Haedari dalam suatu kesempatan, barokah ini ibarat “Laba” didalam bisnis. Jika kita ingin mendapatkan laba, ya kita harus jualan dulu. Dan kita tau, mendapatkan laba besar dari berjualan bukanlah sesuatu yang mudah, perlu usaha ekstra, perlu upaya yang cerdas dan cermat. Mana mungkin anda tidak berjualan lalu anda berharap langsung dapat laba. Begitupun untuk mendapatkan keberkahan atau barokah yang hakiki, tak bisa anda dapatkan dengan hanya kita mencium tangan kyai, lalu kita berlalu seolah tak termotivasi apapun. Barokah bisa kita dapatkan ketika setelah mencium tangan kyai, kemudian muncul semangat dan motivasi untuk meneladani, lalu kita melakukan upaya-upaya yang sudah diteladankan oleh beliau-beliau. Itulah hakikat barokah yang “paling tidak” saya yakini.
Maka, dalam setiap doa-doa barokah yang dipanjatkan, sejatinya ada makna yang sangat mendalam. Memohon ilmu yang barokah, berarti mengharap ilmu yang didapatkan dapat berdampak dan bermanfaat secara luas. Rizki yang barokah, maka rezeki yang didapatkan bisa dialokasikan untuk kerja-kerja kebaikan yang meluas. Rumah tangga yang barokah, berarti suami istri, anak, cucu mampu berperilaku baik dan meneladani kebaikan-kebaikan rumah tangga pendahulu, dan seterusnya. Dan saya kira, untuk mencapai ilmu, rizki, rumah tangga yang barokah semacam itu bukan hal yang mudah, banyak godaan, cobaan, ujian yang merintangi. Begitulah barokah, mudah diucapkan bahkan menjadi nama bagi jutaan warung di Indonesia, akan tetapi untuk mendapatkannya, butuh upaya yang tak mudah, kita harus konsisten melakukan kerja-kerja kebaikan, menambah perbuatan baik, menumbuhkan perilaku baik, layaknya pohon yang terus menerus menumbuhkan cabang dan rantingnya.
Akhiron, hemat saya baiknya kita mencoba tak mendangkalkan makna barokah dengan menafsirkannya sekedar mencium tangan kyai kemudian berlalu begitu saja. Barokah lebih progresif dari itu. Cium tangannya, ambil motivasinya, tiru semangatnya, raih dan tumbuhkan kebaikannya. Sekali lagi saya tegaskan, tak ada salahnya berkeyakinan “barokah cium tangan wolak walik”, tapi lebih dari itu, karena kita tasawwufnya imam ghazali, bukankah antara hakikat dan syariat harus proporsional? Yuk, makan siang di Warung Barokah depan Rumah, hehe.
Hai, Saya Fawwaz Muhammad Fauzi, suatu produk hasil persilangan genetik Garut-Majalengka. Menjadi Dosen Kimia adalah profesi utama saya saat ini. Selain itu, ya membahagiakan istri, anak dan orang tua. Melalui blog ini, saya ingin menuliskan kisah-kisah keseharian saya yang pasti receh. Mungkin sedikit esai-esai yang sok serius tapi gak mutu. Jadi, tolong jangan berharap ada naskah akademik atau tulisan ilmiah disini ya, hehe.
Kalau ada yang mau kontak, silahkan email ke [email protected]. Udah itu aja.